Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Menolak Panggilan


__ADS_3

Sepi.


Koridor rumah sakit yang tadi Reyhan lalui mulai lenggang. Mungkin, karena hari menjelang malam.


Saat ini, Reyhan berada di ruangan papa Zeko. Sebelumnya, disana sudah ada mama Riana, dan juga pak Damar yang bergantian menjaga papa Zeko.


"Gimana keadaan papa ma?" Tanya Reyhan mendekat ke ranjang. Dipandanginya tubuh lelaki paruh baya itu yang tengah terlelap dengan jarum infus yang menancap dipunggung tangannya. "Sudah ada perkembangan?"


Menoleh kearah Reyhan, mama Riana menatap sang menantu dengan tatapan sendu. "Tekanan darah nya masih tinggi" Ucap nya sayu.


"Mama yang sabar ya," Ucap Reyhan pelan. Dari wajah sang mama saja Reyhan tahu kalau perempuan itu mengkhawatirkan suaminya. "Papa pasti segera sembuh."


Riana mengangguk. Seutas senyum terlukis diwajahnya.


Meskipun hanya senyum yang tipis.


Teduh. Dan cantik meski pun sudah mulai termakan usia.


"Oiya, Mama belum makan kan?" Ucap Reyhan sembari berjalan ke area sofa, lalu meletakkan bungkusan yang ia bawa diatas meja. "Pak Damar juga,"


"Belum mas, tadi gak tega ninggalin ibuk disini sendirian." Jawab pak Damar kikuk.


Setelah meletakkan bungkusan itu, Reyhan duduk disebelah pak Damar. "Makan dulu pak," Ucap Reyhan sembari menyerahkan satu kotak nasi.


"Makasih mas," Menerima kotak nasi, Pak Damar segera membukanya. "Mas Reyhan gak makan?"


"Saya sudah tadi.." Reyhan mengeluarkan satu bungkus lagi. "Mama juga, makan dulu ma."


Riana menoleh kebelakang. Menatap Reyhan yang duduk bersebelahan dengan pak Damar. "Mama belum lapar Rey."


"Ya jangan gitu dong ma.."


"Mama kangen sama Nayla."


Deg


Seketika Reyhan diam membisu. Ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, Reyhan ingin melindungi perasaan sang istri, dari masalah apapun yang sebenarnya sedang menyerang rumah tangga mereka.


Disisi lain, Reyhan sama sekali tidak ada niatan memisahkan ibu dan anak itu.


"Sejak tadi siang, mama kepikiran sama Nayla"


"Nayla pasti baik-baik aja ma.."


"Tapi mama kangen Rey" Perempuan anggun itu menghela nafas jengah. Semangat hidupnya memudar. Suaminya terbaring dirumah sakit, dan anaknya yang tidak ada kabar. Lengkap sudah penderitaannya. "Mana sulit banget loh Nayla dihubungi"


"Yasudah, nanti biar Reyhan yang nelfon Nayla ma," Putus Reyhan merasa tidak tega. Binar mata mama Riana kembali terlihat, membuat Reyhan ikut tersenyum melihatnya. "Tapi, boleh nggak ma jangan bilang ke Nayla soal keadaan papa? Reyhan takut dia khawatir"


"Iya-iyaa... mama mengerti kok" Riana berdiri dari tempat duduknya didekat ranjang. Ia beralih ke kursi sofa, dan ikut duduk disebelah Reyhan. "Sekarang mama makan dulu kalau begitu.."


***


Beda satu jam.


Jika sekarang di tempat Reyhan menunjukkan pukul sembilan malam, maka di tempat Nayla sudah jam sepuluh malam.


Sekali lagi, Reyhan mengeluarkan ponselnya. Masih mencoba menghubungi Nayla, yang sejak tadi menolak panggilan lelaki itu.

__ADS_1


Terhitung sudah ke delapan kali Reyhan mencoba menelfon istrinya, tapi tetap saja,


panggilan itu diabaikan. Padahal, menurut aplikasi lacak ponsel yang ada di gawai Reyhan, Nayla sedang berada dirumah. Lebih tepatnya didalam kamar.


"Apa Nayla sudah tidur?" gumam Reyhan pada dirinya sendiri.


Pikirannya berjelajah. Reyhan mulai ikut merasa khawatir tentang kondisi Nayla. Apa kondisi Nayla baik-baik saja. Atau, sesuatu sudah terjadi dengan istrinya itu.


"Bagaimana Rey?" Ucap mama Riana dari belakang sontak membuat Reyhan menoleh. "Apa Nayla sudah bisa dihubungi?"


"Belum di angkat ma.." Jawab Reyhan. "Mungkin dia sibuk.. Atau nggak, mungkin Nayla sudah tidur"


Riana menghela nafas, menambah stok rasa tenang dihatinya. Karena jujur saja, perempuan itu merasa khawatir sejak tadi sore. Dan sekarang, kekhawatiran itu bertambah drastis. Kenaikan yang cukup signifikan.


"Coba kamu hubungi asisten rumah tangga kamu, tanya keberadaan Nayla."


Oh,


iya juga. Kenapa Reyhan tidak menghubungi Linda sejak tadi.


Rasa panik membuat otak menjadi tumpul berfikir.


Detik berikutnya, tanpa pikir panjang lagi Reyhan segera menghubungi Linda.


Halo pak


Suara diseberang membuka percakapan.


"Lin, dimana Nayla? Apa istriku baik-baik saja?"


Mohon maaf pak. Ibu Nayla ada di kamarnya. Em. anu pak. sebenarnya,


"Apa?"


Terkejut. Reyhan bertanya dengan keras membuat Riana dan Pak Damar yang ada di ruangan itu, seketika menoleh ke arah Reyhan secara bersamaan. "Ada apa Rey" Riana panik. "Nayla kenapa?"


Reyhan menoleh. Dia juga terkejut, sama paniknya dengan sang ibu mertua. Tapi sebisa mungkin, Reyhan bersikap biasa saja. Agar kekhawatiran Riana, tidak semakin tinggi "Nggak tau ini ma, gak jelas. Mungkin disini jaringannya buruk. Reyhan ngobrolnya diluar aja ya ma,"


"Yasudah, nanti kabari mama ya?" Masih sedikit cemas.


"Iya ma..." Berjalan keluar dari ruangan itu, Reyhan mencari tempat yang sekiranya aman.


Jauh dari jangkauan mama Riana, untuk melanjutkan obrolannya dengan sang asisten rumah tangga.


"Gimana Lin?"


Tadi sore, Ibu pingsan pak


Oh, astaga. Reyhan panik. "Kok bisa?"


Dari seberang, Linda menceritakan penyebabnya. Apa saja yang Nayla kerjakan hari ini.


Mulai dari memasak, menikmati makan siangnya. Dan setelahnya, bos wanitanya itu masuk ke dalam kamar.


Linda juga menceritakan, kalau samar-samar dari luar kamar Nayla, asisten rumah tangga itu mendengar Nayla mengobrol. Entah dengan siapa.


Karena Linda pikir, Nayla mengobrol dengan suaminya, yang tak lain adalah pak Reyhan.

__ADS_1


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Apalagi badai, tiba-tiba saja Linda mendengar Nayla berteriak memanggil dirinya. Dan saat Linda masuk, perempuan bersurai hitam yang tak lain adalah boss nya itu sudah tergeletak diatas ranjang dengan kaki menggantung setengah.


Wajahnya pucat, dengan bibir yang mulai membiru. Serta telapak tangan Nayla yang mengeluarkan keringat dingin membuat Linda secara spontan mengusapkan minyak kayu putih ditangannya.


Lin, pusing. begitulah rintihan yang Linda dengar tadi. Sampai Nayla benar-benar tak sadarkan diri.


Nafas Reyhan memburu. Sejak mendengar cerita dari Linda, lelaki itu ingin berteriak keras.


Dia sampai tidak merasakan kaki nya berpijak. Kecemasan di hatinya cukup merusak suasana yang ada. "Kok kamu gak bilang Lin?"


Andai Reyhan punya kekuatan kaki super.


Ia pasti sudah berlari.


Atau, andai ia memiliki pintu doraemon. Reyhan pasti sudah menghilang melalui pintu itu.


Oh, atau


Andai saja Reyhan memiliki sayap. Lelaki itu pasti sudah terbang. Melintasi lautan, menembus cakrawala. Demi, pujaan hatinya tercinta.


(Iyuhh, lebay, haha)


Maaf pak. Ibu Nayla melarang.


Ya Tuhan. Ada apa lagi. Keadaan ini membuat Reyhan mendesah frustasi.


Masalah Satya yang belum juga menyerah.


Keadaan papa yang masih belum membaik.


Kantor Deka Group yang benar-benar diujung kehancuran.


Dan, Nayla.


Iya, dari semua masalah itu.


Hanya kondisi Nayla yang benar-benar merusak pikirannya. Seakan-akan semua rencana yang ia susun untuk menyelesaikan satu persatu masalah itu menguap begitu saja.


Hanya panik dan kecemasan yang mendominasi didalam otaknya.


"Terus Nayla sekarang bagaimana? Apa dia baik-baik saja?"


Tadi ibu sudah sadar pak. Sekarang ia ada didalam kamar. Katanya, mau istirahat saja.


Reyhan menghela nafasnya lagi, kali ini helaan penuh kelegaan.


Yang terpenting adalah, Nayla baik-baik saja.


Nanti, setelah masalah disini selesai, Reyhan pasti akan langsung menemui istri yang ia rindukan itu, untuk segera membawanya ke dokter.


Tapi, sejak tadi ibu enggak mau keluar kamar pak. Bahkan ibu Nayla melewatkan makan malamnya.


Ibu Nayla menangis.


Shit.


Sialan !

__ADS_1


Apalagi ini?


Bukan nya lega, justru kepanikan sudah sampai dibatas ubun-ubun.


__ADS_2