
Beberapa jam berlalu. Reyhan memutuskan kembali ke kamar setelah emosinya mereda.
Dia tidak ingin meninggalkan istrinya terlalu lama setelah dia menyelesaikan urusannya dengan Papa. Alias Tuan Zeko yang sekarang sudah menjadi papa mertuanya.
Reyhan berharap Nayla sudah menyadari kesalahannya.
Reyhan membuka pintu memasuki kamar. Mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan.
Nayla tidak ada disofa. Tetapi dia menemukan seseorang tengah terbaring diatas ranjang membelakangi dirinya dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke leher.
Siapa lagi kalau bukan Nayla?
Reyhan duduk diranjang samping Nayla. Dia menepuk punggung Nayla yang tidur membelakanginya.
"Kamu nangis?"
Tanya Reyhan saat dia mendapati pundak Nayla yang bergetar sesenggukan.
"Hey, coba hadap kesini.! Katakan kenapa?"
Reyhan berusaha mengusap puncak kepala Nayla. Memberikan rasa kasih sayang padanya. Reyhan menarik tubuh Nayla lalu membenamkan kepalanya didada Reyhan.
Benar saja, mata Nayla sudah memerah. Mungkin Nayla menahan tangisannya tadi.
"Maaf ya, aku gak marah kok... sudah jangan nangis.."
Bukannya berhenti, air mata Nayla malah semakin deras mengalir. Membuat Reyhan mengkerutkan dahi.
__ADS_1
Memang ada yang salah ya dari kata-katanya? Kenapa tambah nangis sih..?
Kali ini Reyhan memilih diam saja. Sambil mengusap-usap lengan atas Nayla yang kepalanya sedang terbenam didada Reyhan. Sesekali Reyhan mencium wangi aroma rambut yang dekat dengan hidungnya.
Bukannya Reyhan malas merayu. Dia hanya takut salah berucap dan membuat Nayla semakin kencang menangis. Saat ini, Reyhan hanya ingin memberi tahu Nayla bahwa semua baik-baik saja, melalui sikapnya.
"Kamu marah kan? Kenapa kamu tidak menghargaiku yang sedang berusaha menjadi istri yang baik?"
Benar kan? Nayla sudah tenang sekarang meskipun Reyhan tidak menjelaskan apapun. Tangisnya sudah mereda. Diiringi suara parau yang terdengar lirih keluar dari mulutnya.
Jangan heran, wanita memang begitu.
Terkadang saat dia dalam kondisi yang buruk, dia hanya butuh sandaran untuk meluapkan tangisnya. Bukan sebuah ocehan yang memaksanya berhenti menangis.
Hidup memang unik. Air mata yang sebagian besar diibaratkan dengan kesedihan, justru mampu mengurangi rasa sedih itu sendiri.
"Aku gak marah kok Nay" Ucap Reyhan sembari mengeratkan pelukannya pada Nayla.
"Ini masih masalah baju-baju itu kan?
Nay, aku malu sama Papa kamu. Bagaimana kalau dia tahu, uangnya kamu pakai buat membelikan aku baju? Mau ditaruh dimana muka suami mu ini?"
Ucap Reyhan dengan tenang.
"Memang kenapa?"
"Karena aku sudah menjadi suami mu. Aku punya tanggung jawab besar untuk memberimu nafkah. Baik nafkah batin, maupun nafkah lahir..."
__ADS_1
Reyhan diam sebentar. Menarik nafas pelan sambil mengatur rangkaian kata yang seharusnya dia sampaikan. Agar Nayla mudah menerimanya.
Apalagi, dari hembusan nafas yang Reyhan rasakan didadanya. Sepertinya Nayla sudah mulai kembali tenang.
"Aku juga minta maaf ya, aku juga salah sih.. belum kasih kamu uang ya dari kemaren?
Maaf, kemaren kita saking sibuknya..Perkenalan kita juga sangat singkat. Besok kamu pakai kartu kredit aku ya.
Dan berhenti pakai uang Papa mulai sekarang..."
Ucap Reyhan sambil membelai wajah cantik Nayla yang tengah menatapnya dalam.
Menangkap sorot mata yang ragu terpancar samar dari tatapan lekat gadis cantik yang sudah menjadi istrinya itu.
Ah, Mungkin Nayla takut membebani Reyhan. Sementara Nayla sendiri tahu, Reyhan memiliki tanggung jawab besar yang bukan hanya pada dirinya.
Tapi pada anak-anaknya juga.
Belum lagi Reyhan masih berstatus mahasiswa. Dia masih menyelesaikan skripsinya.
Memang sih dia punya toko buku. Tapi apa pendapatannya cukup untuk memenuhi semua kebutuhan Reyhan dan mereka?
"Kenapa? Percaya deh sama aku...
Aku masih mampu kok memenuhi kebutuhan kamu yang mirip tuan putri itu..."
Reyhan meledek Nayla sambil menaikkan kedua alisnya. Dan dibalas pukulan keras dilengannya.
__ADS_1
Mereka bercengkrama sampai akhirnya Nayla tertidur pulas dipelukan suaminya