
"Maafkan aku Nin.... Arrgghhhh"
Pusing. Sangat pening yang saat ini Satya rasakan. Belum selesai masalahnya dengan Nayla, kini ada masalah baru lagi yang justru memperkeruh keadaannya.
Bayang-bayang kehilangan Nayla semakin tergambar jelas difikirannya.
Satya hampir putus asa. Wajahnya merah padam menahan amarah pada dirinya sendiri. Otaknya masih bekerja dengan baik sekarang. Untuk tidak menyalahkan Nina karena jelas dalam rekaman itu, dirinyalah yang memaksa Nina.
Pikirannya masih kacau. Dan semakin kacau tak sanggup memikirkan jalan keluar apa yang harus dia ambil sekarang.
Rasanya tidak mungkin Satya akan mempertanggung jawabkan pada Nina karena hatinya jelas milik Nayla.
Bukan rasa cinta semata, tapi juga sebuah ambisi untuk memiliki Nayla sepenuhnya. Nayla terlalu sempurna untuk dia lepaskan begitu saja.
Dibanding dengan Nayla, Nina tidak ada apa-apanya bagi Satya.
Hingga sebuah ide licik melintas di otaknya.
"Nin.. aku bisa ganti rugi berapapun yang kamu mau. Tapi pliss...."
Ucapnya terhenti sejenak saat hatinya ragu mengatakan. Apa ini akan menyelesaikan masalahnya? Atau justru akan memperkeruh keadaannya?
Hanya ada Nayla dihatinya. Satya tidak akan membiarkan Nayla pergi begitu saja meskipun harus melukai Nina.
"Nin..." panggilnya kepada Nina yang dibalas tatapan tajam mengarah padanya meskipun air mata masih saja mengalir dari sudut pelupuknya.
Tangan Satya meraih kedua tangan Nina. Menggenggamnya seakan memohon.
"Nin.. pliss jangan kasih tau Nayla. Lo tau kan gimana cintanya gue sama dia?"
Deg
jantung Nina seakan berhenti berdetak. Nayla Nayla dan selalu Nayla yang ada difikiran Satya.
"Seperti yang lo tau direkaman tadi... gue juga udah lakuin itu sama Nay. Gue gak bisa tinggalin dia gitu aja..."
Ucap Satya tanpa rasa berdosa membuat tangis gadis disampingnya itu semakin deras mengalir.
Trus gimana dengan aku Satya?
suara batin Nina yang tak sanggup dia utarakan melalui bibirnya.
"Gue mau bayar berapapun yang lo mau"
Ucap Satya lagi seakan tidak peduli bagaimana perasaan Nina.
Kau tau? Bagaimana jika keperawananmu dihargai dengan mata uang?
Emosi yang sedari tadi Nina tahan mati-matian, kepedihan yang sedari tadi Nina abaikan, dan kebencian yang sedari tadi Nina sembunyikan rasanya sudah tak sanggup lagi ditekan.
Nina menjauhkan tangannya dari genggaman Satya. Mengusap kasar pipinya yang basah oleh air mata.
Hatinya sangat sakit. Jujur saja, Nina juga menyukai Satya. Tapi bukan dengan cara seperti ini yang Nina inginkan untuk mendapatkan Satya.
Nina bahkan sudah merelakan Satya dengan sahabatnya itu. Tapi kenapa harus seperti ini?
Seperti ada pisau tak kasat mata mengoyak habis perasaan Nina. Benar sangat sakit.
__ADS_1
Tidak ada cara lain...
Suara batin Nina karena saat ini, Nina tak sanggup lagi berkata-kata.
Lalu tangannya meraih tas kecil yang dia bawa dari tadi. Mengacak-acak isinya mencari benda pipih yang sudah disimpannya dua hari ini.
Bukan hanya satu. Ada tiga buah. Dan Nina sudah menemukannya.
Bukti telak yang Nina harap mampu membuat Satya tidak bisa lari dari tanggung jawabnya.
"Nih...."
ucapnya sembari menyodorkan benda pipih yang dibungkus amplop kecil berwarna putih.
Satya menerima nya dengan ragu ragu. Perlahan dia membuka amplop itu.
Sebuah benda berbentuk strip berwarna biru putih yang Satya kenal dengan nama tespek bertanda dua garis merah disana.
Bukan hanya satu. Ada tiga buah tespek dan semua sama. Dua garis merah.
Wajah Satya yang semula merah kini semakin merah. Keegoisan yang semula dia tahan untuk menyalahkan Nina kini hancur luluh lantah.
Otaknya yang semula masih bekerja dengan normal kini sudah tak berfungsi lagi.
Baginya, Nina adalah sumber masalah.
"Maksudnya lo hamil? Brengsekkk"
Praaaang....
Bunyi pecahan gelas kaca yang Satya banting ke lantai membuat nyali Nina menciut. Kepercayaan diri untuk mendapatkan jalan keluar terbaik yang sedari tadi Nina bangun kini runtuh seketika.
Satya lebih mengerikan dari yang Nina duga.
"Gugurin Nin..."
Satu kalimat tajam dari mulut Satya membuat hati Nina seperti diiris habis oleh pisau transparan.
Tangisan yang sedari tadi meluncur bebas dipipinya kini tiba-tiba terhenti dengan sendirinya.
Nina mendongakkan wajahnya menatap tajam ke arah Satya yang sedari tadi berdiri disampingnya. Kemudian Nina berdiri mengimbangi tinggi tubuh Satya.
Plaaakkk
Satu tamparan keras Nina ayunkan di pipi Satya. Tangannya terasa sangat panas. Ingin saat itu juga Nina membunuh Satya. Menyerang Satya tanpa ampun.
Andai saja Nina tidak mengenal yang namanya dosa, mungkin Satya sudah habis ditangan Nina. Atau malah sebaliknya.
"Tega banget kamu Sat...." Suara Nina pelan dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya.
Matanya tajam menatap manik mata Satya. Hanya kalimat itu yang mampu Nina katakan.
Satya mengusap rambutnya frustasi.
"Trus mau kamu apa ? Haaa?"
Tanya Satya dengan keras sambil tangannya mengusap pipinya yang memerah.
__ADS_1
"Tanggung jawab? Jangan mimpi Nin... Gue punya Nayla. Dan lo gak ada apa-apanya dibanding Nayla"
Ucapnya tanpa rasa bersalah kepada Nina semakin membuat perasaan Nina hancur. Nina diam mematung pada tempatnya.
"Tapi ini anak kamu Sat...." ucapnya semakin lirih namun mampu ditangkap oleh indra pendengaran Satya semakin membuat Satya frustasi.
Satya berjalan kedapur membuka kulkas. Lagi-lagi Satya mengambil sebotol wine kemudian menenggaknya sampai habis.
Pusing. Sangat pusing kini yang Satya rasakan. Masalah yang tiada habisnya ini memang berawal dari kebodohannya sendiri.
Dengan langkah gontai Satya berjalan kembali kearah sofa. Mencoba mengajak Nina berdamai.
"Sudah lah Nin... Lo jangan nambahin masalah gue."
Ucapnya sambil memijit pelipisnya sendiri.
Kemudian Satya duduk diikuti Nina yang duduk disampingnya.
"Terima aja tawaran gue."
Satya merasakan kepalanya yang semakin pusing. Mungkin efek dari minuman keras yang baru saja habis diminumnya itu.
Fikirannya mulai tak terkendali.
"Sat.. lo kenapa sih pilih Nayla? apa yang lo lihat dari Nayla? Apa karena Nayla cantik?" Ucap Nina melihat Satya yang diam memijat pelipisnya sendiri.
Keberanian Nina naik delapan puluh persen saat mendapati Satya hanya diam enggan meluapkan emosinya.
"Gue gak mau anak ini lahir tanpa ayah nya Sat.. hiks..."
Tangis Nina kembali pecah saat dia memikirkan bagaimana nanti nasip nya jika Satya bersikeras enggan menikahinya.
"Apa lo fikir gue juga mau kayak gini?
Enggak Sat.. Nayla sahabat gue..
Tapi... gue juga gak mau anak gue menderita tanpa ayahnya"
Nina menarik nafasnya dalam-dalam mengumpulkan segenap kekuatannya untuk melanjutkan ucapannya.
Pandangan Satya mulai kabur. Suara bising yang keluar dari mulut Nina menambah rasa pening yang menjalar dikepalanya.
Fikiran Satya mulai kacau. Tiba-tiba gairah laki-laki nya naik bersama dengan emosi yang sudah memuncak.
"Lo mau gue nikahin kan? hah? sini lo.."
Ucap Satya dengan mata merahnya. Tangannya dengan sigap menarik tubuh Nina yang lebih kecil darinya.
Sontak saja Nina semakin ketakutan.
Nina mencoba memberontak. Air matanya terus saja mengalir.
Sakit dihatinya atas kejadian lalu dengan Satya masih belum reda.
Tuhan tolong, apa aku akan diperkosa untuk kedua kalinya? hiksss,....
Ting
__ADS_1
Tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang yang tanpa sadar itu telah menyelamatkan Nina dari Satya.
Meskipun masalah baru, menyambut Nina didepannya.