Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 183 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia mengusap punggung William lembut, pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Apa kau sekarang sudah kembali menjadi anak kecil yang manja lagi? apa pria mesum yang suka menggodaku ini sudah mulai insyaf?" tanya Zinnia tersenyum sendiri sambil terus mengusap punggung suaminya dengan gerakan lembut.


William menjauhkan sedikit tubuhnya untuk melihat wajah sang istri. "Aku masih tetap pria mesum yang kau kenal," tutur William menyentuh pipi istrinya.


Pria itu menempelkan bibirnya pada bibir Zinnia. William pada awalnya hanya ingin mengecupnya saja, namun saat Dokter tampan itu sudah merasakan kenyal dan lembut bibir Zinnia, kecupan itu berakhir dengan pergerakan nafsu yang setiap detiknya berubah menjadi gerakan liar.


Kepala Zinnia sampai mendongak ke atas karena William kali ini benar-benar menguasai permainan.


Tangan gadis itu mencengkram erat kemeja yang di kenakan suaminya.


Zinnia memejamkan mata menikmati belaian demi belaian bibir William yang membuatnya melambung tinggi.


Saat keduanya sudah berada pada tahap lanjutan, ponsel William berdering.


Pria itu menjauhkan sedikit wajahnya, namun napas keduanya masih sama-sama terasa pada wajah masing-masing.


"Si penelpon itu menyelamatkanmu hari ini, Gadis cerewet!"


Cup


William kembali mengecup bibir istrinya sekilas, kemudian ia mengangkat ponselnya yang berada tepat di saku celananya.


Wajah Zinnia sudah memerah. Gadis itu nampak salah tingkah karena dirinya juga ikut menikmati ciuman suaminya.


"Halo!"


William melihat sang istri hendak keluar dari kamar, namun pria itu langsung menarik tangan Zinnia agar berada dalam dekapannya.


Gadis itu sekarang sudah berada dalam dekapan suaminya dengan tangan sebelah kanan menggenggam ponselnya dan tangan kirinya sudah berada pada pinggang istrinya.


Tangan Zinnia juga sudah melingkar pada tubuh suaminya, dengan kepala yang berada di dada bidang Dokter tampan tersebut.


Detak jantung pria itu sungguh dapat di dengar langsung oleh Zinnia.


"Kau ada dimana sekarang, Nak?"


"Aku ada di butik Istriku, Bun! ada apa?"


"Daddy, Bunda, dan kedua orangtua Zinnia akan ke rumahmu untuk makan malam, kita sudah lama tak bertemu dengan kalian berdua semenjak pesta pernikahan itu."


"Iya, Bunda!"


William menundukkan wajahnya menatap sang istri, namun gadis itu tak menatap suaminya. Zinnia lebih memilih menunduk.


William mengusap lembut puncak kepala Zinnia, sampai gadis itu juga menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Zinnia dengan suara berbisik.


William hanya diam dan langsung mengecup bibir istrinya.


Zinnia terkejut. Gadis itu menatap tajam suaminya.


William hanya tersenyum dan pria itu lagi-lagi mengecup bibir Zinnia.


Cup cup


Bukan hanya sekali, tapi dua kali.


"Kau sedang apa, Will? apa jangan-jangan kau masih bermesraan dengan istrimu?"


"Anu, Bun! anu ...."


"Anu apa? Bunda mendengar seperti suara kecupan? apa kau masih bermesraan?"


Zinnia mendengar sekilas perkataan mertuanya. Ide konyol mulai timbul dalam otaknya.


"Kau berani ingin menggodaku, Pria mesum! hahaha! sekarang kau yang akan aku goda sampai puas."


Zinnia menjijitkan kakinya agar bibirnya dapat menempel sempurna pada bibir William.


Cup cup cup cup cup cup


Kecupan Zinnia bukan hanya sekali atau dua kali, melainkan berkali-kali karena Zinnia sudah kesal dengan tingkah William yang tak tahu kondisi.


"Tidak, Bun! istriku hanya bercanda dia ...."


Perkataan William terpotong karena Zinnia lagi-lagi mengecup bibirnya tanpa henti.


Cup cup cup cup cup cup cup


William menjauhkan wajahnya dari jangkauan sang istri.


"Bun! aku tunggu di rumah nanti malam ya? bye!"


William langsung memutuskan panggilannya dan pria itu melempar ponselnya ke arah kasur.


Zinnia sudah ingin kabur dari jangkauan suaminya, namun William langsung mengangkat tubuh Zinnia dan melemparkannya ke atas ranjang.


Pria itu sudah menindih tubuh istrinya. "Kau berani mengajakku bermain ya, Gadis cerewet! apa kau ingin Bunda tahu jika kita sedang dalam tahap berciuman seperti tadi?"


Zinnia tersenyum menanggapi pertanyaan suaminya.


"Ya! aku ingin Bunda tahu jika kita sedang ...."

__ADS_1


William langsung melahap habis bibir istrinya. Pria itu terus mengobrak-abrik apa saja yang ada di dalam mulut Zinnia.


William mulai mengarahkan tangannya pada resleting baju istrinya yang berada di bagian punggung Zinnia.


Pria itu terus membuat Zinnia terlena akan ciumannya agar sang istri tak menolaknya kali ini.


William sungguh sudah tak bisa menahan hasratnya lagi. Ia tak ingin berendam terus-menerus karena ulah Zinnia.


Karena rangsangan dari tangan William pada bagian punggungnya yang berusaha membuka resleting bajunya, Zinnia membalas ciuman William.


Gadis itu sepertinya lebih lihai dari biasanya dengan cara Zinnia membalas ciuman William.


Dokter tampan itu nampak sedikit terkejut karena ia tak tahu jika Zinnia bisa cepat sekali belajar.


Tangan Zinnia sudah melingkar pada leher William. Keduanya sudah sama-sama masuk dalam dunia mereka berdua, dunia William dan Zinnia.


Keduanya sama-sama menikmati suasana romantis di pagi hari.


Morning kiss ada, bahkan mungkin lebih dari sekedar morning kiss untuk pagi ini, bisa saja percintaan mereka di mulai pagi ini juga.


Suara denting ponsel William berbunyi, menandakan jika ada pesan masuk.


Ponsel itu tepat berada di dekat kepala Zinnia, membuat desainer cantik tersebut sadar akan apa yang ia lakukan dan seketika menjauhkan kepalanya dari jangkauan bibir suaminya.


"Jangan di teruskan," tutur Zinnia dengan suara lembutnya.


Mata gadis itu masih menatap suaminya yang dalam keadaan mata terpejam.


William perlahan membuka matanya yang di penuhi kabut gairah. "Kenapa kau tak menolakku dari awal jika kau tak ingin menuntaskannya, Zi!"


Wajah pria itu sungguh memelas. Zinnia sampai tak tega membiarkan suaminya menahan sesuatu yang memang seharusnya ia berikan, namun ia masih tak ingin melakukan dengan William jika pria itu tak ada perasaan padanya dan dirinya juga belum tahu tentang perasaannya sendiri terhadap William.


Cup


Zinnia mengecup bibir William sekilas. "Aku akan memberikan semua yang kau mau jika kau benar-benar sudah mencintaiku dan menerimaku sebagai istrimu! aku ingin melakukannya dengan pria yang mencintaiku dan yang aku cintai, Will!"


Zinnia mengusap lembut pipi suaminya. Gadis itu kembali mengecup bibir William sekilas.


Cup


"Aku akan berusaha untuk membuatmu cepat mengatakan jika kau mencintaiku," tutur Zinnia dengan mata yang penuh kejujuran tanpa ada dusta jika gadis itu akan ingkar janji pada suaminya.


William mengehela napas panjang. Dokter tampan tersebut menatap kedua manik mata istrinya yang berwarna hitam pekat. "Bagaimana jika aku nanti sudah jatuh cinta padamu, tapi kau masih belum mencintaiku?" tanya William dengan raut wajah serius.


Zinnia tersenyum sambil melingkarkan tangannya pada leher William. "Pada saat itu, kau yang harus berusaha untuk membuatku jatuh cinta padamu," ujar Zinnia mengerlingkan sebelah matanya.


William hanya diam tanpa bersuara. Pria itu masih memikirkan ucapan Zinnia.

__ADS_1


"Apa mungkin aku sudah jatuh cinta padanya? jika tidak, kenapa aku selalu ingin bersama dengan gadis ini? ah, terserah saja! suatu saat nanti pasti semuanya akan terungkap dengan sendirinya."


William beranjak dari kasur berjalan ke arah kamar mandi untuk berendam air dingin, sementara Zinnia hanya bisa tersenyum melihat raut wajah suaminya yang nampak kecewa bercampur kesal.


__ADS_2