
Zinnia berlari kecil menuruni tiap anak tangga menuju lantai dasar. Ia ingin membuat sketsa di ruangan terbuka.
Saat sudah berada di lantai bawah, ia bertemu dengan seorang pelayan yang membawa satu kantung kecil plastik wortel.
Rasa penasaran Zinnia tak dapat di elakkan lagi. Ia mendekati pelayan itu. "Maaf! untuk apa wortel yang kau bawa itu?" tanya Zinnia dan pelayan yang sedang melangkah ke arah halaman belakang itu langsung menghentikan langkahnya berbalik menatap Nyonya mudanya.
"Ini untuk kelinci peliharaan Tuan, Nyonya!"
"Pria mesum itu punya binatang peliharaan? dan binatang itu kelinci pula! itu kan binatang kesukaanku dalam wujud boneka."
"Boleh aku melihat kelinci itu?" tanya Zinnia pada pelayan tersebut.
"Tentu saja boleh, Nyonya! tapi apa Tuan mengizinkannya?" tanya pelayan itu ragu.
"Kau tenang saja! urusan tuan biar aku saja yang membereskannya," Tutur Zi meyakinkan.
Pelayan itu mengangguk dan berjalan ke arah halaman belakang.
Zi tak pernah masuk ke dalam halaman itu. Ini baru pertama kalinya ia masuk ke sana.
Gadis itu melihat kandang kelinci yang sangat terawat sekali, namun kelinci peliharaan William tak ada di kandangnya.
Zinnia hendak mencari kelinci tersebut sampai perhatiannya tersita pada pohon cedar yang membatasi langkahnya untuk terus mencari keberadaan kelinci peliharaan suaminya.
Gadis itu hendak melewati celah penghubung antara tempat kandang kelinci dan sebuah tempat yang ia yakini menyimpan sesuatu di balik berjejernya pohon cedar yang menjulang tersebut.
Tubuh Zinnia hendak melewati celah itu, namun teriakan seorang Pelayan wanita yang membawa wortel sekantung plastik kecil berteriak padanya, "Jangan kesana, Nyonya! itu zona terlarang bagi semua orang yang ada di rumah ini, kecuali Tuan!"
Zinnia sempat menoleh, namun gadis itu tersenyum manis pada pelayannya. "Kau tenang saja! aku tak akan membuat kau dalam masalah," ujar Zinnia yang tetap bersikeras melewati celah pohon cedar itu.
Saat gadis itu sudah berada di sana, matanya sungguh di buat kagum oleh pemandangan yang ada.
Ternyata halaman belakang rumah William adalah sebuah taman yang sangat indah dan pastinya sangat cocok untuk tempat berkencan bagi pasangan muda mudi yang tengah di landa kasmaran.
Di tengah-tengah taman, terdapat hamparan bunga mawar merah berbentuk hati, sedangkan di sekelilingnya ada kolam air mancur dengan patung malaikat sedang memegang panah dan busur yang ujungnya berbentuk hati tengah mengarah pada bagian bunga mawar merah itu. Ada 6 kolam air mancur yang mengelilingi hamparan bunga mawar berbentuk hati tersebut.
Zinnia tak henti-hentinya melihat pemandangan yang pasti menyejukkan matanya.
__ADS_1
Di bagian sudut juga terdapat gazebo untuk menikmati keindahan taman milik William.
Zinnia berjalan ke arah salah satu kolam air mancur untuk bermain air di sana.
Gadis itu mulai mengayunkan tangannnya di dalam kolam.
Zinnia nampak menikmati cipratan dari air mancur yang jatuh langsung ke dalam kolam.
Sementara di dekat kandang kelinci, pelayan yang bersama Zinnia, wajahnya sudah pucat pasi karena ia melihat William berjalan ke arahnya.
"Dimana, Nyonya?" tanya William pada pelayan yang terlihat sudah tak bisa berdiri itu.
"Nyonya ... Nyonya ada di balik pohon cedar itu, Tuan!" Sambil menunjuk pohon cedar yang berada di hadapannya.
Wajah William tak ada raut marah atau akan menghukum seseorang. Yang ada hanya wajah datar dan pria itu juga langsung melangkah ke arah celah pohon cedar tersebut untuk mencari keberadaan Istrinya.
Pelayan itu menangkup kedua tangannya di dada dengan mata terpejam seraya berkata, " Tuhan! jangan sampai Tuan William menghukum hamba, buat Nyonya muda agar bisa membuatnya melupakan jika Tuan ingin menghukum hamba."
Sementara William mencari keberadaan Zinnia yang tak kunjung di temukannya.
Pria itu terus berkeliling mencari keberadaan Istrinya, sampai ia menemukan Zinnia tengah bermain air di kolam air mancurnya.
Senyum licik William terukir. Pria itu mendekati Istrinya dengan langkah kaki yang sangat teramat pelan, sampai Zinnia tak sadar jika William sudah berada di belakangnya.
Tangan William mulai mendekati telinga istrinya dan ....
"Awwww!"
Zinnia mulai merintih kesakitan karena telinganya di tarik oleh suaminya.
Perlahan gadis itu menatap ke arah orang yang berani menarik telinganya, namun saat ia tahu siapa orangnya, Zinnia langsung tersenyum manis ke arah William.
"Sedang apa kau di sini?" tanya William dengan nada dingin.
Zinnia sudah memperkirakan jika hal ini akan terjadi. Gadis itu mulai bangun dari posisi duduknya mendekat ke arah William. "Kenapa kau menyembunyikan taman seindah ini dariku," tutur Zinnia memeluk pinggang suaminya dan tangan pria itu masih berada di telinga sang istri.
William semakin mengencangkan tarikan pada telinga Zinnia sampai gadis itu mengaduh kesakitan lagi.
__ADS_1
"Awwww! sakit, Pria mesum! lepaskan telingaku," pinta Zinnia dengan wajah meringis.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke taman ini?" tanya William.
"Aku hanya penasaran saja dengan apa yang berada di balik pohon cedar itu, jadi aku masuk! sebenarnya pelayan sudah memperingatkan aku, tapi aku yang membangkang tetap ingin masuk," jelas Zinnia pada suaminya dengan wajah di buat sesedih mungkin.
Bukannya merasa iba dengan sang istri, reaksi William berbanding terbalik dengan apa yang berada di dalam otak Zinnia.
"Kau harus di hukum," ujar William dengan nada tegas dan mantap.
Zinnia terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut suaminya.
"Aku tak boleh mendapatkan hukuman dari, Pria mesum ini! aku harus mencari cara agar pria ini tak jadi menghukumku."
"Baiklah! aku akan menerima semua hukuman yang akan kau berikan padaku! tapi aku harus menghukummu juga karena kau telah berani membuat telingaku sakit."
Zinnia mengeratkan pelukannya pada pinggang William. Setelah gadis itu rasa suaminya terkejut dengan apa yang ia lakukan, tangan Zinnia bergerak ke arah tangan William yang masih menarik telinganya.
Zinnia melepaskan tangan suaminya dari telinga yang sudah memerah.
"Kau harus membayar rasa sakit ini padaku, Pria mesum!" Zinnia berbisik dengan nada sedikit sensual.
"Langkah ketiga untuk membuat pria ini jatuh dalam pesonamu, Zi!"
Zinnia mengecup pipi kanan kiri suami secara bergantian.
Cup cup
Gadis itu tersenyum simpul ke arah William. "Aku tak akan menghukummu dengan cara yang kejam karena aku tak ingin kau membenciku, Pria mesum! aku ingin kau semakin tertarik padaku," tutur Zinnia melepaskan pelukannya pada tubuh William.
Gadis itu berjalan mundur ke belakang sampai ia tersandung sesuatu dan hampir terjatuh.
William segera menangkap tubuh istrinya yang hampir saja tergeletak bebas di atas rumput gajah tamannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya William memeluk erat pinggang sang istri dan tangan indah Zinnia spontan melingkar indah pada leher William.
Gadis itu hanya mengangguk dengan raut wajah masih terkejut.
__ADS_1