
Pram pagi-pagi sekali sudah berada di rumah Arnon karena aktor tampan itu ada jadwal syuting pagi.
Pram berpapasan dengan kepala pelayan Mirna. " Tuan muda ada?" tanya Pram.
"Ada, Asisten Pram! saya akan memanggilnya di atas," ujar Mirna yang berjalan ke arah lantai atas tempat kamar Arnon Melati berada.
Sembari menunggu, Pram menyentuh gelang karet yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku harap bisa bertemu denganmu hari ini, Kucing galak! ah, tapi itu hanya mimpi saja."
"Pram!"
Suara bariton Arnon membuyarkan lamunan Pram. "Kita bisa berangkat sekarang, Tuan!"
"Aku izin hari ini tak bisa syuting! sehari saja, karena aku harus mengantar Melati ke dokter," tutur Arnon pada Asistennya.
Wajah Pram terkejut saat Arnon mengatakan ingin mengantar istrinya ke rumah sakit. "Nona sakit apa, Tuan?" tanya Pram dengan wajah cemas.
"Dia bukan sakit, tapi aku hanya ingin memastikan saja! aku sungguh akan menjadi Daddy atau tidak."
Pram tersenyum bahagia mendengar itu semua. " Semoga hasil pemeriksaannya positif ya, Tuan! saya akan ikut berdoa untuk itu," ujar Pram yang sangat bahagia jika Melati benar-benar hamil karena ia pasti akan memiliki Tuan atau Nona muda kecil yang sangat lucu pastinya, mengingat wajah Arnon dan Melati yang begitu rupawan.
"Amin! semoga doamu terkabul, Pram! dan kau akan menjadi Om jin bagi anakku," ledek Arnon sembari tersenyum pada Pram.
Pram membalas senyuman Arnon padanya. "Kalau begitu, saya langsung ke lokasi syuting untuk mengurus izin anda hari ini," pamit Pram pada Arnon.
"Pergilah! setelah urusanmu selesai, kau bisa langsung pulang."
"Baik, Tuan!"
Pram keluar dari rumah Arnon, sedangkan aktor tampan itu kembali naik ke lantai dua untuk menjemput istrinya.
"Sayang! ayo cepat turun, kita harus ke rumah sakit sekarang," ujar Arnon mencari keberadaan Melati di seluruh kamarnya.
Ternyata gadis itu berada di walk in kloset untuk berganti pakaian.
"Apa kau sudah siap?" tanya Arnon menyandarkan bahunya pada lemari pakaian yang berukuran tinggi dan panjang, dengan pintu berlapis cermin, sehingga membuat Arnon dan Melati mudah melihat baju yang mereka kenakan itu pas atau tidak.
Melati menyambar tas selempangnya. Gadis itu mengecup pipi suaminya sekilas sembari melangkah ke depan meja rias.
Arnon tersenyum mengejar sang istri yang menyemprotkan parfum pada bagian pergelangan tangan dan lehernya.
"Kau hanya akan kerumah sakit, Sayang! kenapa harus secantik ini?" tanya Arnon yang mulai cemberut.
__ADS_1
Melati menghampiri suaminya yang duduk di atas kasur. Gadis itu mencubit hidung Arnon gemas. "Apa kau cemburu saat aku terlihat cantik seperti ini?" tanya Melati balik pada suaminya.
"Jelas aku cemburu! kau hanya, Istriku! istri Arnon Marvion Gafin."
Pria itu menarik pinggang Melati membawa ke atas pangkuannya. "Kau mulai berani menggodaku rupanya ya?"
Arnon mengecup bibir Melati sekilas, "Cup."
"Semua yang ada dalam dirimu hanya milikku," ujar Arnon menyatukan keningnya pada kening Melati.
Gadis itu tersenyum sembari hidung mancungnya menyentuh ujung hidung Arnon. "Semua yang ada pada diriku hanya milikmu, Sayang! dan kita harus berangkat kerumah sakit, sebelum Pak dokter menunggu terlalu lama."
Kecupan kilat dari Melati mengakhiri kemesraan keduanya. Gadis itu turun dari pangkuan suaminya sembari berjalan keluar kamar.
Arnon menyusul sang istri yang sudah menuruni anak tangga.
Keduanya sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit Edward.
"Apa kau gugup?" tanya Arnon pada istrinya. Gadis itu menatap ke arah Arnon dengan senyuman nakalnya. "Sedikit! tapi aku harus tetap terlihat anggun di depan semua orang demi, Suamiku! istri seorang aktor tampan sepertimu tak boleh terlihat gugup agar aku sepadan bersanding denganmu, Sayang!"
Arnon menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Kau sungguh istri seorang aktor profesional, Sayang!"
"Pasti! aku berani bertaruh! sebentar lagi dia akan mengomel layaknya ibu-ibu yang kehilangan lipstik merah meronanya karena kita sudah sedikit terlambat," ujar Arnon menatap jam tangannya. "Kita sudah telat 5 menit, Sayang!"
"Apa kau butuh bantuanku untuk menjinakkan, dokter Edward?" tanya Melati yang hanya ingin meledek suaminya.
"Tidak perlu! nanti dia mengira kau suka padanya," tolak Arnon yang tak ingin Melati dekat dengan Edward.
"Hahahaha! aku hanya bercanda, Sayang! tapi ... dokter Edward pasti akan melunak jika aku yang membujuknya," goda Melati lagi.
Arnon langsung memeluk Melati erat, bagai orang yang hendak kabur dari dalam mobil itu.
Melati hanya tersenyum dengan kelakuan Arnon yang terlihat seperti anak kecil.
Mereka berdua sudah sampai di depan rumah sakit milik Edward. keduanya berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu.
Ternyata Edward tengah menunggu mereka di dekat pintu masuk sembari berbincang dengan dokter lain.
Beberapa saat setelah Edward melihat kedatangan Arnon dan Melati, ia langsung melenggang menuju ke arah sahabatnya.
"Maaf, Ed! aku terlambat!"
__ADS_1
"Itu sudah tak asing lagi bagiku! kau memang selalu membuatku kesal setiap kali kita membuat janji untuk bertemu! kalian ikut aku ke ruangan, dokter Salma!"
Edward melangkah menuju ruangan dokter Salma. Arnon dan Melati mengekori langkah lebar Edward.
Mereka bertiga sudah tiba di sebuah ruangan dengan tulisan di atasnya "Dokter Kandungan". Ketiganya masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokter Salma! ini dia pasien yang saya maksud," tutur Edward pada Salma.
Arnon dan Melati menjabat tangan Salma.
"Ini aktor bernama Arnon itu kan?" tanya Salma pada Arnon.
"Iya, Dokter!"
"Ibu dan Bapak silahkan duduk dulu!"
Melati dan Arnon mengikuti perintah Salma untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.
Salma menanyakan beberapa pertanyaan pada Melati untuk memastikan gadis itu sedang mengandung atau tidak. Setelah semua pertanyaan telah di jawab, Salma mengeluarkan alat test kehamilan dan sebuah wadah untuk menampung urine gadis itu.
"Sekarang ibu kencing dulu di kamar mandi dan tampung kencing itu ke dalam wadah yang sudah saya sediakan, nanti celupkan alat ini ke dalam kencing anda yang sudah anda tampung sampai batas garis yang sudah di tentukan," jelas Salma pada Melati.
Gadis itu langsung menuju kamar mandi dan melakukan apa yang sudah di perintahkan oleh dokter Salma padanya.
Setelah semua dilakukan oleh Melati, gadis itu masih menunggu beberapa menit agar hasil dari alat test kehamilan itu akurat.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya mata Melati yang awalnya terpejam terbuka sedikit demi sedikit. Gadis itu melihat ke arah alat test kehamilan yang sudah ia gunakan untuk mengecek urinenya.
Perlahan tangan Melati mengangkat alat itu dan jantungnya langsung berdetak kencang.
Mulutnya ia tutup menggunakan sebelah tangannya yang tak menyentuh apapun.
Melati langsung keluar dari kamar mandi menuju ke arah meja Salma.
"Ini, Dok hasilnya," ujar Melati sembari memberikan alat test kehamilannya.
Salma melihat hasil test urine Melati. Ia melirik ke arah Edward dan Arnon.
Seketika wajah Arnon menjadi tegang karena tatapan Dokter kandungan itu sungguh membuat jantungnya berdetak kencang menunggu kepastian dari kehamilan istrinya.
Note : Author minta dukungan vote dan like serta komentarnya ya kakak readers tercinta π jika novel ini berada di ranking 20 besar atau 10 besar maka novel kesayangan kalian akan banyak di kenal oleh pembaca lain, jadi Author mohon dukungannya bagi yang berkenan vote untuk novel ini, 10 poin saja sudah alhamdulillah bagi saya, lebih juga author tidak menolakπππ Salam cinta dan sayang dari author untuk kalian semuaπππ
__ADS_1