
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?"
Tanya Reyhan setelah beberapa menit lalu dia duduk disalah satu bangku berhadapan dengan Nayla.
Nayla tampak bingung memulai kata-katanya. Karena itulah, Reyhan berinisiatif menanyakannya terlebih dahulu.
"Reyhan.. benarkan namamu Reyhan?" Tanya Nayla memastikan. Mata Nayla menatap dalam kearah Reyhan.
Dilihat-lihat. Reyhan benar-benar tampan.
Sorot matanya tajam meskipun dia bersikap sopan. Alisnya hitam dan tebal. Hidungnya mancung. Ditambah lagi bibirnya tipis dan sensual.
Lalu ada yang menarik dari senyumnya. Ketika laki-laki itu tersenyum, maka akan ada dua lesung pipit yang mengiringinya.
"Perkenalkan nama ku Nayla. Kamu panggil saja aku...."
ucapan Nayla terhenti saat ada bunyi telfon masuk di ponsel Reyhan.
Kriinggg.....
Reyhan mengeluarkan gawai dari sakunya. Menatap layar untuk melihat siapa yang menelfonnya.
"Maaf, bisa aku angkat sebentar" pamitnya langsung berdiri mengangkat telfon. Padahal Nayla belum menjawab nya tadi.
Sialan... suara gadis batin Nayla.
Nayla hanya duduk disitu menggerutu tidak jelas. Tak kalah dia juga mengeluarkan ponselnya. Sekedar membuka sosial media nya. Dari pada cuma duduk bengong sendirian, pikirnya.
Sesekali matanya menatap Reyhan yang berdiri agak jauh darinya sedang berbicara dengan seseorang diujung telefon.
Reyhan dan Satya sangat berbeda. Reyhan bertubuh tinggi tegap dan berotot. Tapi hatinya sangat lembut. Nayla merasakan itu.
Bahkan kepada anak sekecil Naura.
Reyhan memiliki pribadi yang hangat dan sopan.
Sedangkan Satya. Satya juga tinggi, tidak begitu berotot meski tidak bisa juga dibilang krempeng.
Satya justru terang-terangan mengatakan kalau dia tidak suka anak kecil, kecuali anaknya sendiri. Benarkah?
Disisi lain, Satya memiliki pribadi yang dingin meskipun dia selalu berusaha bersikap lembut pada Nayla.
Sebenarnya selama ini Nayla memang sudah merasakan. Hanya saja, Nayla tutup mata.
Bukan nya benar cinta itu buta ya?
Mata Nayla masih menatap gawai nya. Sesekali dia melirik Reyhan yang masih berbicara serius dengan seseorang di ponselnya.
Tanpa terduga, disaat bersamaan Reyhan juga menatap Nayla. Membuat Nayla malu sendiri sebelum akhirnya Reyhan menutup telfonnya dan kembali duduk di bangku bersama Nayla.
"Nayla, benar kamu setuju dengan pernikahan itu?"
Tanya Reyhan dengan sorot mata intens kearah Nayla.
Nayla hanya menganggukkan kepalanya selagi berfikir.
Pasti Papa nih yang ngasih tau.. gercep banget Papa
"Kenapa?"
Tanya Reyhan lagi yang mampu membuat Nayla melebarkan matanya dengan dahi yang berkerut.
"Maksudku.. bukannya kamu tidak mengenalku?"
__ADS_1
Nayla berpura-pura cuek dengan tetap memainkan ponselnya. Seolah enggan menjawab pertanyaan Reyhan.
Tapi dengan sabar Reyhan yang masih menunggu jawaban Nayla membuat Nayla merasa tidak enak sendiri. Apalagi saat Reyhan tersenyum.
"Eh Rey, jangan kepedean deh.. aku emang setuju bukan berarti aku suka ya sama kamu.
A.. Aku cuma pingin nurut aja.. sama.. sama papa"
Jawab Nayla kikuk.
Reyhan tersenyum tipis. Lucu juga gadis didepannya itu
Baru pertama kalinya Reyhan tersentuh dengan sikap gadis yang sok jual mahal ini. Merasa terhibur.
"Aku tidak mengatakan kau menyukaiku Nay... " Ucap Reyhan dengan bibir yang menahan tawanya. Membuat Nayla jengkel sendiri.
Reyhan bahkan tidak sanggup menatap mata Nayla.
Reyhan menarik nafasnya dalam-dalam. Sebelum dengan serius dia mengatakan sesuatu yang membuat gelenyar aneh menjalar ditubuh Nayla.
"Pikirkan baik-baik dulu Nay. Bukankah pernikahan adalah ikatan suci yang harus dijaga sampai mati?
Jika kau sudah maju, aku tidak akan membiarkan kamu mundur selangkah pun dengan mudah."
Lelaki itu berdiri.
"Rey.. tunggu..."
Seru Nayla saat Reyhan mulai beranjak dari tempatnya.
Mata Reyhan menatap Nayla dengan alis terangkat.
Ada apa lagi gadis ini...
Ucap Nayla seraya berdiri sambil menunjuk dada bidang Reyhan. Seperti memberi sebuah penekanan.
Nayla tidak punya keberanian lebih untuk menyombongkan dirinya kali ini. Meskipun didepan seorang laki-laki itu, yang nanti akan menjadi suaminya.
Hah , Suami? Membayangkan saja Nayla bergidik ngeri.
Nayla sadar. Dia bukan gadis yang suci lagi.
Hingga Nayla berpikir, Papa nya mungkin tepat memilih Reyhan menjadi pendamping hidupnya nanti. Tapi dengan kondisi yang sekarang, apakah Nayla pantas untuk Reyhan?
Kepercayaan dirinya berkurang drastis mengingat Reyhan yang selalu bersikap lembut dan sopan itu.
Reyhan memang nyaris sempurna. Rupanya yang tampan dan pribadinya yang lembut menjadi perpaduan yang tepat. Hanya saja, Nayla kurang dalam mengenal Reyhan lebih dalam lagi.
Kekurangannya hanya satu, dia bukan lelaki kaya seperti Satya. Dan Nayla bisa melihat itu dari penampilannya.
Tapi jika kembali pada Satya, rasanya juga tidak mungkin. Bagaimana nanti nasib Nina? dan juga, bayi dalam kandungan itu yang tidak berdosa?
"Rey, boleh aku bertanya satu hal pada kamu?"
Ucapnya dengan mata sendu seolah memohon pada Reyhan. Meskipun hatinya ragu.
"Bagaimana kalau ternyata, aku... aku tidak pantas untukmu?"
Tanyanya lagi setelah tadi dibalas oleh anggukan kepala dari Reyhan.
Hatinya terasa sakit menghadapi kenyataan yang menyedihkan ini. Bahkan dari suaranya, seharusnya Reyhan tau kemana arah bicara Nayla.
Reyhan duduk kembali setelah beberapa detik menatap lekat gadis didepannya itu. Mata gadis yang berkaca-kaca membuat Reyhan luluh dan mencoba sedikit membuka hatinya.
__ADS_1
Awal yang baik saat gadis yang sok jual mahal itu mau merendahkan egonya didepan Reyhan.
"Apa maksud mu?"
Suara itu terdengar keluar dari mulut Reyhan. Reyhan tidak bodoh meskipun dia belum ahli juga dalam hal itu.
Tapi Reyhan cukup tau, kemana arah bicara gadis didepannya itu.
Dan pertanyaan itu, sebenarnya hanya Reyhan gunakan untuk memancing saja.
Memastikan apa yang ada difikirannya itu benar atau salah.
"Maksud ku... e..."
Jawab Nayla kikuk.
Memang apa yang harus dikatakan Nayla? Nayla jadi bingung sendiri bagaimana memberi tahukan pada Reyhan.
Nayla diambang kebingungan. Akan sangat malu baginya bukan kalau saja Nayla memberi tahu kondisinya sekarang kepada Reyhan, lalu tiba-tiba laki-laki itu terkejut dan langsung menolak Nayla. Seakan jijik kepada Nayla.
Tapi bagaimana jika Nayla hanya diam saja tanpa memberi tahu keadaannya terlebih dulu bahkan sampai mereka menikah? Bukankah itu sama saja seperti Nayla menyiapkan lubang hitam yang dalam untuk mengubur dirinya sendiri nanti?
Kedua tangan Nayla meremas ujung tali tas nya. Hatinya sangat sesak. Kenapa dia sangat bodoh sekali dulu?
Matanya memerah memanas saat Nayla menyadari bukan hanya nama nya saja yang dipertaruhkan. Tapi juga nama Papa dan Mamanya.
Kedua lututnya terasa sangat lemas sekarang. Kalau diingat semua terjadi begitu saja. Sangat cepat.
"Om Rey..."
Suara Naura di belakangnya membuyarkan Nayla dari pikirannya. Seperti mendapat angin segar, Nayla merasa terselamatkan kali ini.
Setidaknya untuk beberapa saat kedepan. Karena bagaimanapun, Reyhan pasti akan mengetahuinya Nanti.
"Kenapa Naura?"
Jawab Reyhan diiringi senyum yang tulus menghiasi wajah tampannya.
Lagi-lagi membuat Nayla harus terpesona untuk sepersekian detik lamanya.
Apa laki-laki ini benar akan menjadi suamiku?
suara gadis batin Nayla.
"Om Rey dicariin kak Jen..."
Pernyataan Naura membuat Reyhan mengalihkan pandangannya kearah Nayla. Seakan berkata bahwa Reyhan harus pergi sekarang.
Tatapan Reyhan membuat Nayla malu. Salah tingkah sendiri. Untung saja air matanya belum sempat jatuh tadi.
"Aku tau ini belum selesai. Tapi aku harus kembali kedalam sekarang"
Ucapnya Reyhan pada Nayla seraya berdiri lalu merogoh kantong saku celananya.
Reyhan mengambil gawai nya. Dan memberikannya pada Nayla.
"Tulis nomormu. Dan aku akan menghubungimu nanti."
Menit berikutnya. Nayla hanya menatap Reyhan pergi dengan Naura dalam gendongannya.
Gadis kecil itu meringis menampilkan giginya kearah Nayla. Lalu berteriak.
"Sampai ketemu lagi kakak"
__ADS_1