Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Scandal


__ADS_3

Malas.


Masih berlanjut dengan suasana hati yang kurang baik, membuat saraf-saraf tubuh enggan melaksanakan pekerjaan apapun.


Sejak hari dimana Nayla menerima telefon dari sahabatnya itu, rasanya semua warna yang ada disekitarnya berubah menjadi abu.


Pun dengan keadaan, yang sepertinya mengiringi Nayla dengan perasaan sendu.


Semuanya terlalu samar untuk perempuan itu dalami artinya.


Perlahan,


Dia membuka matanya, memposisikan diri untuk duduk diatas tempat tidur.


Direntangkan-nya kedua tangan seperti meninju udara, kemudian ia gerak-gerakkan kepalanya miring ke kanan dan ke kiri beberapa kali.


Melemaskan otot-otot tubuhnya yang mulai kaku, karena seharian tadi Nayla hanya bergelut sendirian diatas kasur.


Diciumnya bau wangi semerbak yang membuat perempuan itu sedikit bersemangat. "Uumm, harumnya." Gumam gadis itu.


Jadi,


Tadi, tiba-tiba saja Nayla ingat Reyhan. Ditengah rasa kesalnya kepada sang suami, diam-diam Nayla juga merindukannya.


Rindu membuat ia ingat semua hal tentang Reyhan. Tak terkecuali, makanan kesukaannya. Tanpa pikir panjang, Nayla meminta tolong kepada Linda untuk memasak menu kesukaan Reyhan sebagai hidangan makan malamnya.


"Sudah matang kali ya?"


Nayla beranjak.


Masuk kedalam kamar mandi sekedar untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Kemudian,


Memakai pakaian yang pantas, gadis itu keluar dari kamar menuju dapur.


Satu persatu anak tangga ia turuni. Dan semakin dekat langkahnya menuju dapur, semakin kuat pula aroma harum makanan yang mampu indra penciumannya tangkap. "Lin, sudah matang ya?"


Linda menoleh sebentar kearah Nayla. "Tinggal satu ikan lagi yang masih digoreng, bu" Begitu dia menjawab. Sambil tangannya masih fokus menumbuk tomat dan cabai. "Sambalnya juga sebentar lagi bu."


Kompor masih menyala, diatasnya juga masih ada wajan yang sedang melaksanakan tugasnya. Nayla mengintip, dan benar yang dikatakan Linda, masih ada satu ikan yang sedang ia goreng.


"Aku bantu balik ikannya ya, takut gosong.."


Tak menampik apapun,


nyatanya, berkat bantuan dari boss perempuannya itu, pekerjaan yang seharusnya selesai lima belas menit lagi, kini dapat selesai hanya dalam waktu lima menit.


Semua menu sudah tersaji dimeja makan.


Lele goreng, sambal tomat, beberapa sayur mentah berupa kobis dan mentimun untuk lalapan, dan tak ketinggalan tempe goreng.


Pun dengan semua peralatan yang kotor,


sudah masuk kedalam bak cuci piring, bahkan sudah Linda rendam air panas.


"Ayo lin, makan dulu. Nanti saja nyuci nya" Air liur Nayla hampir menetes hanya karena melihatnya saja. "Aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya."


Makanan itu, seperti memiliki tangan yang sudah melambai-lambai menyuruh Nayla menyantapnya.


Padahal,


waktu baru saja menunjukkan pukul tujuh. Tapi, Linda justru senang. Semakin cepat boss nya makan malam, semakin cepat pula ia istirahat. "Baik bu, mari makan.."


Seperti sudah terlatih,


tangan Linda bergerak lincah melayani Nayla terlebih dahulu. Sebelum ia sendiri duduk, dan mulai ikut makan malam dimeja yang sama.


"Kok bisa sih, enak banget begini? Pantas saja Reyhan suka."


Linda tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya tersenyum menanggapi.


Jujur,


Sejak tadi, Linda bukan fokus pada makanan dipiringnya. Justru, gadis itu fokus pada Nayla.


Melihat cara makan Nayla yang begitu lahap, membuat Linda ikut merasa kenyang. Dia saja belum menghabiskan satu ekor ikan,


tapi Nayla, bahkan ikan kedua sudah tinggal tulang-tulangnya.


"Kok kamu bisa sih Lin, masak se-enak ini?" Mengambil satu ikan lagi. Ikan ketiga yang akan Nayla makan.


Linda tersenyum lagi, dengan dahi berkerut keheranan. "Saya belajar bu, tadi lihat dari video outube."


Dilihatnya Nayla yang seperti orang kelaparan saja, membuat Linda tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Boss nya itu, seperti sudah beberapa hari tidak makan.


Ya memang sih,


sejak kejadian pingsan di kamar,


boss perempuannya tidak berselera untuk makan.


Tapi, apa sekarang harus sampai segitunya? Ini benar-benar tidak seperti biasanya.


Ikan ketiga dipiring Nayla hampir habis,


Perempuan itu mengangkat tangannya tanda menyerah. "Sudah ah, aku sudah kenyang. Entar kalau kebanyakan bisa gendut lagi."

__ADS_1


Seketika Linda tersenyum canggung.


"Bagaimana mungkin ibu Nayla tidak kenyang,


jika dihitung-hitung, ibu sudah menghabiskan dua piring nasi, tiga ekor ikan, satu mangkok sambal,dan


sudah, jangan dihitung lagi." Tentu saja Linda mengatakan itu hanya dihati.


Tidak berani menyuarakannya.


Sumpah,


Linda masih punya sopan santun, sebaik apapun Nayla kepadanya, status mereka tetap berbeda.


Linda ingat itu.


Bahkan didalam hatinya, Linda tidak sanggup menghitung lagi berapa banyak makanan yang masuk kedalam perut Nayla, saat kenyataannya, tempe dipiring juga tinggal dua buah, sayur mentah tadi juga tandas, habis tak tersisa.


Astaga, benar-benar porsi kuli.


"Seperti-nya aku benar-benar merindukan Reyhan deh. Sampai makan ku banyak sekali. Padahal sebelumnya, aku tidak terlalu menyukai menu seperti ini lo Lin.."


Apa?


Duh, Linda hampir tersedak mendengarnya. Tidak terlalu menyukai, tapi bisa menghabiskan satu meja? Bagaimana bisa?


"Mungkin ibu juga lapar. Beberapa hari ini kan, bu Nayla cuma makan sedikit."


"Emm..." Nayla mengangguk-anggukkan kepalanya. "Benar juga Lin.."


Nayla mengambil satu lembar tisu. Mengelap bibirnya sampai bersih.


Tak lupa ia juga menghabiskan satu gelas air putih yang sudah Linda siapkan sejak tadi.


Nayla beranjak berdiri. "Kamu dilanjutkan dulu makannya Lin, setelah semua selesai


segera tidur ya?"


"Iya bu, terimakasih.." Jawab Linda sopan.


"Aku ke kamar duluan.."


Nayla kembali menaiki tangga menuju kamar.


Sepanjang perjalanan,


Ia sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh, untuk segera menghubungi Reyhan.


Meminta penjelasan soal apa yang Nina sampaikan tempo hari.


Kalau dipikir-pikir,


Mendiamkan Reyhan seperti ini juga kurang baik dan kurang sehat.


Kurang baik untuk hubungannya, dan kurang sehat untuk hatinya. Hati yang selalu diliputi ketakutan dan rasa was-was. Nayla ingin menyelesaikannya sekarang.


Bisa juga kan, Nina hanya memanas-manasi saja?


Pernah sih, Nayla punya pemikiran seperti itu, tapi segera ia tepis jauh-jauh. Nayla tidak percaya Nina bisa se-tega itu.


Pintu kamar kembali ia tutup setelah Nayla masuk. Perempuan bernetra mata hitam itu segera mengambil ponselnya. Ponsel yang ia diamkan sejak Nina menelfonnya.


Ponsel yang sama sekali tidak ia sentuh sejak saat itu. Toh, siapa juga yang akan menghubunginya selain Reyhan?


Emm,


Tidak ada yang memiliki nomornya selain Reyhan kok,


dan, Nina tentunya.


"Nomor siapa lagi ini?"


Ia bergumam, saat lagi-lagi ada nomor asing yang menghubunginya. Yang jelas, itu bukan nomor Reyhan, dan juga bukan nomor Nina. "Gambar apa lagi yang ia kirim?"


Mendadak emosi.


Dengan jantung yang berdebar, dan tangan yang bergetar hebat


Saat membuka pesan yang isinya, lagi-lagi foto Reyhan dan Nina di sebuah restoran.


Nayla memejamkan matanya. Menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.


Eh tunggu,


di sebuah restoran? Nayla amati lagi foto itu.


Restoran Sadewa !


Seketika Nayla mengerti,


dari siapa Nina tahu bahwa hotel Sadewa menjadi tempat favoritenya.


Oh, sakit


Hatinya sungguh sakit. "Rreey"

__ADS_1


Bahkan untuk menyebut nama Reyhan, bibirnya mendadak kelu.


Memori di otaknya dengan reflek mengingat kejadian serupa. Kenyataannya,


Reyhan dan Nina diam-diam bertemu bukan sekali dua kali.


"Sesering itu Rey?"


Nayla memejamkan matanya, tapi


Bulir bening itu tetap memaksa keluar melalui sudut matanya. Rasanya sesak.


Nayla seperti kehilangan kaki untuk berpijak.


Hingga suara tangisan tak mampu terdengar lagi, meskipun pipi putih mulus itu tetap basah karena air mata yang mengalir.


Perempuan itu merosot dilantai. Satu tangan kanan memegang dada, sedang tangan lainnya, menggenggam ponsel.


Nayla tidak ingin mempercayai itu, tapi


untuk apa Reyhan bertemu dengan Nina? Lagi dan lagi?


Ia ingin sekali mempercayai Reyhan, tapi sulit. Keadaan menyulitkannya untuk percaya pada Reyhan.


Ponsel nya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Sambil masih menangis, ia buka ponselnya.


Kali ini, Reyhan yang menghubunginya.


Ternyata, bukan cuma satu. Sejak kemarin, Reyhan terus mengirim pesan kepadanya, dan sudah terhitung ada delapan pesan yang ia kirimkan.


Nay, aku rindu...


Nay, mama ingin bicara dengan mu.


Dimana kamu? kenapa tidak menjawab panggilanku?


Nay, apa kamu baik-baik saja? Apa Nina sudah menghubungimu?


Linda bilang kamu tak sadarkan diri. Jaga kesehatanmu. dan Jangan terlambat makan.


Aku akan segera menemuimu.


Apa Satya juga menghubungi mu? Tolong abaikan.


Dan terakhir, yang baru saja Reyhan kirimkan.


Nay, apapun yang Satya lakukan, tolong percayalah kepadaku. Aku akan menyelesaikan masalah ini untukmu.


Tolong, percayalah hanya kepadaku


Dalam tangis,


jujur Nayla sedikit tersenyum membaca pesan terakhir yang Reyhan kirimkan.


Suaminya itu, seakan menjawab semua kegelisahan dihati Nayla. Memberi ketenangan meski belum sepenuhnya.


Hatinya sedikit menghangat.


Lagi-lagi ponselnya bergetar mengusik ketenangannya.


Nayla segera membukanya, karena ia pikir Reyhan. Ternyata,


nomor asing yang baru saja ia ketahui dari Reyhan bahwa nomor itu milik Satya.


Nayla buka,


Seketika, tubuhnya bergetar hebat.


Sebuah gambar, dirinya dan Satya sudah setengah telanjang dihotel Nuansa.


Oh, apa lagi?


Kepala Nayla mendadak pusing. Pandangannya kabur. Apalagi setelah mendapat pesan bernada ancaman dari Satya.


Nayla sayang,


Angkat panggilanku, atau video scandal kita dihotel Nuansa tersebar.!


"JANGAN !" Nayla menjerit keras.


Dan dunianya seketika runtuh.


***


Halo


Selamat malam, tes ombak...


Masih penasaran nggak nih? Masih nungguin nggak?


Duh, mulai panas ya kan?


Oh iya, gak pp ya aku ngemis like nya? Like tembus 20, lanjut 😂


Like nya gratis kok, sumpah 🤭

__ADS_1


__ADS_2