
"Kekantin yuk sayang..." Ajak Satya pada Nay yang tiba-tiba saja duduk didekatnya. Satya sendiri sebenarnya sangat canggung berhadapan dengan Nayla setelah kejadian semalam. Namun kali ini, dia memberanikan diri untuk mencairkan kecanggungan diantara keduanya. Bagaimanapun, Nayla adalah gadis yang sangat dicintainya.
"Satya.. ngagetin aja sih" jawab Nayla yang sedikit kikuk. Jujur saja, Nayla masih malu pada Satya. Laki laki yang masih sebatas kekasihnya itu sudah melihat semua yang ada diri Nayla.
Cinta Nayla pada Satya masih sama seperti sebelumnya. Nayla tidak tahu saja kalau sebenarnya kejadian semalam sudah direncanakan oleh laki laki yang dicintainya itu. Andai saja Nay tahu, mungkin Nay akan membenci Satya seumur hidupnya.
"Aku males banget mau kesana Sat.. kamu aja deh yang pergi..."
Satya tersenyum mendengar jawaban Nayla. Satya paham betul bagaimana suasana hati gadis itu.
"Kamu masih sedih karena semalam? Maafin aku ya Nay.." Ucap Satya tulus. "Sebagai gantinya aku temanin kamu disini."
Mata Nay berkaca-kaca. Ingin rasanya dia menangis menyesali. Bagaimana dia tidak sedih setelah apa yang ia jaga hancur karena kebodohannya sendiri?
"Aku mau sendiri Satya." Ucap Nay lirih. Nay menahan diri agar tidak menangis lagi disini. Nay takut Nina dan Sari melihat lalu membuat mereka khawatir.
"Atau kamu pergi aja ke kantin sama Nina dan Sari.. tuh dia masih nungguin aku didepan kelas."
"Bener gak papa aku tinggal sendiri?" Tanya Satya khawatir. Ini pertama kalinya Nayla bersikap demikian ke Satya.
Sebenarnya Satya tak ingin beranjak. Dia ingin menemani kekasih nya itu dikelas. Tapi sepertinya, Nay benar benar butuh waktu untuk menata perasaannya kembali.
"Iya gak papa..." Nayla tersenyum tipis. Menatap nanar langkah Satya yang semakin menjauh darinya.
Namun air matanya jatuh lagi tanpa diminta mengiringi kepergian Satya sampai hilang dibalik pintu.
Nay tersadar dari tangisnya. Buru-buru Nay mengusap air matanya sebelum ada yang melihat.
"Aku ga boleh kayak gini terus. Itu sudah terjadi. Aku memang sudah gagal menjaga kehormatanku. Tapi Satya berjanji akan menikahiku kelak bukan.?." Nayla bergumam lirih. Dia kembali mendapatkan kepercayaan dirinya.
"Lebih baik aku pergi aja menenangkan diri ke Danau kota.. bodo amat absen sekali aja gak papa lah.."
Nayla merapikan bukunya. Segera mengemas barang barangnya yang tercecer dimeja lalu memasukkan ke tas tenteng nya.
Nayla beranjak pergi meninggalkan kampusnya.
***
Sementara disebuah ruangan digedung tertinggi bertuliskan "DEKA GROUP COMPENY", pak Zeko berusaha menghubungi seseorang untuk mencari informasi tentang pemilik toko buku "Gramedia".
Pemilik yang diketahuinya bernama Reyhan itu berhasil membuat pak Zeko tak berhenti memikirkannya.
Kejadian tadi membuat pak Zeko penasaran tentang kehidupan Reyhan.
__ADS_1
Pak Zeko melihat bagaimana pria yang bernama Reyhan itu menundukkan pandangannya dari wanita sexy yang sedang membeli buku ditokonya.
#Flashback..
Pak Zeko berjalan masuk melewati sebuah pintu yang diatasnya ada tulisan "TOKO BUKU GRAMEDIA" itu.
Sesuai pesanan putri tercintanya, Pak Zeko menyempatkan diri pergi ke toko buku disela-sela kesibukannya dengan tanpa ditemani sang supir pribadi.
"Selamat datang Tuan..." Sapa seorang laki-laki yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya. Dia Reyhan.
Reyhan menutup laptopnya lalu berjalan menghampiri pak Zeko.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Reyhan dengan sangat ramah.
"Saya mencari buku ini." jawab pak Zeko sambil menunjukkan gambar buku didalam handphone nya.
"Apakah disini menjualnya?"
Belum sempat Reyhan menjawab, muncul seorang wanita dari balik rak buku yang paling samping.
"Mas Rey mah gitu, kalau sama aku aja cuek nya kebangeten..." Kata wanita itu datar tanpa melihat ke arah Reyhan. Sebenarnya sangat lirih. Tapi samar-samar masih terdengar ditelinga pak Zeko.
Wanita itu memakai mini dress yang menampilkan lekuk tubuhnya. Bagian bahu atas terbuka dan hanya tertutupi rambutnya yang dibiarkan terurai. Sedankan panjangnya hanya sampai setengah paha.
Reyhan masih fokus melayani pak Zeko mencari buku. Setelah buku itu ketemu, reyhan meninggalkan pak Zeko dan kembali ke meja kasirnya dan membiarkan sang pelanggan untuk sekedar melihat lihat toko bukunya tanpa merasa terganggu.
Disana ada dua bocah memakai seragam merah putihnya. Dua bocah itu baru pulang sekolah dan menghampiri Reyhan ke Toko hanya untuk menyerahkan beberapa tagihan sekolahnya.
"Om Rey..." sapa bocah itu yang kemudian menyium tangan Reyhan.
"Afif ... Janu... ada apa sayang? Tumben mampir ketoko?" Tanya Reyhan mengusap pucuk kepala mereka bergantian...
"Ada titipan dari bu Guru Om.." Jawab Afif sambil menyerahkan sebuah buku kecil yang tak lain adalah buku pembayaran SPP.
"Iyaa.. besok Om bayarkan. Sekarang kalian pulang, trus makan habis itu tidur siang ya..
Tunggu kak Jeni dan yang lainnya pulang.."
"Okke Om, terimakasih Om Rey" jawab mereka tersenyum lega.
Pak Zeko mengamati dari balik rak. Hatinya terharu melihat pemandangan yang begitu hangat.
Sejenak Pak Zeko melamun. Dia teringat dengan masa kecil putri kesayangannya. Mengusap puncak kepala Nayla adalah hal yang sangat suka dia lakukan. Itu menunjukkan, betapa besar kasih sayangnya pada Nayla waktu itu.
__ADS_1
"Nayla, kenapa kau cepat sekali tumbuh besar?" Gumamnya yang hampir tak terdengar oleh telinga biasa.
"Mas Rey ini bisa lembut ke anak anak asuhmu, tapi kenapa kalau dengan ku cuek banget sih mas..?" Tanya wanita tadi yang berjalan keras kearah Reyhan sambil menghentak-hentakkan kakinya .
Seketika itu membuyarkan lamunan pak Zeko. Anak anak asuh?
Reyhan masih saja diam. Mengabaikan apapun yang terlontar dari bibir wanita itu.
Dan justru fokus kembali ke arah laptopnya.
"Mas, jawab aku dong" bentak nya sambil meraih kursi tepat didepan Reyhan. "Aku tuh suka sama kamu mas.."
Kali ini Reyhan menghentikan aktifitasnya. Dia merasa sangat jenuh. Alma, wanita itu bukan hanya sekali dua kali mengatakan bahwa dia menyukai Reyhan.
"Almaa" Kata Reyhan pada akhirnya tanpa memandang sedikitpun kearah gadis itu.
"Apa?" jawab gadis itu setengah berteriak. "Kalau mau ngajak ngomong itu menghadap ke orangnya mas... Gak ngehargai banget sih. Aku juga pembeli tau, Nih aku bayar bukunya." Bicara keras sambil menyerahkan sebuah buku novel romantis.
Yaa.. gadis itu bernama Alma, cantik memang. Hanya saja sikap pembawaannya memang sedikit genit.
Reyhan menarik nafasnya dalam dalam. Berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosinya.
"Bukan aku tidak menghargaimu Al, hanya saja aku tidak nyaman melihat kamu berpakaian seperti itu.." Ucap Reyhan dengan sangat hati hati agar gadis itu tidak tersinggung. "Lagian ini tempat umum, aku takut kalau ada anak anak ku yang melihat."
Alma tercengang.. tidak habis pikir dengan laki laki didepannya ini.
Hey, dimana mana kucing itu doyan sama ikan asin bukan??
"Astagaa mas Rey, kapan sih mas kamu sadar dan mulai lebih mentingin diri kamu sendiri dari pada anak anak asuhmu itu?"
Jawab Alma dengan jutek dan langsung meraih bukunya lalu berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari Reyhan lagi.
Reyhan menarik nafasnya lagi. Mencoba menahan emosinya. Tanpa menyadari ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi.
#Flashback Off.
"Cari tahu tentang pemilik toko buku Gramedia disebrang jalan itu..Terutama tentang apa yang dimaksud anak anak asuh"
Perintah pak Zeko pada suruhannya. "Ini tugas pribadi Dendi. Aku akan membayarmu setelah kau berhasil." Perintah pak Zeko lewat ponselnya
"Baik Pak.." Jawab dendi yang tak lain skretarisnya itu diujung telefon.
Pak Zeko masih tidak percaya, dizaman sekarang ada laki laki muda yang menjaga pandangannya.
__ADS_1
"Aku tunggu hasil kerja kamu.."