
Semua keluarga berada di dalam ruangan USG, beruntungnya rumah sakit itu rumah sakit milik William jadi semua keluarga bisa masuk termasuk Sandra dan Marquez.
Zinnia sudah berbaring di tempat tidur ruangan untuk melakukan USG. William masih setia berada di samping istrinya.
Zinnia tak hentinya menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Wanita itu merasa tegang karena ia takut ada hal yang serius padanya.
"Kau tenang saja, Sayang! kau akan baik-baik saja," tutur William menenangkan istrinya.
Sebenarnya William juga merasakan apa yang dirasakan oleh Zinnia namun, ia tak ingin Zinnia tahu agar istrinya tak semakin berpikir negatif.
Salma hendak menyingkap baju bagian perut Zinnia namun William menyelanya, "Untuk apa Bunda menyingkap baju, Istriku?" tanya William penasaran.
Salma hanya bisa tersenyum begitu juga dengan Edward yang tertawa kecil karena William mendadak bodoh dalam sehari.
"Nampaknya gelar Dokter untukmu untuk hari ini tak berlaku ya, Will! Bunda akan melakukan USG pada bagian perut istrimu," jelas Salma dan William tersenyum kikuk karena dirinya sampai lupa akan hal itu.
Zinnia menatap suaminya sembari tersenyum kecil. "Kau tak perlu secemas itu, Sayang! aku akan baik-baik saja," ujar Zinnia pada William dan Dokter bedah itu mengangguk sembari menggenggam tangan istrinya memberikan semangat.
Salma menyingkap sedikit baju Zinnia sampai perut rata menantunya itu terlihat.
Salma mulai menuangkan gel pada perut rata Zinnia dan desainer cantik itu merasakan sejuk pada bagian perutnya yang mulia tekena gel tadi.
Salma mengambil probe untuk memulai proses USG.
Arnon dan Melati saling menggenggam tangan karena mereka berdua juga ikut cemas.
Melati memejamkan matanya semoga hal buruk tak menimpa putrinya.
"Berikan kesehatan pada putri hamba."
Melati melihat ke arah Arnon dan pria paruh baya itu tersenyum membalas tatapan istrinya. Arnon memeluk Melati erat. "Anak kita akan baik-baik saja, Sayang!"
Sandra dan Marquez masih fokus melihat ke arah perut Zinnia yang sudah terdapat probe di atas kulit perutnya.
Salma mulai menggerakkan sedikit demi sedikit probe itu dengan mata melihat ke arah layar monitor.
Salma terus mencari keberadaan sesuatu yang akan menjadi penerus William selanjutnya.
Semua mata tertuju pada layar monitor termasuk William dan Zinnia.
Saat gerakan tangan Salma berhenti, Edward dan Salma tersenyum bahagia ternyata yang mereka perkirakan benar adanya.
William mengernyitkan dahinya. Dokter bedah itu memikirkan sesuatu tentang gambar yang ada di monitor tersebut. "Bukankah itu ...."
Perkataan William terhenti kala Salma memotongnya, "Kau benar, Nak! sebentar lagi kau dan Zinnia akan menjadi orang tua bagi anak kalian."
Zinnia yang melihat ke arah Salma karena mendengarkan penjelasan Dokter kandungan itu seketika menatap layar monitor di mana ada satu bulatan kecil dalam rahimnya yang ia yakini adalah calon anaknya.
Zinnia beralih menatap William dan Dokter tampan itu juga menatapnya. Zinnia menyentuh pipi suaminya menggunakan sebelah tangan yang tak di genggaman oleh William. "Apa kau bahagia?" tanya Zinnia dengan suara bergetar.
William mengecup kembali punggung tangan istrinya. "Terimakasih, Sayang karena kau telah membuat hidupku tak merasa kesepian lagi," tutur William membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menggapai kening Zinnia.
__ADS_1
Cup
Pria itu menatap kedua mata istrinya cukup dalam. "Selamat karena sebentar lagi kau akan menjadi Mommy dari anak kita," ujar William pada Zinnia dan desainer cantik itu membalas perkataan suaminya, "Kau juga akan menjadi Daddy dari anak kita," ujar Zinnia tersenyum pada William.
Suasana di ruangan itu yang awalnya tegang, kini berubah menjadi penuh haru dan bahagia.
Melati dan Arnon saling membalas pelukan mereka berdua, Sandra dan Marquez tersenyum bahagia untuk Zinnia dan William, sementara Salma dan Edward saling mengumbar senyum karena mereka berdua akan segera menjadi kakek dan nenek.
Salma tak sengaja menggerakkan probe ke bagian perut Zinnia yang lain. Spontan Dokter kandungan itu segera melihat ke arah monitor, saat ia hendak memastikan posisi calon cucunya, mata Salma menyipit.
Dokter kandungan itu menggerakkan kembali probe tersebut ke arah lain dari bagian perut Zinnia.
Seketika Salma membungkam mulutnya sendiri karena ia sungguh merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Edward merasa curiga dengan ekspresi istrinya. Edward mendekati Salma. "Kau kenapa, Sayang?" tanya Edward merangkul tubuh Salma.
Raut wajah Zinnia yang awalnya penuh dengan rona kebahagiaan kini mulai memudar sedikit demi sedikit karena mertuanya nampak menemukan sesuatu dalam perutnya.
William menggenggam erat tangan Zinnia, ia juga takut jika hal buruk menimpa istrinya.
"Tuhan! jangan renggut kebahagiaan kami yang belum lima menit kami rasakan."
Melati dan Arnon juga ikut menegang beserta Sandra dan Marquez juga.
Salma masih diam dengan sebulir air mata yang mulai jatuh mengenai tangan yang membekap mulutnya sendiri.
"Hei, kau kenapa, Sayang?" tanya Edward yang juga ikut cemas melihat kondisi Salma yang tiba-tiba menangis tanpa sebab.
Tangan kanan yang awalnya untuk memegang probe kini berganti dengan tangan kirinya. Tangan kanan itu Salma gunakan untuk menggenggam tangan Zinnia. "Selamat ya, Sayang!"
Semua orang yang berada di sana dibuat bingung oleh perkataan Salma yang terdengar ambigu. Pasalnya semua orang sudah mengetahui jika Zinnia hamil.
"Terimakasih, Bunda! kami akan menjaga anak ...."
"Tidak, Nak!"
Kening Zinnia dan William mengkerut sempurna karena mereka berdua kembali di buat bingung oleh perkataan Salma.
Salma melihat ke arah Edward. "Coba kau lihat ke arah monitor ada apa di layar itu," pinta Salma pada Edward dan semua orang juga ikut melihat ke arah monitor.
Edward dan William melihat ada dua bulatan kecil.
Edward tersenyum dan merangkul lebih erat tubuh istrinya. "Kau memang pandai membuat orang yang berada di ruangan ini hampir jantungan," tutur Edward pada istrinya dan Salma hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya.
William masih fokus dengan dua bulatan kecil yang ada di layar monitor.
"Jika yang di sebelah kanan adalah calon anakku, jadi di sebelah kiri itu ...."
"Apa annakku ada dua, Bun?" tanya William pada Salma dan Dokter kandungan itu tersenyum mendengar pertanyaan keponakannya.
"Bukan dua, Will! tapi anak kalian kembar," jelas Salma beralih menatap Zinnia.
__ADS_1
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut karena Zinnia sekali hamil bukan hanya satu anak yang ia dapat, tapi dua anak sekaligus.
Putri dari Melati dan Arnon itu terdiam tak merespon apapun. Zinnia melirik ke arah perutnya tanpa terasa air mata Zinnia lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Desainer cantik itu melihat ke arah layar monitor dimana ada dua bulatan kecil yang bersemayam di dalam rahimnya.
William menghapus tetesan air mata Zinnia yang masih tersisa pada pipinya. "Kau kenapa, Sayang?" tanya William meletakkan tangan Zinnia pada pipinya dengan sebelah tangannya lagi mengusap lembut pipi Zinnia.
"Aku bahagia karena ada dua nyawa yang harus aku jaga di dalam rahimku, aku bahagia karena Tuhan tak membiarkan ayah dari anak ini merasa sendiri lagi, aku bahagia bisa memberikanmu sebuah keluarga yang lengkap! bukan hanya satu buah hati yang akan kita rawat, melainkan dua buah hati yang akan kita besarkan, Sayang!" air mata Zinnia kembali lolos mengingat masa kecil suaminya yang sudah tanpa kasih sayang keluarga yang utuh, hingga William merasa dia sendiri kesepian di dunia ini.
Mata William berkaca-kaca mendengar penuturan istrinya. "Terimakasih, Sayang! hanya itu yang bisa aku ucapkan saat ini padamu," tutur William pada Zinnia.
"Selamat untukmu karena kau sebentar lagi akan menjadi ayah dari baby twins kita," ujar Zinnia pada William.
Mata William yang awalnya berkaca-kaca kini sudah tak bisa menahan bendungan air mata yang akan meluncur bebas melewati pipinya.
William memeluk Zinnia. Pria itu menangis dalam diam. William merasa hidupnya tak akan kesepian lagi.
Keluarga kecilnya sudah menunggunya beberapa bulan ke depan.
William menjauhkan sedikit wajahnya. "Aku mencintaimu dan baby twins kita," ungkap William mengecup kening Zinnia lembut penuh kasih sayang.
Mata desainer cantik itu terpejam dengan bibir yang sudah melengkung indah menikmati ciuman penuh cinta dari suaminya.
William menjauhkan bibirnya dari kening sang istri. "Aku mencintai ayah dari baby twins ini," balas Zinnia tersenyum manis pada William.
Semua keluarga ikut merasakan haru, dan kebahagiaan keluarga kecil itu.
Salma kembali melihat ke arah monitor memastikan sudah berapa usia kehamilan menantunya itu. "Kapan kau terakhir datang bulan, Zi?" tanya Salma memastikan lagi.
Zinnia melihat ke arah suaminya sembari mengingat kapan terakhir dirinya datang bulan. "Aku masih kurang yakin sih, Bun! tanggalnya aku tak ingat pasti, yang jelas sudah hampir satu bulan aku tak datang bulan, Bun!"
Salma tersenyum pada menantunya. "Usia kehamilanmu sudah menginjak Minggu ke-3, Zi!"
Salma mengambil tisu untuk membersihkan sisa-sisa gel yang masih menempel pada perut Zinnia.
Salma menutup kembali bagian perut Zinnia yang terbuka. "Proses USG sudah selesai kita lakukan proses ini saat usia cucuku sudah enam bulan agar jenis kelaminnya lebih jelas," jelas Salma pada William dan Zinnia.
Melati dan Arnon mendekati putrinya yang masih berbaring di tempat tidur rumah sakit. "Selamat ya, Sayang! kau akan segera menjadi ibu dari anak-anakmu! bukan hanya satu anak yang akan kau rawat, tapi dua anak sekaligus," tutur Melati pada putrinya.
Zinnia tersenyum pada sang ibu. "Terimakasih, Mom!" Zinnia melirik ke arah ayahnya. "Daddy harus siap-siap menemani cucu-cucu, Daddy!" Zinnia menggoda ayahnya.
"Kau tenang saja, Nak! Daddy pasti akan menjadi seorang Grandpa yang siap membawa cucu Daddy bermain," ujar Arnon dengan penuh percaya diri.
"Usia kehamilan Zinnia masih sangat muda dan rentan akan keguguran, jadi Bunda sarankan demi keamanan calon anakmu, kalian berdua jangan berhubungan intim sampai janin dalam rahim Zinnia benar-benar kuat," jelas Salma membuat wajah William syok.
"Harus libur dua sampai tiga bulan ke depan tidak menyentuh, Zinnia! dan itu merupakan hal yang tak bisa aku lakukan kecuali dia sedang datang bulan! tapi demi twins baby, aku akan melakukan apapun."
Raut wajah William yang semula syok berganti senyum manis. "Tentu saja, Bunda! demi anakku aku akan menahannya, meskipun aku sebenarnya tak sanggup," tutur William dengan suara mengecil pada akhir kalimatnya.
Semua orang yang hadir tertawa mendengar perkataan Dokter bedah itu.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.