
Kesederhanaan memang selalu membawa kebaikan. Entah dalam situasi yang mudah, ataupun yang sulit.
Saat ini, dia berada di kantor GMT Group.
Berdiri disalah satu ruangan berdinding kaca dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, mata Reyhan menatap kebawah mengamati kendaraan yang berlalu lalang. Menunggu seseorang yang sudah berjanji akan datang menemuinya.
Sesekali Reyhan melihat ponsel. Memastikan posisi keberadaan Nayla yang ia pantau dari jauh.
Lelaki itu tersenyum tipis, saat ia tahu Nayla berada ditempat yang aman. Ditempat semestinya dia berada.
Tok tok tok.
Suara pintu diketuk, memaksa Reyhan balik badan dan menyimpan kembali ponsel nya ke dalam saku. "Masuk."
Seorang lelaki memutar handle pintu. Menunjukkan kepalanya mengintip, sebelum kakinya berjalan melangkah masuk. "Halo Rey.."
Lelaki itu menatap Reyhan sinis sambil menutup pintu dengan keras. "Dih, sombong amat lo gak mau jawab sapaan gue"
Reyhan bergeming. Bertahan diposisi awalnya tanpa sedikitpun bergerak. Ia lihat dari sudut matanya, lelaki itu duduk tanpa permisi di salah satu kursi empuk yang seharusnya menjadi tempat Reyhan duduk.
Andree.
Lelaki itu masih sama. Masih semau dan seenaknya sendiri ditempat milik Reyhan.
Sebelum menghampiri Andree, Reyhan menuju meja nakas. Menelfon seseorang untuk mengantarkan minuman dan makanan ke ruangannya. Tak lupa, ia juga mengambil beberapa berkas dimeja kerjanya yang sudah ia siapkan sejak kemarin.
"Butuh bantuan gue juga akhirnya ya lo.. Biasanya anteng-anteng aja deh perasaan." Berkata dengan sombong, Andree membuka laptopnya. "Jadi, apa yang harus gue kerjain nih?"
Benar-benar ya Andree. Gak ada sopan-sopannya.
Baiklah, Reyhan akhirnya mengalah dan memilih duduk ditempat lain. Ia menyerahkan berkas-berkas itu kepada Andree. "Nih..."
"Antara Mulia Industri" Andree bergumam membaca berkas yang Reyhan serahkan. "Cih, punya dendam apa lo sama perusahaan ini, Bro? Berani-beraninya mereka berurusan sama lo?"
Reyhan mendesah frustasi. Pertanyaan Andree mengingatkannya pada kehancuran Deka Group, membuatnya ingin marah dan memaki biangkerok-nya. "Sudah sana, kerjakan saja tugas mu"
"Oke" Andree mulai memasang wajahnya serius karena ia tahu betul, jika Reyhan sudah tidak bisa diajak bercanda seperti ini, itu berarti masalah yang ia hadapi lebih dari kata serius.
"Cari mati nih perusahaan." Andree bergumam lirih. Hanya telinganya sendiri yang bisa menangkap gelombang-gelombang suara itu.
Oh iya, mungkin Andree lupa,
Bahkan, jika Reyhan sampai memanggilnya begini, itu berarti masalah yang ia hadapi sangat besar. Lebih besar dari badai.
Reyhan tidak sembarangan melibatkan Andree jika hanya masalah angin semilir yang menghampirinya.
Iya, dia adalah seorang hackers sejati yang handal.
Andree memang terkenal dengan tindakan frontal-nya yang berani, hingga kadang lelaki itu menerobos ketetapan hukum yang mengatur pekerjaannya demi memuaskan client-nya. Cukup beresiko memang, tapi sejauh ini,
Andree menjaga nama baik client-nya dengan sungguh-sungguh.
Terbukti, meski beberapa kali ia harus berurusan dengan hukum, satupun dari client-nya yang terlibat tidak pernah ia sebutkan namanya. Dan karena itu lah,
__ADS_1
Reyhan memilih Andree.
Bukan hanya sebatas menangani kasus ini, lebih dari itu. Andree adalah pengawal bayangan sistem data GMT Group. Sama dengan Reyhan, Andree adalah pemain dibalik layar.
Sambil memainkan laptopnya, Andree melanjutkan kalimatnya. "Tiga jam dari sekarang. Lo tahu betul kan apa yang gue butuhkan?"
Reyhan mengangguk. "Bentar lagi dateng."
Tak berapa lama berselang, pintu kembali diketuk. Seorang perempuan datang membawa sangat banyak makanan ringan yang tadi Reyhan pesan, dan juga minumannya.
Perempuan itu menaruhnya dimeja dengan hati-hati. Saking banyaknya, sampai memenuhi seluruh sisa meja disebelah laptop milik Andree. Lalu perempuan itu kembali keluar dengan langkah yang nyaris tanpa suara.
"Tuh, kurang nggak?"
"Emang kalau nambah boleh?" Serunya dengan mata berbinar.
Ya Ampun.
Dari dulu, Reyhan sama sekali belum menemukan dimana letak sambungannya. Yang jelas, sejak dulu Reyhan tahu. Andree tidak akan bekerja dengan nyaman tanpa camilan makanan ringan yang menyertainya.
Dia ini, laki-laki dewasa loh !
Sangat terkenal keahliannya di dunia pekerjaan yang kini ia geluti. Tapi kok?
"Boleh nggak?"
"Boleh sih, asal kelar aja kerjaan lo" Jawab Reyhan tanpa ingin memperpanjang perdebatan.
"So pasti , men ! Gue emang gak bisa konsen kalau gak sambil ngunyah." Andree membuka satu cemilan, dan menaruhnya tepat di samping tangan kirinya.
Reyhan hanya mengangguk, tanpa berminat untuk menimpali.
"Jauh-jauh dari gue. Jangan merusak konsentrasi gue dengan pemandangan tubuh lo yang bikin mata panas."
"Hem" Akhirnya, Reyhan memilih kembali ke meja kerjanya. "Tiga jam dari sekarang." Ucap Reyhan memperingatkan. Sambil mendaratkan bokongnya di kursi. Dan mengeluarkan ponselnya.
Kemudian, ruangan itu menjadi hening. Hanya ada suara jari tangan Andree yang bekerja memencet tombol keyboard bersahutan dengan suara gigi-nya yang mengoyak makanan ringan itu tanpa rasa kasihan sama sekali.
Sedang, Reyhan tidak bersuara.
Walaupun, jarinya juga bergerak lihai di ponsel, mencari celah lain untuk menghentikan tingkah Satya yang semakin hari semakin meresahkan.
Dia membuka banyak laman media. Memastikan tidak ada nama GMT Group sedikitpun yang Satya bawa-bawa dalam masalah ini.
Apapun yang menyeret keluarganya masuk ke jurang neraka paling dalam, Reyhan berharap nama GMT Group tetap bersih.
Karena, inilah sumber kekuatannya.
Reyhan tidak munafik. Kekuasaan membantunya melawan badai sebesar apapun.
Kekuasaan membuatnya kuat, melindungi orang-orang disampingnya.
Reyhan sama sekali tidak menyesali keputusannya diwaktu lalu. Dimana ia lebih memilih menjadi pemeran penting dibalik layar, dari pada menjadi pemeran utama yang tampil di setiap acara.
__ADS_1
Reyhan bukan lelaki yang gila kehormatan, walaupun sebenarnya, ia pantas dan sanggup melakukannya.
Andree fokus dengan tugasnya, dan Reyhan fokus dengan ponsel ditangannya.
"Rey, nambah..."
Tak terasa dua jam hampir berlalu, Reyhan melongo takjub saat makanan ringan dimeja itu benar-benar habis tandas. Menyisakan bungkusnya yang berserakan. "Gila ya lo.. ya jangan nyampah juga dong, Ndree.."
"Udah deh, cepetan. Dua puluh persen lagi kelar nih.."
Dengan langkah malas Reyhan kembali menelfon seseorang demi menuruti kemauan Andree. Anehnya, Reyhan seperti tidak bisa benar-benar marah kepada lelaki itu, justru Andree lah yang lebih galak dan semakin semaunya sendiri.
"Lo tunggu sini aja. Ntar ada yang nganterin. Gue keluar bentar" Mengusir suntuk. Reyhan putuskan pergi ke kantin sebentar, sekedar membeli kopi panas.
"Hem.." Gantian Andree yang menjawab singkat. Sambil memainkan ponselnya. "Gue istirahat bentar ya. Sambil nunggu bahan bakarnya."
"Terserah." Jawab Reyhan dan langsung keluar dari ruangan itu menuju kantin.
Sekedar membeli kopi hangat dan makan beberapa gorengan kesukaannya.
Saat ia ingin kembali ke ruangannya, ponsel Reyhan berdering. Sebuah nomor baru yang belum pernah ia simpan dikontak nya memanggil.
"Haloo.."
"Ehm.."
Suara deheman lelaki dari seberang sana Reyhan dengar menjawab melalui sambungan telefon. "Siapa ya?"
"Reyhaan.. Dimana Nayla?"
Suara yang tidak asing. "Satya?" Reyhan sedikit banyak mengenali suara itu meskipun samar-samar. "Ada urusan apa mencari istriku?"
"Brengs*k. Berhenti bilang bahwa Nayla istrimu. Dia milikku" Satya menggeram marah.
"Itu memang kenyataannya. Dia memang istriku." Jawab Reyhan tak gentar.
"Sialaann lo ya.!"
"Berhenti mengganggu Nayla dan keluarga-nya. Mari, kita selesaikan masalah ini dengan damai."
"Cih, najis.! Aku akan berhenti jika Nayla kembali kepada ku. Kamu tahu, awal masalah ini adalah karena si tua bangka Zeko itu. Coba kalau dia merestui ku dan Nayla.
Saat ini Nayla pasti sudah menjadi milikku"
"Jangan mimpi."
"Hah, tua bangka itu benar-benar merendahkan harga diriku. Hem tapi,
Baiklah, mari kita selesaikan masalah ini. Temui aku nanti malam di Red Devil's Club. Jam sembilan. Kalau kau tidak datang, maka keluarga Deka berakhir."
"Atas dasar apa kau mengancamku.?"
"Aku serius Reyhan. Siapkan dirimu dan mari kita bertarung."
__ADS_1
Sambungan dimatikan secara sepihak. Membuat Reyhan ikutan mendesah marah. Dengan langkah tergesa ia kembali ke dalam ruangannya.
Berharap Andree telah selesai dengan semua tugas yang ia kerjakan.