Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Katanya Pesta


__ADS_3

Petang.


Dengan sinar yang temaram.


Malam sudah menjelang.


Seorang perempuan berjalan dengan tertatih. Menarik tubuhnya dengan lunglai.


Memakai atasan hem berwarna hijau matcha yang terlihat lusuh. Sama lusuhnya dengan kondisi wajahnya.


Berpadu dengan celana jeans model pensil berwarna biru laut.


Satu langkah,


Dua langkah,


Tiga langkah,


Dan langkah seterusnya.


Setiap langkah yang ia pijaki, setiap itu pula paku transparan serasa menancap di telapak kakinya.


Perih. Dan menyakitkan.


Dia seperti kehilangan tujuan. Auranya murung.


Siapapun yang melihat, pasti akan menilai perempuan itu sedang dalam kondisi mengenaskan.


Dan sialnya, itu benar.


Nayla dalam kondisi yang mengenaskan. Bukan hanya paras dan penampilannya saja yang mengenaskan.


Bahkan mental, batin dan hatinya juga. Sama-sama mengenaskan.


Langkah kaki Nayla gontai. Kalau saja perempuan itu tidak ingat dengan tujuannya,


ia pasti sudah berlari menghampiri Reyhan, meminta perlindungan dan bersembunyi dibawah ketiak lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya.


Nayla sangat ingin,


Menghampiri Reyhan, memeluknya erat, menangis dalam dekapan lelaki itu dan menumpahkan semua ketakutan-nya tanpa terkecuali.


Tapi, Nayla menahannya.


Dia rasa, harus menyelesaikannya seorang diri.


Tadi saat ia mendapatkan akses internet umum di bandara, perempuan itu segera mengirim pesan kepada Satya agar lelaki itu menunggu kedatangannya.


Perempuan bersurai hitam itu sempat beberapa menit membuka laman media sosialnya. Dan ia hampir saja ambruk saat matanya membaca berita skandal dirinya.


Membawa nama Deka Group dan Hotel Nuansa.


Ya Tuhan, Apa ini?


Matanya membelalak lebar. Dengan jantung yang hampir saja copot, Nayla membaca kata demi kata yang dituangkan dalam berita itu.


Setiap kata yang Nayla baca, merampas semua oksigen yang masuk melalui hidungnya. Sehingga, paru-paru yang seharusnya menerima oksigen itu, mendadak kehilangan pasokannya.


Nayla sesak. Nafas wanita itu sesak dalam sekejap, menyebabkan kram kembali bersarang diperutnya.


Dia hampir saja pingsan di bandara, kalau saja tidak ada seorang perempuan yang menolongnya, dengan menyodorkan sebotol air mineral.


Sekarang pikirannya kacau.


Menyusuri lorong yang membawanya melewati kamar demi kamar, ruang demi ruang, dan pintu demi pintu,


Nayla merasa semua hampir terlambat.


Detak jantungnya serasa mau berhenti.


Tubuhnya yang lelah, dengan hati yang gundah. Lengkaplah sudah masalahnya.


Pikirannya menerawang jauh.


Memikirkan kondisi papa, kondisi keluarganya, dan kondisi Deka Group kebanggaan sang papa setelah berita itu muncul. Apa baik-baik saja?


Apa masih ada kesempatan untuk menyelamatkan.?

__ADS_1


"Kenapa aku sama sekali tidak tahu?"


Lantas, perempuan ber-manik mata hitam dan besar itu teringat dengan sang suami.


Air matanya kembali mengalir tanpa henti, saat dia mulai mengaitkan sikap Reyhan yang mati-matian melarang Nayla mengakses media sosial dan apapun itu yang berbau digital online.


Rupanya,


ini semua ada dibalik itu. Ini kan alasan Reyhan yang sesungguhnya?


Detik itu, dia mengerti.


Reyhan memang suami yang baik. Menjaga perasaannya dengan cara yang tak terduga. "Hiks, maaf Rey."


Penyesalan memang datang diakhir. Nayla sungguh menyesal kenapa dulu ia harus menuruti Satya dan datang ke hotel Nuansa?


Dan, kenapa juga ia tidak bisa mengendalikan hasrat yang begitu tiba-tiba membuatnya gelisah?


Kenapa begitu ceroboh?


Langkah kakinya berhenti didepan sebuah pintu. Nayla berdiri disana cukup lama.


Memejamkan matanya erat-erat.


Menikmati perasaan menyakitkan yang menghujam sesuatu didalam dada-nya.


Beberapa menit.


Setelah tangisnya mereda, Nayla menempelkan sebuah kartu hingga kunci pintu terbuka otomatis.


Dan tanpa menunggu lagi, ia masuk kedalamnya dengan bibir yang tak henti-hentinya mengucap kata maaf kepada Reyhan, sang suami.


***


Apartemen minimalis yang cukup mewah miliknya sudah Satya sulap menjadi bar kecil.


Lampu warna-warni ala diskotik juga sempat ia pasang di atas. Menambah kesan ramai yang dipadukan dengan musik DJ. Menggema di setiap sudut apartemen miliknya.


Oh iya,


mengingat malam ini, ia akan mengadakan pesta menyambut kemenangan.


Pesta.


Begitulah lelaki itu menyebutnya.


Bibirnya tak henti tertawa riang. Bersenandung mengikuti irama musik yang bar-bar.


Satya menggila dalam kegilaan yang ia buat sendiri.


Sisi iblis yang selama ini mengikutinya, semua menampakkan diri dimalam ini. Menekan sisi malaikat yang masih tersisa sedikit didalam hatinya.


Satu kaleng minuman haram itu, ia buka.


Sambil meneguknya, ia meliuk-liukkan tubuhnya yang berdiri diatas sofa.


Sumpah demi dewi matahari,


Ia senang bukan main.


Semua itu jelas, terjadi karena tadi Nayla sempat mengirimkan pesan kepada Satya untuk menunggu kedatangannya.


Nayla mengabarkan bahwa ia sedang dalam perjalanan. Itu berarti, sebentar lagi, Nayla akan menjadi miliknya kembali.


Mengabaikan kesedihan dari perempuan pujaannya, Satya menyeringai lebar, sambil berkata lirih. "Aku menunggumu disini, Nayla."


Satya lupa,


bahwa mencintai itu benar. Mencintai itu baik.


Sedang, memaksa dicintai balik adalah buruk. Mengikat cintanya dengan rantai panas agar tidak berjalan pergi sama saja menyakiti dirinya sendiri perlahan. Membawanya menuju kehancuran.


Dering ponsel menghentikan kegilaannya sesaat. Dia mengernyit dengan alis yang bertaut saat membaca sebuah nama yang tertera dilayar ponselnya.


Dengan segera, ia menggeser tombol hijau menempelkan ponsel ditelinganya.


"Ya, paman.?"

__ADS_1


"Paman sedang dalam perjalanan menuju kota tempat tinggal mu." begitu lelaki diseberang sana memulai kalimatnya.


"Paman mau kemana?" Tanya Satya bingung dengan dahi yang berkerut keheranan.


"Loh, memang kamu tidak diberi tahu ya?"


"Apa?" Semakin heran. "Diberi tahu apa?"


Helaan nafas, Satya dengar dari ponselnya. "Jadi gini, pimpinan GMT mengundang paman dan beberapa komisi jabatan penting, untuk bertemu disana"


"Yang benar saja paman?" Satya semakin merasa heran.


"Bukannya kamu bilang sendiri, beberapa hari yang lalu sudah mengajukan kerja sama dengan GMT? Jadi wajar saja dong, itu berarti kontrak kerja sama mu diterima."


Benarkan seperti itu?


Satya menimang-nimang pikirannya sendiri. Dia merasa ada yang janggal. Memang sejak kapan menerima kontrak kerja sama harus mengundang semua orang penting di perusahaannya?


"Apa paman tidak merasakan kejanggalan?"


Suara tawa menggema dari balik ponselnya. Dan bisa dipastikan bahwa saat ini, pamannya sedang tertawa mengejeknya. "Dasar bocah bau kencur. hahaha"


Shit, sialan !


"Setiap perusahaan memiliki prosedur yang berbeda Satya. Apalagi perusahaan besar seperti itu." Sang paman mengambil nafasnya, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kemarin, paman juga sedikit merasa heran. Tapi, setelah dipikir-pikir sepertinya semua aman. Karena memang ada beberapa perusahaan yang memiliki prosedur seperti itu."


"Tapi paman?"


"Sudahlah, asal kamu tidak membuat masalah dengan perusahaan itu, aku rasa semua aman, nak."


"Yasudah." Putus Satya membuang rasa curiganya. "Paman hati-hati ya. Maaf besok Satya gak bisa menemui paman. Ada urusan penting."


Bertahun-tahun perusahaan miliknya selalu aman ditangan sang paman, jadi bagaimana mungkin sekarang ia meragukan kemampuan pamannya?


Begitulah Satya berpikir. Dia bahkan harus lebih belajar dari lelaki pengganti papa nya itu, lantas atas dasar apa Satya meragukannya sekarang.?


"Tidak apa-apa. Sudah malam segeralah istirahat Satya. Dan segera selesaikan pendidikan mu. Agar kamu bisa mengelola sendiri usaha yang dibangun oleh papa mu. Paman sangat berharap kepada mu."


"Iya paman, aku usaha in ya"


"Dan ingat, jangan sembarangan bermain-main atau membuat masalah dengan orang. Sebelum kamu tahu siapa lawan mu"


Sambungan ponsel dimatikan.


Dengan kondisi apartemen yang masih sama seperti sebelumnya, Satya kembali meneguk minuman haram itu sampai habis tak bersisa.


Pikirannya menerawang jauh. Kejanggalan dan keraguan bersarang disana atas apa yang baru saja sang paman ucapkan.


Benarkah hanya untuk alasan kerjasama? Atau, ada hal lain?


Sampai, alarm pintu nya berbunyi,


Menandakan ada seseorang yang membuka kuncinya. Hingga pintu terbuka, manusia yang berdiri disana membuat Satya lupa pada apa yang ia pikirkan baru saja.


Lelaki itu tertawa lebar. Menyambut penuh antusias dan...


"Hai, selamat datang."


.


.


.


***


Hai, selamat datang 🤭


Jangan lupa, like nya ya .. hehe


jadi gimana gaes.. sudah mampir di novelku yang satunya belum??


Hayuukk ahh, cuss yang belum mampir. judulnya, TERPAKSA MENIKAH yaa


Bab baru di bab 11, 12 dan 13 ya...


bab 14 dan seterusnya masih direvisi. Pantengin terus yaa...

__ADS_1


__ADS_2