Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 240 ( Season 2 )


__ADS_3

Kedua pasangan itu mulai beranjak dari kursi taman. Mereka berjalan seperti posisi tadi.


Zinnia dan suaminya berada di depan, sementara Sandra dan Marquez berada di belakang mereka.


Zinnia menggenggam erat tangan William. Wanita itu mengayunkan pegangan tangan keduanya.


Saat sudah hampir mencapai tempat parkir, Zinnia tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Wanita bertubuh ramping itu memegang erat lengan William.


"Sayang! kau kenapa?" tanya William pada istrinya.


Zinnia mencoba menahan sesuatu yang secara tiba-tiba menghampirinya.


Keringat mulai memenuhi pelipis desainer cantik itu, sampai wajah William yang melihat semuanya ikut cemas. "Sayang! kau kenapa? jawab aku," desak William agar Zinnia mau menjawab pertanyaannya.


Sandra dan Marquez yang cemas melihat William dan Zinnia segera menghampiri pasangan suami istri tersebut.


"Nona kenapa?" tanya Sandra dengan wajah tak kalah cemas dengan William.


Wajah Zinnia sudah pucat. Pandangan wanita cantik itu lama-lama semakin memudar, semakin memudar. "Kepalaku pusing," gumam Zinnia pada William. Selesai mengucapkan kata-kata itu, semua yang Zinnia lihat sudah gelap tak nampak apapun dan tubuh rampingnya itu ambruk seketika.


William dan Marquez spontan menahan tubuh Zinnia agar tak jatuh ke tanah.


"Sayang! bangun!" William menepuk pipi Zinnia namun, wanitanya sudah tak sadarkan diri.


"Marquez kau yang mengemudikan mobilku," pinta William dan desainer tampan itu mengangguk segera berjalan cepat ke arah mobil William.


Zinnia sudah berada dalam gendongan suaminya dengan wajah cemas William yang sangat terlihat. "Sayang! bangun! aku mohon," ujar William dengan bendungan air matanya yang sudah berkumpul hendak menetes.


Tubuh Zinnia lemas dan wajah pucatnya membuat William cemas bukan main.


Sandra membawa tas jinjing Zinnia yang tergeletak begitu saja saat bosnya itu pingsan.


Mereka berempat sudah berada di dalam mobil. Zinnia sudah tergeletak lemas di pangkuan suaminya.


William tak henti-hentinya mencium punggung tangan Zinnia. "Sayang! bertahan ya? kita akan segera sampai di rumah sakit," tutur William sembari terus mengecup punggung tangan istrinya.


"Kita langsung ke rumah sakit, Marq!" William mulai memberikannya instruksinya.


Marquez yang melihat Zinnia dan William dari kaca spion tengah semakin menekan lebih dalam lagi gas mobil milik Dokter tampan itu.


Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah terparkir tepat di depan ruang IGD.


William segera mengangkat tubuh istrinya agar cepat di periksa oleh Dokter.


William yang seorang dokter handal mendadak menjadi bodoh tak bisa memeriksa istrinya sendiri, mungkin karena kecemasan yang berlebih membuat William lemah seperti sekarang ini.


"Tolong periksa istri saya, Dok!" William nampak terlihat sangat cemas karena tubuh Zinnia benar-benar pucat.

__ADS_1


"Tenangkan diri anda, Dokter William! kami akan memeriksa kondisi Ibu Zinnia terlebih dulu," tutur dokter wanita itu.


William mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Pria itu menghubungi Ibunya.


"Halo, Bunda!"


"Ada apa, Nak?"


"Bunda bisa kerumah sakit sekarang? Istriku tiba-tiba tak sadarkan diri saat kita keluar tadi, aku sangat takut, Bunda! kami sekarang berada di IGD."


"Kau tenang ya, Will! Bunda dan Daddy akan segera ke sana!"


"Bunda hubungi mertuaku juga ya?"


"Iya, Nak!"


Panggilan di akhiri oleh William. Pria itu melihat ke arah istrinya yang sudah selesai di periksa oleh dokter dengan selang infus yang menempel pada tangannya.


William segera menghampiri dokter wanita yang tadi menangani sang istri. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya William dengan raut wajah cemas.


"Anda tenang saja, Dokter William! istri anda hanya kelelahan saja dan saya sarankan anda meminta Dokter Salma untuk memeriksa kondisi istri anda juga," tutur Dokter wanita bername tag Lisa itu.


"Kenapa harus Bunda yang memeriksanya, Dokter Lisa! apa istri saya menderita penyakit tertentu?" tanya William semakin cemas dengan kondisi istrinya.


Dokter Lisa hanya tersenyum karena jika seorang pria tengah cemas akan kondisi istrinya, meskipun pria itu pintar sekalipun dia akan lupa akan kepintarannya itu karena yang ada dalam pikirannya adalah kondisi istrinya.


William mendekati istrinya yang terbaring lemas. "Sadarlah, Sayang! aku tak ingin kehilanganmu," gumam William terus mengusap lembut rambut Zinnia.


Tak butuh waktu lama, Salma, Edward, dan Melati masuk ke dalam ruangan.


Arnon, Marquez, dan Sandra menunggu di luar.


Melati mendekati Zinnia yang terbaring tak sadarkan diri. "Kau kenapa, Nak?" tanya Melati dengan mata yang sudah berkaca-kaca memandang wajah anakknya yang sangat pucat.


"Dia kelelahan, Mom! tapi kata, Dokter Lisa! Bunda harus memeriksanya juga," jelas William menatap ke arah Salma.


Edward dan Salma saling tatap, seketika keduanya secara bersamaan mengangguk.


Salma mendekati Zinnia. Dokter spesialis kandungan itu memeriksa nadi menantunya beserta perut Zinnia. "Kita harus melakukan USG saat Zinnia sadar," ujar Salma pada William.


William tak bisa berpikir jernih, ia selalu mengira jika Zinnia menderita penyakit serius karena yang ada dalam pikirannya adalah ia tak ingin orang yang ia sayangi harus di ambil lagi darinya.


William memeluk Salma erat. "Aku tak ingin dia meninggalkan aku, Bun! cukup mama dan papa yang pergi! aku tak ingin istriku juga pergi," ujar William dengan sebulir air mata yang jatuh meluncur mengenai baju Salma.


Salma hanya tersenyum karena William mengira Zinnia tengah mengalami penyakit serius. "Kau tenang saja ya, Nak! semoga Zinnia tak kenapa-napa," jelas Salma mengusap punggung William lembut.


Melati melihat ke arah William dan Salma. Ia tahu jika menantunya itu sangat menyayangi putrinya.

__ADS_1


"Aku bersyukur sekali karena Zinnia memiliki suami yang sangat menyayanginya."


Zinnia di pindahkan ke ruangan rawat inap sampai dia sadar, USG akan dilakukan.


William masih setia menunggu di dalam dengan tangan yang tak ingin lepas dari tangan Zinnia.


Sementara yang lain menunggu di luar karena Zinnia memerlukan istirahat yang cukup.


"Bagaimana keadaan Nona Zinnia, Nyonya Melati?" tanya Sandra pada ibu bosnya itu.


"Dia tak apa-apa, Nak! hanya kelelahan saja," sahut Melati pada asisten putrinya.


"Kenapa harus di rawat inap, Bibi?" tanya Marquez menyela.


"Kata, Salma! Zinnia harus melakukan USG setelah dia sadar," jelas Melati pada Marquez.


"Apa kondisi Zinnia separah itu? kenapa harus di USG? atau mungkin dia sudah ...."


Tangan Zinnia mulai bergerak-gerak. William yang tertidur dengan posisi kepala berada di samping Zinnia membuat desainer cantik tersebut menoleh ke arah suaminya. "Kau pasti kelelahan karena menjagaku," gumam Zinnia mengangkat tangan kanannya menggapai kepala suaminya.


William merasa ada sesuatu yang mengusap rambutnya. Pria itu terbangun dari tidurnya yang hanya beberapa menit itu.


Saat matanya terbuka lebar, William melihat wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. "Kau sudah sadar, Sayang?" tanya William pada Zinnia dan wanita itu hanya mengangguk.


Tanpa sadar mata William sudah mulai berkaca-kaca. "Aku takut kehilanganmu," tutur William menundukkan kepalanya karena ia merasa buliran air matanya akan jatuh.


Zinnia mengusap lengan suaminya lembut. "Apa yang kau katakan? aku tak akan meninggalkanmu, Sayang! aku Zinnia Putri Marvion Gafin, akan selalu menjadi istri dari, Aiden William Pattinson!"


William berdiri memeluk tubuh istrinya yang masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. "Aku tak ingin kehilanganmu, Sayang! aku sangat takut jika aku harus sendirian lagi di dunia ini."


Zinnia mengusap-usap punggung William. "Aku tak kenapa-napa, Sayang! kau jangan cemas karena aku mencintaimu," ujar Zinnia ingin menenangkan hati suaminya yang cemas karena ulahnya yang tiba-tiba pingsan tanpa sebab.


William memundurkan tubuhnya dan kembali duduk di kursinya. "Jangan seperti itu lagi! jika kau sudah merasa tak enak badan, kau bilang padaku," pinta William pada istrinya.


"Tapi aku tadi tak kenapa-napa, Sayang! tiba-tiba saja semuanya gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi," jelas Zinnia.


"Intinya lain kali jika kau merasa tak enak badan, kau harus bilang padaku," pinta William lagi.


"Siap, Pak Dokter!"


"Aku mencintaimu, Sayang!"


Cup


Kecupan singkat mendarat di bibir Zinnia.


Wanita itu tersenyum sembari berkata, "Aku juga mencintaimu, Sayang!"

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2