Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 189 ( Season 2 )


__ADS_3

"Apa mungkin aku sudah jatuh cinta padanya?"


Pertanyaan itu yang saat ini terus berputar pada pikiran Hot Dokter tersebut.


William menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Pria itu melihat ke arah jam yang yang berada di atas nakasnya. Mata elang itu melihat sebuah kertas yang terselip di bawah jamnya.


William penasaran dengan surat tersebut. Ia mengambil surat itu.


Karena rasa penasaran yang besar, akhirnya William membuka surat yang sudah berada di tangannya.


Pria itu mulai membaca isi dari surat yang pastinya di tujukan untuknya.


Untuk Pak Dokter


Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah mengudara. Aku hanya ingin berterimakasih untuk waktu beberapa hari kemarin, karena kau telah mengizinkan aku untuk bisa membuatmu mencintaiku, tapi hasilnya cukup membuatku sedikit senang, meskipun kau tetap tak bisa mencintaiku.


Kau benar, mungkin kau bukan tipe pria yang bisa langsung mencintai seorang wanita secara kilat. Mungkin kau tipe pria yang harus mengenal lebih jauh wanita dan aku berterimakasih padamu karena telah mengizinkan aku untuk meneganlmu lebih dekat.


Ini hari terakhir dari tekad besarku untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Maaf, mungkin waktu 2 Minggu itu terlalu lama. Seharusnya aku tak meminta waktu selama itu untuk bisa membuatmu jatuh cinta padaku.


Sekeras apapun aku berusaha membuatmu bisa melihatku, sepertinya itu percuma karena aku melihat foto mantan calon istrimu di dalam laci nakas.


Maaf bukan aku bermaksud lancang, tapi foto itu tak sengaja terlihat olehku.


Sebenarnya saat aku melihat foto wanita yang kau cintai, aku ingin menyerah saat itu juga, tapi karena aku masih berniat membuatmu takluk padaku, aku mengesampingkan rasa itu. Rasa dimana aku sudah berada di titik untuk menyerah pada permainan kita.


Aku masih berharap, kemarin malam kau akan pulang, namun sepertinya kau sibuk akhir-akhir ini dan membuatmu sering pulang terlambat.


Aku ingin memberitahumu, hari ini aku menyerah untuk mendapatkan cintamu. Mungkin kita lebih cocok menjadi kakak beradik saja.


Semoga kau bisa menemukan wanita yang bisa merubah rasa cintamu pada wanita itu suatu hari nanti. Jangan lupa, kau harus membawa kotak bekalmu Pak dokter.


Zinnia


Tangan William bergetar saat pria itu tahu jika Zinnia kali ini benar-benar melepas dan berhenti mengejarnya.


Wajah William memucat. Ia tak tahu kenapa hatinya terasa sakit sekali.


"Surat apa ini? kenapa dia bisa menulis semua itu saat aku mulai merasa kehilangan dirinya."


Surat itu terjatuh ke lantai bersamaan dengan tubuh Dokter tampan tersebut yang terbaring di atas ranjangnya dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


Ponselnya berdenting dan terus berdenting. William yang dalam keadaan suasana tak stabil, hendak membanting ponselnya, namun niatnya ia urungkan karena William melihat notifikasi dari akun media sosialnya yang membicarakan tentang peluncuran baju musim semi yang akan diselenggarakan besok.


William langsung melihat info yang terdapat pada notifikasi ponselnya.


William langsung melihat daftar nama desainer yang akan meluncurkan baju musim semi mereka.


Ia melihat nama sang istri berada di urutan kedua. William tak sengaja membaca komentar para netizen yang menjodohkan Zinnia dengan desainer muda berbakat pertama dunia.


"Marquez Copaldi!" William mulai menggumamkan nama desainer pria itu sambil terus membaca semua komentar para netizen.


Mata William ingin keluar saat ia membaca satu komentar yang berhasil memancing emosinya.


Salah satu netizen menuliskan komentarnya agar Zinnia dan Marquez bisa langsung menikah setelah peluncuran desain baju mereka selesai, karena keduanya terlihat sangat cocok.


"Apa orang ini sudah gila! astaga! kepalaku jadi pusing," gumam William melempar ponselnya ke atas kasur.


Pernikahan William dan Zinnia memang tak terumbar kepermukaan, jadi wajar jika para netizen tak tahu jika Zinnia sudah menikah.


William kembali menatap ke arah ponselnya yang sudah tergeletak sembarangan. Kemudian dia beralih menatap ke arah surat dari sang istri.


William mengambil surat itu. Ia tersenyum penuh arti. "Kau tak akan lepas begitu saja dariku, Gadis cerewet! kau yang sudah membuat hatiku tak karuan seperti ini, kau juga yang harus menjadi penawar dari rasa ini! sekali kau menyandang gelar Nyonya William, maka kau akan selalu menjadi Nyonya di rumah ini," gumam William sambil menyimpan surat dari Zinnia ke dalam laci nakasnya.


William tersenyum melihat foto mantan calon istrinya. "Jadi kau ingin menyerah hanya karena melihat foto ini?" tanya William pada dirinya sendiri.


William hendak menyobek foto itu, namun ia urungkan. "Lebih baik aku sobek foto ini saat Zinnia sudah kembali."


William mengambil ponselnya. Pria itu menghubungi seseorang.


"Ya, Pak!"


"Tolong pesan tiket ke Amerika untuk hari ini juga!"


"Tapi anda besok pagi ada rapat untuk acara ...."


"Biar Dokter Edward yang menggantikan aku untuk memimpin rapat untuk acara ulang tahun rumah sakit."


"Baik, Pak!"


Panggilan di akhiri oleh William. Pria itu langsung berjalan menuju arah walk in closet untuk mengemas beberapa baju yang akan ia gunakan saat di Amerika.


Nampaknya Tuhan berpihak padanya, karena selama 2 hari ke depan tak ada jadwal operasi.

__ADS_1


Jika memang ada operasi dadakan, Dokter bedah bukan hanya dirinya di rumah sakit itu, jadi William merasa aman.


Mata elangnya melihat ke arah gaun istrinya yang tergantung rapi. Pria itu berjalan ke arah gaun-gaun Zinnia.


Jemarinya terangkat menyentuh salah satu gaun yang di kenakan Zinnia saat makan malam terakhir mereka.


Senyum di wajah William timbul. "Aku akan menghampirimu, Gadis cerewet! jika kau berusaha menolakku, aku yang kali ini akan balik mengejarmu, sampai hanya aku pria yang ada di hatimu," gumam William menarik gaun malam itu mengarahkan gaun tersebut pada hidungnya karena ia rindu sekali dengan wangi tubuh istrinya.


"Tak ada pria lain yang boleh bersamamu selain aku, kau milikku, Zinnia! hanya milikku," gumam William lagi.


"Semangat, Will!"


Di sebuah hotel dengan desain clasik, namun tampilan dalamnya begitu terlihat sangat romantis. Sangat cocok untuk pasangan muda yang masih dalam masa hangat-hangatnya mengarungi bahtera rumah tangga.


Zinnia melihat sekeliling kamarnya. Gadis itu langsung tepuk jidat.


"Apa Sandra pikir aku datang kemari untuk honeymoon?"


Kamar hotel ternama di Amerika memang sudah banyak yang full. Banyak desainer lain yang sudah menempati kamar hotel itu, karena semua desainer itu bukan hanya dari Indonesia, melainkan dari berbagai Negara dan hanya hotel ini yang masih banyak kamar kosong karena hotel ini khusus untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Namanya saja sudah sweet hotel, jadi tak aneh lagi jika semua desain setiap kamarnya sangat sweet.


Zinnia menjatuhkan tubuhnya pada ranjang kamar hotelnya.


Gadis itu tiba-tiba mengingat surat yang ia selipkan di bawah jam tepat di atas nakas suaminya.


"Apa dia sudah membaca surat itu? jika di sudah membacanya, pasti hatinya lega sekali karena gadis cerewet sepertiku tak akan menganggu hidupnya lagi."


Zinnia mengambil ponselnya yang masih belum ia aktifkan karena tadi masih berada di dalam pesawat.


Gadis itu mengaktifkan ponselnya. Saat ponsel itu sudah kembali normal, Zinnia melihat notifikasi panggilan dari suaminya berjumlah 10 kali.


"Kenapa dia menghubungiku? apa dia sudah merasa menang?"


Zinnia mencoba menghubungi William, namun pria itu tak kunjung mengangkat panggilannya.


Zinnia terus mencoba menghubungi William, namun hasilnya sama saja.


"Pasti tak ingin mengangkat telepon dariku karena dia ingin membalasku!"


Zinnia langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Gadis itu langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2