
Zinnia sebelum menuju ke arah butiknya, gadis itu ke tempat sahabat lamanya yaitu Jennifer.
Jenifer selain sahabat, ia juga seorang penjahit baju profesional. Ia yang menjadi rekan kerja Zinnia selama beberapa tahun belakangan ini.
Zinnia menuju ke arah rumah Jenifer yang khusus untuk membuat desain bajunya menjadi nyata.
Zinnia masuk ke dalam rumah yang sudah dianggapnya kantor karena rumah itu memang markas Jenifer untuk mengerjakan semua rancangan yang sudah di gambar oleh Zinnia.
Saat Zinnia sudah masuk, Jenifer ternyata tengah menunggunya di atas sofa sambil menonton TV dengan tangan yang memegang sebungkus kentang goreng.
"Wih, enak ya? santai sekali hidupmu, Jen!" Zinnia menyapa sahabatnya itu.
"Kau lama sekali sih, Zi!"
"Maaf! biasa suami masih minta di manja," tutur Zinnia menggoda Jenifer.
"Yang sudah punya suami, pagi-pagi sudah minta di manja, bagaimana jika pagi sudah berganti malam? pasti kau di buat tak tidur," ledek Jenifer balik pada sahabatnya itu.
Zinnia langsung duduk tepat di samping Jenifer. "Kau juga baru kembali dari Cina kan? jadi kau pasti sudah puas berkeliling! saat acara pernikahanku saja kau tak datang karena sibuk mengurus Panda di sana," ledek Zinnia yang mendapat senggolan oleh bahu Jenifer.
"Maaf, Zi! kau tahu sendiri bukan jika kau menikah dadakan dan aku baru dua hari di sana," sesal Jenifer.
"Aku hanya bercanda, Jen! oh ya! ini 20 desain yang harus kau selesaikan dengan waktu kurang lebih 6 harian karena akan ada peluncuran baju musim semi secara massal di Amerika oleh semua perancangan busana di dunia," ujar Zinnia sembari memberikan 20 lembar desainnya pada Jenifer.
Jenifer mengambil tisu untuk membersihkan tangannya sebelum melihat 20 desain baju Zinnia.
Jenifer melihat satu persatu desain yang di buat oleh desainer ternama itu. "Otakmu memang encer ya, Zi! Ini serius kau ingin meluncurkan semua desain ini?" tanya Jenifer dengan nada suara tak yakin.
"Tentu saja, Jen! kenapa tidak! kan ada kau di belakang layar," tutur Zinnia tersenyum pada sahabatnya.
Jennifer tersenyum sambil terus melihat tiap desain Zinnia sampai ia terhenti di sebuah desain dengan huruf besar ZW yang ia tahu bukan lebel pakaian Zinnia.
"Ini kode apalagi, Zi?" tanya Jenifer bingung.
Zinnia melihat ke arah kertas yang ada pada genggaman tangan sahabatnya itu. Ia melihat ada dua huruf besar ZW pada bagian bawah karyanya.
"Apa ini? aku tak pernah merasa menulis dua huruf ini dan ini juga bukan tulisanku," tutur Zinnia kebingungan.
"Coba kau ingat-ingat lagi, Zi! mungkin saat kau membuatnya kau sedang bersama seseorang sampai orang itu usil atau apalah aku tak tahu!"
Zinnia kembali mengingat saat ia membuat desain itu. Gadis itu ingat jika ia saat membuat desain baju itu saat ia berada di ruangan William dan ....
"Apa mungkin suamiku yang menulis itu ya?" tanya Zinnia menatap Jenifer bingung.
"Nama suamimu siapa, Zi?"
"William!"
__ADS_1
Jenifer kembali melihat dua huruf besar tadi yang ia lihat pada bagian bawah desain Zinnia dan benar dua huruf besar ZW.
"Yap! ini memang ulah suamimu," ucap Jenifer yakin 100%.
"Untuk apa Pria mesum itu menulis dua inisial pada desainku?"
"Zi!"
Zinnia terkesiap saat ia kembali sadar dari lamunannya. "Iya!"
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Jenifer menyentuh kening Zinnia.
Gadis itu langsung menepis tangan Jenifer yang terkesan sedang meledeknya.
"Aku sehat, Jen! ingat! 6 hari sudah harus selesai oke!"
Zinnia langsung beranjak dari sofa berjalan ke arah pintu keluar.
Jenifer tahu kebiasaan Zinnia. Gadis itu memang suka terburu-buru jika melakukan sesuatu, namun dengan sifatnya seperti itu menjadikan Zinnia sebagai objek hiburan bagi Jenifer karena gadis itu pasti cerewet sekali.
"Kau memang tak pernah berubah, Zi!"
Zinnia sudah berada di depan butiknya. Ia bingung kenapa hari ini butik terasa sepi tak ramai seperti biasanya.
"Ini kenapa ya? sepi sekali," gumamnya yang langsung berjalan ke arah pintu masuk butiknya. Saat sudah hendak membuka pintu, tiba-tiba dirinya di hujani oleh balon berwarna-warni.
Teriakan semua suara karyawan butiknya menyambut kedatangan Zinnia yang memang ini merupakan hari pertama gadis itu bekerja lagi, setelah gadis itu menikah.
Zinnia tersenyum melihat kejutan selamat datang yang di persiapkan oleh karyawannya.
"Kalian tak ada kerjaan ya?" tanya Zinnia sambil tersenyum pada semua pegawainya.
"Ini sudah dipersiapkan, Bu Zinnia! kami juga ingin mengucapkan selamat bersama-sama atas pernikahan anda dan suami," tutur salah satu pegawainya.
"Terimakasih banyak ya!"
Zinnia berjalan ke arah mejanya, namun sebelum sudah benar-benar sampai di meja kebesarannya itu, ia berbalik badan. "Jangan lupa dibersihkan," tutur Zinnia tersenyum manis pada pegawainya dan diangguki oleh kelima pegawainya itu.
Di rumah sakit, William duduk di kursi kebesarannya. Wangi tubuh Zinnia masih melekat pada sandaran kursinya. "Kenapa wangi gadis itu masih ada di sini? apa dia sengaja memakai parfum sangat banyak atau mungkin 20 botol ia gunakan agar aku bisa selalu ingat dengannya?"
William tersenyum sendiri membayangkan jika Zinnia benar-benar melakukan itu semua padanya.
Pria itu melihat jam tangannya masih pukul 3 sore. "Kenapa lama sekali waktu ini yang akan berganti malam," gumamnya yang bolak balik melihat jam tangannya tanpa henti.
"Apa yang kau lakukan, Will! aku pasti sudah benar-benar gila!"
William menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Ia mulai memejamkan matanya. "Ayo malam cepat datang! aku ingin pulang!"
__ADS_1
William sudah berada di dalam mobilnya. Ia akan pulang ke rumahnya.
Saat melihat jam tangannya. Wajah William kembali di tekuk. "Kenapa waktu berjalan lambat sekali! atau mungkin jam tangan ini sudah rusak?"
William mengambil ponselnya. Ia ragu-ragu saat ingin menghubungi istrinya.
"Aku ingin pulang, tapi saat di rumah aku tak ada teman berbicara! apa aku ke butik Zinnia langsung saja ya?"
William mulai mencari kontak istrinya yang di beri nama " Istri cerewet".
William mulai mengirim pesan pada istrinya.
William
Kau ada dimana?
Belum ada balasan dari Zinnia. Pria itu terus melihat ponselnya yang tak ada balasan chat dari istrinya.
"Kemana sih dia! apa sesibuk itu sampai tak bisa membalas chat dariku?"
Wajah William sudah kesal karena Zinnia berani sekali mengabaikan pesan darinya, namun tiba-tiba suara denting ponsel William berbunyi.
Pria itu buru-buru melihat ponselnya mungkin Zinnia yang membalas pesannya dan benar saja senyum pria itu terukir indah.
William membuka pesan dari istrinya dan membacanya.
Zinnia
Aku masih ada di butik, tapi sebentar lagi aku akan ke suatu tempat.
William
Kau tak boleh kemana-mana, aku akan ke sana sekarang! cepat share lokasimu sekarang.
Zinnia
Untuk apa kau kemari? bukankah nanti malam kau akan menjemputku?
William
Tak perlu banyak tanya, cepat kirim sekarang.
Zinnia
Iya🙄
William tersenyum saat melihat emoticon dari istrinya. Pria itu suka sekali melihat Zinnia kesal.
__ADS_1