
"Rey.. Terimakasih"
Nayla merasa begitu dihargai. Meskipun Reyhan sudah tau Nayla tidak suci lagi tapi lihatlah, Reyhan benar-benar memperlakukan Nayla begitu lembut dan istimewa.
Matanya berkaca-kaca. Merasa bersyukur memiliki suami yang begitu sabar.
Nayla menyesali dirinya sendiri yang belum sepenuhnya melupakan Satya dan mencintai Reyhan yang jelas jelas kini telah SAH menjadi suaminya.
"Rey.. Maafkan aku."
Reyhan tersenyum mendongakkan wajahnya menatap Nayla. Setelah memastikan kaki Nayla benar-benar bersih dan sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Detik berikutnya Reyhan berdiri. Dia juga mengajak Nayla berdiri.
Tangannya kirinya megusap halus pipi Nayla sebentar. Lalu menengadah seperti seorang berdoa. Sedangkan tangan kanannya diletakkan tepat diatas kepala Nayla bagian depan. Tepat diubun-ubunnya.
Reyhan menunduk memejamkan matanya dengan khusyuk.
Tanpa disadari Nayla spontan ikut memejamkan matanya.
Reyhan mulai membacakan sebuah doa dimana samar-samar terdengar di indra pendengaran Nayla.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."
Nayla membuka matanya setelah sebuah kecupan hangat mendarat dikeningnya.
Kecupan itu tertahan beberapa detik sebelum akhirnya air mata Nayla jatuh lolos membasahi pipinya yang putih.
"Kenapa menangis?"
Reyhan menghapus air mata yang membasahi pipinya. Membuat Nayla semakin merasa bersalah atas perasaannya.
"Rey.. maafkan aku. Aku mungkin belum mencintaimu. Tapi Aku berjanji akan berusaha untuk itu."
__ADS_1
Permintaan maaf tulus dari hati Nayla ucapkan. Dia merasa berdosa kepada suaminya.
"Tidak apa-apa. Sekarang pergilah mandi dan segeralah istirahat. Aku tau kamu capek."
"Rey.."
"Apa lagi?"
"Ehh anu.. itu..."
Ucap Nayla terbata-bata. Sungguh dia sangat canggung saat ini.
"Jangan takut. Aku tidak akan meminta hak ku malam ini. Aku akan menunggumu sampai kau mencintaiku."
Aduh.. bukan itu
Rey, lihat dong. Kamar mandi nya itu transparan. Hanya bagian bawah saja yang tidak terlihat. Bagaiaman aku bisa mandi dengan tenang?
Tolong keluarlah sebentar.
Sayangnya. Nayla tidak punya nyali untuk mengatakan itu. Dia terlalu segan dengan laki-laki yang memperlakukannya seperti wanita dengan bagaimana semestinya.
Jawabnya kikuk.
"Males"
"Buahahahaha.. lucu banget sih"
Reyhan sudah tidak bisa menyembunyikan tawanya. Gadis didepannya itu begitu menggemaskan dalam keadaan bingung begitu.
"Mandi sana. Bau tau seharian gak mandi"
Goda Reyhan.
"Tapi Rey..."
__ADS_1
"Buahahah.. iya iya. Aku keluar sebentar. Kamu mandi dulu.
Kalau sudah selesai telfon aku ya."
Gitu dong. Pekaaa
"Terimakasih"
***
Malam semakin larut. Reyhan terbangun dari tidurnya.
Dia menoleh kesamping. Ada gadis cantik yang tidur disampingnya.
Ah lupa. Aku sudah berstatus suami sekarang.
Reyhan mencari ponselnya. Tanpa sengaja matanya menangkap belahan dada Nayla yang terlihat jelas karena baju tidurnya menyingkap.
Astagaa . Sial
Gelenyar aneh kembali menjalar ditubuhnya. Buru-buru dia turun dari ranjang. Mengambil handphone yang berada diatas nakas samping posisi Nayla tidur.
Dia membuka ponselnya. Ada banyak pesan dari Hasan yang sengaja hari ini dia suruh segera pulang dari pesta pernikahannya hanya untuk menjaga anak-anak asuhnya dirumah.
*Weh pak suami
Pak Suami lagi apa? Buahahaha
Istrinya cantik banget pak suami satu ini haha
Selamat menikmati malam pertama mu hahahaha
tenang, bocah-bocahmu aman dalam pengawasanku*
Reyhan tersenyum masam.
__ADS_1
Seketika tergambar jelas bagaimana wajah Hasan saat mengetikkan pesan itu kepadanya.
Menyebalkan!