
Jeni terisak disamping Nayla. Mengingat masa lalunya yang kelam. Penuh penindasan.
Sesekali dia mengusap matanya yang sembab.
Tapi suara tangisan itu masih terdengar dan semakin pelan.
Jeni tersenyum masam. Merutuki dirinya sendiri yang masih saja lemah.
Dasar payah !!!
"Maafin Kak Nay ya Jen, membuat kamu sedih lagi.."
Nayla mengusap lembut puncak kepala Jeni. Tidak habis pikir, didunia ini ternyata benar-benar ada penindasan semacam itu.
"Jeni kangen Ibu kak.."
Berkata sambil membuang nafas kasar. Memejamkan mata dan membiarkan air matanya habis tak bersisa. Detik berikutnya Jeni menarik nafasnya panjang, menghembusnya pelan. Dan seketika dia menghentikan tangisnya.
"Sudahlah... itu hanya masa lalu. Toh sekarang Jeni sudah punya kak Rey.."
Jeni tersenyum lebar. Senyum yang penuh kedamaian dan keamanan.
"Kalau begitu Jen, bagaimana nasib teman-teman mu ditempat itu sekarang?"
Nayla bertanya dengan antusias.
Kali ini dia sangat tertarik mendengarkan cerita kisah nyata tentang manusia misterius yang sudah menjadi suaminya.
"Seminggu kemudian.. Kak Reyhan melaporkan kasus itu ke pihak berwajib. Setauku, sekarang, teman-teman sudah aman ditangani badan perlindungan anak dikota itu. Sedangkan Bang Dirman, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mendekam dipenjara."
Nayla mengangguk-anggukan kepalanya paham.
__ADS_1
Benarkah Reyhan setulus itu?
Senyum simpul tersirat diwajahnya. Bangga. Dinikahi laki-laki yang berhati baik.
"Eh, tadi kak Nayla tanya siapa Kak Reyhan untuk kita kan?
Kak Rey itu ibarat rumah. Sesuatu yang memberi kita keamanan. Bukan hanya aku. Tapi kita."
Jeni berucap tanpa melihat Nayla. Dia menatap jauh pemandangan didepannya. Sedangkan Nayla, hanya diam.
Nayla tidak ingin menghakimi sendiri. Dia hanya ingin mendengar. Selebihnya, berusaha memahami.
"Kak Nay pernah denger kalau ibu adalah malaikat tak bersayap, sedangkan ayah malaikat tak berkuda? Ya, seperti itu lah Kak Rey. Dia malaikat yang tak berkuda dan tak bersayap. Dia bisa jadi ayah disatu sisi, dia juga bisa menjadi seorang ibu, meskipun tak sesempurna seorang ibu pada kenyataanya."
Nayla tersenyum kali ini. Senyum yang tulus.
Hatinya berdesir. Mengirimkan gelenyar aneh yang dibawa oleh aliran darah dari indra pendengarannya menuju hati.
Reyhan, maafkan aku belum sepenuhnya melupakan Satya. Tapi aku janji akan berusaha untuk itu.
"Masih ada lagi yang mau ditanyakan? Aku harus membantu Mbak Nana memasak Kak.."
Tanya Jeni menatap Nayla.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tak terasa hampir dua jam sudah Nayla mendengarkan cerita tentang hidup Jeni dan Reyhan.
Meski belum sepenuhnya. Tapi cukup untuk membuat hati Nayla perlahan menerima Reyhan dengan perasaan yang baik.
Tanpa paksaan.
"Sepertinya tidak... itu sudah cukup. Terimakasih Jen..."
__ADS_1
Jeni berdiri. Hendak beranjak meninggalkan Nayla yang tengah tersenyum puas dari rasa penasarannya.
"Jen tunggu...."
Jeni berhenti setelah Kakak iparnya itu dengan sigap menghadang nya. Menghalangi langkahnya.
"Apalagi Kak....?"
Bukankah baru saja dia bilang sudah cukup? Kenapa kakak iparku menggemaskan begini sih?
Nayla tersenyum kikuk. Merasa bersalah sudah mengganggu waktu masak bocah itu.
"Eee itu, Jen, apa Reyhan pernah punya pa..caaa..r?"
Tanya Nayla dengan terbata.
"Haha, Kakak kenapa lucu begini sih..? kalau mau tanya ya tanya aja, yang penting jangan sampek kedengeran sama Kak Rey..
Setauku nih ya, Kak Rey gak pernah ada pacar. Tapi dia punya sahabat perempuan. Sering kesini juga dulu. Namanya Kak Luna.."
"Kak Luna? Apa dia perempuan yang baik?"
"Dia baik kepada kami. Tapi Jeni gak terlalu suka. Entah lahh....
Tapi ada satu lagi. Seorang perempuan terang-terangan bilang suka sama Kak Rey.
Sayangnya kak Rey gak suka kayaknya sama dia. Soalnya dia judes banget sama kami. Namanya Alma.
Dah ya kak, Jeni pergii masak dulu....
Byeee Kak..."
__ADS_1
Belari ke dapur meninggalkan Nayla dengan rasa penasarannya.
Alma,?