
Jam sudah berlalu. Bahkan hari sudah berganti.
Matahari kembali memamerkan sinarnya yang terang melalui sela-sela gorden kamar Nayla. Ini sudah seminggu sejak petemuannya dengan Reyhan waktu itu. Ini berarti, sudah seminggu juga sejak Nayla memergok i Satya diapartemennya dengan Nina.
Nayla mengerjabkan matanya yang sembab. Mencoba meraih gawainya dinakas samping tempat tidurnya.
Kebiasaan setiap orang bukan? Ponsel adalah benda pertama yang di rindukan semua orang ketika pertama kali membuka mata.
Ada banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab disana. Beberapa dari pak Hasan, dosen kampusnya.
Beberapa lagi dari teman temannya. Beberapa dari Nina. Dan paling banyak dari Satya.
Nayla hanya membuka dan membacanya. Tanpa ada niat membalasnya.
Dari pesan-pesan itu juga Nayla tahu, bagaimana awal hubungan Nina dan Satya, sampai mereka melakukan hal yang mengakibatkan seperti ini.
Lagi lagi membuat Nayla ingin menangis sekeras-kerasnya mengingat semua itu.
Tapi Nayla juga tidak merasa lebih baik dari Nina. Toh Nayla sendiri juga melakukan hal yang sama dengan Satya. Untung saja, Nayla melakukannya secara sadar. Hingga kecerobohan itu tidak terjadi.
Nayla masih belum tahu, badai besar menantinya didepan.
Karena Satya, tidak akan melepaskannya begitu saja.
Tak terasa pesan sudah habis Nayla baca. Panggilan masuk tak terjawab juga sudah habis Nayla cek.
Tapi masih ada satu yang dicarinya. Sebuah nomor asing sedang Nayla tunggu-tunggu. Tapi sudah seminggu berlalu, dia belum juga menghubungi Nayla?
Sesibuk apa sih dia? Menjengkelkan sekali..
Tuh kan, Nayla menggerutu tidak jelas jadinya.
Tok tok tok
Suara pintu kamar diketuk membuyarkan Nayla dari lamunannya.
"Nay . ini Mama.. Didepan ada Sari sayang...
Dia ingin bertemu denganmu..."
Teriakan mama samar-sama Nayla dengar dari ranjang tidurnya.
Sari? bukannya ini masih terlalu pagi?
gumam Nayla.
Nayla melihat jam yang menempel didindingnya.
Ya Tuhan.. sudah jam sepuluh ternyata.
"Iya Ma.. suruh Sari masuk ke kamar Nayla aja ya ma.."
balas Nayla dengan berteriak juga.
Nayla buru-buru berlari kekamar mandi untuk membersihkan diri. Meskipun sekedar cuci muka dan gosok gigi. Setidaknya, itu tidak membuat Sari merasa tidak nyaman. Hihi
Sari. Nayla sangat bersyukur punya sahabat sebaik Sari. Selama seminggu mengurung diri dikamar, Sari dengan tanpa rasa lelah menjenguk Nayla.
Meskipun pernah dua kali Sari kerumah Nayla dan Nayla enggan bertemu dengan nya. Tapi Sari tidak marah. Dia justru sabar dan selalu mengunjungi Nayla dilain hari.
Sari memahami kalau Nayla juga butuh waktu untuk sendiri.
Dan ini adalah kunjungan Sari ketiga kalinya kerumah Nayla selama seminggu ini.
__ADS_1
Rasanya akan sangat jahat bukan kalau Nayla masih menolaknya lagi?
Nayla keluar dari kamar mandi dan mendapati Sari dengan tanpa berdosanya sedang terbaring diranjang milik Nayla.
Membuat garis bibir Nayla melengkung sedikit keatas.
Lucu juga sahabatnya satu itu. Emang ini kamarnya sendiri apa?
"Sar..."
Panggil Nayla dengan lirih tapi mampu didengar oleh indra pendengaran Sari. Membuat sari mengalihkan pandangannya ke Nayla. Lalu dia tersenyum menyeringai.
"Selamat pagi tuan putri..."
Sapanya dengan begitu ceria. Seperti yang kalian ketahui. Sari memang cerewet. Paling cerewet diantara persahabatan mereka.
"Kamar kamu nyaman banget sih Nay.. pasti setiap hari tidur mu nyenyak kan disini?"
Ucapnya lagi sambil berguling ke kanan dan kekiri. Dia sangat menikmati permainannya sendiri.
Tapi Nayla tahu. Sari hanya tidak ingin melihat Nayla terus-terusan menampilkan muka nya yang menyedihkan itu. Sari hanya mencoba menghibur Nayla.
Membuat Nayla tersenyum lalu berjalan keluar kamar menuju dapur.
Meninggalkan Sari yang mungkin sedang memasang muka bingungnya.
"Bi Sri.. bikinin Nasi goreng ya,? 2 piring.. sama jus jeruk dua gelas...
Oiya bii.. Nanti tolong antar ke kamarku aja yaa bi..."
***
"Tega banget ninggalin aku disini sendiri sih Nay? Gak takut barang-barang kamu aku curi?"
"Kamu baik-baik aja kan Nay?"
Tanya Sari memastikan.
Dia merasa khawatir dengan Nayla. Ah tidak, lebih tepatnya dengan hubungan mereka bertiga kedepannya.
Sari begitu menjaga persahabatan ini.
Jujur saja, kalau sampai persahabatan mereka hancur, Sari tidak akan pernah bisa memilih diantara Nayla dan Nina.
"Seperti yang kamu lihat."
Seru Nayla asal sembari menampilkan senyum yang dipaksa terukir diwajah cantiknya.
"Aku melihat mu sangat kacau"
Jawah Sari telak membuat Nayla mengerutkan dahinya.
Nayla duduk diujung tempat tidurnya dengan wajah malas yang tidak sanggup disembunyikannya. Diikuti Sari yang bergerak mendekat.
Sahabatnya itu menempatkan diri disamping kirinya. Kemudian tanggan nya bergerak menggenggam tangan Nayla diatas pahanya.
"Aku tahu semua kok.. Nina sudah cerita"
Ucap Sari sengaja menghentikan suaranya. Ingin melihat dulu, seperti apa reaksi Nayla.
Nayla terlihat menghembuskan nafasnya pelan. Seperti mengatakan, dia jengah menghadapi semua ini.
"Tapi aku bangga kepadamu Nay... Kau menempatkan diri dengan benar. Tentu saja dengan tidak menyalahkan Nina sepihak."
__ADS_1
Kata Sari sambil tersenyum tulus kearah Nayla.
Membuat manik mata Nayla berkaca-kaca.
Dengan cepat, Nayla memeluk Sari. Merasa beruntung, dipertemukan dengan seseorang yang begitu peduli padanya.
Bukan saudara dan tidak memiliki ikatan darah, tapi lihatlah
Kepeduliannya sudah seperti ikatan keluarga.
Sari membalas pelukan Nayla sembari mengusap punggungnya.
"Kau sudah benar-benar dewasa sekarang ya?"
Bisiknya disamping daun telinga Nayla. Sudah seperti seorang kakak yang menggoda adiknya bukan?
Jangan ditanya, air mata Nayla sudah meluncur bebas sejak dia memeluk Sari tadi. Kenyamanan menjalar disetiap saraf-saraf tubuhnya. Rasanya Nayla enggan melepaskan pelukan ini.
Sebentar saja... sampai
Tok tok tok...
"Non.. Nasi goreng nya..."
Suara ketukan pintu diiringi teriakan seorang perempuan tak lain adalah bi Sri memaksa Nayla melepaskan pelukannya sambil memajukan bibirnya.
Dengan langkah malas Nayla berjalan membuka pintu dan mengambil alih makanannya.
"Terimakasih Bi..."
Ucap Nayla sebelum kembali menutup pintu kamarnya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Tanya Sari sambil menikmati hidangan didepannya.
Saat ini mereka sudah duduk disofa kecil yang terdapat didalam kamar Nayla.
Mengunyah pelan setiap suapan yang masuk ke mulutnya masing-masing.
Nayla seakan lupa bahwa dia sedang dalam mode yang buruk. Harusnya dia malas menyantap sarapannya.
Tapi memang itukan arti sebuah sahabat? Kita bahkan bisa bersikap konyol didepannya tanpa rasa malu dan canggung.
"Aku tidak tahu Sar.." Jawab Nayla sambil menaikkan bahunya.
Tidak mau ambil pusing sekarang.
"Yang jelas, aku tidak mungkin kembali pada Satya"
Sari mengacungkan kedua ibu jarinya pada Nayla. Menyetujui setiap kata yang keluar dari mulut Nayla sebagai bentuk dukungannya. Selagi itu benar.
Sesuai yang Sari tebak. Nayla memang harus melepaskan Satya.
Bukan karena Sari lebih membela Nina, tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk Nayla kembali pada Satya.
Lupakan perasaan, karena kenyataannya ada yang lebih membutuhkan Satya dari pada dirinya.
"Bantu aku...
Melepaskan Satya dengan cara yang baik dan benar. Jika hubunganku dengannya tidak bisa berjalan kearah yang lebih baik, setidaknya
aku dan Satya masih bisa berteman seperti sebelum kita memutuskan berpacaran"
__ADS_1