
Nayla berjalan pelan dibelakang suaminya. Mengekori satu-satunya pemilik langkah yang dia kenali dirumah itu sedang menuju ruang makan mereka.
Pikirannya menerawang jauh. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi dengan dia dan delapan anak dari suaminya.
Aku saja belum memikirkan memiliki anak, bagaimana bisa aku tiba-tiba harus menjadi seorang mama dari delapan anak?
Bagaimana nanti kalau anak-anak Rey nakal?
Atau bagaimana kalau mereka tidak menerimaku sebagai mama nya? Bagaimana kalau mereka menolak ku?
Itu sangat memalukan kan?
"Rey....."
Lirihnya dengan ragu-ragu memanggil suaminya. Wajahnya menahan kesal.karena Reyhan mengabaikannya.
"Reyhan denger nggak sih..."
"Apa sih sayang? ha? Udah sini jangan takut. Ayooooo"
Reyhan menggandeng tangan Nayla memasuki ruang makan. Benar saja, tangan Nayla terasa dingin.
Reyhan terkekeh geli. Pasti istrinya itu sedang gelisah tadi.
Pantas saja tadi dia berjalan sangat pelan. Dasar perempuan.
Kenapa dia menggemaskan sih?
Reyhan menarik satu kursi dan mempersilahkan Nayla duduk. setelahnya dia ikut duduk dikursi samping Nayla.
Mata Nayla membulat sempurna. Benar. Ada empat anak cowok duduk disisi kiri. Sedangkan empat enek cewek duduk disisi kanan.
Kemudian diujung meja yang berhadapan langsung dengannya ada Mbak Nana, dan entahlah..
__ADS_1
seorang laki-laki paruh baya.
Nayla merasa bingung. Sebenernya situasi seperti apa yang sedang dia hadapi saat ini?
Jika benar mereka anak-anak Reyhan, kenapa diantaranya ada Naura? Bukankah Naura sendiri yang bilang kalau Reyhan adalah Om nya?
Apa mungkin Reyhan hanya sedang mengerjainya?
Atau sebenarnya mereka semua hanya keponakannya Reyhan?
Tapi kenapa pada ngumpul disini?
Astaga.. Minimnya informasi yang Nayla punya tentang Reyhan membawanya pada situasi yang sulit dimengerti.
Nayla mengangkat sebelah alisnya. Sebenarnya siapa Reyhan itu?
"Nay, dimakan dulu. Nanti ya aku jelasin..
Nayla melihat piringnya. Dan ya, astagaaaa
Ternyata sedari tadi Reyhan sudah mengisi piringnya dengan banyak makanan. Kenapa Nayla tidak sadar sihh..?
"Terimakasih...."
Nayla menjawab kikuk. Dan mulai memasukkan makanannya suap demi suap.
Ada banyak pertanyaan yang melingkar dipikirannya. Semua sama. Tentang Reyhan.
Dimeja makan ini. Nayla mulai merasakan kehangatan.
Mereka semua makan tanpa suara. Tanpa bicara. Tapi lihat,
Anak perempuan yang mulai remaja itu sesekali mengusap pipi Naura yang belepotan dengan lembut. Membuang satu butir nasi yang tertinggal disana.
__ADS_1
Sama halnya dengan anak laki-laki. Mereka yang lebih besar membantu mereka yang lebih kecil. Tanpa diperintah. Tanpa dikomando.
Semua berjalan begitu saja. Seperti memang sudah terbiasa.
Sejenak Nayla melirik suaminya. Reyhan makan dengan santai. Seulas senyum selalu terpancar ketika dia memperhatikan anak-anak itu makan dengan lahap.
Sampai makanan itu habis meninggalkan sisa yang hanya sedikit.
Pelan tapi pasti. Mereka bekerja sama menumpuk piring kotor itu menjadi dua bagian.
Lalu dua orang anak laki-laki yang paling besar segera membawa piring itu ke belakang.
"Emm..Jeni, Rista.. Nyuci piringnya nanti saja.. duduk dulu sini...."
Apa Reyhan memang selembut ini? Jadi apa sebenarnya hubungan Reyhan dengan mereka semua.?
"Jadi gini.. Om Reyhan mau kenalin kalian semua sama Kak Nayla... Ini orangnya.."
"Halooo..."
Nayla menyapa dengan kikukk...
"Kak Nayla ini istrinya Om Rey, dan satu lagi mulai sekarang kak Naura menjadi bagian dari kita."
"Asiikkkk.. berarti ada temen baru dong Om..?"
Kata seorang laki-laki dengan senyum yang mengembang sempurna. Dia masih kecil. Mungkin masih sekolah dasar.
"Haloo kak...." Semua menyapa Nayla bergantian. Dengan senyum yang Nayla yakin itu tulus.
Kecuali Naura. Dia malah berjalan mendekat disisi Nayla. Seperti biasa....
"Kak.. Pangku.."
__ADS_1