
Diufuk timur, mentari mulai menampakkan diri dengan malu-malu. Kabut tipis menyelimuti suasana pagi yang begitu sendu. Seperti berjalan seiringan dengan perasaan Nayla yang sedang terbelenggu.
Gadis itu sedang duduk termenung dibalkon lantai dua. Hari ini, perasaannya sedang buruk. Sebenarnya bukan masalah penting, namun entah kenapa hal itu masih saja mengganggunya.
Ting
Bunyi ponsel dalam genggamannya membuyarkan lamunan Nayla. Kemudian dia beralih membaca pesan masuk digawainya.
Terimakasih untuk mu Nay, kamu memang sahabat terbaikku...
Nayla tersenyum masam melihat foto sahabatnya yang juga tersenyum manis kearah kamera, dalam riasan make up ala pengantin pada umunya dan balutan kebaya berwarna putih. Nina tampak anggun dan cantik natural. Ingin rasanya memeluk Nina di moment seperti ini.
Hari ini adalah hari pernikahan Nina dan Satya. Sesuai kesepakatan tiga gadis yang sudah bersahabat lama, Nayla tidak akan menghadiri pernikahan itu. Bukan Nayla takut sakit hati melihat mantan kekasih harus menikah dengan sahabat yang sudah Nay anggap sendiri seperti kakak. Hanya saja, Nayla takut menjadi pengacau fikiran Satya. Semua tau betul, dihati Satya, namanya masih terukir dengan sangat jelas.
"Kamu kenapa?" Tanya Reyhan menghampiri Nayla dengan membawa nampan berisi teh hangat, dan roti tawar dengan selai strowberry. Khusus dia bikin sendiri untuk istrinya tercinta.
Tangannya membelai lembut pipi Nayla. "Kalau ada apa-apa itu cerita.." Kemudian Reyhan duduk dikursi samping Nayla.
__ADS_1
"Aku gak papa kok Rey..." Jawab Nayla tenang. "Hari ini, Nina menikah. Dan aku gak bisa dateng kesana.."
Reyhan baru akan menjawab saat lagi-lagi ponsel Nayla berbunyi. Dia menatap Reyhan sebentar sebelum membuka ponselnya. Laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu tetap santai, meraih gelasnya dan menyesap hangat teh didepannya.
Nayla...
hari ini aku akan menikahi Nina sesuai permintaanmu. Kamu tahu betul siapa yang sebenarnya aku cintai Nay
Ku mohon
bertahanlah sampai bayi itu lahir, dan aku akan kembali padamu
Nayla menghembuskan nafasnya berat. Dia begitu muak membaca pesan masuk yang baru saja Satya kirim untuknya. Apa Satya sudah benar-benar gila? Siapa juga yang ingin kembali bersamanya?
Lantas, dia juga berfikir. Apa yang sebenarnya membuat Nayla merasa terusik dengan pernikahan itu? Sedangkan, Nayla sendiri tidak pernah menginginkan kembali menjalin hubungan dengan Satya.
Lakukan peranmu menjadi suami dengan baik, Satya. Kau harus ingat, Nina adalah sahabat yang sudah kuanggap seperti kakak ku sendiri.
__ADS_1
Nayla melempar asal ponselnya ke meja setelah mengirim balasan singkat. Lagi-lagi hatinya merasa kacau.
"Kamu sakit hati?" Tanya Reyhan yang memang sudah tahu siapa laki-laki yang akan menikah dengan Nina. Dan langsung dibalas gelengan keras dari Nayla.
Nayla memang sudah tidak sakit hati, tapi Nayla sendiri tidak tahu apa yang membuat perasaannya sedikit kacau.
"Kamu cuma bikin teh satu gelas ya? Buat aku mana?" Tanya Nayla mencoba mengalihkan pembicaraan. Berharap pembahasan tentang Nina dan Satya segera berakhir. Syukur-syukur jika Reyhan mengajaknya jalan-jalan lagi, lumayan menyibukkan diri membuat Nayla melupakan semuanya.
Reyhan tersenyum. "Aku memang sengaja membuat tehnya satu gelas saja, biar kita bisa berbagi.."
Hati Nayla menghangat mendengarkannya. Reyhan selalu membuatnya bahagia dengan hal-hal sederhana. Dan semua hal yang Reyhan lakukan sukses membuat Nayla merasa berharga.
Dipandanginya wajah tampan sang Suami. Bagaimana mungkin Nayla bisa menukar Reyhan hanya untuk kembali kepada Satya? Itu hal konyol yang tidak akan pernah Nayla lakukan.
"Alaahh, gombal..." Jawab Nayla dengan pipi merah malu.
"Nggak kok.." Sanggah Reyhan sambil mendongakkan wajah keatas. "Kamu lihat langit itu? Dulu, aku pikir hidup sendiri saja dengan menatap langit seperti ini sudah sangat menyenangkan, ternyata berbagi hal dengan mu jauh lebih membuatku bahagia..."
__ADS_1
Lalu Reyhan mendekatkan kursinya ke arah Nayla. "Aku tidak pernah memaksamu untuk memberi tahu semua rahasia kepadaku, aku yakin kamu sendiri ingin punya privasi... Tapi kamu harus ingat, ada aku Nay,
aku yang akan selalu siap mendengarkan ceritamu.."