
Beberapa hari sudah berlalu sejak pernikahan Nayla dilaksanakan. Jatah cuti untuk absen dari mata kuliah sudah habis. Kini sudah saatnya dia kembali menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa yang aktif.
Dua tahun lagi, Nayla akan mendapatkan gelar yang selama ini dia impikan.
Suasana masih sangat petang. Sang fajar masih mengintip malu-malu diufuk timur setelah semalam penuh menyembunyikan sinarnya.
Hawa dingin pun masih menyatu dengan hembusan angin yang perlahan membelai lapisan terluar kulit manusia yang sedang beraktifitas diluar sana. Tapi tidak bagi Nayla.
Nay membuka matanya pelan.
Rasa nyaman menjalar kesetiap bagian tubuhnya saat dia menyadari ada sebuah tangan kekar yang memeluknya. Mendekapnya dalam kehangatan.
Nayla enggan bergerak. Dia masih ingin menikmatinya.
Pelan tapi pasti. Kepalanya mendongak menatap penuh kagum pada laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Bagaimana bisa sudah dua minggu tidur berdua disatu ranjang yang sama tapi Reyhan belum juga menyentuhnya?
Padahal ada banyak kesempatan seandainya laki-laki itu mau memaksakan kehendakknya.
Benarkah Reyhan sekuat itu menahan hawa nafsunya? Atau jangan-jangan dia bukan laki-laki normal?
Segera Nayla tepis pikiran buruknya pada sang suami.
Nayla enggan menerka-nerka yang ujung-ujungnya membuat dirinya gelisah sendiri.
Reyhan bilang, dia menunggu Nayla sampai jatuh cinta dulu kan?
Mengingat itu, terkadang Nayla ingin menantangnya saja. Menggoda Reyhan dengan pakaian seksi.
Nayla ingin tahu, sejauh mana laki-laki itu kuat menahan hasratnya?
__ADS_1
Nayla terkekeh geli membanyangkan pikiran nakalnya.
"Sudah puas menatap ku? Sampai senyum-senyum gitu.. Bahagia banget ya punya suami tampan?"
Ledek Reyhan sambil membuka mata. Seketika membuat Nayla mendelikkan mata. Malu.
"Sejak kapan bangun?"
Nayla bertanya sambil menyipitkan kedua bola matanya.
"Sejak kapan ya? aku lupaaa..."
Jawab Reyhan sambil terkekeh geli. Tangannya bergerak semakin mempererat pelukannya pada tubuh Nayla.
"Jangan beranjak dulu. Diluar masih sangat dingin. Kau lupa kemaren sore hujan sangat lebat?"
Tanya Reyhan lagi sambil kembali memejamkan mata.
Reyhan memeluk Nayla dengan tangan kanan. Sementara lengan tangan kirinya berada dibawah leher Nayla. Tubuh mereka sudah benar-benar berdempetan.
Tapi, eittsss tunggu dulu...
Reyhan masih kuat kok. Dia mengatur deru nafasnya sendiri.
"Siapa juga yang mau keluar?" Jawab Nayla spontan.
"Jadi, kau sangat suka ya aku peluk begini? Nayla sudah jatuh cinta sama suami belum sih? Stok sabarku sudah mau habis nih..."
"Rey, kumat dehh...." Jawab Nayla bingung.
Tadi aja dia berpikir ingin menggoda Reyhan. Sekarang?
__ADS_1
Sudah ada kesempatan malah bingung sendiri kan?
Lenggang seketika. Keduanya sama-sama mengatur debaran jantung yang bergerak semakin cepat.
Reyhan tidak ingin memaksakan Nayla. Karena dia tahu Nayla belum mencintainya.
Sementara Nayla, dia terlalu malu mengatakan bahwa dia mulai nyaman dengan Reyhan. Meskipun kadang kala, dia masih mengingat laki-laki itu.
Ya, siapa lagi kalau bukan, Satya?
"Hari ini sudah masuk kuliah kan? Perlu dianterin gak?"
Tanya Reyhan memecah keheningan.
"Memangnya kamu gak sibuk ya hari ini?"
"Gak terlalu sih. Skripsi ku sudah deal kok. Mungkin dua bulan lagi aku wisuda.
Kalau nanti, paling paling mau ke toko buku. Sudah lama gak kesana.
Jadi mau dianterin gak.?"
"Mau, tapi pakek mobilku ya..?"
Jawab Nayla dengan manja.
"Bilang aja, pulangnya juga mau dijemput. Seneng banget ya berduaan sama aku?"
Nayla hanya mencubit pinggang Reyhan sambil berdecak kesal. Sementara Reyhan malah terkekeh geli.
Burung mulai bernyanyi pertanda hari beranjak siang. Suasana seperti ini paling baik untuk penyegaran tubuh. Untuk itu, bangun tidur dalam perasaan positif dapat membantu kita menjalani hari lebih bahagia dan lebih siap.
__ADS_1
Jadi, tebarkan bahagia setiap pagi ya,?