
Terkadang, cinta tidak bisa menciptakan pernikahan. Tetapi, pernikahan yang sadar dan terencana-lah yang mampu membangkitkan cinta. Jika pernikahan tidak bahagia, kemungkinan besar penyebabnya bukan hanya karena kekurangan cinta, bisa juga disebabkan oleh kurangnya jalinan persahabatan antara suami dan istri.
Lama mematung dengan pipi merah merona-nya didepan almari, Nayla tersadar saat suara gemercik guyuran air dari dalam kamar mandi mulai tak terdengar lagi. Ia bergegas menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Sebelum dengan langkah cepat seribu bayangan berlari ke atas ranjang.
Ia selimuti kakinya sampai batas lutut, sedangkan kepalanya menyender pada bed head board. Bergaya seolah sibuk dan fokus dengan ponsel ditangannya.
Hingga tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka.
"Jadi, kamu benar-benar menungguku ya?" Tersenyum lebar dan mulai menggoda lagi.
Nayla menyipitkan matanya. Menatap sinis kearah suaminya. "Mulai deh.."
Bukannya takut, Reyhan justru tergelak kencang sambil berjalan mengambil baju yang sudah Nayla siapkan. Membuat Nayla gemas ingin menggigitnya kuat-kuat.
Sampai lelaki itu kembali, dan memposisikan diri disamping sang istri.
"Nay..."
"Iya..." Menjawab singkat tanpa menoleh.
"Minggu depan, aku ada tugas dari kantor ke negara Hongkong."
Gadis itu sedikit terkejut. Ia taruh ponselnya dan mulai menoleh kearah sang suami, yang ternyata sejak tadi Reyhan sudah menatapnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Ke mana?" Memastikan indra pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
"Negara Hongkong."
Ternyata masih. Telinganya masih seratus persen normal.
"Lama nggak?"
"Empat sampai lima hari lah..." Bisa juga lebih. Tergantung kondisinya sih.
Ada perasaan tidak rela dihati Nayla saat ia harus berjauhan dengan sang suami. Sehingga sekarang, membuat bibirnya mengerucut tidak suka.
"Itu berarti kamu nggak pulang dong?" Kalau aku kangen bagaimana?
"Ya gimana, namanya juga pekerjaan.."
"Sama siapa?" Jangan bilang pergi bersama perempuan.
"Atasan aku, namanya Pak Bima."
"Lagian, kenapa harus kamu sih? Katanya, posisi kamu bukan orang penting?"
Ucapnya sewot. Semakin terdengar jelas kalau perempuan itu tidak mau ditinggalkan dalam waktu yang lama.
Reyhan tersenyum. "Aku juga gak tau sih. Aku sendiri juga kaget tadi."
"Ih.." Nayla sebal. Ia tekuk wajahnya dengan bibir yang semakin mengerucut.
Takut? Tidak.
Reyhan sama sekali tidak takut kalau perempuan didepannya ini marah. Justru, lelaki itu sangat menikmati wajah Nayla yang memberenggut seperti itu. Gemas.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" Ia menahan diri untuk tidak tertawa.
"Aku gak suka ya..."
Dan akhirnya, pertahanan diri Reyhan rusak. Lelaki itu tertawa keras. Ia tergelak melihat wajah istrinya yang marah, bercampur rasa khawatir dan tidak rela.
Tawa Reyhan yang terlihat begitu puas membuat Nayla jengkel, sekaligus curiga dalam waktu bersamaan.
"Kenapa tertawa? Kamu bohongin aku ya?"
"Enggak.." Jawabnya disela-sela tertawa.
"Lalu kenapa tertawa seperti itu Rey? Kau menakutkan. Sepertinya kamu puas sekali ya menertawai ku..? Aku itu gak suka kalau tidur sendirian. Aku gak mau ditinggal lama. Mana jauh lagi. Bisa nggak sih diganti aja orangnya?"
"Ehm, kamu mau ikut?"
Eh, apa? Serius?
__ADS_1
Nayla bungkam. Lagi-lagi ia tidak salah dengar kan? Reyhan mengajaknya. Benarkah?
"Kamu mau ikut nggak?"
Mendadak, wajahnya mulai melunak. Gadis itu tak lagi mengerucutkan bibirnya seperti tadi. Dan kini, matanya kembali menatap Reyhan penuh binar.
"Memangnya boleh?"
Reyhan mengangguk. Membuat seutas senyum tersungging diwajah istrinya.
Nayla, begini saja sudah membuat ku ingin melindungi mu lagi dan lagi.
"Kalau aku ikut, kuliahku bagaimana?"
"Memangnya kenapa?" Gak usah kuliah juga gak papa.
"Pak Hasan pasti akan semakin sensitif sama aku nanti. Teman mu itu kan....." Kaku, resek, dan menyebalkan. Nayla lirik suaminya, tanpa berniat meneruskan ucapannya.
"Biar aku yang ngomong..."
"Benarkah?"
"Iya..."
Sekarang yang Reyhan lihat adalah, wajah Nayla dengan senyum cerianya. Terlihat jelas diraut mukanya bahwa ia sedang bahagia. Senang luar biasa.
"Sekalian, kita bulan madu. Mumpung disana sudah mulai memasuki musim dingin."
Bulan Madu?
Wah, membayangkannya saja sudah membuat hati Nayla berteriak kegirangan. Ia dekatkan tubuhnya, lalu tiba-tiba gadis itu memeluk suaminya erat.
"Terimakasih,.."
Reyhan ikut tersenyum menyeringai. "Berterimakasihlah dengan benar..."
Ya? "Apa?"
Nayla mengurai pelukannya, sedikit mendongakkan wajah agar matanya mampu menjangkau wajah suaminya. "Caranya?"
Reyhan balas dengan menundukkan wajahnya. Sampai bibirnya menjangkau kening Nayla. Ia menciumnya disana. Beralih ke pipi kiri. Lalu, menciumnya juga dipipi kanan. Dan akhirnya, ia berhenti ditelinga kanan Nayla untuk membisikkan sesuatu.
"Layani aku malam ini.."
Oh, jantung Nayla tiba-tiba memompa darah dengan cepat. Rasanya berdebar.
Bibirnya kelu. Ingin menyanggah tapi hatinya menerima dengan ramah.
"Ta-tapi...."
Mulutnya bungkam, saat bibir Reyhan mendarat untuk mencium bibirnya. "Rey... itu..."
"A-pa?" jawabnya disela ciuman mereka.
"Ma-salah, perut aku....ba-bagaima-na?"
Lelaki itu mendorong tubuh Nayla kebelakang dengan tiba-tiba, sampai gadis itu jatuh terlentang tak berdaya, tanpa perlawanan. Dan ditambah ekspresinya yang mendelik terkejut sambil membulatkan mata, membuat sesuatu di diri Reyhan mendadak semakin beringasan. Ingin rasanya, Reyhan telan bulat-bulat istri cantiknya itu, sekarang juga.
Eh jangan ! Apa an sih Reyhan.. hehe
Reyhan merangkak, memposisikan diri ke atas tubuh Nayla. Ia remas kedua tangan Nayla yang berada disisi kedua telinganya, lalu ia menautkan jari-jemarinya untuk menahannya disana. Dan kakinya mengurung paha Nayla dengan posesif.
"Itu bukan menjadi urusanmu lagi sayang, tugasmu hanya meminum vitaminnya dengan teratur." Jawabnya dengan suara serak menahan gairah. Sambil menatap intens mata Nayla yang indah.
Lelaki itu menjatuhkan wajah ke leher jenjang Nayla, yang membuat gadis itu, mau tidak mau harus mendongakkan wajahnya.
Reyhan mengendus-endus leher jenjang istrinya, menikmati setiap aroma wangi dari tubuh yang sudah membuatnya candu.
Ah, Nayla.. Istriku
Perempuan bersurai hitam itu mendesah nikmat. Merasakan sentuhan lidah membasahi lehernya, turun kebawah sampai menembus batas kain penyangga dua bukit kembar miliknya.
"Apa kau suka sayang?"
__ADS_1
"Suka"
Eh,
bodoh ! Jawaban seperti apa itu?
Nayla seperti terhipnotis saat merasakan hembusan nafas hangat didadanya. Sehingga tanpa sadar, mulutnya yang biad*b itu menjawab seolah tanpa malu.
Reyhan menyeringai lebar. Perlahan, ia telusupkan tangannya dibalik baju Nayla melalui lubang kerah atas. Mencari tempat paling nyaman untuk bermain-main.
"Kau tidak akan bisa lari dari ku..."
Ya, salah satu tangannya yang kreatif itu mulai memainkan perannya. Menciptakan sensasi-sensasi baru yang terus menjalar ke setiap saraf tubuh Nayla.
Sementara, mulutnya berhenti bekerja. Ia diam, karena yang Reyhan inginkan saat ini adalah menikmati ekspresi wajah Nayla yang kegelian dibawahnya.
Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat. Sesekali bibirnya mengerucut, lalu membuang nafas. Saat Reyhan menggerakkan tangannya lebih kasar, gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri. Terlihat jelas ekspresi wajahnya sedang menahan sesuatu, yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Saat Nayla tengah asik-asiknya larut dari sensasi yang lelaki itu berikan, Reyhan mendadak berhenti menggerakkan tangannya. Dan tiba-tiba, mata yang tadi terpejam, kini terbuka lebar dengan nafas yang terengah-engah. Kilau gairah yang kuat, Reyhan lihat dengan jelas dimata istrinya.
Tidak.
Reyhan tidak bisa menahannya lebih lama. Apalagi, mata penuh hasrat itu kini memandang matanya dengan tatapan memohon. Hasrat yang sama kuat didalam diri Reyhan, harus segera ia tuntaskan.
Dia lepas semua pakaian Nayla. Satu persatu. Sampai tubuh indahnya, terpampang nyata didepan mata. Tanpa satupun benda yang menghalanginya.
Oh, Nayla yang sempurna.
Sambil mencium rakus semua bagian tubuh istrinya, Reyhan melepaskan pakaiannya sendiri. Membuangnya sembarangan, berserakan dilantai.
"Aku mulai ya sayang..."
Nayla mengangguk. Ia katup-kan bibirnya kuat-kuat menerima sesuatu yang memaksa masuk dibagian sensitifnya.
Dua insan yang sedang dikemudikan gairah itu sama sama mendongak saat proses penyatuan mereka berjalan. Meleguh dan melepaskan suaranya yang tertahan, bersama-sama.
"Ahh"
Nayla, rasanya masih dan selalu semenakjubkan dulu.
Setelahnya, tidak ada lagi suara-suara yang terdengar, selain desahan-desahan yang menggema disudut ruangan.
Keduanya sama-sama larut dalam percintaan mereka.
Berbagi keluh dan berbagi peluh. Berbagi kesah dan berbagi basah. Saling memberi kenikmatan dan saling menikmati. Saling mengerang, dan saling mengeluarkan erangan.
Nikmat.
Tak terkalahkan.
Reyhan ambruk, setelah keduanya mencapai pelepasan bersama-sama.
"Terimakasih Nayla."
***
Kangen kan sama mesranya mereka? Like ya, tolong... 😁
kasih vote juga boleh kok 😁
Sabar, dan jangan pernah bosen ya...
Nayla Anjani Deka
Reyhan Atmadja
__ADS_1