
William dan Zinnia masih terus berlari sembari menikmati asrinya taman yang saat ini mereka pandangi.
Karena cukup lama melakukan jogging, Zinnia melihat ada kursi lagi dan wanita itu memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Zinnia meluruskan kakinya yang terasa pegal. Memang desainer cantik itu jarang melakukan olahraga, hanya seminggu sekali ia berolahraga jika tak sibuk dengan urusan pekerjaannya, berbeda dengan William, Dokter tampan itu masih menyempatkan berlari pagi di sekitar halaman rumahnya.
Semenjak ia sibuk mengejar cinta istrinya, William sering lupa akan rutinitas paginya karena selimut hangat selalu menghangatkan ranjangnya.
Dan olahraga pagi bersama Zinnia sudah cukup membakar sebagian kalorinya.
William yang melihat Zinnia memijat lututnya, pria itu langsung berjongkok Mensejajarkan diri dengan lutut Zinnia.
Si empunya lutut terkejut. "Apa yang kau lakukan? kenapa kau berjongkok di hadapanku seperti ini?" tanya Zinnia merundukkan sedikit tubuhnya hendak menyentuh tubuh William agar suaminya bangun.
"Kau diam saja, Sayang!" William membuka semua sepatu Zinnia beserta kaos kakinya.
Kini wanita itu sudah bertelanjang kaki tanpa mengenakan apapun. Kaki Zinnia sudah berada di paha William dan Dokter tampan itu memijat kaki istrinya mulai dari betis sampai telapak kaki Zinnia.
"Apa sudah terasa lebih baik?" tanya William menatap ke arah Zinnia dengan tangan yang masih sibuk memijat kaki istrinya.
"Lumayan!" Zinnia tersenyum simpul. "Sepertinya kau berbakat menjadi seorang tukang pijat karena pijatanmu sungguh sangat nyaman sekali," puji Zinnia pada suaminya.
William tertawa kecil. "Pijatan bagian mana yang kau sebut nyaman? pijatan saat ini atau pijatan pada saat malam hari?" tanya William menggoda istrinya.
Zinnia memicingkan matanya menatap ke arah suaminya. "Sekali pria mesum ya tetap pria mesum!" Zinnia hanya geleng-geleng kepala sembari menikmati pijatan William pada kakinya.
"Mesum pada istri sendiri itu bebas!" William memasang kembali sepatu pada kaki Zinnia.
"Biar aku saja yang memasangnya," tolak Zinnia namun, William terus memasangkan sepatu istrinya.
"Saat mengikat tali sepatu jangan terlalu kencang agar kau tak merasa pusing," tutur William sambil berdiri dari posisi berjongkoknya.
Zinnia melihat suaminya yang sudah duduk berdempetan dengannya. "Terimakasih, Suamiku!"
William membalas tatapan mata istrinya. "Aku mencintaimu," tutur William diiringi senyum yang membuat para kaum hawa diabetes tingkat akut.
Zinnia membalas senyuman suaminya. "Kenapa kau sangat tampan sih?" tanya Zinnia mengerlingkan sebelah matanya.
William masih diam menahan tawanya karena Zinnia sungguh wanita yang agresif sekali.
"Hahahaha!"
Tawa William akhirnya pecah karena pertanyaan Zinnia yang sangat blak-blakan.
"Seharusnya pria yang merayu dengan cara seperti itu, bukan dirimu, Sayang!"
Zinnia melipat tangannya di dada. Wanita itu melihat pasangan yang berlari tepat di depannya. "Karena cintaku sangat besar padamu, jadi aku akan mencurahkannya tanpa rasa malu," jelas Zinnia pada William.
William tersenyum dengan kepala menunduk, kemudian ia beralih menatap istrinya kembali.
Zinnia masih fokus melihat pasangan yang semakin bertambah jam para pasangan juga bertambah banyak.
"Terimakasih, Tuhan! karena engkau telah mengirimkan seorang istri yang melebihi keinginanku! aku ingin terus bersama dengan bagian tulang rusukku yang hilang, yang saat ini tengah duduk berdampingan denganku."
William merangkul Zinnia. "Cukup sampai di sini saja kegiatan jogging kita pagi ini," tutur William mengusap rambut panjang Zinnia.
"Kemana kencang kita selanjutnya?" tanya Zinnia pada suaminya.
"Kau akan tahu sendiri sebentar lagi," sahut William membuat Zinnia penasaran.
Mereka berdua masih menikmati suasana sejuk taman itu sembari memulihkan tenaga.
Beberapa menit setelah memulihkan tenaga, William dan Zinnia masuk ke dalam mobilnya menuju suatu tempat.
"Kita mau kemana?" tanya Zinnia pada William.
__ADS_1
"Tunggu kita sampai di tempat tujuan saja," sahut William.
Mobil yang di naiki keduanya sudah berada di halaman depan rumahnya. "Ini kan rumah kita? kenapa kita sudah pulang? kau bilang kita ingin berkencan," ucap Zinnia mengajukan sederet pertanyaan pada suaminya.
"Kencan kita yang kedua di sini, Sayang! sebenarnya aku ingin kita melakukan kencan ini di tempat lain, tapi aku pikir ini bersifat pribadi, jadi aku memutuskan untuk melakukan kencan itu di sini," jelas William.
Pria itu turun dari mobilnya kemudian disusul oleh Zinnia.
William berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai dua. Ia hanya menggunakan boxer sedangkan Zinnia menatapnya dengan tatapan tak mengerti.
"Kenapa kau hanya memakai pakaian itu?" apa kau ingin memamerkan roti sobek yang ada pada perutmu itu?" tanya Zinnia dengan nada kesal.
William yang hendak menyingkap gorden di kamarnya itu seketika menghentikan niatnya. William berbalik melangkah menghampiri Zinnia. "Kau ganti baju dengan pakaian yang sudah aku siapkan karena kita akan berenang, Sayang!" William berbisik sembari mengecup pipi Zinnia.
Zinnia melihat ke arah ranjangnya. Ia melihat legging dan tank top yang sudah di siapkan oleh William.
Zinnia melihat ke arah William yang menyingkap gorden di kamarnya.
Zinnia terkejut karena saat gorden putih bersih itu di buka, bukan jendela yang ada di baliknya, melainkan sebuah pintu.
Sebelum tangan William menarik hendel pintu itu, ia menoleh ke arah Zinniaa. "Cepat ganti baju dan susul aku lewat jalan ini," tutur William langsung berjalan masuk melewati pintu itu.
Zinnia yang penasaran bergegas berganti baju. Setelah semua siap, wanita itu berlari kecil mengikuti William ke arah pintu misterius yang berada di kamarnya.
Saat Zinnia sudah berada di ambang pintu, ia ragu untuk masuk ke dalam karena jalan yang akan ia lewati adalah sederet anak tangga.
"Aku harus masuk ke dalam sana! daripada mati penasaran, lebih baik memberanikan diri saja."
Zinnia mulai menapaki kakinya pada tiap anak tangga yang sudah tersedia.
Kira-kira jarak satu meter dari kamarnya, di samping kirinya bukan tembok melainkan kaca transparan yang menampilkan sebuah pemandangan kolam berukuran besar dengan pohon rindang dan tanaman hijau serta bunga Daisy yang menjadi pemanis tempat itu.
Mata Zinnia di manjakan oleh keindahan tempat tersembunyi yang berada di rumah suaminya.
Zinnia sudah berada di ambang pintu menuju luar lorong rahasia yang ia lewati.
Sebelum Zinnia benar-benar turun, matanya kembali di manjakan oleh beberapa jenis bunga yang berada tepat di bawah anak tangga menuju kolam renang.
Lagi-lagi mata Zinnia di cuci bersih oleh warna-warni bunga yang menjadi saksi setiap langkahnya menuju tempat di mana suaminya tengah menunggunya di ujung anak tangga.
William mengulurkan tangannya menyambut kedatangan sang istri.
Tangan lembut nan halus milik Zinnia sudah menyatu dalam genggaman tangan William. "Selamat datang di tempat rahasia rumah ini, Sayang!" William menyambut istrinya.
Dokter tampan itu terus mengarahkan istrinya ke arah tepi kolam renang.
William melepaskan tangannya. Ia tersenyum pada Zinnia. "Kita mulai kencan yang kedua, Sayang!"
William berjalan mundur dan terus mundur ke tepi kolam renang sampai kaki William sudah berada di bibir kolam dan ....
Byurrrrr
Tubuh William terjatuh ke dalam kolam dan cipratan air dari jatuhnya tubuh Dokter tampan itu mengenai Zinnia.
Zinnia tersenyum sembari menunggu suaminya muncul ke permukaan.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Tak nampak keberadaan William muncul kepermukaan. Senyum Zinnia yang awalnya mengembang sempurna, kini senyum itu tiba-tiba hilang.
"Kenapa dia belum muncul juga? apa terjadi sesuatu padanya? tidak-tidak! dia itu Dokter, mana mungkin tak bisa berenang," gumam Zinnia dengan raut wajah yang sudah ketar-ketir membayangkan hal-hal yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Zinnia terus menunggu suaminya, karena tak kunjung keluar kepermukaan, akhirnya Zinnia memutuskan untuk ikut masuk ke dalam kolam.
Byurrrrr
Zinnia mencari keberadaan William di bawah sana. Hati Zinnia sudah di penuhi rasa ketakutan. Ia tak ingin sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi pada suaminya.
Saat hendak berbalik mencari ke sisi sebelah kolam yang belum ia telusuri, kaki Zinnia seperti ada yang menarik ke permukaan.
Kini Zinnia dan William sudah berada di permukaan dan wajah desainer cantik itu mematung melihat suaminya sudah berada di hadapannya.
Air mata Zinnia mulai meluncur bebas dari kedua mata indahnya.
Tangan Zinnia memukul dada bidang suaminya. "Kau tega padaku! kenapa kau mengerjaiku seperti ini! apa kau tahu? aku sangat takut terjadi sesuatu hal yang tak bisa aku bayangkan, kau keterlaluan, Will! kau jahat!"
Zinnia terus memukul dada William dan pria itu dengan raut wajah bersalah Langsung memeluk istrinya.
"Sayang! Maafkan aku," tutur William menahan gerakan tangan Zinnia yang terus membrutal memukuli dadanya.
"Sayang! hei, maafkan aku! aku hanya bercanda," sesal William masih mencoba membujuk istrinya agar tak marah lagi padanya.
Zinnia menghentikan gerakan memukulnya pada dada bidang William. Wanita itu mendorong tubuh William kasar. "Bagaimana jika kau tenggelam, bagaimana jika kau tak bisa di selamatkan, bagaimana jika kau pergi meninggalkan aku untuk selamanya," cecar Zinnia dengan sebulir air mata yang jatuh lagi membasahi pipinya.
William memperhatikan tiap guratan kecemasan yang ada pada wajah Zinnia. William mengecup kening istrinya.
Cup
"Maafkan aku! seharusnya aku tak membuat lelucon seperti tadi, seharusnya aku tak mempermainkannya perasaan istriku dengan cara seperti tadi sampai kau mengira aku akan ma ...."
Zinnia menutup mulut William menggunakan jari telunjuknya. "Jangan lanjutkan lagi! aku tak ingin kehilanganmu," tutur Zinnia dengan buliran air mata yang menetes dari kedua alat penglihatannya.
William menurunkan jari tangan Zinnia. Pria itu manarik tengkuk istrinya mencium bibir kenyal Zinnia.
Rasa dingin dari tubuh keduanya sirna saat pergerakan benda kenyal itu saling membalas satu sama lain.
William mengangkat tubuh Zinnia agar tinggi wanita itu lebih dari dirinya.
Tangan Zinnia sudah melingkar pada leher suaminya dan kakinya juga sudah melingkar pada pinggang William.
Tangan kekar milik Dokter tampan itu sudah tak enak diam. Tangan nakal William mencari kehangatan pada tubuh Zinnia, menggerayangi punggung istrinya membuat sensi tersendiri bagi si empunya punggung.
Ciuman yang awalnya untuk menenangkan hati Zinnia, kini ciuman itu berubah semakin menuntut.
William melepaskan ciumannya. "Aku ingin kita kembali ke kamar," tutur William pada istrinya.
Zinnia melihat ke dalam manik mata William. Ia tahu jika suaminya menginginkannya saat ini.
Cup
Kecupan singkat mendarat pada bibir William. "Apa kau menginginkannya?" tanya Zinnia memastikan.
"Aku sangat menginginkanmu, Sayang!"
Zinnia yang masih dalam gendongan William membuat pria itu dengan entengnya berjalan membawa tubuh Zinnia yang masih menempel padanya.
Kolam renang itu terdapat anak tangga untuk naik kepermukaan dan itu mempermudah jalan William menerkam Zinnia.
Tetesan air dari baju keduanya mengiringi perjalanan proses percintaan mereka menuju kamar.
Saat sudah berada di dalam kamar, William langsung membuka pintu kamar mandinya. Ia menempelkan tubuh Zinnia pada dinding kamar mandi menelusuri tiap jengkal tubuh Zinnia dari ujung rambut sampai kakinya.
Setelah puas melakukan pemanasan, William mengambil handuk untuk menutupi tubuh Zinnia dan tubuhnya.
William menggendong Zinnia. "Waktu makan siang sudah tiba, Sayang! kau harus mempersiapkan dirimu untuk dua jam kedepan berada di ranjang panas kita," tutur William melangkahkan kakinya menuju arah ranjang.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰
__ADS_1