
Pening dikepalanya belum juga mereda.
Hari sudah menjelang pagi. Pendar lampu malam yang biasa ia lihat dari jendela kaca, perlahan menghilang.
Menandakan kehidupan baru, yang segera dimulai kembali.
Nayla mengerjab. Dua pasang matanya, terasa sangat berat dibuka.
Jelas saja. Semalaman Nayla menangis. Tidak berniat menangis sebenarnya,
tapi, air matanya jatuh dengan sendirinya.
Berulang kali ia menyesuaikan dengan mengedipkannya berkali-kali, tapi tetap saja.
Dua matanya tidak bisa sepenuhnya terbuka.
Sebenarnya,
sejak semalam Nayla tidur meski sebentar. Tapi, tidurnya tidak benar-benar tertidur.
Perempuan itu tetap terjaga meski didalam tidurnya.
"Aduh.."
Nayla merintih.
Kram di perutnya terasa semakin mengganggu. Setiap ia merasa cemas yang berlebihan, setiap itu pula kram di perutnya semakin terasa menyerang.
Perempuan yang tengah berbaring itu duduk dengan pelan. "Mungkin aku perlu, berendam air hangat."
Ia sibak selimut putih yang menutup kaki-nya.
Sebelum turun dari kasur, ia lihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Baiklah, aku mandi terlebih dahulu. Masih ada waktu dua setengah jam kan?"
Bersamaan dengan ia mengucapkan itu, rasa ragu muncul kembali didalam hati nya.
Ia takut, dan cemas.
Tapi, tidak ada pilihan lain. Apalagi, mundur dan lari dari masalahnya.
Nayla harus menghadapinya sendiri. Tanpa melibatkan orang lain. Sekalipun itu, Reyhan.
Seluruh tubuhnya sudah tertutup air hangat. Sudah sekitar tiga puluh menit berendam, ia lantas mengakhiri aktifitasnya.
Memakai baju biasa, Nayla keluar dari kamar dan turun menuju lantai satu.
Dan ia dapati Linda yang tengah mengelap kaca jendela ruang tamu membelakangi nya.
"Lin.."
Gadis itu menoleh. Menghadap ke Nayla, yang tadi memanggilnya. "Selamat pagi, bu.. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pagi kembali Lin.."
"Ibu mau sarapan roti? Biar Linda siapkan."
Eh?
"Enggak" Menggeleng. Lantas, Nayla mengingat-ingat barang mentah apa saja yang tidak ada di almari pendingin.
"Aku cuma mau bilang, aku pingin makan rendang. Bisa minta tolong dibuatkan nggak untuk makan malam?"
"Bisa.." Linda tersenyum. "Nanti siang Linda kepasar untuk berbelanja terlebih dahulu."
Nayla menghela nafasnya lega merasa tidak salah menebak. "Kenapa nggak pagi ini aja Lin? Kalau pagi kan dagingnya masih segar."
"Bisa juga bu.." Mengangguk. "Yasudah, Linda selesaikan mengelapnya dulu ya bu, nanggung."
Senyum tipis Nayla paksa hadir di bibirnya, agar Linda tidak curiga. Sejujurnya,
kecemasan merenggut semua rona bahagia diwajah Nayla. "Makasih ya Lin.. Dan jangan lupa, beli mentimun sama wortel nya juga. Aku juga pingin makan acar nih."
Berjalan menuju dapur, mengambil gelas dan menuangkan air untuk ia minum.
Dapur dan ruang tamu yang tanpa sekat membuat mereka mudah berbincang, meskipun dari jarak yang cukup jauh. "Oiya Lin, hari ini aku ada kelas memasak. Jadi nanti, kalau kamu pulang dari pasar, dan aku nggak ada dirumah, jangan kaget."
"Loh," Kaget. "Ibu gak mau dianterin?" Tanya Linda dengan bingung, dan penuh selidik.
"Enggak perlu." Berusaha membuat dirinya setenang mungkin, Nayla menetralkan jantungnya yang kian berdebar dengan menarik nafasnya dalam. Agar Linda tidak curiga. "Aku sudah hafal kok. Nanti aja kalau ada apa-apa aku hubungi kamu ya?"
__ADS_1
Ya Tuhan,
hilangkan kecurigaan pada hati gadis itu.
"Emm.." Linda berfikir. "Kalau ada apa-apa sama ibu, saya takut dimarahin pak Reyhan, bu.."
Jujur saja,
Linda ragu melepaskan Nayla bepergian sendiri di sini. Selain bahasa yang kurang, jarak menuju kelas memasak lumayan jauh.
Ia tidak yakin, Nayla bisa kembali kerumah dengan selamat.
"Kamu tenang saja.." Meninggalkan dapur. "Nanti aku yang bilang sendiri ke Reyhan."
"Tapi, bu..." Masih ragu untuk menyetujui.
"Udah lah, tenang saja. Aku pasti bisa." Menyengir kaku. "Hehe, aku bilang ke Reyhan sekarang juga nih. Biar kamu gak takut dimarahin." Sambil berjalan melangkah naik ke tangga.
Sampai dilantai atas, Nayla masih mengintip ke bawah. "Lagian ya Lin, kan ada aplikasi penunjuk arah. Jadi kamu tenang saja." Ucapnya sedikit berteriak.
Iya juga sih. kata Linda dalam hati.
"Yasudah.. asal ibu Nayla hati-hati ya? Kalau ada apa-apa cepet hubungi saya."
"Siap.."
Lantas, tanpa pikir panjang lagi. Nayla masuk ke kamar.
Koper yang ia siapkan kemarin masih berada ditempat semestinya.
Tas kecil yang biasa ia bawa bepergian, dirapikan kembali.
Memasukkan paspor dan visa nya kedalamnya, agar tidak ada satu pun yang ketinggalan.
Agar rencananya berjalan dengan lancar.
Setelah semua siap,
Nayla mengambil ponselnya.
Jujur ia bingung,
Perlukah ia menghubungi Reyhan?
Tapi, apa yang harus Nayla katakan?
Kerinduannya pada sang suami sudah menggunung. Menumpuk membuat gundukan besar.
Bercampur rasa bersalahnya membuat wajah perempuan bersurai hitam itu meremang.
Dia tidak tahu,
akan seperti apa kehidupannya dua bahkan tiga hari kedepan.
Nayla juga tidak tahu,
apakah menemui Satya adalah keputusan yang benar? atau justru, keputusan yang salah?
Entahlah,
Nayla hanya ingin menyelesaikan masalahnya sendirian, tanpa melibatkan siapapun.
Nayla tarik nafasnya dalam-dalam.
Ia tidak boleh cemas berlebihan, atau kram diperutnya akan kembali datang dan membatasi aktifitasnya.
"Halo"
Nayla memulai pembicaraan, setelah dari seberang sana Reyhan menjawab panggilannya.
"Selamat pagi... kenapa baru menghubungi?"
"Emb..." Berdehem. "Maaf,"
"Apa kamu baik-baik saja? aku khawatir..!"
"Aku kangen." Bersamaan dengan itu, satu tetes bulir bening jatuh melewati pipi nya.
"Aku akan secepatnya menjemputmu.."
"Jangan.!" Berdebar.
__ADS_1
"Jangan?"
"Maksud aku, selesaikan saja urusan mu disitu dulu Rey. Aku ngerti kok. kamu masih sibuk.
Aku cuma mau bilang,
Maaf.." Satu tetes air mata jatuh lagi.
"Untuk apa?"
"Maaf Rey.." Terisak. Nayla tidak bisa lagi menahan sesak didadanya. "Aku menyusahkan mu kan? Hiks, maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu"
"Apa sih? Dih, jangan aneh-aneh ya Nay" dari seberang sana, mendadak perasaan Reyhan jadi tidak enak.
"Enggak kok, siapa yang mau aneh-aneh." Diusapnya air mata yang tadi membasahi pipi. Meski Nayla tahu, itu percuma.
"Apa lelaki itu menghubungi mu?"
"Siapa?"
"Satya.!"
Eh,
Nayla diam. Kalimatnya seakan tersangkut dirongga tenggorokan perempuan itu. Apa yang harus Nayla katakan. Ia tidak ingin membohongi Reyhan, tapi tidak mungkin juga kan Nayla berkata jujur?
"Nay.. kenapa diam? Apa lelaki itu menghubungimu?"
"Eng-enggak, kok, Rey.." Gugup dan kikuk.
"Semua aman, dan aku baik-baik saja." Maaf Reyhan, maaf.
"Yakin?" Reyhan memastikan.
"Iya," Berkata lembut. "Yasudah, aku mesti siap-siap. Ada kelas memasak pagi ini.
Sekali lagi, aku minta maaf ya. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja."
Begitulah,
singkat, tapi cukup membuat sudut hati Nayla merasakan nyeri. Ia akan pulang, kembali ke Indonesia tanpa kabar.
Tapi, bukan Reyhan yang akan ia temui.
Kerinduannya untuk bertemu sang suami, harus Nayla tahan lagi. Sebelum ia berhasil menyelesaikan masalahnya seorang diri.
Tok tok tok.
Pintu kamarnya diketuk.
Sambil berjalan, ia lirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lebih seperempat.
"Iya Lin,ada apa?" Didapatinya sosok asisten rumah tangga didepan kamarnya. "Kamu belum ke pasar juga?"
"Eh, iya bu. Ini mau pamit dulu." Linda amati baju Nayla yang sudah berganti sejak ia bertemu tadi pagi. "Ibu mau berangkat juga kan? Enggak sekalian bareng aja bu?"
Heh?
"Eng-enggakk, nggak perlu Lin.. aku belum siap kok. Kamu duluan aja ya?"
"Baik." Linda mengangguk. "Aku berangkat ke pasar dulu Bu. Ibu hati-hati."
"Iya, terimakasih Lin.."
Nayla kembali menutup pintu kamarnya.
Lalu ia mengintip dari jendela apakah Linda sudah benar-benar pergi dari rumah itu, atau belum.
Setelah melihat Linda keluar dari gerbang,
Nayla segera meraih kopernya. Sekali lagi memastikan semua sudah siap.
Apa yang perlu ia bawa, sudah tertata rapi didalam koper dan tas kecil yang menggantung dibahunya.
Ia keluar tergesa-gesa dari rumah.
Dengan langkah yang sangat berat, ia tinggalkan rumah itu. Tangisnya pecah.
Berulang kali ia mengucapkan kata maaf di hatinya, untuk Reyhan.
"Maaf Rey.. hikss.. maaf"
__ADS_1