Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Saran Dari Sahabat


__ADS_3

Ketika kau melakukan sesuatu yang mulia dan indah


Tapi tak seorang pun memperhatikan, Jangan bersedih.


Karena matahari pun tampil cantik setiap pagi meski sebagian besar penontonnya masih tidur. John Lennon


***


Hari sudah berganti. Mentari mulai beranjak dari tempat peraduannya.


Sinarnya telah mulai menembus dedaunan dan menerobos masuk kesela-sela gorden kamar Nayla. Membias membentuk sorotan yang indah.


"Selamat Pagi...."


Kelopak mata yang tadi masih menguncup seketika mekar merekah. Dari balik pintu, Reyhan berjalan dengan senyum penuh pesonanya membawa nampan berisi sarapan ditangannya.


Nayla menyecap dalam pandang dengannya.


Pagi yang indah dengan pemandangan yang mengagumkan...


"Selamat Pagi juga Rey, maaf aku terlambat bangun ya?"


Melihat pagi adalah salah satu anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita memperbaiki kesalahan-kesalahan hari kemarin di hari ini.


Begitu pula dengan Reyhan.


"Ayo bangun.. Bersihkan dirimu dikamar mandi lalu segera makanlah sarapanmu..


Hari ini aku harus kekampus bertemu dosen pembimbing..."


Reyhan berucap sambil menyiapkan beberapa baju yang semalam sempat dibawanya dari rumah.


Untung saja, tadi pagi dia sudah minta bantuan perempuan yang dia kenal bi Sri itu untuk menyetrika pakaiannya. Jadi sekarang dia tidak tergesa-gesa.


Nayla diam mematung seakan tidak mengerti. Sebelumnya setiap pagi dia sarapan bareng sama Mama dan Papanya dibawah. Tapi hari ini, kenapa Reyhan repot-repot membawanya ke kamar?


Ah sudahlah... Nayla sedang malas berpikir.


Dia segera beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu meraih nampan yang terletak dinakas samping tempat tidurnya.


"Rey, kamu gak makan?"


Nayla bertanya sambil duduk disofa kecil dalam kamar. Sedangkan suaminya masih saja sibuk memasukkan laptop dan buku-buku kedalam tas.


"Aku sudah makan tadi dibawah sama Mama dan Papa. Kamu aja yang bangunnya terlambat..."


Reyhan menjawab asal.


"Yaudah sih gak usah marah-marah. Salah sendiri kamu gak bangunin aku..."


Nayla merajuk. Nayla masih belum terbiasa jika harus melayani kebutuhan suaminya.


Jiwa usil Reyhan terbangun seketika mengetahui tingkah absurd Nayla yang mengira Reyhan sedang marah. Reyhan menyeringai.


"Cihh, istri macam apa kamu ini Nay.. Bukannya melayani suami, malah suami yang melayani istri. Kesan pertama yang buruk.


Lihat saja, selesai ini aku akan menghukummu..."


Percayalah. Reyhan hanya bercanda saja sebenarnya. Reyhan tau siapa wanita yang sudah dia nikahi.


Anak semata wayang dari pengusaha terkenal dikotanya. Tidak heran kalau dia adalah perempuan manja.

__ADS_1


Perempuan yang segala sesuatunya dia terima dalam keadaan siap.


"Apa?"


Nayla mencebik kan bibirnya mendengar kata hukuman yang keluar dari mulut Reyhan.


Sedikit menyesal membenarkan kata-kata sang suami.


Bener juga ya, kenapa Nayla memberi kesan pertama yang buruk begini sih?


Ya Ampun.. suaminya itu benar-benar ada ada sajaa...


Kenapa juga dia mengatakan akan menghukum Nayla.


Memangnya terlambat bangun merupakan kesalahan yang besar ya?


Reyhan sudah selesai bersiap. Dia menghampiri dan duduk disebelah Nayla yang hampir menghabiskan sarapannya. Tinggal beberapa gigit lagi roti dalam piring itu habis tak bersisa.


"Suapi aku Nay..."


Seketika Nayla mengalihkan pandangannya. Dari Reyhan ke roti yang dia pegang. Lalu menatap Reyhan lagi.


"Aku ambilkan dibawah dulu ya, ini tinggal bekas gigitanku...."


"Tidak perlu, aku memang menginginkan bekasmu..."


Nayla bersemu dengan bibir yang menahan senyumnya. Reyhan begitu sederhana,


Tapi kenapa dia selalu berhasil membuat Nayla bahagia dengan hal-hal yang sederhana seperti itu?


"Kamu yakin?" Nayla bertanya dengan kikuk.


Reyhan tergelak. Tertawa sangat puas. Nayla terbegitu menggemaskan. Mengingatkan Reyhan pada bocah kecilnya.


"Kamu tidak mau? Akan aku gandakan..."


Cup..


"Jangan brisik. Nihh... aaakkk"


Belum sempat Reyhan menyelesaikan ucapannya, Nayla malah mencium pipi kiri Reyhan dengan tiba-tiba.


Reyhan tersenyum simpul. Membuka mulutnya untuk menerima suapan roti dari istrinya.


"Apa acaramu hari ini? Kalau kamu jenuh, boleh kok main ketoko buku. Ada karyawan aku disana... Kamu bisa lihat cowok ganteng yang sedang beli buku.. Hahaha"


Reyhan tertawa sangat keras menirukan ucapan Nayla tempo hari.


Reyhan tahu, Nayla mengambil cuti kuliah sejak menjelang pernikahan mereka dan masih tersisa beberapa hari kedepan.


Jangan ditanya kok bisa?


Jangan lupa, Pak Zeko adalah donatur tetap dikampus anaknya itu.


Nayla melirik tajam Reyhan.


Kumat lagi kan?


"Sudahlah berangkat sana..."


Nayla mengusir sambil mengibaskan tangannya. Membuat Reyhan semakin tergelak.

__ADS_1


"Baiklah. Kau mengusirku."


Reyhan berucap sambil beranjak. Mengambil tas yang sudah dia siapkan sejak tadi.


Berjalan kearah pintu.


Saat tangannya memegang handle pintu, dia memutuskan kembali menghampiri Nayla yang masih duduk disofa.


Sampai didepan Nayla, Reyhan membungkukkan badannya sampai kepalanya sejajar dengan kepala Nayla.


Tangannya memegang kepala Nayla bagian belakang. Lalu dia mencium kening Nayla lama.


Menikmati setiap perasaan aneh yang muncul saat dia bersama istrinya. Perasaan ingin selalu melindungi dan menjaga perasaan istrinya.


"Aku menyayangimu Nay... Jangan lupa, hukumanmu nanti malam.."


Nayla hanya diam mematung. Kecupan mesra dikeningnya Reyhan lakukan dengan tiba-tiba. Membuat otak Nayla seketika membeku. Terlalu sulit menerima sesuatu yang begitu cepat terjadi.


Matanya mengerjab saat siluet Reyhan hilang dibalik pintu. Senyum merekah dibibirnya tak perlu dia sembunyikan lagi saat ini. Karena tidak orang lain yang akan melihatnya.


Nayla mengusap dadanya. Gelenyar aneh membuatnya sesak nafas tiba-tiba.


Membuatnya lupa, perihal hukuman nanti malam.


***


Disisi lain, Satya yang tengah duduk disofa apartemennya terlihat mendesah frustasi.


Ditemani Andi dan Joan yang memainkan game di ponselnya masing-masing.


Ada banyak hal yang membuat fikiran Satya kacau. Salah satunya adalah


Kemana Nayla?


Sudah hampir semingu Nayla tidak menghubunginya.


"Aaaaarghh....." Desahnya dengan keras.


Pikirannya terlalu semrawut hanya karena memikirkan Nayla. Belum lagi masalah Nina.


Banyak hal yang sudah Satya lewati beberapa hari ini tanpa tahu dimana Nayla. Jangankan keberadaan Nayla, kabarnya pun Satya tidak tahu.


Satya tidak melihat Nayla dikampus. Dan saat dia menanyakan pada salah satu sahabatnya, Sari bilang Nayla ambil cuti mau menenangkan diri.


Memang apa yang bisa Satya lakukan selain percaya ?


"Kenapa lagi men.?"


Joan bertanya setelah mendengar sahabatnya mengerang frustasi.


"Nay kemana ya? Sudah seminggu dia gak ngabarin gue...!"


Satya menjawab sayu. Dia berdiri berjalan kedapur mengambil sebotol minuman bersoda. Lalu meneguknya. Berharap pikirannya yang panas berangsur mendingin.


"Kalau menurut gue nih ya, lebih baik kamu nikahin Nina deh bro.. Bukan apa-apa, tapi kamu laki-laki. Tanggung jawab dong..."


Andi mengeluarkan pendapatnya dengan hati-hati. Andi tahu Nina adalah gadis yang baik. Dia juga cantik. Nina hanya kalah populer dari Nayla dikalangan mahasiswa kampusnya.


Andi tahu betul kalau Nina tidak mungkin menggoda Satya duluan. Apalagi yang dia tahu, saat kejadian itu berlangsung, Satya dalam pengaruh minuman keras.


Sudah pasti Satya melakukannya dengan kasar dan penuh paksaan.

__ADS_1


Andi jadi ingat masa-masa dimana gilanya dulu mereka bertiga menghabiskan waktu dengan wanita ****** diclub malam. Apalagi bagaimana kelakuan Satya kalau sudah dalam pengaruh minuman itu?


Meskipun tidak bisa dielak, Andi mengagumi Nayla yang mampu membuat Satya berubah dalam waktu singkat.!


__ADS_2