
Makan pagi sudah tersaji dimeja makan pun dengan Nayla dan Reyhan yang sama sama kikuk tengah duduk dikursinya masing-masing yang berdekatan. Untungnya hari ini, Mama Riana dan Papa Zeko sudah pergi keluar kota sejak tadi dan melewatkan sarapannya dirumah.
"Ada yang mau kamu ceritain ke aku?" Tanya Reyhan memecah suasana. Reyhan merasa tingkah laku Nayla berbeda dari biasanya, sejak semalam.
"Memangnya mau cerita apa?" Jawabnya dengan ketus. Sambil terus memakan sarapannya meski terlihat tidak berselera.
Reyhan mengambil gelas didepannya, meneguk habis minumannya.
"Kali aja ada... habisnya kamu aneh..." Sanggah Reyhan sengaja menghentikan makannya. Dan beralih menatap ekpresi wajah Nayla.
Reyhan akan membaca perasaan Nayla dari raut wajahnya. Mencoba keberuntungan kali aja berhasil mempelajari dengan benar apa yang dibacanya semalam dari media online. Semalam setelah hubungan panas mereka, Nayla sukses membuat Reyhan tidak bisa kembali tidur karena gumamannya.
"Kamu tuh yang aneh..." Ucap Nayla dengan bibir mengerucut dan mengalihkan pandangannya dari tatapan Reyhan.
Menurut yang Reyhan baca, seseorang yang enggan menatapmu ketika sedang berbicara itu berarti menggambarkan rasa ketidaknyamanan, rasa ketidaksukaan. Atau bisa juga sedang tidak ingin membicaran topik obrolan yang sedang mereka bahas. Tapi,
kenapa juga bibirnya cemberut seperti itu?
Reyhan menggelengkan kepalanya tak berdaya.
Perempuan dan segala kerumitannya.!
"Nay...." Panggil Reyhan dengan suara lembutnya.
"Apa?" Dan dijawab Nayla dengan acuh.
Reyhan menghela nafanya putus asa. Sepertinya acara belajarnya semalam yang dadakan itu belum berhasil. Yasudah lah, mungkin Nayla ingin membahas topik lain.
"Mau jalan-jalan?" Tawarnya dalam mode merayu. Reyhan memang bukan pemain wanita. Tapi setidaknya Reyhan tau bagaimana menghadapi pasangannya yang sedang merajuk.
Nayla tersenyum tipis. Tawaran yang menggiurkan memang. Bukannya memang itu kan yang Nayla mau sejak kemaren?
"Enggak. Aku mau istirahat dirumah. Capek...!"
Maaf Rey, merayuku tidak semudah itu..!
"Trus kamu mau nya ngapain? aku temenin ya?" Bujuk Reyhan lagi membuat hati Nayla berbunga-bunga.
"Nggak perlu.. ngapain juga kamu mau repot-repot nemenin aku? Toh biasanya sibuk sendiri kan?"
"Iya-iya, aku minta maaf ya soal yang kemaren...?" Ucap Reyhan memohon. Lalu menarik tangan Nayla menggenggamnya. "Hari ini aku mau nebus kesalahan ku... kasih aku kesempatan, Pleaseee..."
Nayla berpura-pura berpikir dulu. Padahal jawaban akhirnya pasti mengangguk setuju. Nayla sangat merindukan sosok Reyhan yang seperti ini. Sementara Reyhan kini tersenyum manis. Menampilkan dua lesung pipit yang sungguh menawan.
Ya Tuhan, sungguh senyuman paling indah yang pernah kulihat..!
"Pleasee ya... aku gak bisa didiemin sama kamu kayak gini..."
Nayla membelalakkan matanya tak percaya dengan ekspresi Reyhan sekarang.
"Lebaaay.... yaudah ayooo..!" Jawab Nayla dengan mata yang berbinar. Dengan menyembunyikan senyum yang merekah bahagia. Dan kemudian mereka sudah bersiap menelusuri pusat kota.
"Nay...."
Nayla yang masih membetulkan make up nya didalam mobil hanya menjawab dengan cuek.
"Hemmmbb..."
"Jangan dandan cantik-cantik... aku gak mau istriku yang cantik jadi santapan mata laki-laki liar..."
Nayla baru akan menjawab saat telfon Reyhan berbunyi.
Reyhan melihat ponselnya, kemudian mengkerutkan dahi sebelum mengangkatnya, membuat perasaan Nayla jadi tidak enak.
Ya Bimm....
__ADS_1
Besok aja bisa nggak sih...? Aku lagi sibukk..!
Ya Tuhan... menyebalkan sekali.! yasudah aku kesana sekarang..!
Setelah menutup telefonnya, Reyhan melirik Nayla takut-takut. Lalu dibalas tatapan tajam istrinya yang sudah mempunyai feeling buruk dari tadi.
"Naaaay...." Panggil Reyhan pelan-pelan.
"Apa lagi? Mau ngomong apa kamu?" Jawab Nayla dengan ketuss.
"Sayaang...." Rayu Reyhan dengan tangan kiri menggenggam tangan kanan istrinya. "Maafin aku yaa... hari ini ada kerjaan mendadak nih...
Bisa nanti sore aja nggak kita jalan-jalannya?" Izinnya memelas.
Pantas saja perasaanku buruk..! sialan!
Nayla mengutuk Reyhan dalam hati.
Apa Reyhan tidak peka kalau Nayla sedang sangat merindukannya? Apa Reyhan tidak mengerti kalau kini Nayla tengah khawatir karena perempuan asing kemaren? Apa Reyhan tidak bisa melihat kekhawatiran itu?
Kesedihannya tidak dapat disembunyikan lagi dan sekarang malah terpancar jelas diwajahnya. Namun Nayla enggan memohon, toh rasanya percuma juga.
"Yaudah deh...." Jawab Nayla cuek kemudian mengalihkan matanya yang berkaca-kaca keluar jendela.
Membuat Reyhan jadi tidak tega dan merasa bersalah karenanya. "Nay, lihat aku..."
"Gak mau, kamu jahat. Aku benci kamu..!" Ucapnya dengan suara yang bergetar. Reyhan sudah memberi harapan palsu. Menarik ulur perasaan bahagianya.
"Sayaang.. kamu nangis.? Atau kamu ikut aku aja gimana? Mau kan?"
***
Manusia berlalu lalang didepannya, pun dengan para pelayan restoran yang sibuk dengan urusan pekerjaannya belum bisa mengalihkan fokus pikiran Nayla hari ini.
Langit sedang mendung. Hamparan awan biru yang biasanya menyempurnakan hamparan pantai didepannya ini terpaksa harus ditarik mundur terlebih dahulu dan digantikan warna abu-abu yang kelam.
Deburan ombak masih masih mempunyai nada dan irama seperti biasanya. Hanya saja, suara teriakan bocah-bocah kecil yang biasa bermain pasir-pasiran dipinggir pantai berkurang drastis.
Nayla duduk disalah satu kursi dengan tangan kanan memangku dagunya. Didepannya ada meja yang sudah lengkap dengan hidangan makanan diatasnya. Pikirannya berkelana mencoba menerima kepingan-kepingan kejadian yang diluar nalar.
Tadi, Reyhan memilih jalan tengan dengan mengajak Nayla dan sekarang berakhir dengan meninggalkan Nayla sendirian direstoran ini.
Tapi bukan itu yang membuatnya kehilangan akal, melainkan ribetnya Reyhan mempersiapkan diri sebelumnya.
Bagaimana tidak, setelah menerima telfon dari seseorang tadi Reyhan langsung putar arah balik kerumah. Hanya untuk menukar mobil.
Lagi-lagi Nayla terkejut saat ternyata mobil lamanya sudah disulap menjadi butik pribadi yang bisa berjalan milik Reyhan.
Bagian belakang kemudi telah penuh dengan setelah jas yang digantung rapi, lengkap dengan sepatu dan dasi kupu-kupunya.
Sungguh, kejutan yang tidak sanggup diterima akal sehat!
"Nayla..."
Terlihat Reyhan berjalan kearahnya dengan wajah terpancar kebahagiaan. Ditangannya membawa beberapa lembar kertas yang sepertinya merupakan berkas penting.
Sejenak Nayla terpaku ditempat duduknya, menatap penampilan baru Reyhan untuk kesekian kalinya, tapi masih saja membuat Nayla kagum. Reyhan dengan setelan tuxedo sama persis dengan tempo hari yang tidak sengaja Nayla lihat membuatnya terlihat berbeda.
Reyhan yang sekarang jauh lebih mengagumkan dan berwibawa.
Benarkah itu Reyhan ku? Ah kenapa dirimu selalu penuh misteri Rey?
sepertinya Nayla jatuh cinta lagi.
"Sayaang..." ucap Reyhan lalu mencium kening Nayla tiba-tiba. "Terimakasihh ya.."
__ADS_1
"Untuk apa?" Nayla mengkerutkan dahi sebelum melanjutkan ucapannya. "Karena aku sudah mau menunggumu sendirian disini?"
Reyhan baru akan menjawab saat seorang perempuan menepuk pundaknya.
"Reyhan..." Panggil perempuan itu kepada Reyhan. Sontak pandangan Nayla teralihkan.
Nayla menatap perempuan itu dari bawah sampai atas.
Siapa lagi dia?
Cantik. Dengan rambut tergerai lurus dan poni yang memenuhi keningnya. Tinggi badannya juga oke. Dan pakaiannya, baju warna putih dibalut blezert warna hitam dipadukan dengan rok yang menutup sampai atas lutut, terlihat jelas kalau dia adalah wanita karir.
Tunggu.! Apa wanita ini adalah wanita yang kemaren?
"Reyhan sudah makan siang belum? Makan bareng yuk" ajak perempuan itu dengan centilnya sukses membuat hawa panas masuk melalui pori-pori kulit Nayla.
Reyhan menatap Nayla sebelum menjawab. Sialnya Nayla membalas tatapan Reyhan dengan sorot mata kesal membuat Reyhan kesusahan menelan salivanya. "Maaf Bu, hari ini saya ada acara.."
"Ya Tuhan, Panggil Dini saja Rey, gak usah ada embel-embel Bu, kan diluar kerjaan.. Aku juga masih muda kali,.." Jawab perempuan itu santai tanpa peduli tatapan tidak suka dari Nayla.
Nayla melingkarkan tangannya ke lengan Reyhan karena merasa posisinya terancam.
"Oiya Bu, kenalin ini istri saya..."
Ucap Reyhan sambil menatap Nayla dengan senyum terbaiknya. Untungnya Reyhan peka!
Perempuan bernama Dini itu membulatkan matanya tidak percaya.
"Lohh, Reyhan sudah punya istri? Tak kirain belum... Sayang sekali dong aku kalah cepet.."
Katanya sambil tersenyum sinis kearah Nayla.
Nayla berusaha sabar.
Heey, Harusnya Nayla kan yang mesti tersenyum sinis begitu? Kenapa malah dia?
Nayla menghirup nafas panjang, mencoba tetap ramah meskipun Nayla sangat tidak menyukainya.
Dasar wanita ular.
Nayla mengulurkan tangannya kedepan memperkenalkan diri. "Nayla...."
"Dini..." ucapnya sambil membalas jabat tangan Nayla. "Beruntung banget kamu dapetin Reyhan yang kaya dan sempurna, tapi kayaknya Reyhan deh yang nggak beruntung dapatin kamu..."
"Maksudnya apa?" Tanya Nayla dengan nada yang meninggi meski belum sampai dilevel teriak. Nayla melunak kembali saat tangan kanan Reyhan membelai punggung tangan Nayla yang tengah melingkar di lengan kiri suaminya.
"Nggak kok..." Sanggah Reyhan membalas ucapan sarkas perempuan tadi. "Aku yang beruntung bisa dapetin Nayla. Dia cantik dan baik..." Lagi-lagi Reyhan memberikan senyum hangatnya ke Nayla sebelum beralih menatap ke arah Dini.
"Oiya bu, terimakasih atas persetujuannya ya... semoga kedepan lebih menguntungkan.."
Dini berdecak kesal sebelum berlalu pergi. "Oiya, Nay siapa tadi, Nayla kan ya... Dijaga yang bener ya suaminya.. Hati-hati..."
Dan Dini benar-benar pergi dari hadapan mereka.
Langsung saja Nayla melepas tangannya dari lengan Reyhan dengan kesal. Wajahnya sudah tampak seperti singa betina yang kelaparan. Menatap Reyhan dengan sorot mata membunuh.
Nayla kembali duduk dan meluapkan amarahnya pada makanan.
***
Haloo Readerss... Author kembali lagi nihh..
Oh iya... Terimakasih untuk like nya diepisode Amarah dan Gairah yang membludakk...
Aku seneng sekali gesss... Kalian luar biasa 😘
__ADS_1
Selamat hari senin kalian semuaa.. ❤️