
Rindu menelisik.
Nayla mengerjabkan mata menoleh kesamping, pada sisi ranjang disebelahnya.
Kosong?
Ia buka matanya lebar-lebar saat tidak mendapati Reyhan ditempat seharusnya.
Perempuan bersurai hitam dan panjang itu mencoba mengingat-ingat. Semalam, saat ia tertidur Reyhan tidak berada di rumah. Kemana lelaki itu? Apa Reyhan tidak pulang?
Dia beranjak dari posisi tidurnya. Menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Nayla masih berfikir positif, mungkin Reyhan ada diruang kerjanya. Bisa saja kan.?
Tok tok tok.
Pintu ruang kerja ia ketuk untuk pertama kali dengan penuh keyakinan. Tapi belum ada jawaban. Lalu, Nayla mengetuknya lagi.
Tok tok tok.
"Rey..." Panggilnya, dan masih belum mendapat jawaban. Nayla mulai cemas. Bagaimana kalau Reyhan benar-benar tidak pulang?
Memang, Nayla punya salah apa? Bukannya seharusnya, disini Nayla yang berhak marah?
Reyhan sudah diam-diam menemui Nina di belakangnya, lantas sekarang kenapa malah lelaki itu yang mengabaikan Nayla?
Dengan tidak sabar, Nayla meraih handle pintu berniat untuk membukanya.
"Bu..."
Suara panggilan dari belakangnya mengurungkan niat Nayla. Lantas, perempuan itu menoleh. "Ada apa Lin?"
"Itu, dibawah ada tamu... Mencari Ibu" Jawab Linda, wanita muda yang bekerja dirumah Reyhan sebagai Asisten Rumah Tangga.
Siapa?
"Laki-laki apa perempuan?" Tanya Nayla dengan bingung. Pasalnya, disini dia tidak mengenal siapapun.
"Laki-laki Bu,"
"Yaudah, aku temuin dulu..." Jawab Nayla, sambil melangkah turun tangga diikuti Linda di belakangnya. "Oh iya Lin, kamu lihat Reyhan nggak?"
"Mohon maaf Bu, dari tadi pagi saya tidak melihat pak Reyhan."
Berarti, Reyhan tidak pulang.
Mendadak, Nayla merasakan nyeri disudut hatinya. Tanpa ia sadari, langkah kakinya dalam menuruni tangga tadi terhenti. Kaki nya melemas saat mendapati kenyataan bahwa semalam Reyhan tidak pulang.
"Bu..."
Panggil Linda dari belakangnya menyadarkan Nayla. Perempuan itu kembali melangkahkan kaki. Di setiap tangga yang gadis itu pijak, Nayla kembali menambah kadar dalam menguatkan hati. Hatinya yang mulai kembali rapuh.
"Buatkan minum Lin,"
"Iya bu"
Dua perempuan itu berpisah di anak tangga paling bawah. Linda berjalan lurus ke depan, kearah dapur. Sementara Nayla belok ke kanan, menuju ruang tamu.
"Selamat pagi Ibu Nayla..."
Perempuan itu menyatukan alis matanya. Mencoba mengingat-ingat sosok didepannya yang tengah menyapanya. Bahkan lelaki itu tahu nama Nayla.
__ADS_1
Sosok lelaki dalam balutan pakaian formal ala kantoran. Kemeja berwarna biru langit, dipadu dengan jas berwarna hitam yang senada dengan celana nya.
Siapa ya?
Nihil. Sosok lelaki di depannya ini belum pernah sekalipun Nayla temui.
"Selamat pagi kembali, mohon maaf, siapa ya? Apa kita pernah mengenal sebelum nya?"
"Perkenalkan, nama saya Bima." Lelaki itu tersenyum dengan bangga mengenalkan namanya.
Bima? Nayla seperti pernah mendengar nama itu. "Oh, ya Ampun." Nayla ingat, Reyhan pernah menyebut nama Bima sebagai atasannya.
"Selamat datang Pak Bima, silahkan duduk." Sambut Nayla dengan ramah. "Mohon maaf, ada perlu apa ya?"
Sampai sepagi ini sudah datang ke rumah Reyhan. Dia kan, atasannya Reyhan.
"Oh, ini bu, saya kemari hanya menyampaikan titipan dari Pak Reyhan." Bima menyerahkan sebuah paper bag berwarna putih, ada gambar logo buah apel yang sudah digigit.
Apa? Titipan?
"Titipan?" Nayla bertanya heran. Tangannya menerima paper bag itu dan membuka isinya. "Ini dari Reyhan?"
"Iya bu, Itu titipan dari Pak Reyhan."
Ditengah bincang-bincang itu, Linda datang membawa Teh Susu hangat. "Mari Tuan, di minum."
"Terimakasih" Jawab Bima sesaat sebelum Linda kembali ke dapur.
"Silahkan pak Bima, diminum. Sebelumnya terimakasih, tapi
Mohon maaf, lalu Reyhan-nya kemana ya pak? Dan, kenapa pak Bima harus repot-repot mengantarkan ini kesini?"
Dan sekarang, Nayla semakin bingung dengan situasi yang dia hadapi. Bima adalah atasan suaminya. Lantas, kenapa sekarang lelaki ini berada disini hanya untuk menyerahkan titipan Reyhan kepadanya?
Bukannya itu berlebihan?
Siapa disini yang sebenarnya atasan, dan siapa yang sebenarnya bawahan?
Reyhan terlalu banyak teka-teki, dan Nayla terlalu payah jika harus menebak semua teka-teki itu seorang diri.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak Reyhan harus kembali ke Indonesia sejak semalam, karena ada urusan kantor yang mendadak." Jawab Bima menjelaskan. "Saya atas nama pimpinan General Media Tech. Group meminta maaf atas kejadian ini yang harus melibatkan pak Reyhan."
Apa? Nayla tidak salah dengar?
Mulut perempuan itu menganga. Bagaimana bisa? "Reyhan kembali ke Indonesia?"
Bima mengangguk. Sambil menyesap minuman didepannya. "Tapi Bu Nayla tidak perlu khawatir. Pak Reyhan akan berusaha untuk secepatnya kembali."
Kesedihan di mata Nayla tidak bisa ia sembunyikan lagi. Mata yang biasanya berbinar itu, sekarang nampak sayu. Berbagai macam pertanyaan terlintas begitu saja di kepalanya.
Mati-matian Nayla menahan tangis nya, agar tidak tumpah saat ini juga disini. Satu yang paling membuat hati nya teriris. Kenapa Reyhan tega meninggalkannya disini? Sendirian.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Pak Reyhan bilang, nanti dia sendiri yang akan menjelaskan kepada Ibu Nayla."
"Baik. Terimakasih pak Bima." Nayla ikut berdiri saat Bima berdiri. "Terima kasih sekali lagi sudah mengantarkan titipan ini kepada saya."
"Sama-sama Bu Nayla."
Nayla mengantar kepergian tamu nya sampai depan pintu. Setelah Bima mulai menjalankan mobilnya, perempuan itu menutup pintu dan langsung kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Dia tidak lagi bisa menahan laju air matanya yang kian deras. Di sepanjang anak tangga tadi, Nayla sudah menangis meski sekuat apapun ia menahannya. Bahkan Nayla sampai mengabaikan keberadaan Linda yang mungkin juga tengah bingung melihatnya.
Pintu kamar Nayla tutup dengan kasar
Gadis ber-surai hitam itu langsung menjatuhkan diri ke ranjang. Ia menyembunyikan wajahnya dibalik bantal, dan ia menangis dengan keras lagi. Sama seperti kemarin.
Kenapa Reyhan kembali ke indonesia tanpa memberi tahuku? Sepenting apa memangnya dia, sampai kepentingan kantor harus dia yang mengurusnya?
Kenapa Reyhan tidak pernah menjelaskan apapun kepada ku?
Apa yang kamu sembunyikan dari ku Rey? Apa yang tidak boleh aku ketahui?
Aku sudah mempercayaimu, aku menceritakan setiap masalahku kepada mu. Aku bahkan, sudah memberi tahu mu tentang masa lalu ku.
Lantas, kenapa Reyhan tidak?
Apa Reyhan memang tidak bisa berbagi semua hal kepada ku, sama ketika aku berbagi dengannya?
Tahu begini jadinya kan, aku tidak perlu ikut kesini?
Tangisannya terpaksa ia hentikan sebentar, saat benda pipih didalam paper bag berdering.
Perempuan itu membukanya, sebuah ponsel keluaran terbaru dari brand ternama yang diimpikan setiap orang.
Apa Reyhan memberi ponsel ini, sebagai ganti ponsel Nayla yang ia bawa?
"Halo"
"Nay... ini aku Reyhan."
Jawaban diseberang sana membuat amarah Nayla mendidih. "Reyhan,"
Air matanya menetes lagi, padahal Nayla sama sekali tidak ingin menangis. Dia hanya ingin menunjukkan ketegasannya, tanpa menunjukkan sisi rapuhnya.
Tapi sayangnya, dia tetap kembali menangis. "Apa maksud dari semua ini Rey?"
"Dengarkan aku baik-baik. Ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu, sebelum aku kembali menemui mu. Tolong, jangan pernah menghubungi siapapun, termasuk aku. Kecuali jika terdesak, kamu boleh hubungi aku di nomor ini. Dan maaf, aku harus membawa ponsel lama mu,"
"Maksud kamu apa sih Rey? Kamu udah ninggalin aku sendirian tau nggak? Terus sekarang aku tidak boleh menghubungi siapapun? Kenapa? Aku salah apa?"
"Maaf, aku belum bisa menceritakan ini sekarang Nay. Tolong, kali ini saja, lakukan apa yang aku minta tanpa bertanya kenapa. Ini demi kebaikan kamu."
"Tapi Rey? Ini ada apa sih?" Tanya Nayla sambil menangis putus asa.
"Tolong kali ini saja, apa kamu bisa?"
Nayla menahan nafasnya. Sejauh ini, Reyhan masih selalu melindunginya. Tidak pernah sekalipun Reyhan mengecewakannya. Jika sekarang suaminya itu sedang meminta Nayla untuk tidak menghubungi siapapun, Nayla pikir, tidak salah jika ia akan melakukannya. "Oke, sampai kapan?"
"Sampai semua selesai. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Nayla tidak tahu apa yang sedang Reyhan lakukan. Masalah apa yang sedang Reyhan hadapi, karena lelaki itu enggan menceritakannya.
Jika sekarang, ini yang Reyhan minta, maka sekali lagi,
Nayla akan memberikan kepercayaannya kepada Reyhan. Sama seperti sebelumnya.
"Terus, aku harus ngapain disini Rey? Aku tidak mengenal siapapun?"
"Terimakasih sudah mau membantuku. Aku minta maaf harus meninggalkan mu disana sendirian. Sebagai gantinya, aku sudah mendaftarkan mu dikelas memasak. Isi kesibukan mu dengan itu. Untuk tempatnya, kamu boleh minta tolong kepada Linda."
__ADS_1