
Sambil membolak-balikkan buku novelnya, Nayla mengunyah makanan ringan keripik kentang rasa balado yang baru saja dibeli dikantin kampus. Sebulan telah berlalu dari sejak hari pernikahan Nina dan Satya, semua berjalan normal termasuk hubungannya dengan Reyhan yang semakin hari semakin baik. Pun dengan Satya yang masih sesekali Nayla temui dikampus. Berbanding terbalik dengan Nina, sahabatnya itu lebih memilih menunda terlebih dulu kuliahnya dan lebih fokus mengurus kehamilannya. Nayla rasa Nina memilih pilihan yang tepat.
"Aku kangen sama Nina..." Suara sendu dari gadis cantik disampingnya memecah fikiran Nayla. Padahal novel yang dia baca lagi seru-serunya. Tapi, apa yang dirasakan Sari, nyatanya juga dirasakan oleh Nayla.
"Aku juga Sar..." Jawab Nayla yang juga merindukan kebersamaan mereka bertiga. "Yaudah sih, kapan-kapan kita main bertiga"
Sari menghela nafas lelah. "Sekalipun bisa, gak bakal sama kayak dulu Nay..", Sari memasukkan keripik kentang itu kedalam mulutnya sebelum melanjutkan berbicara.
"Nina kan lagi hamil muda.. harus ekstra hati-hati dia..."
Nayla hanya manggut-manggut membenarkan. Toh seandainya dia ada diposisi Nina yaitu sedang hamil anak Reyhan, dia juga pasti akan menjaga kandungannya dengan hati-hati.
"Kalo kamu hamil.. kamu juga bakal nunda kuliah gak Nay?"
Nayla mengkerutkan dahinya. Harus menjawab apa ya? Bahkan Nayla belum memikirkan masalah kehamilan. Dan nyatanya sampai sekarang Nayla belum hamil juga kok.
"Gak tau Sar..."
Jawabnya singkat. Entah, sesuatu yang perlu disyukuri karena kenyataannya Nayla belum siap, atau memang ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan dengan masalah kesehatannya. Intinya Nayla hanya ingin menikmati waktu awal-awal pernikahannya dengan bahagia. Tanpa dipusingkan dengan kecemasan-kecemasan yang belum tentu benar adanya.
Jika Tuhan sudah mempercayainya kelak, Nayla yakin, Tuhan pasti akan menitipkan malaikat kecil itu diwaktu yang tepat. Tidak datang terlalu cepat, pun tidak hadir dengan terlambat. Setidaknya, kapanpun Tuhan akan menitipkannya, Nayla akan tetap mensyukurinya.
Suasana lenggang sementara, hanya menyisakan bunyi keripik yang dikoyak habis oleh gigi-gigi dua gadis itu.
Keripik kentang yang malang.
Sedangkan Nayla dan Sari melanjutkan kesibukannya masuk didunia novel yang masing-masing mereka baca.
"Boleh gabung nggak nih...?"
Suara laki-laki yang sangat familiar khas dengan nadanya mengalihkan pandangan Nayla dan Sari dari novelnya. Dia tidak sendian, ada Satya dan juga Andi disampingnya.
Nayla tersenyum mempersilahkan. "Bolehh kok.. duduk aja kali" Jawaban itu keluar mulus begitu saja dari mulutnya. Dan seketika membuat ketiga laki-laki itu menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya masing-masing disana.
Suasana masih sama seperti dulu. Pun ke akraban diantara mereka tidak berubah meskipun levelnya turun satu tingkat. Itu dikarenakan tidak adanya Nina disana. Dan lagi, ada hubungan Nayla dan Satya yang tak lagi sama.
Tapi masih ada sedikit perbedaan lagi yang lebih mencolok, kalau dulu Satya selalu memilih tempat duduk disamping Nayla, kali ini tidak. Dia memilih tempat yang agak jauh, tetapi masih dalam satu meja yang sama. Berlima.
Meskipun begitu, sering kali Nayla pergoki Satya menatapnya dalam tatapan yang tidak mampu Nayla artikan.
"Satya, gimana kabar Nina..?"
Sari bertanya memulai pembicaraan diantara mereka. Pertanyaan yang tepat sesuai dengan keadaan hati kedua gadis itu yang tengah merindukan Nina.
Satya melirik Nayla, sebentar pandangan mereka bertemu sebelum Satya menjawabnya. "Baik kok,"
Jawabnya takut-takut. "Kapan-kapan kalian main gihh keapartemen.. pintunya terbuka lebar buat kalian, dia juga pasti seneng banget.."
Jawaban Satya menciptakan kelegaan tersendiri dihati Nayla. Mungkin saja rasa cinta yang dulu Nayla jaga hanya untuk laki-laki itu sekarang sudah habis tak bersisa. Ya, itu adalah kemungkinan yang persentase benarnya sangat besar.
Sekarang Nayla tahu, kecemasan dihari pernikahan mereka bukan karena Nayla yang belum merelakan Satya, tapi sudah tepatkah mereka semua mempercayakan Nina pada laki-laki itu? Atau, membantu Nina mewujudkan pernikahan itu adalah keputusan yang salah?
Nayla hanya belum yakin, Nina berada dipelukan orang yang tepat.
"Dijaga baik-baik ya Nina nya, kandungannya juga..." Kali ini Nayla menimpali.
__ADS_1
"Nina itu berharga buat kita.. ya kan Sar?"
"He eh. " Jawab Sari membenarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Nayla kembali menyesap jus jambu biji didepannya. Dan lagi-lagi, dia memergoki Satya tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit Nayla artikan.
"Andi kenapa diam aja.?" Tanya Sari lagi, mengalihkan topik. Sungguh, sangat menguntungkan Nayla dari kecanggungan yang Satya ciptakan.
Sontak saja pertanyaannya dibalas tatapan bingung dari Andi. "Emang gue harus ngomong apa?"
Sari terkekeh. "Ya kan biasanya lo nglawak?" Ledeknya dengan tangan masih memegang novel.
"Enak aja... Joan tuh yang biasanya nglawak.."
Seketika semua tertawa ditengah gerutuan yang keluar mulus tanpa hambatan dari mulut Joan.
"Yaelah, gue lagi gue lagi..."
***
Tidak ada yang salah, sekalipun cinta tumbuh subur dan berkembang dengan baik, semua akan sia-sia jika Tuhan tidak menakdirkan untuk bersama. Itu juga berlaku untuk raja iblis dan ratu malaikat. Sekalipun dalam dunia nyata mereka berada dalam dimensi warna yang berbeda, mereka tetap bisa bersatu jika garis tangan sudah menuliskannya seperti itu.
Nayla memutus lamunannya, tersenyum manis saat mendapati tangan kekar merengkuh tubuhnya dalam dekapan hangat. Gesekan kulit yang bertemu kulit tanpa terhalang benang sehelai pun menambah kehangatan semakin terasa dibawah selimutnya.
"Rey..."
"Hem" Tetap menjawab suara lembut itu sekalipun matanya masih terpejam. Suara yang selalu Reyhan rindukan.
"Boleh nggak sih aku serakah?"
Nayla menggerakkan tubuhnya. Mencari posisi yang lebih nyaman agar tangannya mampu menjangkau sebuah kepala yang tengah mengendus lehernya dari belakang. "Memiliki kamu... aku ingin memiliki kamu sendirian. Tanpa harus berbagi"
Reyhan semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa tidak?" Menikmati sentuhan tangan dikepalanya yang membangkitkan lagi sedikit gairahnya.
"Nay, aku memang milikmu... aku tidak ingin dimiliki selain kamu"
"Tapi... aku tidak percaya diri Rey"
Aku dengan masa lalu ku yang buruk dan kamu dengan segala hal baikmu, apa aku pantas?
"Kamu pantas..." Jawab Reyhan dibalik punggungnya seolah bisa mendengar suara batin Nayla. "Perlu ku tunjukkan buktinya?"
"A-pa?"
Reyhan mengubah posisi Nayla menjadi telentang, lalu dia merangkak naik ke atasnya dengan satu tangan mengunci tangan istrinya diatas kepala. Kemudian, tersenyum menyeringai menatap dalam mata gadis itu sampai netra mereka bertemu.
"Ka-kamu mau apa?" Bola mata Nayla membulat dan nafasnya tercekat. Ditatap Reyhan dengan setajam ini membuatnya mati kutu. Sekalipun hal selanjutnya sudah sering mereka lakukan. Apalagi, dengan posisi seintim ini.
"Mau nunjukin bukti, kalau hanya Nayla yang pantas"
Detik selanjutnya, bibir Reyhan bertemu dengan bibir ranum milik Nayla. Reyhan menciumnya dengan lembut dan penuh hasrat.
Seakan tak menolak, Nayla membuka sedikit mulutnya. Mempermudah benda tak bertulang itu melesat masuk mengabsen seisi rongga mulut Nayla. Setelah sebelumnya Reyhan menggigit kecil bibir bawahnya.
Tangannya melepaskan tangan Nayla setelah dirasa aman gadis itu tidak akan memberontak. Lalu turun mengusap leher Nayla. Reyhan benar-benar membuat istrinya lupa bagaimana caranya bernafas dengan baik. Dan Nayla merasa pusing hingga begitu menikmati sentuhan lembut darinya, sebelum akhirnya Reyhan menghentikan ciumannya.
__ADS_1
"Rey"
Ditatap dengan tajam dan sedekat ini membuat Nayla merasakan hembusan nafas suaminya yang tersenggal sama seperti hembusan nafanya. Lalu tiba-tiba pipinya memanas, mungkin sudah merah merona.
"Aku mau lagi, boleh?" Dengan suara serak menahan hasrat, Reyhan mencoba meminta ijin setelah beberapa jam sebelumnya membuat gadis dalam kungkungannya kelelahan beberapa kali. Meski dia tau, dia memiliki hak atas tubuh istrinya.
Istrinya itu mengangguk malu-malu. Membuatnya berkali-kali lipat diserang api gairah yang sempat hampir padam. Suatu kekuatan tersendiri melihat Nayla bersemu seperti itu.
Reyhan menjatuhkan bibirnya dileher Nayla. Membuat jilatan-jilatan yang memaksa gadisnya mendongak tanpa diperintah. Menikmati aroma tubuh yang selalu Reyhan rindukan dalam diam.
Tangannya bergerak menyikap selimut yang menghalangi pandangan matanya dari dua gundukan indah yang sedang mengeras menantang. Seputih kapas dan semulus sutra, Reyhan tidak habis pikir mengapa gundukan itu selalu pas berada dalam genggamannya.
Menuruti instingnya dalam bergumul, dia meremas gundukan itu dengan pelan. Memberi sensasi sakit tapi menagihkan. Memilin bulatan kecil puncak gundukan itu. Membuat gadis dibawahnya menggeliat kegelian dan mengerang kenikmatan.
"Rey"
"Aku mulai ya?"
Untuk kesekian kalinya, olahraga malam itu Reyhan mulai dengan cara yang berbeda. Lubang milik Nayla selalu berhasil menghimpit batang milik Reyhan.
Masih sesempit pertama kali Reyhan memasukinya. Dan selalu membuat Reyhan mau lagi, dan lagi..
Gerakan paling primitif dan terkenal sejak zaman dahulu kala, membawa mereka berdua terbang kepuncak nirwana. Menembus langit ketujuh tanpa aba-aba. Melepaskan segala benih-benih dengan meleguh keras.
"Hanya Nayla yang aku mau, Reyhan sayang Nayla.."
Ucapnya sesaat setelah mereka mencapai kepuasan bersama membuat hati Nayla berdesir merasakan ketenangan. Reyhan menjatuhkan diri di lehernya. Hembusan nafasnya terasa hangat menyentuh kulit Nayla. Dengan miliknya yang belum dilepas dari milik sang istri.
"Rasanya, aku mau lagi dan lagi, terus seperti ini Nay"
"Tapi aku capek." Cegah Nayla dengan sedikit mendorong tubuh Reyhan kesamping. Membuatnya sekali lagi menggeram saat dengan terpaksa, tubuh mereka terlepas dari penyatuan.
Reyhan tekekeh sambil kembali keposisi semula. Dia kembali memeluk tubuh Nayla dari belakang, menarik keatas tubunnya sendiri hingga mampu menjangkau puncak kepala gadisnya agar dapat mencium aroma khas rambut indah milik istrinya.
"Terimakasih Nayla.."
***
Hay hay... happy reading manteman..
Maaf ya, sedikit dulu.. lagi ada kesibukan lain didunia nyata...
Nih, untuk mengurangi rasa kangen kalian sama Nayla dan Reyhan, tak kasih yang romantis-romantis aja dulu yaa... 😘
***
Terimakasih like nya ya manteman 😘
Oiyaa, sambil nunggu novel ini update, bisa tuh dibaca juga novel ku yang satunya...
judulnya TERPAKSA MENIKAH !
gak kalah seru gaes...
Syukur-syukur mau ninggalin jejak hehe 😂😂
__ADS_1