Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 202 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia dan William sedang bersiap menuju ke suatu tempat. Saat ini waktu menunjukkan pukul 05.30 pagi.


Zinnia masih memasangkan dasi William dengan bibir yang mengapit roti isi selai  nanasnya.


William juga asyik mengunyah roti isi selai kacang kesukaannya.


Roti William sudah habis. Pria itu melihat ke arah istrinya.


William tersenyum melihat roti yang diapit oleh bibir istrinya meronta ingin ia lahap.


"Sebenarnya apa yang ingin aku lahap? rotinya atau bibirnya? ... dua-duanya sih!"


Zinnia masih fokus dengan dasi suaminya dan kesempatan itu tak di biarkan begitu saja oleh William.


Dokter tampan tersebut langsung mengigit roti milik Zinnia sampai roti itu hanya tersisa setengah.


Gerakan tangan Zinnia yang awalnya fokus dengan dasi William terhenti.


Zinnia melihat ke arah William. Bukannya takut dengan tatapan sang istri, William menggigit roti milik Zinnia kembali sampai roti itu hanya tersisa pas di bibir istrinya.


William terus mengunyah roti hasil rampokannya dari mulut sang istri.


Zinnia langsung mengunyah sisa roti yang masih tersisa. Setelah selesai gadis itu kembali melanjutkan memasangkan dasi William dan Zinnia sengaja menarik sekencang mungkin dasi itu sampai William terbatuk-batuk.


Uhuk uhuk uhuk uhuk


"Rasakan kau! siapa yang mengizinkanmu memakan rotiku hah?"


Zinnia sudah berkacak pinggang dengan dress berwarna putih.


Rambut gadis itu di gerai dengan hiasan jepit di bagian depan rambutnya.


William melonggarkan dasinya yang sengaja di ikat sangat kencang oleh Zinnia. "Kau jahat, Zi!"


"Aku tak jahat, kau yang jahat!" Zinnia tak mau kalah dengan William karena gadis itu memang tak salah.


Zinnia melihat ke arah jam tangannya. Waktu sudah hampir pukul 6 pagi.


Gadis itu memperlihatkan jam tangannya pada William agar pria itu tak terus menggodanya.


Tanpa basa-basi, William menarik tangan istrinya. Menggenggam tangan lembut Zinnia untuk segera menuju ke halaman depan.


Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Zinnia melihat ke arah jalan yang di lewati mobil yang ditumpanginya.


Gadis itu bingung, kenapa rute yang di ambil oleh sopirnya bukan jalan menuju arah rumah sakit milik William.


"Kita akan ke rumah sakit kan?" tanya Zinnia pada William.


"Iya, tapi nanti," sahut William.


Zinnia tak berani membuka suaranya kembali karena gadis itu berpikir mungkin suaminya masih ada urusan yang penting.


Beberapa menit kemudian, mobil itu menepi di sebuah pemakaman umum yang sangat luas.


Zinnia melihat ke arah suaminya. "Kita akan ke makam?" tanya Zinnia pada William.


Pria itu hanya mengangguk dan turun dari mobilnya.


William keluar dari dalam mobilnya membawa keranjang yang berisi bunga mawar dengan jumlah yang sangat banyak.


Tanpa sepengetahuan Zinnia, William memang sudah menyiapkan semua itu.


Desainer cantik itu mengekori langkah suaminya, sampai pada saat William hendak memasuki gerbang pemakaman. Langkah kaki William terhenti dan pria itu berbalik menatap ke arah istrinya yang juga ikut menghentikan gerakan langkah kakinya.


William mengulurkan tangannya agar Zinnia menggenggam tangannya.

__ADS_1


Zinnia mengerti maksud William. Gadis itu menyambut hangat uluran tangan suaminya.


"Berjalanlah di sampingku, agar mertuamu tahu jika anaknya kali ini datang bersama dengan menantu mereka," pinta William dan saat itu pula Zinnia baru sadar jika William datang ke makam ini untuk mengunjungi kedua orangtuanya.


Zinnia tersenyum tulus pada suaminya. "Mari kita kunjungi mereka," tutur Zinnia menggenggam erat tangan suaminya.


Kedua kaki mereka melangkah memasuki pemakaman yang di rawat begitu baik. Tak ada rumput liar yang tumbuh di sana. Yang ada hanya suasana hening.


Sepanjang jalan pula, mata Zinnia tak lepas dari wajah William.


Zinnia tahu jika suaminya saat ini berpura-pura tegar namun, hatinya ingin sekali berteriak jika dirinya sangat merindukan kedua orangtuanya.


Zinnia bisa merasakan genggaman erat tangan William yang tak ingin melepaskan tangannya.


"Aku tahu kau pasti sangat sedih saat ini,"


Langah kaki William terhenti di samping kanan kiri dua makam bertuliskan nama Roy Pattinson dan Wanda Angelina.


Pria itu mengarahkan Zinnia agar berada tepat di depannya berhadapan dengan dirinya.


William duduk di tengah-tengah antara makam kedua orangtuanya.


Zinnia melihat keranjang bunga yang tergeletak begitu saja. Ia tahu jika suaminya saat ini pasti dalam keadaan yang sangat rapuh.


Zinnia duduk mensejajarkan dirinya dengan William. Gadis itu melihat guratan kesedihan yang tak dapat di tutupi oleh William.


William menatap ke arah Zinnia sembari tersenyum manis memaksakan dirinya.


Pria itu kembali menggenggam tangan Zinnia. Mencium tangan istrinya penuh cinta.


"Pa, ma! aku kali ini tak datang seorang diri seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku datang bersama perempuan yang sudah berstatus menjadi Istriku dan sudah menjadi menantu sah di keluarga kita."


Mata William masih terarah pada mata istrinya yang sudah mulai menggenang sedikit air mata.


Zinnia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan William.


William melihat ke arah makam samping kanan kirinya, kemudian ia beralih menatap wajah Zinnia kembali.


"Aku berharap menantu kalian berdua bisa cepat membalas cinta ini, karena ... hanya dia yang saat ini aku punya dan hanya dia satu-satunya wanita yang aku inginkan menjadi ibu dari cucu kalian."


Air mata yang tadi masih bisa di bendung oleh William, kini buliran bening itu lolos begitu saja dari mata Dokter tampan tersebut.


Hati Zinnia terasa sangat sakit saat suaminya mencurahkan segala isi hatinya itu di depannya dan di depan makam kedua orangtuanya.


Zinnia menyeka air mata yang turun membasahi wajah William.


"Aku tahu, kalian pasti saat ini melihat kami berdua di sini, aku dan istriku datang kemari selain untuk mendoakan, kami juga ingin meminta restu papa dan mama untuk pernikahan kami."


William menundukkan kepalanya masih menggenggam tangan Zinnia. William meletakan tangannya dan tangan Zinnia yang saling genggaman di dahinya dengan posisi wajah menghadap ke bawah.


William tak sesegukan atau meraung-raung namun, air matanya terus menetes saat mengingat dia sekarang sendiri di dunia ini.


Pria itu menguatkan dirinya untuk menegakkan posisi duduknya.


Mata William terpejam dan setiap gerak gerik William tak luput dari perhatian Zinnia.


Zinnia tahu jika suaminya saat ini sedang dalam posisi berdo'a dan Zinnia menggenggam erat tangan William.


Gadis itu juga ikut memejamkan matanya untuk mendoakan kedua mertuanya.


Beberapa menit keduanya berdo'a, akhirnya secara bersamaan mata mereka terbuka lebar.


Zinnia melihat senyum William yang sudah mulai terbit. Pria itu kembali mengecup punggung tangan Zinnia.


Cup

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Zinnia!"


Gadis itu tersenyum mendengar ungkapan cinta dari William dan tanpa William duga Zinnia membalas ungkapan cintanya.


"Aku juga mencintaimu, William!"


Zinnia terus menatap ke arah suaminya yang saat ini tengah menatapnya tak percaya. Pria itu masih diam karena terkejut dengan ucapan Zinnia. Mata William sembab dengan ujung hidung yang sudah memerah.


"Ka-kau ... apa yang kau katakan tadi?" tanya William pada Zinnia.


Gadis itu menyentuh pipi suaminya lembut. "Aku juga mencintaimu, William suamiku tersayang!"


Jantung William berdetak kencang. Ia masih tak percaya dengan apa yang di dengar olehnya.


"Kenapa kau diam? aku sudah membalas cintamu, Sayang!" Zinnia kembali meyakinkan suaminya.


Senyum bahagia itu tak dapat lagi William sembunyikan dari istrinya.


William berdiri dengan tangan yang juga mengangkat tubuh Zinnia agar ikut berdiri dengannya.


William memeluk erat tubuh Zinnia dan gadis itu juga membalas pelukan erat suaminya.


Zinnia tersenyum bahagia karena akhirnya ia bisa jujur dengan perasaannya sendiri pada William.


"Aku mencintaimu, Sayang!" William lagi-lagi menghujani Zinnia dengan ungkapan cintanya.


Gadis itu menengadahkan wajahnya menatap ke arah William. "Aku juga mencintaimu, Sayang!" Zinnia membalas ucapan William.


Keduanya kembali berpelukan, bibir William yang sudah mendarat dengan bentuk kecupan di puncak kepala Zinnia.


William melepaskan sedikit pelukannya pada Zinnia. "Kita taburkan bunga itu dulu pada makam mama dan papa!"


Zinnia mengangguk, kemudian mulai menabur bunga pada makam mertuanya.


William menaburkan bunga pada makam ayahnya, sedangkan sang istri bertugas menabur bunganya pada makam sang ibu.


Setelah selesai keduanya melihat ke arah langit. "Terimakasih, Tuhan! kau telah mengabulkan do'aku agar perempuan yang berada di sampingku ini jatuh cinta padaku," ujar William.


William kembali menatap ke arah istrinya. "Aku tak ingin kau pergi meninggalkan aku karena hanya kau yang aku punya saat ini, hanya kau teman hidup yang aku punya, papa dan mama sudah tenang di sana! aku hanya memilikimu," tutur William pada Zinnia dan gadis itu langsung memeluk tubuh suaminya.


"Aku mencintaimu, William! aku tak akan meninggalkanmu sampai salah satu dari kita bertemu dengan mama dan papa," ujar Zinnia.


Zinnia menyudahi pelukannya. William mulai beranjak hendak pergi dari makam itu namun, William masih menatap kedua makam orangtuanya. Setelah cukup puas memandangi makam orangtuanya, William merangkul Zinnia dan berjalan menuju arah mobilnya.


Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Sopir saja bingung tumben sekali kedua tuannya saling rangkul seperti itu di dalam mobil.


"Apa Tuan dan Nyonya sedang tak enak badan? kenapa terlihat begitu intim?"


Tangan William mengusap rambut panjang Zinnia dan kepala Zinnia sudah berada di dada bidang suaminya. "Apa kau lelah?" tanya William pada istrinya.


Zinnia hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan William.


Pria itu tak henti-hentinya mengecup puncak kepala istrinya. William senang sekali melakukan hal itu pada Zinnia dan tangan Zinnia juga memeluk erat tubuh suaminya.


"Apa kau takut aku lari sampai memelukku begitu erat seperti ini," ledek William pada istrinya.


"Tentu saja aku takut kau lari! aku tak ingin lelakiku pergi dariku," sahut Zinnia dan keduanya sudah saling tatap.


William tersenyum pada Zinnia. "I love you," tutur William.


Zinnia tersenyum mendengar ucapan yang membuat hatinya tenang dan terasa sejuk. "Aku juga mencintaimu, Suamiku!"


Zinnia menyembunyikan wajahnya pada dada William dan Dokter tampan dengan otot kekarnya itu hanya tersenyum bahagia mendengar balasan ungkapan cinta Zinnia padanya.


Lagi-lagi kecupan manis William lakukan pada puncak kepala Zinnia tanpa henti.

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰


__ADS_2