Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Pelangi Setelah Badai


__ADS_3

Tuhan tidak berjanji akan memberikan jalan kehidupan yang selalu indah, tapi Tuhan berjanji


Akan ada pelangi setelah badai.


Pelangi yang akan mengembalikan semua warna indah didalam kehidupan.


Itulah salah satu cara Tuhan, membuat manusia bersemangat meraih kehidupan yang baik. Sekalipun jalan makadam dengan batu-batu besar yang harus dilalui.


Duduk seorang diri di kursi panjang tepat di depan ruang pemeriksaan dengan mencemaskan keadaan Nayla, Reyhan bertekad akan membalas perbuatan Satya. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan memberi pelajaran pada lelaki itu.


Apalagi jika sampai terjadi sesuatu kepada Nayla,


dia bersumpah tidak akan memaafkan Satya.


Sejak tadi,


sesampainya Reyhan dirumah sakit dengan membawa tubuh sang istri yang tidak sadarkan diri, dia merasakan cemas. Dan menyesal terlambat menghampiri Nayla dirumah Satya.


Iya,


sejak semalam Nayla memang sudah meminta ijin kepada Reyhan untuk menemui Satya diapartemennya.


Awalnya, Reyhan menentang keras. Melarang tanpa memberi penawaran apapun.


Awalnya,


Reyhan sama sekali tidak memberi ijin kepada Nayla pergi ke apartemen itu seorang diri.


Bukan Reyhan takut kepada Satya, dia hanya takut sesuatu yang buruk terjadi pada sang istri.


Taukan seperti apa sifat Satya? Lelaki nekad dan penuh ambisi,


sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Reyhan tidak mau ambil resiko yang bisa membahayakan Nayla.


Tapi, karena Nayla yang memohon dengan gigih sambil meyakinkan-nya, membuat Reyhan terpaksa mengijinkan permintaan sang istri. Dengan syarat,


Nayla harus selalu mengabarinya.


Sampai, Reyhan datang kesana menghampiri.


Syarat diterima, dan kesepakatan disahkan.


Hingga,


terjadilah hari ini.


Reyhan terus merasa tidak tenang.


Tidak tahu apa yang terjadi pada Nayla, sampai perempuan yang dicintai nya itu bisa pingsan.


Berkali-kali dia menatap pintu ruang pemeriksaan yang tertutup, berharap seorang membukanya dan memberi tahu keadaan Nayla yang baik-baik saja.


Dia hanya berharap, Nayla baik-baik saja.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Segera berdiri, Reyhan menghampiri seorang perawat yang keluar dari ruang pemeriksaan itu.


"Bagaimana keadaan Nayla, Sus?" Bertanya dengan cemas.


"Maaf, apa bapak keluarganya?"


"Saya suaminya."


"Kalau begitu, mari silahkan masuk. Dokter ingin bicara dengan anda."


Tanpa menunggu lama lagi, perawat berseragam itu membawa Reyhan masuk. Mempersilahkan lelaki itu duduk menunggu seorang dokter yang masih memeriksa kondisi Nayla.


"Kalau boleh tahu, apa bapak suaminya?" Tanya sang dokter, kembali duduk dikursinya.


"Benar, dok." Reyhan menjawab dengan wajah yang tegang.


Jelas saja Reyhan tegang.


Bagaimana bisa dia bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa, padahal kenyataannya bertolak belakang?

__ADS_1


Jujur saja, Reyhan memang tegang.


Istri yang begitu dia cintai, sedang terbaring tak sadarkan diri.


Lemah, tidak berdaya.


Dan sialnya,


Reyhan tidak mengetahui apa saja yang sudah terjadi sampai Nayla bisa pingsan seperti itu.


Tersenyum ramah seolah mengerti dengan kekhawatiran Reyhan, dokter perempuan itu menjawab. "Sebelumnya, saya mau bertanya, apa bapak tau istri bapak sedang mengandung.?"


Membulatkan mata tidak percaya, dengan detak jantung yang kian berdebar Reyhan menatap sang dokter meminta penjelasan. "Maksud nya dok? Istri saya hamil?"


Mengangguk membenarkan kehamilan Nayla, yang seketika membuat Reyhan mendesah nafas lega dengan senyum bahagia, sang dokter kembali menjelaskan. "Jadi begini pak.


Sebelumnya saya mohon maaf tidak bisa menjelaskan lebih detail mengenai kondisi janin ibu Nayla. Hanya saja,


dari yang bisa saya simpulkan,


kondisi tubuh pasien sangat lemah. Dan kondisi psikisnya yang tertekan."


Nyatanya,


senyum kebahagiaan Reyhan tidak berlangsung lama. Mengetahui kondisi Nayla yang lemah membuatnya kembali merasa khawatir.


Lebih khawatir dari sebelumnya.


Tadi hanya Nayla yang dia khawatirkan. Sekarang, ada sosok lain yang ikut Reyhan cemaskan.


Diam dengan nafas yang memburu, Reyhan memilih tetap sabar mendengar penjelasan sang dokter.


Lelaki itu sadar bahwa sang dokter lebih memiliki keahlian dibidang ini, dari pada dirinya.


"Ibu Nayla mengalami kondisi psikosomatis.


Dimana, penyebab umumnya kondisi seperti ini bisa terjadi akibat faktor psikis atau mental,


seperti stres, depresi, ataupun rasa cemas yang berlebihan."


"Lalu dok,


Mengambil sebuah kertas, dokter itu menulis resep obat sambil kembali menjawab pertanyaan Reyhan dengan telaten. "Bisa jadi.


Gambaran sederhananya seperti ini.


Saat seseorang merasa sangat takut dan tertekan, bisa jadi ia akan mengalami gejala berupa keringat dingin, detak jantung menjadi cepat, mual hingga muntah, sakit kepala, sakit perut, hingga nyeri otot.


Dan jika pasien tidak bisa menahannya, maka dia bisa pingsan seperti ini."


"Apa itu berbahaya untuk kehamilannya?"


"Nah itu yang saya takutkan. Kondisi psikosomatis tentu bisa mempengaruhi kehamilan pasien.


Tapi untuk mengetahui hal ini lebih lanjut, saya sarankan bapak untuk membawa ibu Nayla ke dokter kandungan."


Mendesah nafasnya kasar,


Reyhan kembali teringat dengan Satya. Lelaki itulah yang menyebabkan istrinya kesakitan seperti ini.


Bukan hanya istrinya, tapi calon anaknya juga.


Reyhan kembali penasaran dengan


apa saja yang mereka bicarakan sampai membuat Nayla tertekan. Ya Tuhan,


rasanya Reyhan ingin melempar tubuh Satya dari ketinggian ke dasar jurang.


Biar lelaki itu lenyap. Hilang selamanya.


Menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir setan yang tengah merayu Reyhan melakukan perbuatan keji itu, nyatanya sisi malaikat Reyhan lebih mendominasi.


Reyhan kembali sadar,


itu adalah tindakan salah dan dia tahu tidak akan pernah melakukan perbuatan sekejam itu.


Tapi, untuk meredam emosinya, kali ini Reyhan benar-benar tidak bisa.


Bukankah dia sudah terlalu bersabar selama ini? Dan, tidak salah bukan jika saat ini Reyhan ingin membalas perbuatan Satya terhadap istrinya?

__ADS_1


Tunggu aku Satya.!


"Ini resep multivitamin untuk memulihkan kondisi pasien." Membuyarkan pikiran jahat dikepala Reyhan, dokter itu menyerahkan selembar kertas berisi resep obat yang harus ditebus Reyhan di apotik.


"Untuk saat ini, pasien belum sadarkan diri karena tadi saya kasih cairan penenang.


Saran saya,


secepat mungkin bawa pasien ke dokter kandungan,


agar mengetahui kondisi janin ibu Nayla."


"Baik dok. Terimakasih."


"Oh iya pak. Karena saya harus memeriksa pasien lain diruang rawat,


bapak bisa tunggu ibu Nayla disana." Menunjuk kursi kosong disamping tempat tidur Nayla. "Ditemani sama asisten saya," Sambil menunjuk meja kerja tak jauh dari tempatnya.


"jadi kalau ada apa-apa, bisa panggil asisten saya. Saya permisi."


Reyhan mengangguk, dan sekali lagi dia ucapkan terimakasih.


Dengan langkah gontai, dia mendekat ke arah Nayla. Menarik kursi, dia kecup kening Nayla penuh sayang sebelum akhirnya Reyhan duduk dikursi itu.


Di genggamnya tangan sang istri, dikecupnya punggung tangan itu berkali-kali.


Jika saat ini Nayla sadar,


Mungkin dia akan menangis penuh haru melihat Reyhan melakukan semua itu untuknya.


Nayla pasti akan menangis bahagia mendapati dirinya yang dicintai dengan begitu dalam oleh lelaki hebat bernama Reyhan.


Mengusap sudut matanya yang berair,


Dia usap perut Nayla, dan beribu syukur Reyhan lantunkan di dalam hatinya.


Terimakasih Tuhan,


Sudah menghadirkan pelangiku setelah badai besar menerjang. Terimakasih sudah menghadirkan penguat untuk hubungan kami.


Bukan hanya mendapatkan permata yang begitu cantik paras dan hatinya,


ternyata aku juga mendapatkan calon penerus yang menjadi obat hati disaat kondisi yang tak terduga.


Terimakasih, semoga kamu kuat ya sayang...


Tepat,


setelah Reyhan mengucapkan rasa syukurnya didalam hati, tangan Nayla bergerak dan perlahan mata bulat itu membuka.


"Sayang..."


"Rey..." Jawabnya lemah.


Tersenyum lega, Reyhan kembali mencium kening sang istri. "Apa yang sakit?"


Bukan mendapat jawaban, Nayla justru memeluk erat suaminya. Dan perempuan itu menangis tersedu-sedu menumpahkan segala apa yang dia rasakan.


"Rey ..." hikss.... "Satya Rey... dia yang,


dia yang memberi aku obat itu, maafkan aku Rey, dulu aku ceroboh"


Reyhan tidak terkejut, karena dia memang sudah tahu. Lantas untuk menenangkan, Reyhan membalas pelukan Nayla dan mengusap punggung Nayla pelan. "Gak papa,


Aku sudah tahu sebelumnya.. tapi semua sudah berlalu sayang.."


"Aku minta maaf, Rey" Memeluk semakin kencang hingga hatinya kembali tenang,


Lantas Nayla melepaskan pelukan itu.


"Nay,


dengar, mulai sekarang...


Tolong jangan memikirkan apapun. Kau harus tenang. Karena, aku tidak mau terjadi apapun kepada kamu."


Reyhan ingin mengatakan bahwa ada calon anak mereka didalam perut Nayla.


Hanya saja, lelaki itu menahannya. Setidaknya sampai kondisi janin Nayla dinyatakan sehat dan baik-baik saja.

__ADS_1


"Percaya sama aku ya Nay... Aku akan menyelesaikan semuanya, untuk kalian.."


__ADS_2