
Setelah itu, Satya mengantarkan Nayla pulang.
Sepanjang perjalanan, Nay hanya diam.
Hening
Ini tidak seperti biasanya. Satya juga sangat merasa canggung.
Nayla mengalihkan perhatiannya keluar. Menatap kosong pemandangan yang mereka lewati. Air matanya menetes begitu saja tanpa diminta.
Padahal Nayla sudah mengusapnya berkali-kali. Nayla merasa bersalah kepada Papa dan Mama nya yang sudah memberikan kepercayaan penuh padanya.
Pa, ma... maafkan Nayla. hiksss
Nayla sudah menghancurkan kepercayaan Papa dan Mama nya. Nay sangat merasa berdosa.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur terjadi. Lagi-lagi air mata Nayla jatuh menetes dari sudut matanya.
Sedangkan Satya, larut dalam pikirannya sendiri. Satya berharap semoga dirumah Nayla nanti, dia tidak bertemu Om Zeko.. Papa Nay.
Satya merasa belum siap bertemu Papa Nay setelah apa yang terjadi pada mereka tadi sore. Ancaman Papa Nay sangat mengganggu pikiran Satya. Satya tidak bisa berhenti memikirkannya.
"Tinggalkan Nayla dengan caramu sendiri, atau aku yang akan membuatnya membencimu."
Kata kata itu masih terngiang-ngiang dikepala Satya.
Satya tidak bisa kehilangan Nayla. tapi disisi lain, Satya takut pada Papa Nayla.
Bagaimanapun juga, Papa Nayla adalah orang yang berpengaruh dikota ini. Dia pemilik perusahan terbesar di Negara ini.
Mencari masalah dengannya sama dengan mengirim diri sendiri ke lubang kesengsaraan.
Satya ingat, Papa Nay sebenarnya orang yang baik. Dia sopan, tegas dan menghargai sesama.
Beberapa kali bertemu dengannya, Dia menyambut Satya dengan tangan terbuka dan senyum terhangat.
Tapi semua sudah berubah sekarang.
Ini adalah kesalahan Satya sendiri. Satya sadar itu.
Satya tetap melajukan mobilnya. Menembus padatnya jalanan kota.
Sekilas Satya melirik Nayla.
Nayla sangat hancur. Masih meratapi penyesalannya.
Tangan kiri Satya meraih tangan Nayla. Menggenggamnya. Lalu menciumnya. Membuat Nayla seketika menoleh padanya.
Satya memberikan senyum terhangatnya.
"Percayalah, semua akan baik baik saja Nay. Aku akan selalu disisimu." Kata Satya sambil tersenyum manis."Tidak akan ada yang tahu, aku janji. Ini menjadi rahasia kita berdua."
Nayla ikut tersenyum. Raut wajahnya masih terlihat pilu. Tapi kata kata Satya barusan membuatnya sedikit tenang.
Tak terasa, mobil sudah sampai didepan pintu gerbang utama rumah Nayla.
Satya masih menggenggam tangan Nayla.
"Istirahatlah.. tenangkan dirimu malam ini Nay.." Kata satya sambil lagi lagi mencium tangan Nayla.
Nayla mengusap air matanya lagi sebelum membuka pintu. Merapikan rambutnya agar terlihat lebih baik. Merapikan make upnya untuk menutupi wajah sembabnya.
Satya mencium kening Nayla. "Aku mencintaimu Nay.."
Nayla tersenyum mendengarnya. Nay membuka pintu. Keluar dari mobil lalu berjalan melenggang masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Nayla tidak melihat mobil Papa nya digarasi. Pertanda Papa belum pulang.
Nay membuka pintu rumahnya.
Cekleekk....
Nayla merasakan suasana yang berbeda dirumah ini.. Tidak. itu bukan suasana rumahnya. Tapi suasana hati Nay.
Lagi lagi Nay merasa bersalah pada Mama dan Papa nya.
Nay berjalan cepat menaiki tangga. Masuk ke kamarnya. Nay mengunci pintu.
Tangis Nayla pecah. Nay berjalan gontai ke dalam kamar mandi.
Menyalakan shower. Mengguyur tubuhnya yang masih memakai dress itu.
"Aku sudah kotor" Nayla menangis tersedu-sedu. "Mama, Papa.. maafkan Nayla. hiksss.. Nayla sudah merusak kepercayaan kalian"
Nayla menghentikan dirinya ketika suara pintu kamarnya diketok.
Tok.. tok.. tok..
"Nay, kau sudah pulang Sayang..."
Itu suara Mama Riana. Sayup sayup terdengar dari dalam kamar mandi.
Nay segera melepas bajunya. Meraih handuk, lalu melilit tubuhnya dengan handuk.
Nay buru buru Nay keluar kamar mandi.
"Nay sudah pulang Ma.. Ini Nay lagi mandi.."
Jawab Nay sedikit berteriak.
Nay tidak bisa bertatap muka dengan Mama nya sekarang. Nay belum siap.
"Baiklah sayang.. Segera tidur ya, ini sudah larut malam..." Kata Mama Riana lalu berjalan pergi meninggalkan kamar Nayla.
Nayla merasa lega. Segera dia memakai piyama tidurnya.. Menutup dirinya dengan selimut.
Lagi lagi.. air mata Nay tumpah dibalik selimut. Nay masih menyesali semuanya.
***
Setelah memergoki Pacar putrinya tadi, Pak Zeko menghubungi seseorang dengan telfonnya.
"Haloo..Selamat Sore Pak, bisakah kita bertemu sekarang" Kata pak Zeko mangawali obrolannya ditlfon. Pak Zeko memang tidak terlalu suka berbasa basi.
"Ada perlu apa ya Pak? kenapa mendadak sekali?" Jawab seseorang diseberang sana.
"Ada yang perlu aku bicarakan tentang Nayla, putriku.." Jawab pak Zeko to the poin.
"Oh baiklah, kirim saja alamatnya. Aku akan menemui Bapak disana." Jawab orang itu.
"Terimakasih atas waktunya.." Lalu pak Zeko menutup telfonnya.
Dendi sang sekretaris masih setia berjalan dibelakang bossnya. Mengikuti kemanapun Pak Zeko pergi.
"Dendi.. Kamu kembalilah kekantor dahulu. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan diluar." Kata Pak Zeko sambil berjalan menuju mobilnya.
"Baik Pak.." Jawab Dendi patuh.
Sedangkan dilain tempat, setelah menerima telfon. Hasan berjalan menuju kearah sahabatnya.
Yaa.. seseorang yang ditelfon pak Zeko tadi adalah pak Hasan. Dosen Nayla.
__ADS_1
Saat ini dia ada ditoko buku milik temannya. Hasan hendak berpamitan pada temannya.
"Han.. Aku pergi dulu ya.. Ada urusan sama seseorang." Hasan pamit pada Sahabatnya.
"Kemana? kan tadi kamu bilang hari ini free mau bantuin aku ngerjain skripsi disini?" Balas Reyhan.
"Penting Han, Mau ketemu sama donatur kampus.." Jawab Hasan."Aku ga enak kalau menolaknya. Dia orang yang baik. Dulu meminta tolong padaku untuk mengawasi putrinya dikampus. Dan aku sudah berjanji akan membantunya."
"Ohhh jadi kamu jadi mata mata... yasudaahh lah.. segera balik kesini kalau dah kelar" Reyhan menjawab tanpa memandang Hasan. Reyhan sibuk dengan laptopnya.
Sementara itu, Hasan melangkah pergi menemui Pak Zeko yang tak lain adalah papa Nayla.
Sebenarnya, Hasan sendiri enggan meninggalkan sahabatnya itu. Dia sudah berjanji akan membantu Reyhan menyelesaikan skripsinyaa.
Hasan dan Reyhan sudah bersahabat lama. Dulu mereka masuk kampus juga secara bersamaan sebetulnya. Hanya saja, ditahun Semester ke 4, Reyhan menunda kuliahnya setahun karena ada sesuatu yang lebih penting. Katanyaa...
Hasan ingat saat itu, kejadian yang membuat Hasan salut pada Reyhan, sampai saat ini...
#Flashback...
"San, kayaknya Tahun ini aku nunda dulu kuliahku.." Kata Reyhan dengan wajah lesu.
"Why? kenapa??" Jawab Hasan dengan sangat terkejut.
Jelas saja Hasan terkejud. Dari awal Reyhan paling bersemangat menjalankan kuliahnya.
"Tinggal dua semester lagi Han..."
"Pendapatan Toko Buku ku berkurang beberapa bulan ini, Dan juga..."
Reyhan masih menggantungkan kata katanya..
"Apa?" Tanya Hasan dengan mimik muka yang tidak bersahabat.
Dulu mereka berjanji akan menyelesaikan kuliah ini bersama, berjanji akan wisuda bersamaan juga..
"Kamu ingat Naura? Dia sakit. Jiwanya terguncang setelah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya." Kata Reyhan dengan hati-hati..
"Aku membawanya ke psikiater. Katanya butuh waktu yang lama dengan biaya yang lumayan besar"
"Tuhkan, sudah kuduga. Anak asuh lagi yang kamu pikirin" jawab Hasan dengan kesal.
Hasan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Reyhan. Dia masih muda.
Entah dapat petuah dari mana, Reyhan saat remaja sangat ingin memiliki cita cita mendirikan panti Asuhan pribadi.
Bahkan sebagian besar hasil dari Toko Bukunya digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari hari anak anak asuhnya.
Reyhan bahkan rela menunda kuliahnya hanya demi anak asuhnya.
Reyhan hanya diam melihat wajah Hasan yang tidak bersahabat. Terpancar jelas, Hasan sangat jengah menghadapinya.
Tapi mau bagaimana lagi. Reyhan merasa kasian melihat mereka yang kehilangan orangtuanya saat masih kecil. Sedangkan tidak ada saudara yang bisa merawatnya.
"Sudahhh lah, terserah kau saja Han...." Hasan melangkah pergi..
meninggalkan Reyhan sendiri di bangku kantin kampus.
Hasan jengkel. Bisa bisanya Reyhan lebih memikirkan oranglain dibanding dirinya sendiri.
#Flashback OFF..
Itu adalah salah satu dari sekian banyak kebaikan Reyhan yang membuat Hasan betah bersahabat lama dengannya.
Hasan melajukan mobilnya. Mengikuti arah google maps yang membawanya menemui pak Zeko.
__ADS_1