
Sambil mondar-mandir di dalam kamar, sesekali Nayla melirik ponsel yang ada diatas meja. Reyhan bilang dia dalam perjalanan pulang, tapi sudah sejak dua jam berlalu lelaki itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Detik jam terus mengalun, perlahan pintu kamar terbuka. Lelaki yang sudah ditungguinya dari tadi mengulum senyum termanis kearah Nayla.
"Akhirnyaa.." Seru gadis itu dengan lega.
Nayla berjalan menghampiri suaminya. Meraih tas punggung dan membantu Reyhan menaruh ketempat biasanya. Sebelum beranjak, perempuan itu menatap lekat penampilan sang suami. Wajah nya terlihat lelah, kemeja putih yang sebagian lengannya ia gulung. Bagian kancing atasnya ia buka. Lalu dipadukan dengan celana warna biru dongker. Tidak ada jas ataupun dasi yang melengkapinya.
"Dari mana? kok lama?" Padahal sudah ditunggu sejak dua jam yang lalu.
"Tadi ada urusan mendadak sebentar sayang..."
"Memangnya Reyhan kerja dimana sih?" Sambil membantu lelaki itu melepas satu persatu kancing kemejanya.
"General Media Tech. Group.."
Nayla melongo tak percaya. "Hah? Serius kerja di GMT Group?"
Sebuah perusahaan baru yang mulai dirintis oleh pemiliknya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Namun diluar dugaan, hanya butuh waktu kurang dari setahun, perusahaan itu sudah menguasai pasar-pasar sampai pelosok negeri. Bahkan, mampu mengalahkan perusahaan papa.
Selain itu, kabarnya GMT Group juga sudah menandatangani kontrak dengan beberapa perusahaan luar negri yang sudah tidak diragukan lagi kekuatannya. Sehingga untuk saat ini, GMT Group masih menduduki posisi paling atas dari semua perusahaan pemilik nilai saham tertinggi.
"Kenapa? Bukan orang penting, cuma karyawan biasa kok.." Lelaki itu duduk, dan melepas kaos kakinya.
"Tetap saja.." Itukan perusahaan tujuan ku juga. "Aku juga mau kali Rey kerja disitu.."
"Kuliah dulu yang bener."
"Iyaa" Gadis itu tersenyum lalu ikut duduk disamping suaminya. "Aku gak nyangka kamu bisa kerja disitu. Sejak kapan?"
"Satu minggu setelah wisuda.."
Sekalipun hanya karyawan biasa, tapi suatu kehebatan tersendiri bisa diterima di perusahaan itu. Apalagi Reyhan baru saja wisuda. Sudah terkenal dimana saja dalam dunia kerja, siapa saja yang berhasil menjadi bagian dari GMT Group bisa dipastikan hidupnya terjamin. Kesejahteraan karyawan sangat diutamakan diperusahaan itu.
"Kemaren aku ketemu sama Nina, ya Ampun perutnya sudah gede banget.."
"Oh iya?"
"He'eh..." Nayla menyenderkan kepalanya dibahu sang suami. "Aku gemes banget. Reyhan besok sibuk nggak? Anterin aku kedokter mau?"
Reyhan meraup oksigen disekitarnya. Dia paham apa yang Nayla rasakan saat ini. "Apapun untukmu..."
Kedua tangannya meraih bahu Nayla sampai sekarang mereka saling berhadapan. Reyhan menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian kening sang istri. Lalu menyelipkan kebelakang telinga.
Pelan-pelan, tangannya mengusap bibir Nayla yang ranum. Sampai tanpa sadar, kini bibirnya mendarat sempurna dibibir Nayla. Reyhan mengecupnya lembut, mengulum dan melum*tnya dalam. Saat nafas Nayla mulai tersenggal, dia melepaskan ciumannya.
__ADS_1
Mata lelaki itu tak lepas dari mata sang istri.
"Aku nggak mau Nayla kepikiran." Diraihnya kepala sang istri, dibenamkan ke dadanya. "Aku tidak tergesa-gesa menuntut anak dari kamu..."
"Aku cuma mau periksa aja Rey..."
"Iyaa... besok aku antar ya.." Satu lagi, kecupan lembut mendarat dipucuk kepala Nayla. "Sekarang aku mandi dulu..."
Nayla mengangkat kepalanya. "Mau makan dikamar, atau dibawah?"
"Dibawah. Kamu udah makan belum? Temenin aku makan ya?"
***
Reyhan mengulum senyum, memandang wajah cantik yang tengah tidur dengan lelap di sampingnya. Sepertinya, perempuan itu sudah benar-benar kelelahan setelah melayaninya hingga beberapa kali.
Tubuh polos itu ia tutupi sampai batas leher, sebelum Reyhan meraih gawainya untuk menghubungi seseorang.
"Iya pak" Suara disebrang sana.
"Bim, Tolong atur permintaan pertemuan dengan Pak Bagas, kalau bisa besok sore."
"Apa pak Bagas dari perusahaan ITE Telecom?"
"Iya benar..."
"Iya, Sekalian atur tempatnya."
"Ta-tapi..."
"Lakukan saja.."
"Iya, baik pak."
Setelah sambungan telefon itu terputus, Reyhan lalu meletakkan kembali gawainya ketempat semula. Diliriknya lagi Nayla yang tengah tidur dengan damai membuatnya sedikit khawatir. Reyhan benar-benar tidak akan membiarkan seorang pun mengusik kedamaian itu.
Rasa marah menyeruak kembali tatkala dia mengingat ucapan seseorang yang sempat ia temui sebelum sampai dirumah.
Tadi, saat mobil yang ia kemudikan hampir masuk wilayah komplek, tiba tiba ponsel nya berdering. Sebuah nomor asing tertera disana. Meskipun Reyhan sempat ragu, namun pada akhirnya dia menerima panggilan itu juga.
Perkataan dari seberang sana tentang Nayla memaksa Reyhan memutar setir untuk berbalik arah. Menuju salah satu cafe terkenal yang letaknya agak jauh dari rumah.
"Kau datang juga.." Sapanya kepada Reyhan, saat ia sudah duduk didepannya.
Nina. Iya orang itu adalah Nina. Dia yang menelfon Reyhan untuk menemuinya di caffe ini.
__ADS_1
"Tentu saja, apalagi menyangkut Nayla"
"Percayalah, kau tidak akan menyesal sudah mempercayaiku. Karena hanya aku yang tahu semua rencana lelaki itu.."
"Jangan berbelit-belit. Nayla sudah menungguku dirumah."
Nina menyesap minumannya. "Nayla sedang dalam masalah besar. Satya akan membuat Nayla kembali kepadanya dengan cara apapun. Dan mungkin saja Nayla akan meninggalkanmu"
"Apakah dia sepercaya diri itu? Aku yakin, Nayla juga mencintaiku.." Jawab Reyhan yakin, sementara Nina justru terkekeh.
"Cinta saja tidak cukup Rey... Karena masalah kali ini akan berimbas pada perusahaan papanya." Nina kembali menyesap minumannya. "Satya punya senjata yang bisa membuat Nayla bertekuk lutut memohon kepada lelaki itu demi menyelamatkan nama baik keluarganya. Lalu, apa yang kau miliki untuk menghentikan rencana lelaki itu? Aku tau kamu laki-laki yang memiliki IQ diatas rata-rata, tapi kepintaran saja tidak cukup untuk melawan Satya. Kau harus paham, disini uang dan kekuasaan berpengaruh. Aku tidak yakin Toko buku mu mampu menyelamatkan keluarga Deka."
Nina berdiri. Memutar badan dan hendak melangkah pergi. "Tunggu kabar selanjutnya, jika kau beruntung maka aku akan berhasil mendapatkan salinan video itu. Aku akan memberikannya padamu nanti agar kau bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuknya."
Ucapnya sambil melangkahkan kaki.
"Tunggu Nin..."
Langkahnya berhenti. "Ada apa?"
"Apa alasan kamu melakukan ini?"
Nina memutar tubuhnya kembali menghadap Reyhan. "Apa maksut pertanyaan mu adalah kenapa aku memberi tahumu?"
Reyhan hanya mengangguk.
"Karena Nayla adalah sahabatku. Dan, satu lagi... Aku menginginkan Satya, demi bayiku.."
"Aku sama sekali tidak ingin Satya meninggalkanku. Bayiku membutuhkannya.
Dan istrimu itu, dia yang selalau membuat ku merasa terancam. Karena itulah, aku menghubungimu. Aku berharap, kau mau bekerja sama denganku."
Dahi Reyhan berkerut. "Apa kamu membenci Nayla?"
Nina tersenyum masam. "Tidak. Aku tidak membencinya. Aku hanya.. hanya tidak menyukai kehadirannya ditengah-tengah kami."
Dan perempuan hamil itu pergi.
Reyhan mengusap kasar wajahnya. Dilihatnya lagi Nayla yang masih lelap dalam tidurnya.
Tangan Reyhan membelai halus kepala sang istri sebelum akhirnya ia kecup lagi puncak kepalanya dengan sayang.
"Aku akan selalu ada untukmu Nayla. Aku janji..."
Reyhan ikut berbaring disamping sang istri. Meraih tubuh Nayla lalu mendekapnya dibalik selimut yang sama.
__ADS_1
Malam itu, hawa dingin dari pendingin ruangan sudah tidak bisa bersaing lagi dengan perlakuan hangat Reyhan kepada Nayla. Jika ia bisa berbicara, mungkin pendingin ruangan itu menangis karena sudah kalah telak sebelum bertanding.
Jangankan membuat Nayla menggigil, menyentuh bagian kulitnya yang terluar pun Reyhan tidak mengizinkannya. Nyatanya, tidur Nayla justru semakin nyenyak dalam dekapan hangat suaminya. Meski tanpa baju sehelai pun.