Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 236 ( Season 2 )


__ADS_3

Sandra dan Marquez sudah berada di sebuah ruangan yang entah itu ruangan apa. Yang jelas Sandra sudah berada di atas pangkuan Marquez.


Desainer tampan itu menyentuh bibir lembut bagai squishy itu. "Aku menginginkan ini lagi," tutur Marquez menatap bibir asisten Zinnia penuh hasrat.


Sandra tak menanggapi ucapan Marquez, wanita itu memilih membuka satu persatu kancing kemeja abu-abu yang dikenakan oleh Marquez.


Si empunya kemeja menatap wanita yang berada di atas pangkuannya dengan tatapan bingung. "Kenapa kau membuka kancing kemejaku?" tanya Marquez pada Sandra yang masih asyik dengan kancing kemejanya.


Sandra menghentikan kegiatannya. Ia menatap mata Marquez penuh cinta. "Aku ingin kau merasakan lebih dari sekedar berciuman saja," bisik Sandra tepat di telinga Marquez.


Mata Marquez terpejam kala napas hangat Asisten Zinnia itu mengenai bagian telinganya.


Tangan Marquez melingkar indah pada pinggang Sandra dan tubuh asisten cantik itu ia tarik lebih menempel pada tubuhnya. "I want you to be my woman!" Marquez mengutarakan keinginannya pada Sandra.


Sandra tersenyum sembari mengecup mesra pipi Marquez. "Lakukan," pinta Sandra melingkarkan tangannya pada leher Marquez.


Pria itu tersenyum simpul sembari berdiri mengangkat tubuh Sandra.


"Kita mau kemana?" tanya Sandra pada Marquez.


"Kita akan melakukannya di atas sofa, Baby!"


Marquez mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa panjang yang berada di ruangan itu.


Mata keduanya masih saling pandang dengan langkah Marquez menuju arah sofa panjang yang akan menjadi saksi percintaan panas mereka.


Marquez meletakkan tubuh Sandra dengan posisi duduk di sofa.


Pria itu duduk tepat di samping Sandra. "Apa kau siap?" tanya Marquez menyentuh pipi Sandra lembut.


"Lakukan, Tuan Copaldi!" Sandra memejamkan matanya memberikan akses pada Marquez untuk menjadikan dirinya wanita desainer tampan itu.


Marquez mendorong tubuh Sandra ke sofa agar tubuh itu terbaring di sofa dan ....


BUKKKK


Suara benda jatuh ke lantai terdengar sangat keras. "Aduh!" rintihan Sandra mulai terdengar karena tubuhnya saat ini sudah berada di lantai bukan di kasur empuknya.


Asisten cantik itu meringis kesakitan sambil memegang pinggulnya yang terasa sakit karena mengalami benturan dengan lantai.


Seketika ingatan tentang dirinya dan Marquez muncul. Wanita itu langsung melebarkan matanya. "Apa yang ada dalam pikiranku? kenapa ... astaga! apa sih yang aku mimpikan itu," gumamnya dengan mimik wajah kesal Sandra bangun dari lantai duduk di atas kasurnya. "Apa sih yang aku pikirkan! kenapa harus memimpikan pria itu, sampai dia harus ikut masuk dalam tidurku," gumam Sandra kembali membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Ceklek


Suara pintu kamar Sandra terbuka. "Apa kau masih belum bangun, San?" tanya Kakak Sandra yang sudah berstatus janda anak dua karena suaminya meninggal kecelakaan proyek.


"Kerja? bukankah ... sekarang tanggal berapa, Kak?" tanya Sandra pada Nina.


"Tanggal 20, San!"


Tanpa berkata apapun, asisten cantik itu segera bergegas ke arah kamar mandinya.


Nina yang melihat kelakuan adiknya itu hanya geleng-geleng kepala karena Sandra masih seperti anak kecil jika dia sedang di rumah.


Zinnia dan William sudah bersiap akan berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing.


Seperti biasa, Zinnia masih merapikan kemeja suaminya agar penampilan William sempurna.


"Kau pulang jam berapa hari ini?" tanya William pada istrinya dengan tangan yang sudah melingkar pada pinggang ramping Zinnia.


"Sepertinya sore, karena ada banyak hal yang harus aku bahas dengan Marquez di butik," sahut Zinnia sembari merapikan kerah kemeja suaminya.


Setelah selesai, William menarik Zinnia ke dalam pelukannya. "Aku pasti sangat merindukanmu seharian ini," tutur William menempelkan pipinya pada puncak kepala Zinnia.


"Jika kau sudah merasa tak kuat dengan kemesraan mereka berdua, kau bisa menghubungiku agar kau juga bisa bermesraan di sana," ujar William pada istrinya.


"Tidak perlu! mereka mungkin bisa bermesraan di sana, tapi aku dan dirimu bisa lebih mesra lagi saat aku sudah sampai di rumah," jelas Zinnia sembari mengangkat wajahnya menatap ke arah suaminya.


William tersenyum geli karena ia mengerti maksud istrinya.


Cup


Kecupan singkat mendarat pada bibir Zinnia. "Aku akan menunggu sampai kita pulang bekerja dan kau yang harus menguasai permainan nanti malam," tutur William pada Zinnia.


Zinnia mengerlingkan matanya. "Aku akan membuatmu puas, Pak Dokter!"


Mereka kembali berpelukan. William mengecup puncak kepala istrinya. "Aku berangkat dulu ya, Sayang!" William berpamitan pada istrinya.


"Hati-hati ya," ujar Zinnia melambaikan tangan pada William yang sudah melangkah ke arah pintu keluar namun, pria itu masih berbalik badan menghadap ke arah Zinnia. " Ingat! jangan tebar pesona atau terlalu dekat dengan, Marquez!"


Zinnia tersenyum pada William. "Siap, Pak Dokter!" Zinnia memberikan hormat pada suaminya dengan posisi badan tegap.


"I love you, Sayang!" William masih sempat mengucapkan kata cintainya pada Zinnia.

__ADS_1


"I love you too, Sayang!"


Sandra sudah siap dengan setelan bajunya. Wanita itu keluar dari kamarnya menuruni tiap anak tangga menuju lantai dasar.


"Aku langsung berangkat ya, Kak!" Sandra mengambil sandwich yang sudah di sediakan oleh kakaknya.


"Kau tak makan di rumah saja? bukankah masih jam setengah tujuh?" tanya Nina pada adiknya.


"Tidak, Kak! aku makan di mobil saja," sahut Sandra.


"Kau kan menyetir mobil sendiri, San! bagaimana kau akan makan?" tanya Nina kembali.


"Bisa kok, Kak! aku berangkat dulu ya, Kak!"


Sandra berjalan cukup cepat sembari mengunyah sandwich dalam mulutnya.


Saat Sandra hendak masuk ke dalam mobilnya, ia melihat mobil yang sangat familiar berada di luar pagar rumahnya. "Mobil siapa itu? aku sepertinya kenal dengan mobil itu, tapi milik siapa ya?"


Sandra masih mencoba mengingat-ingat mobil yang terakhir ia temui dan kunyahan pada mulutnya terhenti karena ia tahu itu mobil siapa.


Sandra berjalan menuju ke arah pagar rumahnya. Wanita itu mengintip dari balik sela-sela pintu pagarnya. "Itu kan mobil, Tuan Copaldi!"


Sandra membuka pagar rumahnya berjalan ke arah mobil milik Marquez.


Tok tok tok


Perlahan kaca mobil itu turun dan Sandra saat ini berdiri tepat di seberang posisi kemudi.


"Untuk apa anda ... maksudku, untuk apa kau kemari?" tanya Sandra tersenyum manis pada Marquez.


Pria itu juga membalas senyuman kekasih palsunya tak kalah legit dari senyuman Sandra. "Tentu saja aku menjemput, Pacarku!"


"Pacar yang mana?" tanya Sandra sembari mengigit sandwich yang masih tinggal beberapa gigitan lagi.


"Pacarku hanya satu yaitu kau, Nona. Asisten!"


Seketika Sandra tersedak karena ucapan Marquez yang mengatakan jika hanya dirinya pacar satu-satunya.


Wajah wanita itu sudah memerah bagai cabai matang di pohon.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.

__ADS_1


__ADS_2