Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 210 ( Season 2 )


__ADS_3

William dan Zinnia sudah keluar dari restoran itu. Keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Kau masih akan ke rumah sakit?" tanya Zinnia pada suaminya.


"Iya, Sayang! hari ini adalah hari ulang tahun rumah sakit, jadi aku harus berada di sana sampai sore," jelas William membawa tubuh Zinnia mendekat ke arahnya. Memeluk tubuh candunya itu dengan sangat erat.


"Kenapa kau menanyakan hal itu? apa kau tak bisa jauh dariku?" tanya William menggoda Zinnia.


"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu saja karena si kutu loncat pasti akan mencari cara untuk berkeliaran di dekatmu," ujar Zinnia pada suaminya.


"Aku kan sudah bilang, kalau Marinka itu tak suka padaku ...."


Zinnia menatap wajah suaminya. "Dan feeling seorang istri itu tak pernah salah, Sayang! jika ada orang yang ingin mengusik ketenangan keluarganya, maka feeling seorang istri yang akan peka terlebih dulu, termasuk seperti sekarang ini," jelas Zinnia panjang kali lebar.


William tersenyum manis pada Zinnia. "Terimakasih karena kau telah mencintaiku sebesar ini," tutur William memeluk tubuh istrinya.


"Kau kan sudah tahu seberapa besarnya cintaku padamu, jadi kau harus selalu ingat jika ada sesosok kutu loncat atau nenek Kunti sekalipun yang menggodamu, kau harus tanamkan di kepalamu ini jika istrimu sangat mencintaimu."


"Dan aku juga sangat mencintaimu, Istriku!" William mengecup puncak kepala istrinya.


"Jangan pulang terlambat ya? aku menunggumu di rumah," tutur Zinnia menengadahkan wajahnya menatap wajah William.


"Apa aku tak perlu ke rumah sakit saja?"


"Jangan! kau harus ke rumah sakit," tolak Zinnia agar William tetap pada tujuan awalnya untuk ke rumah sakit.


Setelah sampai di depan rumah sakit miliknya, William hendak turun namun, niatnya diurungkan.


William menghadap ke arah Zinnia. "Apa ada yang ketinggalan?" tanya Zinnia bingung.


"Ada!"


"Apa?" tanya Zinnia melihat ke arah kursi penumpang mungkin ada sesuatu milik William yang tertinggal namun, tak ada apapun.


William menarik tengkuk istrinya dan ....


Cup


Kecupan manis mendarat di bibir Zinnia.


"Ini yang tertinggal," goda William mengerlingkan sebelah matanya.

__ADS_1


Zinnia hanya bisa tersenyum melihat tingkah William. "Hati-hati saat bekerja ya, Suamiku!"


"Kau tenang saja, Sayang! karena aku hanya milikmu."


Sebelum William benar-benar turun, pria itu kembali mendaratkan bibirnya namun, bukan pada bibir Zinnia, melainkan pada kening istrinya.


Cup


"Antar Nyonya kembali ke rumah dulu! nanti setelah selesai langsung kembali kemari," titah William pada supirnya.


"Baik, Tuan!"


William tersenyum manis pada Zinnia kemudian pria itu keluar dari mobilnya.


Mobil Zinnia perlahan mulai berjalan dan William juga ikut masuk ke dalam rumah sakit saat mobil yang di naiki istrinya sudah menjauh.


Waktu telah menunjukkan pukul 13.30 siang. Zinnia sudah berada di dalam kamarnya dengan tubuh yang sudah wangi dan bersih.


Gadis itu membuka laptopnya. Ia ingin melihat apakah Sandra sudah mengirimkan semua infonya yang berhubungan dengan Marinka.


Saat ia mengecek email-nya, ternyata 45 menit yang lalu Sandra sudah mengirimkan semua info lengkap tentang Marinka.


Zinnia mulai membaca informasi yang di dapat oleh Sandra.


Marion sudah di jodohkan dengan anak pengusaha berlian juga yang saat ini menjadi suaminya. Mereka berdua sudah saling mengenal sejak kecil. Sementara Marinka adalah anak kesayangan dari keluarga mereka. Marinka selalu di manja oleh ayah dan ibunya.


Sampai pada saat dimana ayahnya mengalami kecelakaan dan tewas di tempat kejadian. Pada hari itu juga semua aset milik keluarganya di ambil oleh kakak dari ayah Marinka dan ibunya mengalami depresiasi sampai ia harus di rehabilitasi dan itu memerlukan uang yang banyak.


Dua bersaudara itu masih berada di bangku kuliah. Marion sebagai seorang Kakak mengalah. Ia berhenti kuliah dan bekerja untuk membiayai sekolah adiknya.


Marion bekerja di rumah sakit William sebagai cleaning servis. Sampai pada akhirnya ia sering bertemu dengan William dan membuat perhatian pria itu teralihkan saat tahu riwayat hidupnya.


Marion tak ingin berhubungan dengan William namun, Marinka yang tahu akan hal itu memaksa kakaknya untuk menerima William sebagai pacarnya.


Marinka tahu jika pria itu kaya dan pasti bisa membiayai perawatan ibunya dan kuliah dirinya.


Marinka meyakinkan jika hubungan mereka berdua tak akan lama dan Marion masih bisa bersama dengan pria yang sudah di jodohkan dengannya. Marinka akan tutup mulut masalah itu.


Seiring berjalannya waktu, Marinka mulai jatuh hati pada William sampai ia mengancam Marion agar mengikuti semua rencananya termasuk kabur sebelum hari pernikahan.


Marion tak mau melakukan hal yang lebih jauh lagi, ia tak berani jujur pada William karena Marinka mengancamnya untuk memberitahu William jika selama ini ia selingkuh dari William.

__ADS_1


Marinka akan tutup mulut asal pacar Marion harus membiayai sekolahnya sampai tamat dan urusan biaya perawatan ibunya sudah ada William. Jadi William tak harus menanggung biaya kuliahnya lagi.


Hal pertama yang ada dalam benak Marion saat itu adalah ibunya, jadi dia mau mengikuti semua rencana Marinka demi kesehatan sang ibu.


Zinnia yang mengetahui kejadian yang sesungguhnya prihatin pada Marion dan suaminya. "Kenapa kutu loncat itu bisa menjadi wanita sejahat ini? apa dia sangat ingin memiliki, Suamiku?"


Zinnia mulai mengutak-atik ponselnya.


"Sandra! kau awasi Marinka 24 jam, jangan sampai lengah karena wanita yang kita hadapi saat ini sangat gesit dan licik! dia akan melakukan apapun demi memenuhi hasratnya."


"Baik, Nona!"


"Jika ada hal yang mencurigakan, langsung hubungi aku!"


"Siap, Nona!"


Zinnia melihat kembali ke arah layar laptopnya. "Aku harus berhati-hati pada wanita seperti dia! saudaranya sendiri saja di perbudak habis-habisan! sungguh wanita kejam."


Ceklek


Suara pintu kamarnya terbuka. Zinnia langsung menutup laptopnya karena ia tahu itu pasti suaminya.


William berjalan ke arah ranjang dimana istrinya sedang duduk bersantai.


"Kau sudah pulang?" tanya Zinnia beranjak turun dari kasur menghampiri William.


Gadis itu memeluk tubuh suaminya erat. "Aku rindu padamu," tutur Zinnia dengan nada manja.


William membalas pelukan Zinnia. "Aku juga merindukanmu, Sayang!"


Cup cup cup


Kecupan bertubi-tubi mendarat pada puncak kepala Zinnia.


"Apa kau pulang cepat karena hal itu?" tanya Zinnia menatap wajah William.


"Hem, karena aku ingin melakukan ini."


William mendaratkan bibirnya pada bibir Zinnia. Menggerakkan benda kenyal itu dengan gerakan rakus.


Bagi William bibir Zinnia adalah candu terberatnya. Entah apa yang terjadi jika pria itu sudah menelusuri tiap jengkal tubuh Zinnia tanpa henti nantinya.

__ADS_1


Zinnia membalas ciuman William dengan gerakan lembut sampai tempo gerakan bibir William juga ikut melambat.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰


__ADS_2