
Pagi-pagi sekali ponsel Sandra sudah berbunyi. Asisten cantik itu meraba ponselnya yang berada di atas nakas.
"Halo!" suara Sandra serak khas orang baru bangun tidur.
"Maaf saya menganggu tidur anda, Nona! tapi ada berita penting yang harus saya sampaikan mengenai, Nona Marinka!"
Saat mendengar nama Marinka, wanita yang masih memejamkan matanya seketika bangun masih dengan mata terpejam. "Berita apa?" tanya Sandra mengucek matanya.
"Barang yang diminta oleh Nona Marinka sudah ada di tangannya dan saya saat ini masih memantau gerak gerik wanita itu mungkin dia akan melancarkan rencananya hari ini, tapi saya tidak tahu tepatnya kapan, Nona!"
Wajah Sandra yang awalnya masih terlihat mengantuk, kini wajah itu terlihat siap untuk berperang.
"Baiklah! terus pantau dia dan kabari jika gerak gerik wanita itu sekiranya mencurigakan! alat penyadap masih ada di setiap sudut ruangan apartemen Marinka kan?"
"Masih, Nona Sandra!"
"Bagus! kau pantau saja apa yang akan dilakukan oleh dia."
"Baik, Nona!"
Sandra segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri dan segera bersiap menuju ke butik.
Zinnia sudah berkutat dengan alat masak yang berada di dapur. Entah mengapa ia pagi ini ingin sekali memasak.
Zinnia ingin membuat chicken wing soup untuk dirinya sendiri. Setelah sibuk beberapa menit sebelumnya dan akhirnya soup sayap ayam ala Zinnia sudah jadi.
Ibu hamil itu menyeduh kuah yang menebarkan aroma pada indera penciumannya.
"Pasti sangat enak sekali!" Zinnia menyajikan satu mangkuk berukuran sedang soup tersebut untuk ia santap.
Setelah selesai, Zinnia membawa mangkuk berisi soup buatannya ke arah meja makan. Tanpa basa-basi, Ibu hamil itu langsung menyantap makanannya.
Beruntung sekali Zinnia tak muntah pagi ini.
William mulai menuruni tiap anak tangga masih dengan pakaian rumahan. Zinnia melihat ke arah suaminya. "Kenapa masih berpakaian seperti itu? apa kau tak bekerja?" tanya Zinnia sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Sebentar lagi, Sayang! apa yang kau makan itu?" tanya William pada istrinya sembari duduk tepat di samping Zinnia.
"Chicken wing soup! mau?" tanya Zinnia sambil menyeruput kuah yang sangat gurih dan terasa sekali kaldunya.
"Apa kau tak merasa mual?" tanya balik William sebelum ia menjawab pertanyaan dari istrinya.
"Tidak! karena aku ingin sekali makan makanan ini," jelas Zinnia menyendok sayuran dan menyodorkan pada William.
"Kau makan saja, Sayang! aku masih belum lapar karena tadi sudah sarapan roti," tolak William halus agar Zinnia memakan makanannya sampai habis.
"Buka mulutmu dan rasakan makanan buatanku ini," pinta Zinnia dengan wajah memohon pada suaminya.
__ADS_1
Karena merasa kasihan pada Zinnia, akhirnya William memutuskan untuk menerima suapan dari istrinya.
"Bagaimana? enak?" tanya Zinnia sembari menunggu jawaban dari suaminya dengan wajah berbinar.
William berlagak sedang memikirkan bagaimana cara ia harus mengungkapkan pada istrinya. "Rasanya itu ...."
"Enak kan?" tanya Zinnia lagi.
William melirik Zinnia dengan senyum manis yang membuat hati para wanita luluh lantah. "Masakan anda enak sekali, Chef Zinnia!" William mengusap lembut rambut panjang Zinnia.
Zinnia berhambur ke dalam pelukan suaminya. "Aku senang sekali bisa memasak masakan yang sangat enak," gumam Zinnia dan William memundurkan sedikit tubuhnya yang masih berada dalam pelukan Zinnia. "Kau itu memang pandai memasak, Sayang! jadi sudah pasti masakanmu enak," jelas William pada istrinya.
"Aku tahu, Sayang! tapi aku senang saja jika bisa memasak hari ini dan hasilnya sungguh tak mengecewakan."
William hanya tersenyum menanggapi celotehan aneh istrinya.
"Kenapa istriku jadi aneh seperti ini? apakah ini bawaan dari si kembar yang berada di dalam perutnya?"
"Kemarilah, Sayang!" William meminta Zinnia agar duduk di pangkuannya.
Ibu hamil itu duduk di pangkuan suaminya. "Aku tahu kau tak muntah saat makan soup ini karena itu keinginan anak-anak kita," jelas William dan Zinnia hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan suaminya.
Ponsel William berbunyi dan Dokter tampan itu mengambil dari saku celana trainingnya.
"Halo!"
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja! aku tahu dari, Sandra!"
"Baiklah! terimakasih untuk informasinya."
Panggilan diakhiri oleh William dan Zinnia masih fokus memainkan rambut lebat suaminya. "Siapa?" tanya Zinnia.
"Itu dari rumah sakit! hari ini aku tak ada jadwal apapun dan aku bisa menemani istri dan anak-anakku," tutur William berbohong pada istrinya.
"Maafkan aku, Sayang! ini demi kebaikanmu dan janin di dalam rahimmu."
Di apartemennya, seorang wanita tengah bersolek menebalkan warna bibirnya agar terlihat lebih seksi lagi.
"Aku akan ke rumah, Kak William! aku akan meminta maaf pada Zinnia kemudian ... BOOM!"
Marinka melihat ke arah cermin dengan tatapan penuh seringai licik. "Waktunya menelepon mangsa."
Marinka mengutak-atik ponselnya meneleponku seseorang.
"Halo!"
__ADS_1
"Ya, Halo! ini dengan siapa ya?"
"Ini aku, Zi! Marinka!"
"Ada apa?"
"Aku sebentar lagi akan ke rumahmu untuk meminta maaf karena aku telah berbuat hal yang tidak seharusnya aku lakukan."
"Hal apa ya?"
"Setelah sampai di rumahmu, aku akan menceritakan semuanya."
"Baiklah!"
Ponsel Marinka di lemparkan ke atas ranjang. Wanita itu merapikan rambutnya. "Mangsa sudah akan masuk dalam jebakan."
Di dalam mobil, Sandra dan Marquez menuju ke arah rumah William. "Kau tahu darimana jika Marinka akan datang ke rumah William hari ini?" tanya Marquez pada Sandra.
"Anak buahku mendengar ucapan Marinka saat dia sedang memasak sembari bergumam sendirian," jelas Sandra.
"Kita harus segera ke sana dan jangan lupa kau harus mempersiapkan pasukan handal di setiap sudut rumah William."
Sandra memutar bola matanya jengah. "Tak perlu kau ajari aku, Tuan Copaldi! aku sudah menyiapkan semuanya secara mendetail karena aku tak ingin Nona dan calon anak-anaknya kenapa-napa."
"Kenapa kau tak membalas pesanku tadi malam?" tanya Marquez yang berganti topik 180 derajat.
Sandra berpura-pura tak mendengar pertanyaan Marquez. Ia terus fokus dengan ponselnya.
"Kau mau bermain-main denganku rupanya ya, tikus kecil!"
"Kau sedang menghindariku atau kau sedang datang bulan?" tanya Marquez lagi sekenanya.
Sandra melirik Marquez dengan sorot mata tajam. "Sedang datang bulan! PUAS! jangan tanyakan apapun lagi."
Sandra kembali fokus dengan ponselnya namun, Marquez tetap saja berulah kembali.
"Ingat jangan terlalu benci, nanti bisa jadi cinta," goda Marquez.
"Tidak akan!"
"Awas jangan terlalu cuek, nanti ...."
"Bisa jadi cinta," sambung Sandra menoleh ke arah Marquez dan wajah mereka seketika saling berdekatan karena Sandra tak tahu jika pria itu berada sangat dekat dengannya.
Sandra segera memalingkan wajahnya menatap ke arah kaca mobil memandangi apa saja yang ada di pinggir jalan, sementara Marquez tersenyum bahagia karena berhasil menggoda Sandra.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.
__ADS_1