Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Mari Bertunangan


__ADS_3

Hari sudah berganti. Nay baru saja keluar dari ruang kelasnya bersama kedua sahabat, Nina dan Sari.


"Gini deh, karena waktu itu kita ga jadi ngrayain ulangtahunku barengan. Gimana kalau hari ini kalian aku traktrik makan dikantin" Kata Nay kepada Sari sambil berjalan beriringan.


"Wah bolehh tuh..." Jawab Nina spontan.


"Aku suka nihh yang gratiss-gratiss , haha" Nina semakin semangat melangkahkan kakinya.


Enakkan jadi sahabat Nayla? jadi kecipratan kekayaannya. Hehe


"Tapi Nay,.. kamu baik baik aja kan sama Satya?" Tanya Sari kepada Nay. Pasalnya sedari awal Sari sudah menghawatirkan Nayla. Apalagi setelah makan malam bersama dengan Satya, Nay terlihat sering melamun seperti menyesali sesuatu.


"Aku baik-baik aja Sari.. Kamu sayang banget ya sama aku??" Nay melirik Sari dan tersenyum manis menampilkan gigi putihnya.


Sementara Sari mengabaikannya. Memutar bola mata malas.


Selalu saja, Nayla mengalihkan pembicaraan.


Dering ponsel Nina bergetar memutus obrolan mereka. Nina meraih ponsel disakunya.


"Siapa Nin?" Tanya Sari kepo.


"Adekku" Jawab Nina santai sambil memencet sebuah tombol."Aku jawab dulu ya"


"Haloo.. ada apa dek?" Kata Nina mengawali telfonnya sambil berjalan disamping Nay.


"Kakk," Jawab seorang perempuan diujung sebrang. Suaranya serak seperti menahan emosi yang membuncah.


"Kenapa? Laki laki itu lagi?" Jawab Nina menebakk. Nina menebak apa yang terjadi dengan sang adik.


"Sudahlah.. Kak Nina sudah sering ya mengingatkan mu?"


"Kalau gitu Kak Nina kapan selesai kelasnya." Tanya perrmpuan itu. "Selesai kuliah temenin aku makan dikafe biasanya ya kak?"


"Iyaa iyaa baiklah... kakak tutup telfonnya ya? Kakak masih sibuk nih sama Kak Nay dan kak Sari"... "byeeee" jawab Nina menutup telfonnya.


Tak lama,


Bipp bipp.... Suara ponsel kembali terdengar. Tapi kali ini Nayla pelakunya.


Nay melihat layar ponsel yang sedari tadi ada digenggamannya. ada pesan masuk rupanya.


Satyaku 💌


Dimana Sayang? Aku lagi dikantin sama Andi dan Joan. Kesini deh,


aku kangen Nay.


Nayla tersenyum membacanya.


Hatinya berdesir seperti mendapatkan semangatnya yang sudah berkurang.


Nayla 💌


Ini juga dijalan mau kekantin. Tungguin yaa


Muaah 😘


Nay mengetik sambil tersenyum.


Yaa, semenjak pulang dari Danau kota waktu itu.. Nay mencoba memperbaiki kembali hubungan nya dengan Satya. Dan sekarang,


hubungan mereka sudah kembali membaik.


Meskipun bayang-bayang kehilangan Nayla tidak bisa hilang dari fikirannya. Satya masih cemas terhadap ancaman Papa Nay.


Pak Zeko adalah orang yang sangat berpengaruh dikotanya. Apa yang keluar dari mulutnya tidak bisa diremehkan begitu saja.


Tapi Satya tidak menyerah. Dia akan berusaha mempertahankan Nayla, apapun yang terjadi.


Dibangku ujung kantin, terlihat Satya sedang duduk bersama Andi dan Joan.


Saat Satya melihat Nayla, Satya melambaikan tanggannya.


"Nay, sini..." panggil Satya tersenyum lebar.

__ADS_1


Nay berhamburan berlari kearah Satya lalu duduk disampingnya diikuti Nina dan Sari yang duduk dikursi sebelahnya. Satya tersenyum senang, gadisnya itu kini mulai bersikap baik lagi padanya.


"Haloo Joan, haloo andi." Sapa Nayla ramah. Nayla memang selalu terbuka kepada siapa saja. Terkecuali ketika dia sedang disuasana hati yang buruk.


"Kalian mau makan apa?" Tanya Nay kepada Sari dan Nina sambil membolak balikkan daftar menu.


Begitupun Sari dan Nina, mereka juga masih sibuk membaca buku menu.


"Aku mau coba ini ini" Sari menyodorkan buku menu kearah Nayla sambil menunjuk gambar Sate Kambing. "Minumnya Es Jeruk yaa."


"Aku nasi goreng aja deh Nay, sama minumnya teh botol aja.." Jawab Nina.


"Nasi goreng lagi?" Tanya Nay. "Heran aku tuh sama kamu, Nasi goreng terooosss"


Jawab Nay diikuti gelak tawa lima orang Lainnya.


"Jadi kapan nih kita liburan bareng lagi?" Tanya Joan tiba-tiba. "Kita kepantai yuk, itu yang ada villa nyaaa... kek nya seruh tuhh.."


"Tugas masih numpuk juga, masih sempet mikir liburan." Jawab Nina tanpa menoleh ke arah Joan. Tangannya masih sibuk memainkan game diponselnya.


"Aku setuju tuh sama Joan" Ucap sari memberi pendapat."Gaak papa kan Nin kalau kita rencanakan jauh jauh hari?"


"Tenang sodara sodara.. Papa ku punya kok villa yang deket sama pantai." Nayla meringis "Lumayan menghemat uang jajan kalian"


"Aku ga setuju." Ucap Satya menolak. Sontak saja ucapan Satya itu berhasil membuat yang lain terkejut dan mengkerutkan dahi.


Satya takut pada Papa Nayla jika saja Papa Nay tahu kalau Satya tidak mengindahkan ancamannya.


"Kenapa?" Tanya Nay sambil menatap tajam ke arah Satya.


Bukankah Satya sudah mengenal keluarganya? Satya juga tahu bukan bahwa Papa dan Mama nya sangat mempercayai Nayla? Lalu kenapa Satya menolak? Ucap Nayla dalam hati.


Satya kikuk. Tidak mungkin kan dia cerita ke Nayla kalau kepergok papa Nay ketika dia sedang meminum minuman terlarang itu bersama Andi dan Joan?


Satya tau betul. Bukan keluarga Nay yang sok suci. Tapi itu adalah sebuah prinsip yang ada dikeluarga Nayla untuk kebaikan masa depannya.


"Yaelah Nay, Aku sih setuju sama Satya." Kata Joan yang berniat melindungi Satya. Hanya Joan dan Andi yang tau masalah Satya.


"Kita gak bisa bebas.. Kalo kamu sama Satya mah bisa santai, secara Satya kenal keluarga kamu.. Lah kita?"


"Yaudahh deh, terserah kalian" .. Nayla mengalah mengerti. "Atur aja gimana maunya kalian, aku sama Satya ngikut kalian aja..."


***


"Satya, kamu dimana?" Nayla berdiri dengan wajah sedikit mengkerut. Tangan nya menggenggap ponsel yang sedang menempel ditelinga kanannya. "Aku udah tunggu kamu diparkiran."


Sudah hampir tiga puluh menit Nay menunggu Satya. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Padahal Satya jelas jelas tadi mengajak Nayla jalan jalan sebentar setelah kelasnya selesai.


Dan itu membuat mood Nayla buruk.


Beberapa kali dia menelfon Satya dan baru panggilan kelimanya diangkat.


"Iyaa sayang, ini aku berjalan kesana. Tunggu sebentar yaa" Jawab Satya melangkah cepat.


tuutt.. tuutt...


"Haloooo, Nay..."


Satya melihat ponselnya.


Wah, masalah nihh... gumamnya saat tau Nayla mematikan telfonnya.


Akhirnya Satya berlari. Kampusnya yang terbilang besar membuatnya harus berlari lumayan jauh untuk sampai ditempat parkiran.


"Haahh.. haaahh" Nafas Satya tersenggal senggal. "Maaf Sayang" Dilihatnya wajah sang kekasih. " sudah dong jangan cemberut. Haahh..." Satya meraih tangan Nay lalu mencium punggung tangannya.


"Yaudahh, jalan sekarang. Sudah sudah jangan cemberut lagi.. Aku gemas melihatnya." Satya membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan sang tuan putri masuk.


Sementara itu, Nayla masih dengan suasana hatinya yang buruk. Semua ini kan juga karena Satya sendiri?


Nay menurut masuk kemobil Satya dengan wajah yang masih cemberut.


Cup...


Satya mencium bibir Nayla cepat dan tiba-tiba. Membuat Nayla tidak bisa menghindarinya.

__ADS_1


"Satya" Ucap Nay kaget sambil memegang bibirnya. "Berani-beraninya kamu?" Nay semakin memajukan bibirnya.( Satya mulai kurang ajar ya )


"Sudah ku bilang, aku gemas melihatmu manyun" Kata Satya cengar-cengir. Jantungnya berdegup kencang. Entah keberanian dari mana yang membuatnya nekat mencium bibir Nayla.


"Jangan cemberut lagi sayang" Satya mulai melajukan mobilnya. "Atau mau ku cium lagi?"


Satya meraih tangan Nay. Menggenggamnya erat.


Nay semakin kesal. Satya sedang mengancam atau mencari kesempatan?


"Tadi kelasku belum selesai. Karena ada beberapa tugas yang masih banyak temen-temen kurang mengerti. Termasuk kekasihmu ini." Satya mencium punggung tangan Nayla.


"Aku tidak mungkin membuat mu sengaja menunggu lama"


Lenggang seketika. Nayla masih saja diam.


"Nay...."


"Apaaa" menjawab sejutek mungkin.


" Aku mencintaimu." Mencium lagi punggung tangan Nayla.


"Alaahh.. gombal.."Nay memutar bola matanya malas.


Berusaha menyembunyikan senyum manisnya.


Tapi jujur saja, ciuman yang mendarat dibibirnya tadi mambuat jantungnya memompa darah lebih cepat.


Seketika pipinya meremang mengingat ciuman dari Satya.


Nayla menyukainya.


Selang beberapa menit, mereka telah sampai di mall kota.


"Nay, turun sayang." Satya mempersilahkan Nay turun setelah membantu membukakan pintu.


"Sini, aku genggam tanganmu..." Satya tersenyum meraih tangan kanan Nayla.


"Biar semua orang tahu, Nayla milikku" katanya lagi sambil berbisik ditelinga Nay membuat bulu kuduk Nayla berdiri. Satya beralih menatap Nayla dan mengedipkan mata kirinya.


"Genit banget sihh..." Nayla mencubit pinggang Satya.


"Hahahah" Satya tertawa lebar.


"Kita cari makan dulu yaa, aku lapar" Ajak Nayla pada Satya.


"Ayooo sayang.."


Nay dan Satya berjalan bergenggaman tangan. Perasaan cinta diantara keduanya tumbuh semakin kuat.


Setelah kejadian dihotel waktu itu, Nayla memantapkan diri bahwa hanya Satya yang akan menikah dengannya kelak. Nayla tidak yakin akan ada laki laki lain yang menerima dirinya dengan tulus.


"Satya, kamu cinta kan sama aku?"


Tanya Nayla spontan saat mereka melangkahkan kaki masuk menuju tempat makan.


Nayla masih bergelanyut manja disamping Satya. Dipandanginya lelaki itu, dan


yaa, Satya memang lumayan tampan. Sikapnya yang lembut membuat Nayla yakin memilih Satya.


Satya tersenyum simpul menerima pertanyaan Nay yang tak seharusnya ditanyakan.


"Cintalah Nay.." Jawab Satya menggantung sambil memandangi gadisnya.


Mereka memilih tempat duduk disamping kaca dekat pintu. Satya menarik kursi kebelakang dan mempersilahkan Nayla duduk. Lalu satya ikut duduk dikursi sebelahnya.


"Kamu wanita tercantik yang pernah kutemui." Jawab satya tulus.


Tangannya terulur mengusap puncak kepala Nayla.


"Kamu adalah milikku Nay.."


"Kalau begitu, mari kita tunangan..."


Ucap Nayla spontan. Dia ingin melihat sejauh mana laki-laki ini serius terhadap hubungan yang mereka jalani.

__ADS_1


Satya terbelalak kaget. Pikirannya kacau. Jawaban apa yang harus dia sampaikan?


Cintanya pada Nayla tidak diragukan lagi. Hanya saja, bagaimana dia harus berhadapan muka dengan Papa Nayla?


__ADS_2