
Sekali lagi Nayla memperhatikan penampilannya didepan cermin. Celana jeans berwarna hitam yang melekat sempurna dan menutupi seluruh kakinya, dipadukan dengan kemeja berwarna cream dengan motif stripe berlengan tiga per empat membuatnya tersenyum puas. Penampilan yang simple tapi menawan.
"Ayoo Rey.." Ajaknya sambil mencangklong tas tali berwarna hitam, senada dengan celananya.
Lelaki yang tengah duduk itu berdiri. Kali ini, Reyhan juga terpesona dengan penampilan Nayla.
"Cantik banget istriku. Mau kemana sih?" Sambil mencubit gemas hidung Nayla.
"Kan mau ke dokter?" Memanyunkan bibirnya.
"Iya, ayo.. Gak usah maju-majuin bibir gitu Nay.. Ntar gak jadi ke dokter, malah tak ajak tidur.."
Gadis itu memutar bola matanya. "Reyhan.. ihh.."
Sambil memukul lengan suaminya.
Lelaki itu terkekeh. Sambil mengikuti langkah sang istri yang berjalan cepat keluar rumah dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Habisnya cantik banget..." Dan setiap hari memang selalu cantik.
Tanpa Reyhan sadari, pujiannya membuat pipi Nayla merah merona seperti kepiting rebus.
***
"Secara keseluruhan, kondisi tubuh Ibu Nayla ini baik." Jelas seorang dokter yang baru saja memerikasa Nayla. Setelah tadi Nayla telentang diranjang untuk pemeriksaan, sekarang dia duduk di depan kursi meja kerja dokter untuk menerima penjelasan. Senyum penuh kelegaan mengembang sempurna dipipi itu.
"Hanya saja, sepertinya rahim anda pernah mengalami infeksi akibat mengkonsumsi obat tertentu."
Deg..
Dahi Nayla berkerut. Pun dengan Reyhan yang ikut terkejut.
Dapat Reyhan rasakan saat jari-jarinya diremas Nayla dengan kuat dibawah meja. Baru penjelasan seperti itu saja sudah membuat keringat dingin keluar dari tubuh Nayla.
Reyhan kembali menggenggam erat jemari sang istri saat Nayla mulai melepaskan remasannya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk merangkul pundaknya.
"Apa itu berbahaya dok?" Tanya Reyhan mewakili istrinya.
"Maaf sebelumnya, apa Ibu Nayla pernah menggunakan obat perangsang saat berhubungan suami istri?"
"Obat perangsang? Obat apa itu dok?" Tanya Nayla bingung.
__ADS_1
Ah benar, Nayla bukan perempuan ahli dalam hal semacam itu. Selama ini, hubungannya dengan sang suami hanya mengikuti naluri ilmiah seorang wanita terhadap kelembutan seorang pria.
"Ya, Obat perangsang itu sejenis suplemen pembangkit libido wanita yang mengklaim mampu meningkatkan pelumasan vag*na, meningkatkan aliran darah ke vag*na demi peningkatan sensitivitas, sekaligus juga melipatgandakan intensitas dan frekuensi ******* saat berhubungan intim. Dengan kata lain, obat yang bisa meningkatkan nafsu wanita dalam berhubungan suami istri."
Dua pasangan itu saling bersitatap. sebelum akhirnya si dokter menjelaskan lagi.
"Sebenarnya penggunaan obat perangsang itu tidak begitu berbahaya, asalkan obat yang dipilih itu tepat sesuai standart BPOM, dan diminum dalam takaran yang sesuai. Hanya saja, mungkin kondisi rahim ibu Nayla yang kurang kuat, yang akhirnya membuatnya kodisinya sensitif terhadap obat itu. Sampai mengalami infeksi."
Seketika tubuh Nayla terasa lemas, tulang-tulangnya seperti melebur dan luluh lantah. Dan nafasnya pun tersenggal. Detik berikutnya Nayla menatap Reyhan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Jadi, apa ibu Nayla pernah meminumnya?"
Lagi, Nayla menatap Reyhan lebih dalam. Dia merasa sama sekali tidak pernah menyentuh obat semacam itu. Lalu, siapa yang diam-diam memberinya obat terlaknat seperti itu? Selain,... Reyhan.
Seakan paham dengan tatapan penuh tanya dari wanita yang saat ini paling dicintainya, Reyhan segera menjawab pertanyaan sang dokter. "Saya rasa istri saya tidak pernah meminumnya dok, dan saya juga tidak pernah memberinya obat semacam itu.."
Dan lelaki itu kembali menatap Nayla. "Percayalah, aku tidak pernah melakukan itu padamu.." Jangankan memberikan padamu secara diam-diam, aku bahkan sama sekali tidak pernah menyentuhnya.
Reyhan kembali mengelus puncak kepala Nayla saat manik mata hitam yang sangat indah itu berkaca-kaca. Hatinya ikut merasakan sakit, saat Nayla terluka seperti ini.
"Begini saja, lebih baik kalian bicarakan masalah ini dirumah. Untuk pencegahan terjadi nya infeksi dikemudian hari, saya akan meresepkan vitamin. Untuk penyembuhan sekaligus pemulihan kondisi rahimnya."
Bagaimana kalau diam-diam Reyhan yang memberinya obat itu?
Nayla takut, takut lebih kecewa lagi dari ini.
"Baik dok, sebelumnya terimakasih.. nanti saya akan mengambil obatnya." Lebih baik dibahas lain kali, karena saat ini, Nayla pasti belum mampu menerima.
"Datanglah kembali dua minggu lagi."
"Baik dok.."
Reyhan menggandeng tangan Nayla selama keluar dari rumah sakit. Pun didalam mobil, lelaki itu mulai menunjukkan sikap posesifnya pada sang istri.
Selain fokus mengemudi mobilnya, sebelah tangan kiri ia gunakan untuk menggenggam erat tangan kanan Nayla. dan sesekali menciumnya. Walau tetap saja, Nayla sedari tadi menatap kosong ke arah luar jendela.
Sampai kembali kerumah.
Meskipun lelaki itu sangat yakin seratus persen bahwa bukan dia yang memberi obat jahannam itu pada sang istri, tapi ia tetap merasa takut jika Nayla menuduhnya. Reyhan takut jika akibat terlalu terkejut dengan keadaan ini membuat Nayla tidak bisa berfikir jernih dan malah menyalahkan Reyhan.
Apalagi saat mata tajamnya kembali bersitatap dengan mata bermanik hitam yang saat ini terlihat sayu, membuat Reyhan tidak bisa terlalu keras memaksa Nayla untuk mempercayainya, sebelum dia membawa bukti yang tak terbantahkan.
__ADS_1
"Maafkan aku.."
Diusapnya air mata yang jatuh dipipi sang istri. Lalu dikecuplah kening itu. "Maaf, aku masih kurang maksimal dalam menjagamu.."
***
Sejak sepulang dari periksa tadi pagi, perempuan bersurai hitam itu mengurung diri dikamar. Menghabiskan waktunya dengan duduk di sofa sambil melihat televisi.
Bukan.
Bukan ia yang melihat televisi, tapi televisi-lah yang melihatnya.
Perempuan itu banyak melamun. Wajahnya juga nampak murung. Sesekali ia berdiri didepan pada dinding kaca yang menampilkan pemandangan pusat kota, menatap kearah luar dengan tatapan kosongnya.
"Makan dulu, setelah itu ayoo diminum vitaminnya..."
Nayla menoleh. Mendapatai sang suami yang membawa nampan berisi makan siangnya menuju sofa membuatnya kembali mengalihkan pandangan melihat pemandangan pusat kota. Perempuan itu masih bergeming.
"Kau tidak mempercayaiku?"
Tangan kekar ia rasakan memeluknya dari belakang. Lelaki itu juga menenggelamkan wajahnya diceruk leher Nayla.
"Setidaknya berbicaralah, mau sampai kapan kau mendiamkan aku seperti ini?"
Dada Nayla terasa sesak. Sesak yang teramat kebak saat Reyhan mengucapkan kata itu. Sebenarnya Nayla juga tidak yakin jika Reyhan lah yang melakukan itu. Tapi selain Reyhan, lantas siapa lagi?
Satya? itu tidak mungkin. Kejadian bersama nya sudah terlalu lama.
Seakan tidak kuat, gadis itu terisak dan menangis lagi. Membuat dari belakang, Reyhan semakin memperat pelukannya.
"Maaf, maafkan aku Nayla. Sekalipun bukan aku yang melakukan itu, tapi aku minta maaf atas rasa sakit dan kecewa yang kamu rasakan."
Nayla berbalik. Kemudian ia membalas pelukan sang suami dengan tak kalah erat. Dia tidak bisa mengelak bahwa saat ini dia juga membutuhkan Reyhan. Isakannya semakin kencang terdengar pilu. Nayla menumpahkan seluruh air mata, rasa kecewa dan rasa sakit nya dipelukan sang suami.
"Aku berharap, semoga bukan kamu, Reyhan... alih-alih orang lain yang melakukan, aku lebih takut jika kamu tersangkanya..
Aku begitu mempercayaimu, sampai rasanya aku tidak sanggup jika kamu mengecewakan ku dengan hal semacam ini.." Ucapnya sambil masih memeluk erat Reyhan.
"Percayalah Nayla... ah jika mempercayaiku masih begitu sulit. setidaknya, jangan menuduhku..." Reyhan melepas pelukannya, lalu mengecup bibir Nayla sekilas.
"Aku mencintaimu, sekarang, makanlah.."
__ADS_1