Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Keras Kepala


__ADS_3

Dunia itu,


Ibarat bayangan.


Semakin dikejar, ia semakin menjauh.


Maka, tinggalkan ! Biar dia yang mendekat.


Brakk !!


Pukulan ketiga yang Satya layangkan pada meja sofa di apartemennya. Berulang kali ia mengumpat.


Berulang kali ia mengeram marah.


"Brengs*eek !"


Nafas lelaki itu memburu. Dadanya naik turun menggambarkan level kemarahan yang tiada batas.


"Siapa yang bermain-main dengan gue, Jo..."


"Ya mana gue tahu ." Balas Joan dari sampingnya, yang sedikit ikut khawatir saat melihat keresahan didiri Satya.


Tidak. Bukan sedikit.


Joan bahkan sudah khawatir sejak pertama kali Satya menelfon dan menyuruhnya datang ke apartemen milik lelaki itu. Apalagi,


Malam-malam seperti ini.


"Berani sekali dia.." Berbicara dengan nada rendah. Tapi, penuh penekanan. Satya berdiri, mengambil laptop satu lagi di kamarnya.


Jadi,


tepat sejak ia memutus sambungan telefonnya dengan Nayla, satu panggilan dari nomor lain masuk ke ponselnya.


Tahu siapa yang menelfon, Satya segera menerima panggilan itu dan mulai bertanya. "Iya paman. Ada apa?"


Rupanya,


yang menelfon Satya adalah pamannya.


Paman yang dulu merupakan sekretaris pribadi papa nya. Dan karena papa nya sudah meninggal, maka sekarang paman-nya itulah yang sementara menggantikannya untuk memimpin perusahaan.


Tentunya, sambil menunggu Satya siap menjadi pemimpin yang sesungguhnya.


Panjang lebar sang paman menjelaskan kepada Satya, tentang kondisi perusahaan peninggalan keluarganya yang sedikit goyah. Perusahaan yang akan menjadi milik Satya dimasa depan, sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Sistem keamanan data perusahaannya yang memiliki tingkat keamanan tinggi, ada seseorang yang bisa menyerangnya.


Dan itu cukup membuat perusahaannya sedikit terguncang.


Ada beberapa data yang hilang,


membuat beberapa karyawan harus memulai mengerjakan pekerjaannya lagi dari awal.


Meeting dengan beberapa klient juga sampai harus ditunda, dan beberapa pengerjaan proyek besar juga harus sampai di undur.


Sampai menimbulkan kerugian yang, cukup besar.


Satya lupa,


persisnya apa saja yang paman katakan. Tapi, ada satu kalimat yang membuat Satya tidak bisa berhenti memikirkannya sampai sekarang.


"Kau sedang bermain-main dengan siapa Satya? Berhentilah bodoh.! Berhenti membuat masalah. Sebelum perusahaanmu tutup dan gulung tikar !"


Sang paman berkata keras saat tadi, membuat Satya sempat terhenyak kaget dan menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Makanya, kalau mau melawan orang, cari tahu dulu siapa yang mau lo lawan..!" Celetuk Joan dengan setengah jengkel.


Heh,


Satya merasa tidak membuat masalah dengan orang hebat manapun.


Satya melirik sinis sang sahabat yang ada disampingnya. "Gue tidak membuat masalah dengan siapapun, Bangs*at !" Kemudian Satya kembali ketempatnya, dan mulai membuka laptop satu lagi yang berisi data-data penting perusahaannya.

__ADS_1


"Yakin?" Tanya Joan dengan tidak percaya.


"Ya, terkecuali Zeko dan laki-laki itu.."


"Suami Nayla?"


"Hem" Menjawab singkat, Satya fokus pada semua data di laptop yang ia periksa.


"Lo yakin dia orang biasa-biasa saja..?"


Satya menghembuskan nafasnya kasar. Diraihnya botol kaleng berlambang bintang dan langsung meneguk isinya dengan cepat. "Tentu saja yakin. Gue sudah mencari tahu siapa lelaki itu.


Dia tidak lebih dari pemilik toko buku Gramedia. Dan, karyawan biasa di GMT Group."


"Masak sih?" Memasukkan dua butir kacang kemulutnya, Joan sedikit tidak percaya kalau Reyhan lelaki biasa saja.


"Lo gak percaya sama kemampuan gue?"


Iya juga sih, Satya hampir tidak pernah meleset kalau soal mencari tahu latar belakang seseorang.


Tapi, tetap saja kata-kata Reyhan kala itu sangat mengganggu pikiran Joan.


"Dia itu pendatang. Membangun toko buku dan sudah berhasil membuka cabang di beberapa kota lain. Usaha toko buku nya memang cukup sukses, tapi dia sama sekali tidak memiliki riwayat memimpin perusahaan.


Ya, kecuali bekerja di GMT Group. Itu pun, dia baru resmi menjadi karyawan tetap sesaat setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya."


"Hanya itu?" Joan memicingkan mata, masih sedikit tidak percaya.


"Oh satu lagi..."


"Apa?" Berharap informasi dari Satya kali ini merupakan informasi penting. Sehingga Joan bisa menyimpulkan siapa Reyhan sesungguhnya.


"Dia juga merawat beberapa anak-anak jalanan gitu. Semacam memiliki panti asuhan."


Joan terkejut.


Benar, lelaki itu sungguh terkejut. Dalam hatinya, berdesir rasa kagum pada sosok suami Nayla, yang menjadi rival-nya Satya.


Mana ada lelaki seperti itu hyung? Menangis hati Joan dibuatnya.


Dia kalah jauh, men.! Joan saja kalah jauh jika dibandingkan dengan Reyhan.


Apalagi, Satya.


Satya tidak apa-apanya dibanding suami Nayla. Jadi, Joan tidak heran kalau Nayla mati-mati an memilih lelaki itu dari pada Satya.


Tapi,


Joan termasuk sahabat yang setia. Maka dia tidak punya pilihan lain, selain tetap berada di pihak Satya. Mendukung lelaki itu, sambil sesekali memberi nasihat-nasihat kepada Satya.


Yang tentu saja, tidak akan pernah Satya dengar nasihat darinya.


"Percaya sama gue Sat, dia bukan orang sembarangan."


Tuh kan, sudah tahu tidak akan Satya dengar, Joan masih saja memberi masukan pada Satya.!


Satya yang tengah fokus memeriksa data di laptopnya merasa tidak terima dengan kesimpulan Joan. "Apa an sih lo.."


Joan memajukan kepalanya yang sedari tadi bersandar disofa, untuk mensejajarkan dengan wajah Satya. "Percaya sama gue.


Dari kepribadiannya saja, gue tahu dia bukan orang biasa. Dia itu tenang, santai. Dia pintar menguasai keadaan. Dan orang seperti itu, tentu bukan orang biasa."


"Diem lo.! Lo tuh gak tahu apa-apa Jo.!"


Tuh kan, makian lagi yang Joan dapatkan setiap mengingatkan Satya.


Lelaki itu memang selalu seperti itu.


Meremehkan masukan dari Joan, tanpa mempertimbangkan sedikitpun.


Memang, Joan sebodoh itu apa?


Dasar, Satya si keras kepala !

__ADS_1


"Sistem data diperusahaan gue tuh memiliki keamanan yang cukup tinggi Jo.


Jangan kan lelaki itu yang tidak pernah bergelut didunia perusahaan, perusahaan lawan yang cukup besar dikota gue saja tidak bisa meretasnya. Apalagi, lelaki itu."


Satya kembali meneguk minumannya, beristirahat sebentar dari aktifitasnya memeriksa data dilaptop.


Lalu, dia menoleh ke arah Joan. "Lo pikir deh, dia punya akses dari mana coba buat menyerang data perusahaan gue? Paham apa dia soal perusahaan selain berkas yang mesti direvisi ulang"


"Ya siapa tahu.." Joan menjawab cepat. "Lo tuh kebiasaan Sat. Jangan asal ngeremehin seseorang." Termasuk gue. "Coba lo cari tahu sekali lagi, mumpung masih ada waktu."


"Dih, ogah."


Satya juga mulai jengah, perdebatannya dengan Joan tidak akan ada habisnya jika Satya tidak menghentikannya.


"Dah lah Jo. Jangan ribet.


Gue yakin bukan dia orangnya. Dia ga akan mampu melakukan hal sejauh itu terhadap perusahaan gue."


"Ya sudah..."


Joan menyerah. Angkat tangan sebagai bukti menyerahnya sungguh-sungguh. Kali ini Joan memilih diam, menemani Satya di apartemennya sambil menghabiskan isi kulkas lelaki itu.


Ya mau apa lagi memang?


Tadi, Satya menelfonnya kan memang menyuruh Joan datang ke apartemennya untuk menemani Satya?


Lagian,


apapun yang keluar dari mulut Joan, sama sekali tidak Satya dengar kan?


"Eh, kok lo tumben ga ada niatan buat mengganggu anak-anak jalanan yang dirawat suami Nayla? Kali aja kalau lo celaka i salah satu dari mereka, laki-laki itu menyerah dan menyerahkan Nayla?"


Satya mendengus. Lagi-lagi ia lirik Joan yang tengah santai memasukkan cemilan ke dalam mulutnya. "Gue gak sebiadab itu kali Jo. Mereka kecil, gak tahu apa-apa soal masalah gue sama lelaki itu.


Lagian, gue punya Merry. Dia sama kecilnya dulu saat ditinggal papa. Gak tega gue."


Bagus.


Joan sedikit lega mendengarnya. Jujur, pertanyaannya tadi cuma sekedar mencari jawaban, apakah Satya masih punya hati, atau tidak.


"Tapi, bayi lo gimana?"


Pertanyaan yang sontak membuat Satya mencelos. Dipukulnya kepala Joan dengan keras karena mengingatkannya pada calon anak.


Sudut hatinya merasa sakit. Teriris ketika mengingat kata terakhir yang ia ucapkan ke Nina di apartemennya ini.


Satya sedikit menyesal. Hanya saja, ia enggan mengakui penyesalannya.


"Gue yakin, dia bakal baik-baik saja kalau sama Nina." Bergumam lirih. Hanya Satya sendiri yang mendengarnya.


"Btw, Andi udah kabarin lo belum? Hari ini, dia kembali ke sini sampai beberapa minggu kedepan. Buat ngurusin berkas kepindahannya."


"Enggak tuh. Gak hubungin gue sama sekali" Satya menjawab santai.


"Dia ngajakin ngumpul. Besok malem. Lo bisa kan?"


Satya menimang-nimang. Mengingat jadwalnya beberapa hari ini.


Besok malam ya? Ia seperti memiliki kesibukan lain.


Tapi, apa?


Seketika dia ingat. "Enggak bisa gue. Gue ada acara.! Next time aja deh ya? Orang masih seminggu juga disini."


"Ya elahh" Joan mencebik. "Acara apa sih lo.? Biasanya ga pernah nolak deh."


"Sorry, acara gue lebih penting." Mengabaikan kekesalan Joan, Satya tetap fokus dengan laptopnya. "Jauh lebih penting malah."


"Alah eloo... Kecuali urusan Nayla, apa sih yang lebih penting dari pada ngumpul bertiga?"


Satya tidak lagi menjawab.


Namun, dibalik wajahnya, lelaki itu menyeringai penuh makna.

__ADS_1


__ADS_2