
"Mau kemana Nay..?"
Riana menatap heran kearah putrinya yang tengah berjalan menuju keluar rumah. Jelas, karena penampilan Nayla yang tidak seperti biasanya.
Nayla memakai baju pressbody berwarna hitam yang menampilkan lekukan tubuhnya yang samar-samar terlihat dari depan dengan panjang baju hanya sampai setengah paha. Dipadukan dengan jaket bigsize berwarna kuning kunyit berlengan panjang.
Rambutnya dikuncir kuda menampilkan leher jenjang yang menggoda bagi siapapun yang melihatnya.
Tas berwarna hitam senada dengan bajunya juga terlihat sangat cocok dengan style yang Nayla kenakan terselampir dibahu kanannya. Sedangkan kaki putih dan mulusnya dibiarkan terbuka sampai batas mata kaki. Sisanya terbungkus dibalik sepatu cats berwarna putih dari brand ternama adid*s.
Riasaan wajah Nayla juga tak kalah mencolok. Meskipun Nayla tetap memakai riasan natural, tapi kali ini dia lebih berani memainkan make upnya. Sungguh penampilan yang membuat siapa saja bisa dengan mudah jatuh hati pada pandangan pertama.
"Mau keluar ma..." Jawabnya santai.
"Sama Reyhan kan..?" Tanya Riana penuh selidik dan dibalas dengan gelengan kepala serta cengiran tanpa dosa oleh Nayla. Bagaimana mau keluar sama Reyhan? Bukannya dia sibukk sendiri?
"Gak baik tau Nay, perempuan sudah punya suami keluar tanpa suaminya.. apalagi dengan riasan yang seperti itu.."
Bukannya Mama sering keluar arisan tanpa Papa ya?
Nayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi Reyhan sudah ijinin kok Ma... Tadi kan Nayla sudah ajak dia, tapi dia sendiri yang gak bisa nemenin. Jadi dia nyuruh Nayla pergi sendiri. Hehe"
"Memang mau kemana sih? gak bisa ditunda ya?"
"Eeee... itu Ma.. Mau beli hadiah.. buat Nina."
Jawab Nayla kikuk. Setidaknya itulah alasan yang bisa dikeluarkannya agar segera bisa pergi.
"Yaudah hati-hati Nay.."
"Byeee Ma... kalau nanti Nayla pulang telat, berarti Nayla mampir ke toko buku yaa Ma.."
Ucap Nayla sebelum akhirnya dia hilang dibalik pintu.
***
"Waahh..sumpah ini mobil nyaman banget Nay.."
"Pasti mobil mahal kan? Sampai jalan berlubang gak ada rasanya tau... Lancar-lancar aja kayak naik rollcoaster"
"Beruntung banget sih kamu Nay bisa punya mobil sebagus ini.. Kapan-kapan aku pinjem ya.. Hahaha"
"Sudah mobilnya bagus, pengemudinya cewek cantik lagi... Wowww banget tau nggak sihh"
Nayla hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan-ocehan Sari yang sebagian besar berisi bualan-bualan memujinya. Dia sampai kualahan meladeni sahabatnya yang notabene-nya memang cerewet dari dulu.
"Lohh lohh, kok belok ngiri sih? Bukannya arah pulang itu jalan lurus ya?"
"Yee, siapa juga yang mau pulang..."
Hari menjelang sore. Matahari juga sudah mulai bergeser kearah barat meski sinarnya masih sangat menyengat. Maklum, baru jam setengah dua siang memang.
Setelah tadi pagi berbelanja dan juga berwisata kuliner berdua dengan Sari, kali ini Nayla ingin membawa sahabatnya itu ke pantai. Nayla enggan segera pulang karena bisa saja dia malah semakin merasa tertekan karena kesepian.
Reyhan juga pasti belum pulang kan sebelum nanti malam?
"Kita ke pantai dulu ya Sar..."
Sari mengangguk setuju. Sedikit sedikit Sari paham betul apa yang membuat Nayla bertingkah konyol macam hari ini. Apalagi kalau bukan rencana pernikahan Nina dan Satya besok lusa?
Padahal selama yang Sari tau, Nayla tidak begitu menyukai pantai. Dari pada pantai, Nayla lebih tertarik dengan taman, atau pusat belanja, atau nonton film dan sejenis itu.
Nayla mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga tak butuh waktu lama mereka sudah sampai dipantai yang Nayla maksud.
__ADS_1
Sebuah pantai tempat pertama kali Reyhan mengenalkannya pada senja kala itu.
Nayla keluar dari mobil dengan begitu ceria. Dia berjalan berdua menyelusuri bibir pantai dengan kaki telanjangnya. Sedangkan sepatu cats nya sudah ditenteng oleh tangan kirinya. Nayla memang sengaja melepasnya tadi sebelum dia menyentuh pasir-pasir berwarna putih tulang itu.
Banyak pasang mata yang memandangnya penuh kagum. Tak sedikit juga yang memandangnya memuja karena terpana dengan wajah cantik Nayla. Entah itu laki-laki ataupun perempuan.
Sudah dibilang, siapa saja pasti akan mudah jatuh hati pada pandangan pertama saat melihat penampilan Nayla hari ini.
"Kamu tau nggak Sar, di ujung sana ada bukit loh. Baguss banget buat melihat senja.. sayangnya susah buat naik keatasnya."
Ucapnya dengan bangga memperkenalkan bukit cinta itu pada Sari.
"Emangnya kamu sudah pernah kesana?"
Tanya Sari penasaran. Memangnya kapan Nayla main kepantai selain hari ini?
"Pernah dong, hari minggu kemaren sama Reyhan..." Ucapnya sedikit berteriak. Deburan ombak membuat suaranya tidak bisa didengar kecuali sedikit berteriak.
"Kita kesana yukk sampai bawah bukit aja, tapi nggak usah naik bukit ya... capekk.."
Sari mengangguk. "Boleh, kita lari yukk Nay, balapan disini, mumpung cuma berdua..."
Nayla menaikkan sebelah alisnya. "Siapa takut..."
Detik berikutnya mereka benar-benar lari. Seperti dua perempuan bersaudara yang sedang mengulang permainan kejar-kejaran dipantai masa kecilnya. Sari memang selalu ada untuk Nayla, selama ini itulah yang Nayla rasakan.
"Sudah, sampai sini aja Sar.. capekk.." Ucap Nayla dengan nafas ngos-ngosan. "Tuh bukitnya udah deket juga kokk..."
Nayla berjalan menyusuri bukit, diikuti Sari disampingnya. Bermaksud memberi tahu Sari dimana letak tangga untuk naik keatasnya.
"Loh, kok sekarang tangganya sudah bagus aja sihh... Padahal hari minggu kemaren masih susah dilewatin loh Sar..." Ucap Nayla penuh kagum. Dia juga merasa heran, secepat itu ya memperbaiki tangga naik ini? Bukannya baru kemaren dia kesini dan tangganya masih dari kayu?
"Kalau tau gini sih, kita naik aja Sar..." Ajaknya.
"Btw laper lagi belum? kita makan diatas yukk? Diatas ada restoran mewah"
"Ya ampun Nay, perut apa karet sih..." Gumam Sari sambil terkekeh pasrah mengikuti Nayla dari belakang.
***
Beberapa menit kemudian, Nayla dan Sari sampailah dipucuk bukit itu. Dengan nafas mereka yang terengah-engah.
Tidak mudah bagi kedua gadis kota itu untuk sampai dititik dimana dia berdiri sekarang.
"Ahh Naylaaa.. Ya Tuhaann.. Ini indah bangett..."
Seru Sari sambil berlari dan sesekali memutar tubuhnya. Menikmati pemandangan alam yang Tuhan suguhkan dengan begitu sempurna dengan cara menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan.
Sebuah kelegaan karena apa yang didapat sekarang adalah sebanding dengan apa yang dilaluinya tadi.
Pun dengan Nayla, dia menikmati karya Tuhan yang sangat indah ini dengan perasaan berdesir. Penuh kagum.
"Apa aku bilang.. Ya kali aku mau capek-capek kesini kalau pemandangannya gak sebanding sama susahnya kita naik tangga itu..."
Nayla mengamati sekelilingnya. Memutar ulang kenangan beberapa hari yang lalu disini, ditempat yang sama, meskipun dengan orang yang berbeda.
Suasananya masih sama. Angin bersemilir kencang membuat rambut Nayla sedikit berantakan meskipun sudah diikat rapi.
"Loh, kok sudah banyak kursi ya disini? Perasaan kemaren belum ada?"
Gumam Nayla saat pelataran luas diatas bukit itu berubah seperti taman dan terdapat banyak kursi untuk beristirahat.
Nayla baru akan mendaratkan bokongnya di salah satu kursi itu setelah Sari menyeretnya ketempat makan.
__ADS_1
"Nay, makan dulu yukk? Hehe baunya harum bangett bikin laperr lagi.."
Sukses membuat Nayla melebarkan matanya dengan mulut menganga. "Serius nih? Bukannya tadi kamu bilang kita baru aja makan?"
"Ayolah Nay..." Ucap Sari memohon . "Bukankah kita tadi naik tangga kesini? Tenaga sudah habis tau nggakk.."
"Ya Ampun Sar.. Itu perut apa karet sihh.."
Ledek Nayla menirukan perkataan Sari beberapa waktu lalu dengan intonasi yang dibuat sama persis. Lalu Nayla terkekeh geli setelahnya.
Meskipun begitu, Nayla tetap menuruti saja permintaan sahabatnya itu. Sari tidak bohong, aroma makanan seafood yang khas disini membuat siapa saja bisa lapar mendadak.
Sari memberenggut. "Tauk ahh, pokoknya ayoo.."
Ucapnya lagi sambil menggandeng tangan Nayla memasuki tempat makan yang tak lain adalah Restoran Sadewa.
Untungnya, masih ada beberapa tempat duduk yang kosong sehingga mereka berdua bisa menikmati makanan khas laut itu dengan tenang.
"Kamu mau makan apa aja pokoknya bebas Sar.." Ucap Nayla sambil menyodorkan buku menu.
Tangan Nayla melambai memanggil pelayan resto. Setelah mereka memesan makanannya, beberapa menit kemudian makanan itu sudah tersaji dimeja. Mereka berdua menikmati makanan mereka, pun dengan Nayla yang sesekali sambil memainkan ponselnya.
"Wahh, aku makan yang mana lagi ya Nay,"
Seru Sari dengan tidak sabar saking banyaknya makanan yang sudah dia pesan.
"Nay, pokoknya harus habis ya..."
Ucapnya lagi.
Nayla tetap menyantap lezat makanannya sebelum matanya menangkap satu sosok familiar yang sedang berjalan penuh wibawa keluar dari balik ruangan, entah itu ruangan apa direstoran ini.
Dan sosok itu tak lain adalah Reyhan.
Reyhan ngapain disini?
Perasaan nyeri yang tadi pagi masih belum sembuh. Sekarang hatinya semakin merasa sakit saat ternyata dia melihat Reyhan tidak sendirian. Ada satu perempuan cantik yang mengikuti Reyhan dibelakangnya. Dan apa lagi itu?
Baju Reyhan sudah berubah dari yang terakhir dia lihat tadi pagi. Reyhan nampak lebih rapi dengan setelan jas yang melekat sempurna ditubuhnya membuat Nayla ingin memaki sekarang juga. Otak siapa yang masih bisa berfikir positif dengan keadaan seperti ini?
Nayla menajamkan pandangannya sekali lagi, dan hasil nya masih sama. Sosok itu benar-benar Reyhan.
Reyhannn sialan...!! Umpat Nayla dalam hati.
Tanpa sadar, air matanya jatuh menetes dengan wajah tanpa ekpresi.
Nayla tak habis pikir, bisa-bisa nya Reyhan mengganti pakaiannya terlebih dulu hanya untuk bertemu dengan selingkuhannya.
Biar apa berpakaian begitu? Biar dikira kaya?
Jadi benar kau punya wanita lain?
Jadi bukan aku doang yang kamu ajak kesini?
Jadi ini alasan kamu beberapa hari ini sibuk sampai pulang larut?
Dasar munafik...
Aku benci kamu Reyhann.!
Amarah menguasai Nayla dengan segala per-spekulasinya sendiri. Dadanya terasa sesak seperti ada pisau tajam yang menembus sampai ulu hati. Nafsu makannya hilang seketika.
Dan Nayla bertindak cepat. Segera menghapus air matanya sebelum Sari melihatnya menangis.
__ADS_1
"Cepet dihabisin Sar, yuukkk segera pulang"
Begitu putusnya.