
Keesokan harinya. Arnon dan Melati sudah kembali ke kediaman keluarga Gafin. Mereka berdua tengah asik sarapan roti bakar dengan segelas susu hangat.
Arnon sembari menyantap roti bakarnya, ia mengutak-atik ponselnya menghubungi seseorang.
"Ya, Tuan?"
"Kau berangkat sekarang ke rumah, Kakak Ipar!"
"Untuk apa, Tuan?"
"Untuk menjemput dia lah! kau kira untuk apa?" tanya Arnon sambil mengunyah roti bakarnya.
"Baik, Tuan! saya akan berangkat sekarang."
"Jangan lupa nanti siang, kita ada pertemuan," jelas Arnon pada Asistennya.
"Baik, Tuan!"
Panggilan di akhir oleh Arnon. Pram tertunduk lesu berjalan ke arah kamarnya untuk berganti pakaian.
"Kenapa harus aku yang menjemputnya! kenapa dia tak naik taksi atau ojol atau apalah terserah! aku tak ingin berada dalam satu mobil dengan wanita kejam sepertinya," gerutu Pram.
Asisten Arnon itu tak henti-hentinya menggerutu sambil mengenakan pakaiannya.
Setelah siap, ia menyambar kunci mobilnya yang berada di atas laci.
Pram mengendarai mobilnya menuju ke arah rumah Agnez. Pria itu masih memasang wajah masam yang tak sedap di pandang mata.
Pram memang risih jika ia berdekatan dengan Agnez karena hal-hal kejam yang di lakukan Agnez pada Nona mudanya selalu terbayang dalam benaknya, apalagi wanita itu tak jauh dari pakaian seksi. Sungguh Pram merasa tak nyaman dekat dengan wanita macam Agnez.
Agnez berada di kamarnya. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah lama Hadi memetik bunga yang Melati tanam di halaman belakang.
Tok tok tok
Suara ketukan dari arah pintu masuk terdengar oleh telinga Agnez. Ia bergegas menyambar Sling bag-nya berjalan ke arah ruang tamu untuk membuka pintu.
Ceklek
Pintu terbuka menampakkan seorang pria matang yang berdiri tegap di hadapannya dengan wajah datar yang membuat Agnez sebal.
"Iihhh, kenapa wajah pria ini datar begini? apa dia tak bisa sedikit saja tersenyum atau tertawa ya?"
Wajah Pram boleh saja datar, namun hatinya sungguh di buat terkesima dengan penampilan Agnez hari ini.
Dress selutut yang tidak pas body, riasan natural tanpa lipstik merah merona dengan rambut yang di kuncir kuda sedikit di curly.
Penampilan Agnez hari ini sungguh berbanding terbalik dengan penampilannya di setiap harinya sebelum ia di pecat dari perusahaan.
"Kenapa wanita ini merubah penampilannya? apa dia sedang kerasukan Jin baik?"
"Kita berangkat sekarang! aku sudah selesai bersiap," ujar Agnez pada Pram yang masih diam tanpa sepatah katapun.
Wanita itu berbalik hendak mengunci pintu rumahnya, namun tanpa sengaja saat Agnez berbalik, rambutnya menyapu sebagian wajah Pram yang tepat berada sangat dekat dengan Kakak Ipar Arnon itu.
Wangi shampo beraroma segar menyeruak masuk ke dalam rongga pernapasan Pram. Wajah pria itu menegang kala tubuhnya berada sangat dekat dengan tubuh Agnez.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan, Pram! ingat! dia itu wanita jahat!"
Pram berusaha menetralkan perasaannya agar tak hanyut dalam aroma wangi dari tubuh dan rambut Agnez.
Agnez mengira jika Pram sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobilnya, namun kenyataannya pria itu masih berada di belakangnya.
Tanpa ragu Agnez berbalik hendak melangkah menuju mobil, namun ....
"Aduh!"
Agnez menabrak tubuh tegap Pram. Wanita itu sampai terpental ke arah pintu.
BUGHHHH
Kali ini punggung Agnez yang kembali terbentur pada pintu rumahnya.
"Awww!"
Agnez merintih kesakitan, namun Pram tak ada pergerakan ingin membantunya.
"Apa pria ini tak ada rasa kasihan, padaku? huh, sungguh pria tak berperasaan," gerutu Agnez.
Pram hanya melihat Agnez yang merintih kesakitan, kemudian pria itu pergi menuju mobil.
Agnez di buat menganga dengan sikap cuek Asisten Arnon tersebut.
Agnez berjalan perlahan sembari mengusap kepalanya yang terasa sakit.
Gadis itu membuka pintu kursi penumpang dan duduk di sana.
"Tidak! siapa yang menganggapmu supir," sahut Agnez ketus karena ia merasa geram dengan sikap cuek Pram padanya.
"Jika kau tak menganggapku supir! cepat pindah ke depan," cetus Pram.
"Tidak mau!"
"Jika kau tak mau, aku tak akan membantumu!"
Bibir Agnez mengerucut sempurna dengan wajah yang sudah di tekuk.
Wanita itu keluar dari kursi penumpang, kemudian membuka pintu tepat di samping Pram dan duduk di sana.
Tanpa ada percakapan lagi, mobil itu melaju menuju rumah lama Hadi.
Selama di perjalanan, tak ada percakapannya apapun. Yang ada hanya suara halus mesin mobil.
Setelah cukup lama duduk di dalam mobil, akhirnya keduanya sampai di rumah lama Hadi.
Agnez langsung turun sedetik setelah mobil berhenti. Ia tak ingin berlama-lama berada dalam satu mobil dengan Pram yang cueknya bukan main.
Agnez membuka pintu rumahnya. Ia masuk ke dalam menuju halaman belakang.
Sebelum itu, Agnez meletakkan Sling bag-nya di atas meja ruang tamu dan mengambil gunting di dalam laci.
Pram langsung menyusul Agnez setelah ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah lama Hadi.
__ADS_1
Agnez tersenyum melihat ke arah kebun halaman rumah lamanya.
Agnez berjalan ke arah kebun bunga yang mulai di penuhi oleh rumput liar.
Wanita itu mulai memotong satu persatu tangkai bunga yang akan ia jual.
Karena kondisi tadi malam hujan, jadi tanahnya sedikit berlumpur.
Agnez dengan hati-hati melangkah ke depan karena ia takut terpeleset.
Setelah cukup banyak bunga yang ia petik, Agnez bingung harus meletakkannya dimana.
Wanita itu melihat ke sekelilingnya, namun tak ada tempat untuk meletakkan bunga hasil petikannya.
"Kenapa aku lupa membawa keranjang bunga ya? huh, aku harus mengambil dulu."
Agnez hendak berjalan ke dalam rumah. tiba-tiba saja ada keranjang bunga yang muncul di hadapannya.
Agnez tanpa ragu meletakkan semua bunga yang sudah ia petik, namun saat dirinya melihat siapa yang membawa keranjang itu. Senyum yang awalnya merekah indah, kini berubah menjadi tatapan sengit.
"Jika ingin melakukan sesuatu pekerjaan apapun, semua keperluan harus sudah siap! jangan seperti ini! bagaimana jika aku tak membawakan keranjang ini untukmu? Apa kau akan meletakkan bunga mawar yang indah ini di atas tanah?"
Agnez tak menjawab pertanyaan Pram. Ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya dengan batin yang mulai mengumpat hebat.
"Aku tak memintanya untuk membawakan keranjang bunga kemari! dasar pria menyebalkan!"
Agnez memotong setiap tangkai bunga itu dengan hati-hati sama seperti Melati saat memotong bunga-bunganya karena ia pernah sekali melihat adik tirinya itu memetik bunga-bunga ini.
Pram berdiri sambil memegang keranjang bunganya dengan wajah kusut bukan main
Karena menunggu Agnez yang terlalu lama memetik bunganya, akhirnya Pram mengambil gunting yang ada di tangan Agnez untuk mengambil alih pekerjaan wanita itu.
Keranjang bunga yang tadinya dipegang oleh Pram, kini sudah berada di atas tanah.
"Apa yang kau lakukan? kembalikan guntingnya," pinta Agnez ketus.
"Kau terlalu lama! memotong tangkai bunga saja lama sekali! apa sih yang kau tahu?"
Emosi Agnez semakin naik. Wanita itu kesal dengan sikap Pram yang sepertinya tak suka padanya.
"Kembali guntingnya! ini guntingku," pinta Agnez mencoba mengambil alat pemotong tangkai bunga tersebut.
"Biarkan aku saja," ujar Pram.
"Kau terlalu kasar memotong tangkai mereka! nanti bunganya bisa rusak," jelas Agnez yang masih bersikeras ingin mengambil gunting di tangan Pram.
Karena tak ada yang ingin mengalah, akhirnya tarik-menarik pun tak terelakkan lagi. Keduanya sama-sama keras kepala.
Agnez lupa jika di tempat ia berdiri tadi ada lumpur yang harus ia waspadai dan benar saja. Tak butuh waktu 5 detik. 3 detik kemudian tubuh wanita itu terhuyung ke belakang.
Tangan Agnez masih mencengkram gunting yang di genggam oleh Pram.
Agnez terjatuh ke lumpur diikuti oleh Pram yang tertarik oleh tangan Agnez.
Keduanya terjatuh dengan posisi Pram menindih Agnez yang penuh dengan lumpur.
__ADS_1