
Nayla berjalan masuk ke kamar mengikuti Reyhan yang sudah melangkah didepannya. Mengedarkan pandangan disetiap sudut dalam kamar suaminya.
Kamar yang sederhana.
Hanya ada kasur tempat tidur berukuran seratus enam puluh meter kali dua ratus meter.
"Kenapa tempat tidurnya kecil sekali?" gumam Nayla dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Disamping kiri ada sebuah meja beserta kursinya. Lalu sebelahnya lagi ada rak buku. Dan banyak buku tersusun rapi disana.
Sedangkan disebelah kanan, ada lemari baju yang berukuran tidak terlalu besar. Sangat berbeda dari kamar Nayla sebelumnya.
Tapi entah kenapa, kamar sederhana yang didominasi warna hitam dan abu-abu itu nampak sejuk dan membuat Nayla nyaman berada didalamnya.
"Rey, aku boleh kan lihat-lihat kamar kamu?"
Dia berjalan menelusuri semua sisi ruangan tanpa mempedulikan jawaban dari Reyhan atas pertanyaannya.
Berhenti dimeja samping rak buku. Matanya awas mengamati sebuah bingkai foto.
Didalam foto itu ada Reyhan dan sembilan orang lainnya.
Diamatinya dengan seksama oleh Nayla. Membuatnya tersenyum kecil saat dia mendapati ada foto Naura juga didalamnya.
Eh tunggu....ini Pak Hasan kan?
Ada hubungan apa ya Reyhan sama dosen galak itu?
Lihat, Dia juga tersenyum kearah kamera sambil merangkul pundak Reyhan?
Nayla menatap Reyhan sejenak sebelum kembali menatap bingkai foto itu. Masih sangat penasaran ada hubungan apa Reyhan dan pak Hasan?
"Hey, Lihat apa kamu?"
Reyhan terkekeh berhasil mengagetkan Nayla. Dia mendekati Nayla dan berdiri dibelakangnya. Saat istrinya fokus menatap bingkai foto diatas meja.
"Astagaa.. Kenapa harus mengagetkan ku sih?"
Seru Nayla mencebikkan bibirnya.
"Haha iya iya maaf.. Kamu terlalu fokus Sayang.. Sampai tidak sadar aku sudah berdiri dibelakangmu.."
Ucapnya sambil membalikkan badan Nayla menghadap dirinya.
"Katakan, apa yang membuatmu memandangi foto itu sampai-sampai mengabaikan keberadaanku..?"
Menarik tubuh Nayla mendekat kearahnya.
Dan kini, tubuh mereka saling menempel nyaris tanpa jarak.
"Jangan mesum ya... Dosa tau..!"
Suntuk Nayla sembari menjauhkan kepalanya.
Jari telunjukknya mendorong dada Reyhan supaya sedikit menjauh.
Jujur, posisi seperti ini membuat jantung Nayla berdetak sangat cepat.
Mau ditaruh dimana nanti mukanya kalau sampai ketahuan ?
"Minggir-minggir..." Serunya lagi...
Reyhan tertawa pecah.
"Mana ada dosa? Kita adalah pasangan suami istri yang SAH ya? Yang ada pahala, bukan dosa...
Kau ini....."
Mencubit hidung mancung Nayla pelan. Membuat Nayla semakin mencebikkan bibirnya kesal.
Reyhan mejauhkan tubuhnya. Hasrat nya memuncak saat dia berdekatan dengan istrinya seperti tadi.
Oh astaga.. jangan sampai aku kehilangan kendali.
__ADS_1
"Reyhan, aku lapar...."
Ucap Nayla sambil menampilkan mata sendunya dengan tangan mengusap-usap perutnya. Kemudian dia tersenyum hambar.
Nay beneran lapar. Tadi memang sempat sarapan dihotel. Tapi Nayla tidak menghabiskan sarapannya.
"Sebentar lagi, kita makan siang sekalian sama anak-anak. Sekarang kemarilah sini..."
Reyhan menggerakkan jari telunjuknya kedepan dan belakang mengisyaratkan perintah untuk Nayla mendekat.
Nayla berjalan mendekat. Demi Tuhan, sebenarnya dia tidak pernah percaya kalau suaminya itu sudah punya delapan anak. Selama ini dia diam karena tidak mau berdebat saja.
Tapi hari ini, Nayla seperti kesulitan mengartikan situasi nya.
"Aku tidak percaya kau memiliki delapan anak.!"
Nayla memicingkan matanya menaruh curiga.
Setelah mendaratkan bokongnya dipinggir kasur dekat suaminya.
"Ayolahh istriku... kita sudah membahasnya kan dulu?
Bingkai foto yang kau lihat itu... Mereka anak-anak ku..."
Jawab Reyhan menarik tubuh Nayla dan mendudukkan dipangkuannya.
"Lantas dimana ibunya?"
Ayoooo. coba tunjukkan dimana ibunya..! Jangan mengerjaiku ya..
Kau pasti suka sekali kan mengerjaiku?
Tawa Reyhan pecah. Dia mencubit gemas hidung Nayla. Rasanya Reyhan ingin segera melahap Nayla disini.
Dia mendekatkan bibirnya ingin mencium bibir istrinya.
Sampai Nafas mereka saling terdengar.
Tok tok tok...
Suara teriakan Mbak Nana dari luar pintu menghentikan aktifitas nya.
"Oh iya Mbak.. kita segera keluar."
***
Nayla berjalan pelan dibelakang suaminya. Mengekori satu-satunya pemilik langkah yang dia kenali dirumah itu sedang menuju ruang makan mereka.
Pikirannya menerawang jauh. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi dengan dia dan delapan anak dari suaminya.
Aku saja belum memikirkan memiliki anak, bagaimana bisa aku tiba-tiba harus menjadi seorang mama dari delapan anak?
Bagaimana nanti kalau anak-anak Rey nakal?
Atau bagaimana kalau mereka tidak menerimaku sebagai mama nya? Bagaimana kalau mereka menolak ku?
Itu sangat memalukan kan?
"Rey....."
Lirihnya dengan ragu-ragu memanggil suaminya. Wajahnya menahan kesal.karena Reyhan mengabaikannya.
"Reyhan denger nggak sih..."
"Apa sih sayang? ha? Udah sini jangan takut. Ayooooo"
Reyhan menggandeng tangan Nayla memasuki ruang makan. Benar saja, tangan Nayla terasa dingin.
Reyhan terkekeh geli. Pasti istrinya itu sedang gelisah tadi.
Pantas saja tadi dia berjalan sangat pelan. Dasar perempuan.
Kenapa dia menggemaskan sih?
__ADS_1
Reyhan menarik satu kursi dan mempersilahkan Nayla duduk. setelahnya dia ikut duduk dikursi samping Nayla.
Mata Nayla membulat sempurna. Benar. Ada empat anak cowok duduk disisi kiri. Sedangkan empat enek cewek duduk disisi kanan.
Kemudian diujung meja yang berhadapan langsung dengannya ada Mbak Nana, dan entahlah..
seorang laki-laki paruh baya.
Nayla merasa bingung. Sebenernya situasi seperti apa yang sedang dia hadapi saat ini?
Jika benar mereka anak-anak Reyhan, kenapa diantaranya ada Naura? Bukankah Naura sendiri yang bilang kalau Reyhan adalah Om nya?
Apa mungkin Reyhan hanya sedang mengerjainya?
Atau sebenarnya mereka semua hanya keponakannya Reyhan?
Tapi kenapa pada ngumpul disini?
Astaga.. Minimnya informasi yang Nayla punya tentang Reyhan membawanya pada situasi yang sulit dimengerti.
Nayla mengangkat sebelah alisnya. Sebenarnya siapa Reyhan itu?
"Nay, dimakan dulu. Nanti ya aku jelasin..
Katanya lapar?"
Nayla melihat piringnya. Dan ya, astagaaaa
Ternyata sedari tadi Reyhan sudah mengisi piringnya dengan banyak makanan. Kenapa Nayla tidak sadar sihh..?
"Terimakasih...."
Nayla menjawab kikuk. Dan mulai memasukkan makanannya suap demi suap.
Ada banyak pertanyaan yang melingkar dipikirannya. Semua sama. Tentang Reyhan.
Dimeja makan ini. Nayla mulai merasakan kehangatan.
Mereka semua makan tanpa suara. Tanpa bicara. Tapi lihat,
Anak perempuan yang mulai remaja itu sesekali mengusap pipi Naura yang belepotan dengan lembut. Membuang satu butir nasi yang tertinggal disana.
Sama halnya dengan anak laki-laki. Mereka yang lebih besar membantu mereka yang lebih kecil. Tanpa diperintah. Tanpa dikomando.
Semua berjalan begitu saja. Seperti memang sudah terbiasa.
Sejenak Nayla melirik suaminya. Reyhan makan dengan santai. Seulas senyum selalu terpancar ketika dia memperhatikan anak-anak itu makan dengan lahap.
Sampai makanan itu habis meninggalkan sisa yang hanya sedikit.
Pelan tapi pasti. Mereka bekerja sama menumpuk piring kotor itu menjadi dua bagian.
Lalu dua orang anak laki-laki yang paling besar segera membawa piring itu ke belakang.
"Emm..Jeni, Rista.. Nyuci piringnya nanti saja.. duduk dulu sini...."
Apa Reyhan memang selembut ini? Jadi apa sebenarnya hubungan Reyhan dengan mereka semua.?
"Jadi gini.. Om Reyhan mau kenalin kalian semua sama Kak Nayla... Ini orangnya.."
"Halooo..."
Nayla menyapa dengan kikukk...
"Kak Nayla ini istrinya Om Rey, dan satu lagi mulai sekarang kak Nayla menjadi bagian dari kita."
"Asiikkkk.. berarti ada temen baru dong Om..?"
Kata seorang laki-laki dengan senyum yang mengembang sempurna. Dia masih kecil. Mungkin masih sekolah dasar.
"Haloo kak...." Semua menyapa Nayla bergantian. Dengan senyum yang Nayla yakin itu tulus.
Kecuali Naura. Dia malah berjalan mendekat disisi Nayla. Seperti biasa....
__ADS_1
"Kak.. Pangku.."