
Langkah Zinnia dan William semakin dekat dengan pintu masuk ruangan yang akan menjadi tempat perayaan ulang tahun Marinka dan Marion.
Satu langkah lagi kaki mereka akan melewati pintu masuk. Saat kaki keduanya sudah menapaki lantai ruang pesta, Zinnia dan William disambut oleh dua wanita kembar yang terlihat sangat mirip bagai benang dibelah dua.
Zinnia seketika mengeratkan pelukannya pada lengan William dan pria itu tahu jika Zinnia saat ini tengah tegang karena begitu masuk ruang pesta, salah satu seorang wanita yang pernah ada di dalam hidup William menyambut kedatangan pasangan muda yang masih hangat-hangatnya mengarungi bahtera rumah tangga.
Zinnia dan William berhenti tepat di depan kedua wanita kembar itu.
Semua tamu yang hadir melihat ke arah Zinnia dan William yang nampak terlihat seperti putri dan pangeran negeri dongeng.
Mereka berdua terlihat sangat serasi. Yang satu cantik dan yang satunya lagi tampan.
"Selamat datang, William dan Zinnia!" Marinka menyambut keduanya dengan senyum palsunya.
"Kenapa Zinnia sangat cantik sekali malam ini? hah, sudahlah aku tak perduli! sebentar lagi kecantikanmu itu akan hilang di telan rasa malu! biarkan dia berbangga diri dulu atas kecantikannya malam ini."
William tersenyum begitu pula dengan Zinnia.
Desainer cantik itu masih tak bisa membedakan yang mana Marion dan Marinka. Wajah Zinnia masih kebingungan.
William melihat ke arah istrinya yang diam memperhatikan si kembar secara bergantian.
"Yang di sebelah kiri itu, Marinka! dan yang di sebelah kanan adalah ...."
"Hai, Kak Marion!" Zinnia langsung menyapa Marion karena ia tak ingin William menyebut nama wanita yang pernah ada di dalam hati suaminya.
"Salam kenal ya, Zinnia! aku orang yang mengidolakanmu sejak lama," tutur Marion mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Zinnia dan Zinnia dengan senang hati menerimanya.
"Berlagak akrab, tapi dalam hatinya kesal bukan main si gadis ingusan itu."
Marinka hanya bisa tersenyum simpul melihat keakraban Zinnia dan Marion.
"Kalian berdua bisa bergabung dengan tamu yang lain," pinta Marinka pada Zinnia dan William.
Saat kaki keduanya sudah akan melangkah menuju arah tamu yang lain, tiba-tiba suara Marinka yang melengking terdengar.
"Tuan Copaldi!" Marinka berjalan menghampiri desainer tampan itu.
__ADS_1
Semua orang yang berada di ruangan itu melihat ke arah Marquez, termasuk William dan Zinnia.
Kini giliran hati William yang tak merasa tenang. Ia merasa takut Zinnia akan tertarik pada partner baru istrinya itu.
Marquez dan Marinka berjalan menuju arah William, Zinnia, dan Marion.
"Perkenalkan! ini Marquez Copaldi, desainer yang sangat aku idolakan," tutur Marinka dengan omong kosong besarnya.
Marion memutar bola matanya jengah. Ia tak habis pikir dengan Marinka, kenapa adiknya itu bisa segila ini.
"Zinnia! kau di sini juga?" tanya Marquez.
"Iya! Suamiku di undangan ke acara ini," jelas Zinnia menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.
William membalas senyuman istrinya yang memberikan isyarat pada semua orang jika Zinnia adalah wanitanya.
"Terimakasih karena kau telah membuatku percaya, jika hanya aku pria yang ada dalam hatimu, Zinnia!"
Marquez tersenyum manis namun, hati pria itu terasa perih bagai luka yang disiram air cuka.
"Biasakan dengan keadaan seperti ini, karena suatu saat nanti luka di dalam hatimu pasti akan mengering dengan sendirinya."
"Akhirnya arena perang akan segera di mulai! aku tahu salah satu dari kalian akan merasa sakit dan malu sebentar lagi karena malam ini akan menjadi malam bersejarah dalam hidup para tikus yang akan masuk perangkap."
"Karena tamu sudah datang, lebih baik kita mulai sekarang saja acara potong kuenya," tutur Marinka berjalan ke arah kue tart yang sudah disediakan.
Marion dan William saling pandang, kemudian mengangguk dan semua itu tak sengaja terlihat oleh Zinnia.
Jantung desainer cantik itu berdegup kencang.
"Apa yang aku lihat tadi? itu pasti hanya ilusiku saja."
Zinnia mencoba berpikir positif kali ini. Ia tak ingin salah paham pada suaminya.
Semua orang sudah berkumpul mengitari Marion dan Marinka. Para tamu menyanyikannya lagu selamat ulang tahun.
Setelah lagu ulang tahun selesai di nyanyikan, Marion dan Marinka memejamkan mata untuk berdo'a.
__ADS_1
Kini saatnya memotong kue pertama. Marion yang lebih dulu memotong kue karena ia merupakan kakak dari Marinka.
Potongan kue pertama sudah berada di tangan Marion. "Seharusnya potongan kue pertama ini untuk, mama! karena mama masih belum pulih, jadi potong pertama kue ini untuk suami saya, Jerry!"
Jerry tersenyum sembari melangkahkan menghampiri istrinya. "Selamat ulang tahun, Sayang!" Kecupan singkat mendarat di kening Marion dari suaminya.
Semua tamu bertepuk tangan melihat kemesraan Marion dan Jerry termasuk William dan Zinnia, mereka juga ikut bergembira untuk Marion.
Kini giliran Marinka yang akan memotong kue pertamanya. Kue potongan pertama dari Marinka sudah berada di tangannya.
Marinka menatap ke arah William, dan Zinnia tahu jika kue itu pasti untuk suaminya.
"Perempuan ini benar-benar gila! apa dia tak malu pada semua tamu yang hadir?"
Marinka melangkahkan kakinya mendekati Zinnia dan William yang masih bergandengan.
Posisi Marinka berada di tengah-tengah tangan mereka yang masih menyatu.
"Sebentar lagi tangan ini akan saling melepas satu sama lain dan aku yang akan selamanya menggandeng tanganmu, Kak William!"
Tangan Marinka yang sedang memegang kue potongan pertama terulur ke arah Zinnia namun, beberapa detik kemudian tangan itu hendak beralih tujuan ke arah William. Secepat kilat Zinnia langsung mengambil kue dari tangan Marinka.
"Wah, terimakasih ya, Kak Marinka! Kakak baik sekali sudah mau memberikan kue potongan pertama ini padaku! pasti kakak juga mengidolakan aku kan?" tanya Zinnia tersenyum manis pada Marinka.
Wajah Marinka sudah kesal bukan main. Ia tak habis pikir ternyata Zinnia bisa bergerak cepat dari yang ia bayangkan.
"Tapi aku lebih mengidolakan, Tuan Copaldi!" Marinka menatap Marquez dengan tatapan genitnya.
"Benarkah? tapi aku tak yakin jika, Kak Marinka tak mengidolakan aku! buktinya potongan kue pertama ini diberikan kepadaku! tak mungkin kue ini untuk Suamiku kan, Kak Marinka? astaga! apa sih yang aku bicarakan! bukankah Suamiku hanya mencintaiku! iya kan, Sayang?" tanya Zinnia di depan semuanya orang yang hadir dalam pesta ulang tahun si kembar.
William tersenyum pada Zinnia. "Tentu saja! aku sangat mencintaimu, Sayang!"
Cup
Kecupan singkat mendarat di pipi Zinnia. Semua orang yang ada di acara itu ikut tersenyum melihat kemesraan Zinnia dan William secara langsung bukan di media sosial.
Berbeda dengan Marinka yang mengepalkan tangannya. Wanita dengan gaun hitamnya menggeram dahsyat dalam hatinya.
__ADS_1
"Kurang ajar! kau sudah dua kali mempermalukan aku, Zinnia! lihat saja nanti kejutan yang akan aku berikan pada gadis ingusan sepertimu."
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.