
Reyhan menarik tubuh Nayla dalam dekapan. Memeluk tubuhnya dengan kelembutan. Membiarkan fikiran Nayla berkeliaran memikirkan tentang delapan anak.
Entah sejak kapan mereka jadi sedekat ini.
Sementara, Reyhan malah tersenyum mengejek diatas kepala Nayla.
"Terimakasih..."
Ucapnya tulus sambil mengusap punggung Nayla dengan tangannya membuat Nayla terisak lagi.
Bukan kamu yang harus berterimakasih Reyhan. Tapi aku!
Reyhan semakin menahan tawanya. Puas sekali rasanya mengerjai gadis ini.
"Aku rasa, tiga hari lagi kita harus terbiasa seperti ini.. jadi ada baiknya mulai sekarang kita latihan bukan"
Ucap Reyhan menggoda Nayla.
Nayla memukul pelan lengan Reyhan. Lalu berusaha melepaskan diri dari dekapan laki-laki itu.
"Nay, mari kita hidup dengan melupakan masa lalu.Tapi bisakah setelah menikah nanti kau berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi?
Bukan untuk ku, tapi untuk dirimu sendiri, dan untuk semua orang yang kamu sayangi.
Aku tidak akan peduli seperti apa masalalu mu karena aku tidak ada didalamnya, yang terpenting adalah bagaimana kamu saat bersama ku, yaitu mulai sekarang dan kedepannya."
***
Nayla memasuki sebuah cafe dengan wajah yang lelah. Terlihat dari bibirnya yang enggan tersenyum dan sayup mata yang terlihat lesu.
Nayla memilih tempat duduk yang agak jauh dari keramaian. Menunggu dua orang yang sudah ada janji sejak tadi.
Ditempat duduknya, Nayla jadi memikirkan kejadian tadi.
Nayla tidak yakin apa dia bisa menyukai sosok Reyhan dan delapan anaknya dalam waktu yang cepat. Tapi Nayla cukup bersyukur, pada akhirnya dia bisa menuruti kemauan sang Papa.
Meskipun, nama Satya masih ada tertulis tebal didalam hatinya.
"Nay...."
Suara panggilan menyadarkan Nayla dari lamunannya. Pandangannya beralih bersitatap dengan mata Satya.
Laki-laki ini..
Nayla tersenyum manis dengan sedikit menganggukkan kepalnya.
"Duduklah Satya..."
Ucapnya mempersilahkan seseorang duduk.
Tidak bisa dipungkiri, Nayla sangat merindukan Satya. Ingin rasanya dia memeluk Satya erat sebagai cara melepaskan kerinduannya.
"Aku sangat merindukanmu Nay, akhirnya kamu mau menemuiku"
Satya, sama halnya seperti dirimu, aku juga merindukanmu.
Sayangnya Nayla hanya mampu mengucapkannya dalam hati.
Sementara tubuhnya masih terpaku ditempat duduk meskipun. Nayla paham, dia harus menahan dirinya sendiri.
"Maafkan aku Nay..."
Satya berkata tulus dan terdengar menyayat hati. Percayalah, Nayla sendiri tidak ingin berada disituasi seperti ini.
Sesak didadanya membuat Nayla meneteskan air mata berharganya. Lagi-lagi untuk menangisi laki-laki brengsek dihadapannya.
__ADS_1
Nayla mengalihkan pandangannya. Dia menangkap satu lagi sosok yang ditunggunya sedang berdiri diambang pintu masuk.
Dia terlihat ragu untuk melangkahkan kaki mendekati Nayla dan Satya.
"Ninaa..."
Panggil Nayla berteriak. Mau tidak mau Nina harus bergabung bersama keduanya.
Nayla memeluk Nina sebentar. Kemudian menyuruh Nina duduk disampingnya.
"Aku langsung ke intinya saja yaa.."
Terlihat Satya mendengarkan dengan gusar.
"Satya.. Terimakasih untuk dua tahun yang benar-benar membuatku bahagia." Nayla mengucapkan dengan suara tercekat.
"Kau tahu seperti apa aku mencintaimu, tapi mulai sekarang
Tolong, lupakan apa pun yang terjadi diantara kita."
Tes
Air mata itu kembali meluncur bebas.
"Kau mencintaiku kan Satya? Itu berti kau akan bahagia kalau aku bahagia kan?
Aku bahagia kalau kau bisa membuat sahabatku ini bahagia.
Satya.. maafkan aku. Mari hidup dengan baik. Ada bayi tak berdosa yang sedang menunggumu menyambutnya."
Ternyata bukan hanya dirinya. Tapi Nina, perempuan itu sedari tadi sudah terisak ditempat duduknya. Rupanya dia mengerti,
Nayla lebih mementingkan dirinya dari pada perasaannya sendiri.
Sedangkan Satya, wajahnya memerah menahan emosinya.
Apa apa an ini!
"Nin, sampai kapanpun kamu adalah sahabat baikku. Percayalah,
Aku merestui kalian dengan seluruh hatiku."
Braaakkkkkkkkkkkkkk
Satya berdiri setelah dirinya menggebrak meja didepannya. Membuat dua perempuan itu terlonjak kaget.
"Jangan harap bisa pergi semudah itu Nay"
***
PERNIKAHAN
Pernikahan impian semua orang adalah pernikahan dengan seseorang yang keduanya saling mencintai. Terikat dalam ikatan sakral yang suci. Serta diiringi oleh janji bersama sehidup semati.
Saat ini, Reyhan telah SAH secara resmi maupun agama menjadi suami seorang perempuan bernama Nayla.
Senyum bahagia terpancar dari dua insan paruh baya yang berdiri tak jauh dari panggung utama pasangan pengantin.
Nayla berdiri disamping suaminya dengan tangan kanan yang dikalungkan ditangan kiri Reyhan.
Berdiri dengan anggun dan elegan.
Riasan yang cantik natural membuat siapa saja tersihir dengan pesonanya. Takjub bak bidadari cantik yang menjelma sebagai manusia.
Nayla terlihat semakin sempurna dalam balutan gaun pernikahan berwarna putih yang bagian belakangnya menjuntai sangat panjang. Senyumnya merekah sejak awal acara meskipun hatinya masih menahan sakit.
__ADS_1
Dalam sekejab dia dan Satya sudah benar-benar berakhir.
Ucapan selamat berbahagia sudah ratusan kali dia dengar dari setiap orang yang berjalan menjabat tangannya.
Tak mau kalah. Aura ketampanan dari seorang laki-laki pemilik toko buku yang didambakan setiap wanita terpancar jelas dari sorot wajah yang berdiri disamping Nayla. Rahangnya yang tegas dengan sorot mata yang tajam menambah aura maskulin. Reyhan semakin gagah dengan kemeja berwarna putih dutambah balutan jas berwarna hitam senada dengan warna celana dan sepatunya.
Dua insan yang serasi.
Didalam gedung sebuah hotel yang sangat mewah, pernikahan itu dihadiri oleh semua rekan kerja sang Papa dan hanya beberapa saja teman Nayla
Sedangkan dari Pihak Reyhan,
Sang Papa hadir setelah secara diam-diam menerima kabar dari putranya itu.
"Aku tidak pernah menyangka, pada akhirnya putrimu benar-benar menikah dengan salah satu putraku."
"Dan aku juga tidak pernah berfikir kalau Reyhan adalah putramu Tuan Adma. Pantas saja, dia memiliki sikap yang begitu sopan."
"Ya, semoga ini awal yang baik untuk kelanjutan persahabatan kita."
***
"Rey, masih lama ya? Kaki aku sakit"
Bisik Nayla seraya mendekat ditelinga Reyhan.
Sudah satu jam lebih mereka berdua berdiri didepan menyambut para tamu yang sekedar ingin mengucapkan selamat.
Kaki Nayla sudah terasa sakit. Ingin segera melepas sesuatu yang menompang kakinya itu.
"Sabaar ya..."
Ucap Reyhan selagi mengusap punggung tangan Nayla yang melingkar dilengan kirinya.
Nayla hanya meringis.
Laki-laki ini. Bisa sabar gini yaa...
"Memang sakit banget ya? Atau kamu istirahat sebentar dulu deh.. Biar aku yang menangani para tamunya..."
"Apa gak papa?" Tanya Nayla setegah tidak percaya.
Bagaimana bisa Reyhan membiarkan ku meninggalkannya disini sendiri. Apa kata mereka nanti?
"Jangan deh. Ntar ada berita yang enggak enggak lagi."
Reyhan hanya tersenyum menanggapi sikap Nayla. Lucu juga..
Reyhan sudah menyiapkan diri dengan sifat Nayla yang mungkin untuk saat ini dia belum ketahui.
Mengingat waktu yang singkat perkenalan mereka.
Reyhan tidak ingin bermain-main dengan pernikahan. Maka dari itu, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu mempertahankan keluarganya.
Sekalipun pernikahan mereka tidak didasari cinta. Belum....
Pandangan Nayla teralihkan ketika dua perempuan yang sangat dia kenal sedang berjalan menghampirinya.
"Selamat ya Nay.. ya ampun nikah beneran ya kamu?"
Sari dengan suara khasnya menyapa Nayla setelah sebelumnya berjabat tangan dengan Reyhan.
Ganteng banget suami Nayla...Sari
Kayak pernah ketemu dimana ya suaminya Nayla ini?... Nina
__ADS_1
Sari memeluk hangat sahabatnya dihari bahagia itu. Kemudian membisikkan sesuatu di telinga Nayla.
"Satya mah lewat"