Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Kedua Kalinya


__ADS_3

Sementara dirumah Zeko,


Riana menangis terisak mengkhawatirkan putrinya yang pergi dalam keadaan seperti ini.


Mukanya sudah sembab. Mata yang bening sudah sangat memerah. Suara isakan semakin tercekat. Sementara air mata masih saja turun membasahi pipi putihnya.


"Tidak apa Ma.. Nayla sudah besar..." Ucap Zeko menenangkan sang istri.


Mengusap pelan punggung sang istri lalu menariknya membawa kedalam pelukannya.


Riana tidak bisa menyalahkan suaminya. Terlebih setelah dia tahu apa alasan Zeko melakukan itu. Riana merasa tindakan suaminya sudah benar.


Karena Nayla adalah putri semata wayangnya yang akan dia jaga dengan baik, dengan caranya sendiri. Bagi mereka, lebih baik Nayla tersakiti sekarang sebelum menikah dengan laki-laki pecundang seperti Satya.


Tapi tetep saja, Riana mengkhawatirkan Nayla karena dia adalah seorang ibu.


"Nayla pasti bisa menjaga dirinya.. kasih dia waktu sendiri dulu, untuk memikirkan semuanya.." Zeko semakin mendekap erat tubuh sang istri . Memberi tempat ternyaman untuk Riana menumpahkan kekhawatirannya.


Riana, perempuan yang sudah dinikahinya hampir dua puluh tiga tahun itu larut dalam kesedihannya didalam dekapan sang Suami.


***


"Jen.. Naura sudah tidur ya?" Tanya Reyhan pelan kepada adiknya Jeni.


Wktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Reyhan baru saja kembali ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusannya dengan laki-laki yang disebutnya Om Zeko itu.


Jam sepuluh malam termasuk masih sore bagi orang-orang seumuran Reyhan. Tapi ini sudah larut malam untuk Jeni. Reyhan paham, Jeni harus sekolah besok.


Belum lagi dia harus membantu mengurusi adik-adiknya yang lain.


"Kamu pulanglah dulu, istirahat. biar aku yang gantiin jaga Naura.. " Ucap Reyhan sambil menjatuhkan diri di sofa.


"Iyaa kak.. truss aku gimana pulangnya?" Tanya Jeni.


"Biar aku suruh Hasan jemput kamu..."


Ucap Reyhan sembari mengeluarkan ponsel untuk menelfon Hasan.


Hanya Hasan yang saat ini Reyhan percaya untuk mengantar Jeni kembali kerumah.


Beruntungnya, Reyhan memiliki sahabat baik seperti Hasan.


"Oiyaa Jen.. Mbak Nana kayaknya sudah balik kerumah. Kemaren dia nelfon waktu dalam perjalanan. Kamu lihat dulu, kalau orangnya sudah dirumah, besok kamu gak usah beli makanan." Ucapnya pada Jeni.


Mbak Nana adalah wanita paruh baya yang bekerja dirumahnya Reyhan untuk menyiapkan makanan mereka semua. Selain itu, Mbak Nana juga membantu Reyhan mengawasi anak-anak asuhnya ketika Reyhan sedang tidak dipanti.


Mbak Nana juga yang ditugaskan untuk mengajari anak-anak untuk membersihkan rumah mereka secara bersama-sama. Mbak Nana setiap hari tidur dipanti. Tapi sesekali dia minta cuti libur kembali ke kampung halamannya untuk beberapa hari.


"Iyaa kak.. Nanti Jeni lihat."


Lenggang sementara. Reyhan larut dalam rasa lelahnya. Menyandarkan diri disofa yang memang sudah disediakan diruang rawat tempat Naura.


Tak berselang lama, Hasan datang sesuai permintaan Reyhan.


"Kenapa ?" Tanya Hasan yang menatap wajah Reyhan terlihat sangat letih.


"Sudah ketemu sama calon istri? Hahaa"

__ADS_1


"Nayla... namanya Nayla San..." Jawab Reyhan sambil membetulkan posisi duduknya.


"Nayla??" Hasan terkejut. Apa jangan-jangan Nayla mahasiswi dikampusnya itu?


"Bapaknya siapa? Zekoo??" Tanya Hasan memastikan.


Reyhan mengkerutkan dahinya.


"Kamu kenal?" Sorot mata Reyhan menatap tajam kearah Hasan. Mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya.


Sementara Hasan tidak langsung menjawab. Hasan dengan cepat duduk disamping Reyhan.Dia yang niatnya hanya menjemput lalu mengantarkan Jeni, sekarang malah lebih tertarik dengan cerita hidup Reyhan.


"Itu namanya rejeki nomplokk.. Pak Zeko kaya raya, Nayla cantik kebangeten kan? Beruntung banget sih lo.." Kata Hasan menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih tidak percaya, dewi keberuntungan menghampiri sahabat karibnya.


Ya, Bagi Hasan ini adil untuk Reyhan. Mungkin ini balasan dari Tuhan atas kebaikan yang selalu Reyhan lakukan.


"Gak semudah itu Tuan Hasannnnnnn..." Jawab Reyhan Sewot..


"Nayla aja kabur tadi dari rumah gara-gara ini.. Hahah, Sudah sana


Antar adik ku pulang dengan selamat ya..."


Ucap Reyhan ketika menyadari jam semakin larut malam.


Jeni yang sedari tadi berada diruangan itu sebenarnya sudah menitikkan air mata mendengar langsung bagaimana pengorbanan Reyhan untuk dia dan anak-anak lainnya.


Ini bukan kali pertama Jeni tahu Reyhan melakukan sesuatu untuk nya tanpa memikirkan dirinya sendiri.


Buru-buru Jeni mengusap air matanya saat Hasan mengajaknya pulang.


"Kak Rey, Terimakasih..." Ucap Jeni tulus saat berpamitan pada Reyhan dengan mata berkaca-kaca.


Sebelum akhirnya, Jeni dan Hasan berlalu pergi meninggalkan Reyhan sendiri menjaga Naura diruang rumah sakit ini.


***


Pagi sudah datang, sinar matahari menyongsong memamerkan terikknya melalui sela-sela gorden sebuah kamar yang didominasi warna gelap ini.


Nayla membuka matanya perlahan. Tidurnya nyenyak didalam dekapan seorang laki-laki yang tak lain adalah Satya, kekasihnya. Meski rasa menyesal menyelimuti hatinya karena untuk kali kedua dia menyerahkan tubuhnya pada Satya semalam, tapi dia mati-matian mengesampingkan penyesalahannya untuk saat ini. Dia hanya butuh ketenangan dan pelukan.


Aroma tubuh Satya yang khas membuatnya tenggelam dalam suasana yang pasti akan dia sesali suatu hari nanti.


Kepalanya mendongak, menatap lekat laki-laki yang kini memeluknya dalam satu ranjang yang sama.


Nayla ingat semalam. Dia jatuh pingsan didepan sebuah gedung yang tak lain adalah gedung apartemen dimana Satya tinggal.


Entah kenapa, tanpa dia sadari langkah kakinya membawa Nayla ketempat ini. Nayla tak sadarkan diri beberapa jam sebelum akhirnya dia bangun dan mendapati Satya yang tengah berusaha mengganti bajunya yang basah.


Nayla sempat marah saat itu. Namun, alasan Satya yang masuk akal ada benarnya membuat kemarahannya mereda.


"Gak ada siapa-siapa disini Nay, tolong percayalah... Bajumu mu basah kuyup, tubuh mu menggigil sampai berwarna biru karena kedinginan. Menurutmu apa yang bisa aku lakukan selain berusaha mengganti bajumu sendiri?"


Bukan hanya itu saja, bahkan Satya menangis menitikan air mata menghadapi kemarahan Nayla. Membuat Nayla merasa bersalah. Lalu dengan cepat dia memeluk erat tubuh Satya. Mencoba mencium bibir Satya dengan cepat sebagai bentuk rasa bersalahnya.


Namun sial..


kenyataannya malam itu, Nayla memang sedang butuh sesuatu untuk melepaskan kekecewaannya. Sesuatu semacam rasa nyaman yang membuatnya lupa pada masalahnya.

__ADS_1


Tanpa dia sadari, ciuman itu semakin dalam membuatnya terbuai pada kenikmatan. Gerakan lihai jemari-jemari Satya dalam memainkan tubuhnya membuat Nayla terlena dan mengikuti hawa nafsunya.


Setelahnya terjadilah malam panjang yang seharusnya tidak terjadi. Kenikmatan surga dunia yang belum saatnya Nayla rasakan membuatnya berkeringat dalam setiap erangan.


Untuk kedua kalinya, Nayla menyerahkan tubuhnya dengan suka rela kepada laki-laki yang masih sebatas pacarnya.


Nayla diam enggan beranjak dari posisinya. Menikmati pelukan hangat tanpa batas kain sehelai pun yang menebar rasa nyaman dalam dirinya.


Bibirnya tersenyum masam. Mengingat kenyataan bahwa hubungannya dengan Satya tidak direstui sang Papa.


Sekarang, dia bingung bagaimana menjelaskan pada Satya. Satya dan Papa sama pentingnya untuk Nayla.


Sementara keputusan sang Papa sudah bulat tanpa bisa sedikitpun diganggu gugat.


Andai sajaa.....


Hah.. senyumnya semakin masam saat dia menyadari penyesalan yang dikesampingkan mati-matian beberapa menit yang lalu, kini hadir memaksa Nayla meratapinya.


"Andai saja..


hubungannya dengan Satya belum sampai sejauh ini. Mungkin Nayla akan dengan mudah menuruti kemauan sang Papa..


Andai sajaaa..." batin Nayla.


Tanpa Nayla sadari, bahwa Satya sudah tau akar permasalahannya. Satya bahkan sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari untuk mempertahankan Nayla disisinya.


Sekalipun dengan cara kotor yang akan memaksa Nayla menjalani hidup tanpa sepenuh hati bersamanya.


Nayla, telah masuk ke dalam perangkap yang sudah Satya buat.


Lamunannya tersadar ketika laki-laki yang mendekapnya mencium kening Nayla. Nayla tersenyum kearah Satya mencoba menyembunyikan masalahnya.


"Satya? Sudah bangun?" tanyanya memastikan.


"Kau terlihat agresif semalam.." Ledeknye dengan mata yang masih terpejam. "Tapi aku suk... Awwww"


Jeritnya saat tangan Nayla mencubit perut sixpack dengan keras.


"Nakal ya kamu..." Kata Nayla menyembunyikan wajahnya ke dada bidang milik Satya dengan cepat. Jujur saja,


Nayla sangat malu. Betapa murah nya dia dihadapan Satya bukan?


"Semalem aku nemuin ponselmu dalam keadaan sekarat, mungkin kena air. Trus coba aku angin-anginkan.


Pas nyala ternyata banyak sekali telfon dari Mama Riana." Lagi lagi Satya berbicara dalam keadaan mata masih terpejam, memeluk erat gadis yang dicintai itu dalam dekapannya.


"Aduhh.. iya, aku belum ngabarin Mama lagi..." Ucap Nayla panik sembari berusaha melepaskan diri dari Satya.


"Heeii... kamu mau kemana? Dengerin dulu aku belum selesai cerita ya..." Katanya sembari mempererat pelukannya pada Nayla agar gadis itu tak beranjak pergi.


"Aku harus ngabarin Mama dulu Sat...."


"Husst.. dengerin aku dulu...


Aku sudah kabarin Mama pakek ponselmu.. Aku sudah kirim pesan padanya


bahwa kau baik-baik saja,

__ADS_1


Didalam pesan itu aku juga bilang, kalau Nayla ingin sendiri dulu.. Jadi Nayla memilih tidak pulang dan menginap dihotel malam ini.."


__ADS_2