
Nayla duduk dikursi dalam sebuah tempat makan didalam pusat perbelanjaan. Matanya awas menelisik siapa yang melewati pintu keluar masuk.
Menunggu wanita paruh baya yang sudah berjanji akan bertemu dengannya disini.
Nayla sendirian. Wajahnya masih muram. Senyum yang biasa menghiasi bibirnya sudah hilang. Apalagi cahaya kehidupan yang terpancar darinya yang biasanya tampak terang kini mulai redup meremang.
"Hay sayang..." Riana menarik salah satu kursi. Tangannya membelai puncak kepala putri tercintanya. Lalu mencium kening Nayla sebelum akhirnya ikut duduk disebelah Nayla.
"Kamu baik-baik saja kan?"
Tanyanya kemudian setelah mendapati wajah sang Putri yang tidak seperti biasa.
"Nayla baik kok Ma...Maafin Nay ya udah buat mama khawatir semalam.." Ucap Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Kita pesen makanan dulu yaaa... Ada yang mau mama bicarakan sama Nayla..
Nay harus tau sesuatu sebelum Nayla memutuskan masalah ini sayang..."
Ujar Riana yang kemudian dibalas anggukan patuh dari Nayla.
Lenggang sementara. Riana terus menggenggam tangan putri kesayangannya itu seolah mengatakan, ada Mama disampingmu. Tatapannya memandang penuh kasih manik bernetra hitam milik Nayla yang sesekali menjatuhkan air matanya.
Tak berselang lama makanan datang. Riana dan Nayla makan dalam keheningan masing-masing. Yang ada hanya suara dentingan sendok dan piring.
"Ma.. Apa laki-laki itu adalah anak dari salah satu teman kerja Papa? Atau, apa Papa memilih laki-laki itu untuk kepentingan kerjanya...?"
Dengan pelan Nayla bertanya. Walaupun dia sendiri tahu, dia akan lebih terluka jika benar, pernikahan itu atas dasar bisnis sang Papa. Sesuai apa yang dia pikirkan sejak semalam.
"Nay.... kamu kenal kan sama Papa.?" Tanya Riana dengan hati-hati sembari menaruh sendok suapan terakhir di piringnya.
"Maksud Mama, Nayla tahu kan seperti apa Papa menyayangi mu Nay?"
Pertanyaan itu membuat pipi mulus Nayla banjir oleh air matanya sendiri. Nayla terisak dalam tangisan.
Sejujurnya, Nayla sangat mencintai Mama dan Papa nya. Kebahagian dan kasih sayang dari keduanya tidak bisa Nayla tukar dengan apapun. Tapi ini terlalu tiba-tiba untuk Nayla.
Terlebih, baru saja Nayla meyakinkan diri bahwa hanya Satya yang pastas menikahinya nanti.
"Maafin Papamu ya Nay.." Ucap Riana parau.
"Tapi untuk kali ini, Papa tidak bisa menuruti keinginan Nayla untuk bersama Satya" Riana menarik nafasnya dalam. Membelai lembut punggung tangan anak gadisnya.
"Nay, untuk kali ini saja,
Mama mohon, tunjukkan baktimu kepada Papa yang sudah menyayangimu, membesarkanmu, merawatmu dan menjagamu sejauh ini.." Air mata lolos dari pelupuk mata Mama Riana.
Isakan Nayla semakin terdengar menyayat hati. Tangisnya benar-benar pecah. Tangannya mengepal erat didalam genggaman sang Mama.
Dia tidak marah kepada Papa. Dia hanya menyesal, menyesal pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ma.. memang.. a.pa...sa.lah..Sat..Satya Ma?" Suara nya tercekat tertahan didalam rongganya. Nayla sudah membaca, akan seperti apa nasip hubungannya dengan Satya kali ini.
"Nay, Jujur
semalam Mama juga marah kepada Papa karena ini terlalu tiba-tiba, tapi alasan Papa membuat Mama menyetujui apa keinginan Papa semalam.."
Riana semakin mendekatkan kursinya disebelah Nayla. Untung saja, Nayla memilih tempat yang agak jauh dari kasir, jadi sedikit sepi dari kerumunan orang-orang berlalu lalang.
"Satya minum Nay, Minuman yang terlarang bagi keluarga kita. Dan Papa, melihatnya secara langsung..."
***
Cinta seorang Papa laksana air yang mengalir tanpa henti dan tidak kering didera musim. Inilah salah satu hal yang susah dibalas oleh seorang anak.
Meskipun ia berusaha membalas kasih sayang seorang Papa, tetap saja itu tidak bisa sebanding dengan apa yang telah diberikan seorang Papa padanya.
***
Pagi yang cerah.
Setelah pertemuannya kemaren dengan sang Mama, Nayla memutuskan untuk pulang kerumah.
Tidurnya semalam nyenyak karena dia sudah mengambil keputusan yang sudah difikirkan matang-matang sesuai persetujuan sang Mama.
Nayla kini sudah berada dikampusnya. Duduk disebuah kursi panjang dekat papan pengumuman di lantai satu.
Kampus terbaik di kotanya ini memiliki gedung terbaiknya pula. Di lantai satu yang berisi ruang Auditorium, ruang fotokopi, kantor dosen , ruang sidang skripsi, gudang perlengkapan, musholla Wanita, dan kantin yang luas akan membuat siapa saja takjub pada keindahan interior penataanya.
Dipojokan sebelah kiri terdapat lima buah lift yang sengaja disiapkan sebagai fasilitas kampusnya untuk memudahkan para Mahasiswa naik ke kelas berhubung kampus ini menjulang tinggi sebanyak empat lantai.
Satu lift khusus untuk para dosen dan empat buah lainnya untuk para Mahasiswa.
"Hay Nay .. Sudah nunggu lama yaa?" Suara khas melengking membuyarkan Nayla dari lamunannya. Wanita cantik seumuran dengan Nayla itu merangkul pundak Nayla mengajaknya Jalan.
"Hay Sar... ya Ampun kangen banget sama kalian..." Jawab Nayla sembari membalas rangkulan tangan seorang wanita yang selalu mendukungnya dalam keadaan suka maupun duka itu.
Langkahnya berjalan santai menuju lift. Dibelakangnya ada Nina yang mengekori langkah Nayla dan Sari dengan malas.
"Kok kamu diam aja Nin..." Tanya Nayla sembari menolehkan wajah ke belakang memandang Nina yang fokus dengan gawainya.
"Apa? Ehh... Abis.. a.. aku harus gimana..?" Jawab Nina gugup.
"Kalian lebay banget gitu.. kayak gak ketemu bertahun-tahun ajaa.." Ucap Nina menyembunyikan ke gugupannya.
"Emang aku kangen sama kalian.."
Ucap Nayla terkekeh. Sari menjawab dengan tawa riuhnya menertawakan ke alay an mereka. Sementara Nina masih acuh diam memainkan gawainya.
"Kelas kita masih lama kan? Kita ke kantin dulu yuukk.. sarapan.."
__ADS_1
Ajak Nayla sembari memencet tombol nomer dua yang tersedia didalam litf.
"Hehe, dilantai dua ya, biar ketemu sama Satya.."
Sari menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa heran pada Sahabatnya yang satu itu. Dia selalu bersemangat untuk sekedar bertemu dengan Satya. Tanpa Sari dan Nayla sadari. Satu perempuan lainnya diantara mereka sedang menahan sesak rasa sakit didadanya.
Nayla memang berharap bertemu Satya. Satu bulan waktu yang diberikan Mama Riana untuk menyelesaikan hubungannya dengan Satya secara baik-baik tidak akan disia-siakan oleh Nayla. Bagaimanapun juga, Nayla memulai awal bersama Satya dengan baik, sudah seharusnya bukan berakhir dengan baik-baik pula?
Tanpa Sari dan Nina ketahui, bahwa dibalik sikap cerianya, Nayla menyimpan kesedihan yang mendalam menghadapi masa-masa akhir kebahagiaannya dengan laki-laki yang sekarang menjadi pacarnya.
Ting.....
Suara lift memaksa mereka melangkahkan kaki setelah pintunya terbuka. Dengan langkah penuh percaya diri, Nayla berjalan santai ke kantin yang berada dilantai dua bersama Nina dan Sari, sahabatnya.
Jangan heran, kampus sebaik ini memiliki kantin yang cukup besar disetiap lantainya. Meski begitu, setiap kantin-kantin itu akan tetap penuh menampung banyaknya mahasiswa dan mahasiswi yang tak terhitung jumlahnyanya.
Dilantai dua ini didominasi dengan ruang-ruang fakultas industri, fakultas otomotif dan sejenisnya. Jadi jangan heran, ada ruang khusus dilantai dua ini yang berisi banyak banget mesin-mesin serta alat-alat permesinan.
Nah, di Lantai 2 inilah ruang fakultas tempat Satya kuliah berada, tak lain fakultas industri. Maklum, keluarga Satya memiliki perusahaan dibidang industri. Sedangkan Satya adalah satu-satunya anak lelaki yang akan meneruskan perusahaan keluarganya.
Nayla melangkah melewati pintu masuk kantin. Matanya mencari kesana - kesini dimana Satya berada.
"Itu dia..."
Kata Nayla tatkala mendapati sosok tubuh yang sangat dia kenal sedang duduk membelakanginya. Dia ditemani dua sosok lainnya yang sudah Nayla kenal.
"Haloo Andi, Haloo Joan..." Sapa Nayla sambil menarik kursi disebelah tempat duduk Satya dibalas ucapan serupa dari keduanya.
Satya tersenyum mendapati gadis cantiknya mendapatkan kembali keceriannya.
"Sudah baikan?" Tanya Satya lembut memandang ke arah Nayla. Tangannya membelai puncak kepala Nayla pelan.
Tanpa Satya sadari, sepasang mata yang diabaikannya sedari tadi, menatapnya dengan tajam penuh aura kebencian.
"Sudah.." Jawab Nayla lembut.
"Sari sama Nina mau sarapan apa?" Tanya Nayla mengalihkan pandangan kearah dua sahabatnya ini..
"Aku seperti biasa aja, Nasi goreng" Ucap Nina datar.
Pendengaran Nayla menangkap suara Nina yang tidak seperti biasanya. Saat ini suara Nina terkesan dingin dan tidak bersahabat.
Nina kenapa ya? Nina berbeda dari sebelumnya...
***
Halooo... salam manis dari author..
Terimakasih ya atas dukungannya, kritik dan saran sangat author tunggu dikolom komentar..
__ADS_1
Jangan lupa vote nya yaa.. biar author semakin semngat update 😘😘
Terimakasihh..