Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Suamiku Hebat


__ADS_3

Cinta itu ibarat warna. Semuanya indah


Apalagi jika pemiliknya mampu memadukannya menjadi degradasi yang menakjubkan.


Sekalipun itu warna hitam.


Cinta adalah suatu ketenangan. Bahkan hanya melihatnya tersenyum dari jauh saja, kau juga mampu merasakan tenangnya.


Nayla masih memandang takjub laki-laki disampingnya yang tengah memegang kemudi. Lelaki yang belum pernah Nayla kenal sebelumnya. Lelaki yang tiba-tiba Papa kenalkan kepadanya sebagai calon suami. Lelaki yang sekarang, sudah menggeser nama Satya dihatinya. Dia yang sudah berjanji akan selalu siap mendengarkan cerita versi Nayla.


Hari ini, ada banyak hal yang Nayla mengerti hanya dalam masuk ke salah satu dunia Reyhan. Dunia kampusnya.


Dia adalah lelaki yang waktunya habis untuk membaca buku. Lelaki yang meskipun memperlakukan teman perempuannya dengan lembut tetapi tidak akan membiarkan mereka menyentuh bagian terluar dari hatinya. Reyhan, lelaki dengan julukan manusia kutup yang tidak mungkin tertarik dengan sesama manusia.


Lantas, sudah berhasilkah Nayla masuk ke hatinya?


"Rey"


"Hum" Menjawab tanpa melihat. Karena pandangannya fokus dengan jalanan didepan. "Ada apa?"


"Eh, gak jadi deh. " Niat hati bertanya adakah Nayla dihatinya. Tapi diurungkan, Nayla terlalu malu. Masih tidak yakin jika dirinya pantas masuk kedalam menyentuh hati sang suami. Ya, meskipun Reyhan sering mengatakan kalau dia mencintai Nayla, tapi, benar Nayla sehebat itu?


"Kalau ada yang mengganjal itu diutarakan, jangan diterka-terka sendiri"


Nayla terkekeh "Nggak kok, aku cuma mau ngucapin, selamat ya, atas predikat Cum Laude -nya. Suamiku hebat. Nayla bisa nggak ya, ikutin jejak kamu?"


"Bisa lah, asal kamu banyak-banyakin membaca.."

__ADS_1


"Tapi aku gak bisa jadi kutu buku kayak kamu?"


Reyhan melirik wajah sang istri yang terlihat menahan senyum. Memaksa Reyhan untuk tersenyum juga.


"Kamu ini mengejek atau memuji sih?"


Nayla tergelak. Tertawa keras membenarkan semua pilihan dari pertanyaan itu. Mengejek dan memuji itu, beda tipis.


Begini saja rasanya sudah sangat menyenangkan. Perasaan yang tidak Nayla mengerti adalah, kenapa hanya disamping Reyhan seperti ini saja mampu membuat dirinya merasa sangat tenang?


Usapan tangan Nayla rasakan menyentuh puncak kepalanya. Mengacak-acak rambut yang tadi sudah ditata dengan rapi. Tapi hal itu lantas tidak menghentikan tawa Nayla.


"Aku minta hadiah"


"Hadiah?" Tanya Nayla dengan gugup. Seketika otaknya berpikir keras. Kiranya apa yang pantas Nayla berikan sebagai hadiah? Nayla saja tidak tahu barang-barang kesukaan Reyhan. Sepatu? Atau Pakaian?


Mobil berwarna merah itu berhenti didepan toko buku miliknya. Dari dalam, terlihat beberapa orang yang memandang dalam tatapan kagum pada mobil miliknya. Ah benar, mobil yang Reyhan berikan ini memang sangat bagus.


Nayla mengerjab saat sebuah tangan menggenggam erat tangannya. Masih berada didalam mobil.


"Hadiahnya, aku mau kamu..."


"A-aku?"


"Iya, aku mau kamu selalu ada disisi ku seperti ini Nayla, sekalipun mungkin masih ada nama orang lain dihatimu,


Aku mau kamu bertahan, berjuang bersama ku mempertahankan pernikahan ini..."

__ADS_1


Nayla tersenyum. "Iyaa..."


Reyhan mendengus kesal. "Jangan cuma iyaa iyaa.. Kamu harus ingat, ada aku


Tugasku adalah memastikan bahwa kau hidup dengan layak, hidup dengan mudah, dan hidup dengan bahagia... Sedangkan tugasmu adalah, membantu tugasku dengan cara tersenyum.. Aku mau senyum seperti ini yang akan selalu menghiasi wajah cantik mu."


Mata gadis itu berkaca-kaca. Sudah menggenang diujung pelupuk. Hanya dalam satu kedipan mungkin pipinya akan basah. Dia terharu, diperlakukan dengan segitu baiknya.


"Terimakasih Reyhan..."


Dan dengan sekilas mata, kini bibir lelaki itu sudah menyentuh bibirnya. Mengecupnya dengan lembut dan dalam. Ciuman yang memabukkan untuk keduanya. Hingga beberapa menit lamanya.


Sebelum akhirnya, Reyhan melepaskan ciumannya dengan nenyatukan dahi mereka.


"Aku mencintai mu, Nayla...."


Hembusan nafas yang tersenggal itu menerpa kulit Nayla. Membuatnya diam mematung.


"Ayo turun...."


Dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.


Keduanya melangkah beriringan melewati pintu masuk Toko Buku. Disana ada Jeni yang tengah duduk dimeja kasir dengan tangan sibuk membolak balik sebuah buku. Reyhan berjalan menghampiri nya.


Sementara, mata Nayla menangkap satu sosok perempuan yang familiar. Sosok yang dia kenal.


"Alma.."

__ADS_1


__ADS_2