Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 153 ( Season 2 )


__ADS_3

Arnon keluar dari kamar putrinya menuju lantai paling bawah. Ia berjalan ke arah halaman belakang, sedangkan Melati masih bersama Zinnia di kamarnya.


Arnon sedang menghubungi seseorang yang tak lain adalah Edward. Ia ingin menyampaikan berita baik pada sahabatnya itu.


"Halo, Ed!"


"Ini masih belum sore, Ar! apa putrimu menolak lamaran keluarga kami untuk menjadi menantuku?"


"Kau salah besar kawan! dia justru menerima lamaran itu dan kita berdua akan menjadi besan."


"Kau serius, Ar?"


"Tentu saja aku serius, untuk apa aku berbohong mengenai masalah seserius ini, kau pikir aku ingin membuatmu melambung kemudian menjatuhkanmu sampai kau hancur?"


"Aku percaya padamu! terimakasih! karena aku yakin berkat bujuk rayumu, Zinnia akhirnya mau menerima lamaran dari keluarga kami! sekali lagi terimakasih, Ar!"


"Sama-sama calon besan!"


"Aku akan tutup panggilan ini, karena Salma dan William harus tahu jika masalah besar keluarga kami sudah teratasi."


"Oke."


Panggilan diakhiri oleh Edward. Ia berjalan ke arah ruang keluarga, dimana William dan Salma sedang memikirkan masalah yang masih belum terpecahkan jalan keluarnya.


"Aku ada kabar gembira untuk kalian berdua."


Suara bariton Edward membuyarkan lamunan dua orang yang sedari tadi duduk di sofa ruang keluarganya.


"Kabar apa, Sayang?" tanya Salma.


Edward menatap ke arah William yang nampak sangat lesu.


"Mempelai wanita sudah menerima lamaran kita," tutur Edward.


Wajah Salma di penuhi dengan guratan kebahagiaan. Ia bersyukur sekali Zinnia mau menjadi calon menantunya.


Sementara William masih diam tak memberikan respon setelah mendengar ucapan Edward.


"Apa kau tak penasaran siapa calon istrimu, Will?" tanya Edward sedikit menggoda William.

__ADS_1


"Kenapa Daddy langsung melamar anak orang begitu saja tanpa bertanya padaku terlebih dulu? jika aku tak menyukai perempuan itu bagaimana, Dad?"


"Jika kau mencari wanita yang kau sukai, tentu saja besok acaranya akan batal dan keluarga kita akan malu, Will! dia gadis yang kau kenal sejak kecil, bahkan sejak dia bayi," jelas Edward


"Aku mengenalnya?" tanya William penuh tanda tanya besar dalam otaknya.


"Ya, kau kenal dia, bahkan kau setuju menikah dengannya saat orangtua gadis itu menjodohkan putrinya denganmu," jelas Edward memberi sedikit bocoran siapa gadis itu sebenarnya.


"Jangan-jangan maksud, Daddy ... Zinnia?"


"Tepat sekali dan kami dua keluarga sudah sepakat menikahkan kalian! dia yang akan menjadi pengganti, Marion!"


"Astaga! itu hanya perkataan bocah, Dad! apa Daddy menganggapnya serius? aku saja tak tahu dia seperti apa dan tak mengenalnya! bagaimana kita berdua bisa menikah?"


"Jika kau tak mau menikah dengannya tak apa! kita hitung mundur saja keluarga Pattinson malu di tahun ini," ancam Edward yang membuat William mengusap wajahnya frustrasi.


"Kau tinggal pilih, Will! ingin keluarga ini malu atau kau lanjutkan pernikahanmu besok dengan mempelai wanita berbeda dan yang jelas mempelai wanita ini lebih baik segalanya di bandingkan, Marion!"


Edward memang sengaja menajamkan perkataannya agar William sadar jika ia telah mencintai perempuan yang salah, bahkan tak pernah mencintainya.


Salma mendekati William. Ia mengusap rambut Dokter muda itu.


Kepala William semakin pusing. Ia bingung harus memilih yang mana. Sebagian perasaannya mengatakan ia menolak melanjutkan pernikahan ini, namun sebagian lagi ia tak ingin keluarganya malu karena ulahnya.


"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau tuai, Will! kau harus menanggung resiko ini karena kau telah salah melabuhkan hatimu pada wanita yang tak tahu diri itu."


William diam dengan mata terpejam. Ia mulai mengambil keputusannya. "Baiklah! aku akan menerima pernikahan ini," tuturnya dengan senyum di buat senatural mungkin.


Edward dan Salma tersenyum lega karena William mau menerima pernikahan ini.


"Terimakasih, Nak! kau harus belajar mencintai calon istrimu mulai dari sekarang," pinta Salma pada William.


"Akan aku usahakan, Bun!"


"Harus bisa, Sayang! Bunda yakin, kau pria yang bertanggung jawab! kau tak akan membiarkan wanita terlantar atau bahkan menderita karena perjodohan dadakan ini," tutur Salma lagi.


William mengangguk mengiyakan permintaan Bundanya. Ia mencoba mengambil hikmah dari kejadian semua ini.


Mungkin takdir hidupnya sudah di gariskan seperti ini dan ia sebagai manusia harus mengikuti dan menjalani alur kehidupannya.

__ADS_1


Zinnia masih berada di kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar itu.


"Apa gara-gara mimpi itu ya? aku harus menikah besok," gumamnya sambil memeluk guling.


"Zinnia, please! kau jangan terlalu memikirkan semua ini! kau berpikir positif saja jika yang kuasa telah mengirimkanmu suami tanpa harus kau cari! itu artinya kau manusia yang beruntung, Zi!"


Gadis itu menyemangati dirinya sendiri agar rasa pusing yang mulai menyelimutinya segera enyah dari dalam kepalanya.


Arnon dan Melati sudah berada di rumah besar keluarga Gafin. Keduanya sudah duduk di ruang keluarga bersama dengan Susan dan Sandi.


"Ada apa, Arnon? tumben kau kemari tak mengabari, Mommy?" tanya Susan.


"Ada kabar penting yang akan kami sampaikan pada, Mommy dan Papi!"


"Kabar apa?" tanya Sandi dengan kacamata minus yang bertengger di kedua matanya.


"Zinnia akan menikah besok, Mom, Pi!"


Susan dan Sandi terkejut karena Arnon memberitahu mereka dadakan. "Apa kau sungguh serius dengan berita penting ini?" tanya Susan memastikan.


"Tentu saja, Mom! aku tak bercanda."


"Tapi setahu, Mommy! cucu pertama Mommy itu tak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun! kenapa sekarang dia sudah mau menikah saja," selidik Susan.


"Dia akan menikah dengan, William Pattinson! Edward yang melamar Zinnia tadi pagi," jelas Arnon.


"William Pattinson? dia bukannya anak dari saudara Edward yang sudah meninggal karena kecelakaan pesawat?" tanya Susan lagi.


"Iya, Mom! dan William juga sudah memiliki 15 rumah sakit besar yang tersebar di berbagai Negara, 9 di luar Negeri dan 6 berada di Indonesia. Dari rumah sakit yang berada di Indonesia, 5 diantaranya merupakan rumah sakit dari hasil keringatnya sendiri, sementara yang lain warisan mendiang orangtuanya," jelas Arnon.


Susan hanya manggut-manggut mendengar penjelasan anaknya.


"Jadi Mommy tenang! masa depan cucu Mommy pasti cerah dan menurut penyelidikan yang aku terima, William merupakan pria yang ramah dan dia juga dingin pada wanita yang menatapnya dengan tatapan lapar," jelas Arnon lagi agar sang ibu tak menghawatirkan rumah tangga Zinnia.


"Kalau begitu, besok pagi Zinnia suruh datang kemari! karena Mommy sudah jauh-jauh hari menyiapkan gaun pernikahan untuknya."


"Mommy serius?" tanya Melati pada mertuanya.


"Iya, Nak! karena Mommy ingin melihat Zinnia tampil cantik di pesta pernikahannya."

__ADS_1


Semua orang yang berada di ruangan itu tersenyum bahagia mendengar ucapan Susan.


__ADS_2