Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Dengan Kelembutan


__ADS_3

"Aku Nayla, Satya..."


Seperti kilatan petir yang menyambar ujung helai rambutnya, suara perempuan itu seketika membuat tubuh Satya menegang. Kaku ditempat kehabisan darah.


Buru-buru ia bangun,


dipakainya celana pendek yang Satya ambil di lantai, dan memakainya asal. Lantas, Satya segera berjalan menghampiri Nayla didepan pintu kamarnya.


Matanya terbelalak lebar, dan ia memaki dirinya sendiri yang melupakan rencana kehadiran Nayla hari ini.


Bodoh. !


Jadi,


semalam Satya memang sengaja mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut detik-detik kemenangannya.


Kemenangan disini dalam arti,


ambisi tentang kembalinya Nayla disampingnya akan segera terwujud.


Satya sudah yakin dua ratus persen bahwa Nayla akan kembali ke dirinya, setelah gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri, video tentang perbuatan mereka di hotel Nuansa.


Ralat,


bukan perbuatan mereka, tapi kesengajaan yang dibuat oleh Satya.


Ya,


meskipun Nayla kembali kepadanya atas dasar terpaksa dan tanpa cinta seperti dulu,


setidaknya Satya berhasil mengalahkan Zeko, papa Nayla yang dulu sempat merendahkannya.


Pesta yang dimaksud adalah, mengundang Joan untuk menemaninya bersenang-senang diapartemen. Karena merasa kurang asik jika hanya berdua, lalu Satya menghubungi seseorang yang merupakan boss di tempat Maureen bekerja, dan menyuruh gadis itu berkunjung ke apartemennya, bersama Bella.


Masih ingat, Bella? Teman kerja Maureen.


Niatnya, pagi ini Satya langsung menyuruh semua orang itu pulang, meninggalkan apartemennya.


Tapi,


dia lupa.


Dia terlena dengan kenikmatan dunia yang Maureen berikan. Tidur bersama dengan dua perempuan sekaligus membuatnya lupa, ada Nayla yang katanya,


sedang Satya perjuangkan.


"Nay..."


Suara Satya yang langsung berubah lembut saat memanggil Nayla membuat Maureen mundur selangkah.


Maureen sadar diri, menurunkan emosinya karena dia sadar, tidak akan pernah menang dari perempuan itu jika untuk memperebutkan Satya.


"Aku bisa jelasin." Kata Satya dengan percaya dirinya,


Nayla melipat kedua lengannya didepan dada.


Kepalanya sedikit mengintip ke dalam kamar, melihat keadaan kamar itu yang tak kalah berantakan dengan keadaan ruang tamu.


Lantas, Nayla menggeleng-geleng kan kepalanya. Seringaian tipis tersungging di bibir merah nya, menegaska kesan jijik. Membuat Satya maju selangkah ingin meraih tangan Nayla saat ia tahu arti seringaian itu.


"Jangan sentuh aku" Tolak Nayla kasar, dan ikut mundur beberapa langkah menjauhi Satya.


Brengsek !


"Ini semua gak seperti yang kamu pikirkan, Nay.." Satya masih mengelak. Mencari alibi agar ia selamat dari situasi ini. Agar Nayla tidak memandang jijik ke dirinya.

__ADS_1


"Apa?"


Memang apa lagi yang laki-laki lakukan jika sudah berdua-an didalam kamar dengan seorang perempuan?


Nayla sendiri kan, juga sudah terbiasa melakukan itu dengan Reyhan jika sudah berduaan saja didalam kamar.


Jadi, tentu saja Nayla paham apa yang baru saja Satya lakukan.


Sebenarnya, Nayla sudah tidak peduli dengan apapun yang ingin Satya lakukan. Sama sekali tidak peduli


Toh,


Nayla tidak ada niat buat kembali kepada lelaki itu.


Nayla hanya tidak suka, dengan sikap Satya yang terus saja mengelak.


Enggan mengakui perbuatannya yang sudah jelas-jelas Nayla lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Apa?" Mengulang pertanyaan.


Satya baru akan menjawab pertanyaan Nayla lagi, saat pintu kamar mandi didalam kamarnya terbuka mengurungkan niat lelaki itu.


Bella,


dengan kaos tipis lengan pendek berwarna putih press body dan celana hot pan super pendek, keluar dari kamar mandi itu dengan handuk yang melilit rambut basahnya.


Perempuan itu berjalan santai, mengambil ponselnya di meja nakas, lalu menghampiri kerumunan orang didepan kamar Satya.


"Lagi, nge-ributin apa sih?" Tanpa tahu situasi yang terjadi, Bella berdiri di sisi kosong samping Satya. Perempuan itu menatap Nayla dengan dahi berkerut, bingung. "Dia siapa, Satya?"


Awalnya, Bella bersikap biasa saja saat bertanya. Tapi, saat ia menoleh menghadap Satya dan mendapati wajah lelaki itu yang sama sekali tidak bersahabat, membuatnya beringsut. Diam ditempat dengan wajah kaku-nya.


"Kalian semua, Pulang..!"


Perintah Satya,


Menatap bella, kemudian bergantian menatap Maureen.


"Aku bilang, pulang.. Sekarang juga.!" berteriak marah. Saat ia rasa, Bella dan Maureen tidak bergerak cepat.


Setelah teriakan Satya menggema disudut ruangan, barulah, kedua perempuan itu bergerak cepat mengemasi semua barangnya diruang tamu.


Bertiga bersama Joan, dua perempuan itu meninggalkan apartemen Satya tanpa mengucap sepatah kata apapun.


Pintu apartemen tertutup, meninggalkan Nayla dan Satya berdua di apartemen itu.


Dengan langkah cepat, Nayla balik arah. Meninggalkan kamar Satya dan menuju ruang tamu, untuk duduk di sofa.


"Pakai baju mu, Satya.. bersihkan dirimu. Aku tunggu di sini." Sengaja, mengulur-ulur waktu. Sambil menunggu waktu yang tepat.


Merasa bersalah dan melihat kekecewaan Nayla terhadap dirinya yang semakin besar, membuat Satya mau tidak mau hanya menuruti saja apa yang Nayla katakan. Lelaki itu menutup kamarnya kembali, segera membersihkan diri didalam kamar mandi dan meninggalkan Nayla sendirian diruang tamu.


Bau asap rokok bercampur dengan bau minuman memabukkan itu membuat hidung Nayla terasa sakit. Sangat menusuk organ pernafasannya, karena perempuan bersurai hitam itu tidak terbiasa dengan hal-hal semacam ini.


Sejak tadi,


sebenarnya Nayla sudah menahannya.


Rasa bergejolak diperutnya yang seolah enggan menerima bau tak sedap itu kian memuncak, mendadak ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.


Karena sudah tidak kuat, akhirnya Nayla menuju kamar mandi didekat dapur dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Tepat saat Nayla keluar dari kamar mandi itu, pintu kamar Satya terbuka dan lelaki itu berjalan keruang tamu dengan laptop ditangannya. "Nay, maaf."


"Hm" Malas menjawab, Nayla hanya menganggukkan kepala. "Aku tidak suka dengan bau-bau seperti ini."

__ADS_1


Lantas, Nayla ikut duduk di sofa, dengan menjaga jarak dari Satya. Membuat lelaki itu sedikit tidak terima.


"Maaf untuk kejadian barusan, aku janji setelah kamu kembali, aku tidak akan melakukan itu lagi."


Sungguh, Nayla malas sekali membahas ini.


"Aku kesini, ingin menagih janjimu, Satya.."


"Janji?" Memastikan dengan dahi berkerut.


"Ya" Mengambil nafasnya dalam-dalam, mencari keberanian yang hampir saja menguap. "Bukankah, kamu berjanji akan menghapus video itu jika aku datang ke apartemen mu? Aku sudah ada disini, tanpa Reyhan dan tanpa siapapun itu."


Satya memiringkan tubuhnya menghadap Nayla. Dengan tangan yang masih berusaha memencet tombol-tombol di laptop itu, Satya menyeringai. "Tidak semudah itu, Nayla."


Deg.


Jantung Nayla seakan berhenti berdetak. Dia tahu tidak akan semudah itu membuat Satya menyerah, tapi kenapa Nayla masih saja merasakan takut gagal seperti saat ini?


Dan saat fokusnya terbelah,


janji nya kepada Reyhan semalam tiba-tiba terputar otomatis di kepalanya, membuat semangat perempuan itu kembali berkobar lagi.


Nayla masih mau berjuang, dan belum ingin menyerah. Nayla masih ingin memperjuangkan Reyhan dan pernikahannya.


Reyhan sudah menerima masa lalu nya dengan baik, itu sudah cukup untuk Nayla.


Lalu, perempuan pemilik netra mata hitam yang indah itu menghela nafas pelan, dan kembali menyerang Satya dengan kata-katanya yang lembut. "Aku tahu akan seperti itu jawaban kamu. Kamu bukan hanya sekali dua kali membuatku kecewa."


Bukan,


Nayla tidak berniat menyerang dengan memanfaatkan kelembutan suaranya, tapi ya,


memang begitulah seharusnya melawan Satya.


Menyadarkan lelaki itu harus dengan kelembutan. !


Perkataan Nayla sukses membuat Satya terusik.


Benar apa yang dikatakan Nayla, Satya memang tidak sekali dua kali mengecewakan perempuan itu.


Bahkan kejadian yang tadi saja masih tergambar jelas, Satya justru terang-terang an mengecewakan Nayla lagi sekarang.


Dan,


Satya tidak ingin membuat Nayla semakin membencinya. "Oke, aku akan menghapus video itu, tapi kamu harus melihatnya terlebih dahulu."


"Apa kali ini, aku bisa mempercayai kamu?" Menatap Satya dengan pandangan penuh telisik, Nayla meneruskan kalimatnya. "Apa kamu tidak akan mengecewakan aku lagi kali ini? Apa kamu benar-benar akan menghapus video itu?


Aku malu Satya, sangat malu."


Satu tetes bulir bening yang jatuh di pipi mulus Nayla membuat Satya tidak nyaman, dan mulai terpengaruh dengan perkataan Nayla.


Awalnya,


Satya memang akan menghapus file asli video itu didepan Nayla saat ini, hanya saja


sebelum menghapus video itu, Satya berniat mengirimnya terlebih dahulu ke email cadangannya. Untuk berjaga-jaga.


Tapi mendengar ucapan Nayla barusan membuat Satya mengurungkan niatnya, lelaki itu akan menghapusnya sekarang, didepan Nayla setelah perempuan itu melihat. Tanpa mengirimkan ke email siapapun.


Masih ingatkan? Nayla pernah bilang bahwa Satya tidak bisa dipaksa.


Melawan Satya itu harus dengan kelembutan, bukan dengan pemaksaan


"Aku akan menghapusnya, tapi

__ADS_1


duduklah di sampingku, dan lihat dulu video nya."


__ADS_2