Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Seperti Bunglon


__ADS_3

Hari ini, mereka akan mengunjungi Nina.


Nayla masih duduk tenang di dalam mobil, ketika Reyhan membantu gadis remaja memasukkan koper kecil milik ibunya berisi pakaian ke dalam bagasi.


Dia adalah Merry, adik Satya, dan juga


ibu Rosida, yang tak lain dan tak bukan adalah mama Satya.


Rencana yang sudah di bicarakan beberapa hari yang lalu hari ini sedang di realisasikan.


Sesuai permintaan Nayla yang ingin mengunjungi Nina, hari ini Reyhan memenuhinya dengan mengantarkan sang istri ketempat sahabatnya.


Tidak ingin membuang kesempatan yang ada, pasangan suami istri itu sengaja menghubungi ibu Rosida dan mengajaknya sekalian berangkat bersama. Tentu saja, ajakan mereka disambut dan diterima dengan baik oleh yang bersangkutan.


Nayla menoleh kebelakang saat pintu penumpang tertutup. Kemudian dia tersenyum ramah kepada gadis cantik yang duduk di samping ibu Rosida. "Apa kabar, Merry?"


"Kabar ku baik kak." Jawab Merry dengan tersenyum juga. Gadis remaja itu terlihat sedikit malu.


Meskipun dulu Satya pernah mengenalkan mereka, tapi sudah sangat lama sekali mereka tidak bertemu.


"Hati-hati nak Reyhan."


Sepanjang perjalanan, Nayla terus saja tersenyum. Dia bahagia akan bertemu Nina. Pun dengan Ibu Rosida, yang juga sangat berbahagia karena akan bertemu menantunya.


Menantunya?


Oh,


masih bisakah Nina disebut sebagai menantu setelah semua perlakuan Satya kepada perempuan itu?. Mengingat hal itu membuat Ibu Rosida merasakan hantaman kuat di dadanya.


Sungguh menyakitkan, ketika anak laki-lakinya yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang ternyata tidak bisa menghargai seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya.


Meskipun Nina dan Satya belum bercerai secara resmi menurut hukum negara, tapi Satya telah menjatuhkan talak cerai kala itu yang sudah memutus ikatan suami istri diantara keduanya menurut hukum agama.


Waktu terus berlalu hingga beberapa jam. Perjalanan yang cukup panjang tadi membuat ibu Rosida kembali mengingat pembicaraannya dengan Reyhan tentang hukuman Satya kala itu. "Baiklah bu, Untuk Ibu,


Reyhan akan memikirkan kembali masalah ini. Mungkin, tidak dalam waktu yang cepat. Tapi Reyhan janji, akan membebaskan Satya. Ibu yang sabar ya, semua butuh proses. Reyhan akan mengusahakan yang terbaik. Bukan untuk Satya, tapi untuk ibu,"


Cukup membuat Ibu Rosida yakin bahwa Reyhan adalah orang yang baik.


"Sudah sampai.."


Mobil berhenti di pelataran sebuah rumah. Kecil tapi cukup bagus.


Mereka berdua masuk setelah seseorang membukakan pintu.


"Halo Nay... ah datang juga." Memeluk Nayla erat, setelahnya Sari mengangguk ke Reyhan. Dan juga menyambut Ibu Rosida beserta Merry. "Silahkan masuk."


Melewati ruang tamu dan ruang keluarga, Sari membawa Ibu Rosida masuk ke kamar Nina. Sementara Reyhan dan Nayla memilih menunggu diruang keluarga bersama Merry.


"Ma..."


Ibu Rosida memeluk Nina erat. Tangis gadis itu tumpah di pelukan ibu mertuanya. "Apa kabar sayang?"


"Baik Ma, mama sendiri?"


Tidak menjawab, Ibu Rosida mengulurkan tangan membelai surai anak rambut yang menutupi sebagian wajah Nina. Kemudian mencium dahi Nina, sebagai bukti bahwa dia menganggap Nina seperti anaknya sendiri. "Terimakasih, sudah melahirkan cucu-cucu Mama. Mama sayang sekali sama Nina. Mama minta maaf atas kesalahan Satya sama kamu."


"Nina juga sayang sama Mama. dan Nina juga sudah memaafkan Satya"


Memaafkan bukan berarti langsung bisa melupakan lalu menerima kembali, kan?

__ADS_1


Tidak lah. Tidak semudah itu.


Karena untuk bisa melupakan dibutuhkan proses yang bernama mengikhlaskan. Dan, itulah poin yang paling rumit.


Nina memang sudah memaafkan, tapi belum mengikhlaskan. Apalagi melupakan.


Ibu Rosida beranjak. Dari kasur Nina, mendekati keranjang tidur yang didalamnya ada dua bayi mungil yang sangat cantik. "Cantiknya cucu oma. Siapa namanya Nina?"


"Shiren dan Sherin ma.. Shiren Andina Stefani dan Sherin Andini Stefana"


Ibu Rosida menggendong salah satunya, mendengar Nina menyebutkan nama lengkap bayi itu membuat dia kembali menoleh, lalu tersenyum lebar. "Terimakasih, sudah menyelipkan nama Satya didalamnya."


Meskipun dia tahu, Nina tidak memiliki kewajiban untuk memasukkan nama laki-laki yang sudah membuang bayi itu saat masih di dalam kandungan.


Apa ibu Rosida tahu? Iya. Dia tahu. Dari pengakuan Satya sendiri.


"Bagaimanapun, mereka memang anak Satya ma. Meskipun ada mantan istri, tapi tidak ada mantan anak. Darah Satya mengalir didalam tubuh mereka."


Lagi lagi, ucapan Nina membuat Ibu Rosida merasakan nyeri di bagian dadanya. Apakah benar, begini akhir pernikahan Nina dan Satya?


Apakah Satya akan kehilangan istri yang baik ini? Sungguh. ibu Rosida tidak rela. Apalagi setelah cucu-cucunya lahir. "Mereka mirip sekali dengan Satya. Hanya saja ini versi perempuannya."


Tak lama, Merry ikut masuk. Bersamaan dengan Nayla dan Sari.


"Kamu nginep sini juga kan Nay?" Tanya Nina penuh harapan.


"Kalau nginep sini sih enggk. Tapi mungkin nanti cari penginapan didekat sini." Selain karena mungkin rumah Nina tidak cukup untuk mereka semua, Nayla juga memikirkan Reyhan.


Tidak mungkin kan suaminya itu tidur satu rumah bersama banyak para perempuan? ya meskipun ada dirinya juga disana. "Tante Rosi yang akan nginep sini. Katanya mau nemenin kamu."


"Baiklah. yang penting tidak pulang hari ini juga."


"Tenang saja. Aku kan pulang besok. Dan sebelum pulang, aku akan kesini pagi-pagi sekali." Kemudian, Nayla melangkah menuju ranjang bayi, dan menggendong bayi satunya.


"Shiren tante..." Nina yang menjawab dengan suara dibikin seperti suara bayi. Tentu saja, setelah dia mengintip bayinya yang mana yang ada didalam gendongan Nayla.


"Oh ya ampun, lucunya cileenn.. keponakan tante."


Nayla benar-benar merasa gemas dengan bayi didalam gendongannya. Seolah merasa nyaman, bayi itu menggeliat lalu ikut tersenyum dengan lebarnya sebelum akhirnya kembali terlelap. "Lucu banget sih sayang"


"Orang tua kamu sudah pulang Nin?"


"Sudah. Biasalah Nay, mereka kan harus bekerja. Jadi mereka pulang cepat."


"Kamu sendirian dong nanti?"


"Enggak." Nina menggeleng. Membenarkan bantal yang menyangga tubuhnya, dibantu dengan Sari. "Kan ada Sari,


Ada juga Bik Nur. Asisten rumah tangga mama yang sudah di percaya. Sekarang disuruh nemenin aku disini. Mama bisa nyari yang baru katanya."


"Bagus deh, aku jadi tenang kalau begini. Aku takut kalau kamu sendirian disini Nin... Takut kenapa-kenapa."


Nina tersenyum mendengarnya. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku Nay."


"Boleh nggak nih aku bawa Cilenn-nya keluar?" Nayla menatap Nina meminta izin, dia ingin membawa bayi itu keruang dimana Reyhan duduk disana. "Mau aku kenalin sama om Rey ya sayang ya?"


"Boleh"


Mereka semua yang ada didalam kamar memilih berbincang dalam suasana penuh bahagia. Bercanda gurau seperti layaknya keluarga pada umumnya.


Baik Merry maupun Sari, rupanya semua mau berbaur menjadi satu. Ikut dalam kebahagiaan yang menyertai Nina.

__ADS_1


Nina juga menceritakan bagaimana kronologinya, sampai dia harus melahirkan lebih cepat dari hari perkiraan lahir yang dokter sampaikan.


Untungnya,


umur bayi-bayi nya tidak terlalu muda, sehingga sudah siap jika harus lahir normal diwaktu yang lebih cepat.


Gelak tawa menggema dikamar Nina.


Tanpa mereka sadari,


Sebenarnya Ibu Rosida masih memikirkan Satya. Bagaimanapun, lelaki itu adalah anaknya. Seberapa besar kesalahannya, ibu Rosida juga menginginkan Satya ikut hadir dan berbahagia di momen kelahiran anaknya seperti ini.


Bukan malah mendekam dipenjara, karena ulahnya sendiri.


Ah, Satya. Masih tidak habis pikir bagaimana bisa anak lelakinya bersikap kurang ajar seperti itu.


Sementara itu,


Diruang keluarga, Nayla mendudukkan diri di samping Reyhan. Bersama Shiren yang terlelap dalam gendongannya. "Halo om Rey... Kenalkan, nama aku cileen."


Bukan gemas kepada si bayi, Reyhan justru mencubit pipi Nayla. Bagi Reyhan, Nayla lebih menggemaskan saat menirukan suara bayi seperti tadi.


"Rey, lihat ini. Lucu banget. Kembar identik, wajahnya sama persis loh."


"Jelas sama dong, namanya juga kembar Nay." Tangan Reyhan mengusap pipi bayi itu pelan.


Kulit yang masih sangat tipis.


"Lihat nih, cantik banget kan?"


"Iya lah, kan cewek? ya pasti cantik. Kalau cowok, baru ganteng." Celetuk Reyhan spontan.


"Ish." Nayla memukul keras lengan Reyhan meluapkan kekesalannya. "Kamu mah gitu.."


"Ya kan bener, Nay"


Menyebalkan.


Sikap Reyhan memang seperti itu. Terkadang sopan berwibawa, tapi sering juga bertingkah menyebalkan. Berubah-ubah mengikuti keadaan. Mirip seperti warna pada bunglon.


Enggan meladeni sang suami yang mulai bertingkah menyebalkan, Nayla kembali fokus ke bayi dalam gendongannya, mengajaknya bicara seakan bayi kecil itu bisa bicara juga.


"Jadi enggak sabar, pingin anak ku cepet lahir ke dunia." Gumam Nayla saking senangnya bisa bermain bersama bayi Shiren.


"Eh, sembarangan." Celetuk Reyhan menjawab. "Gak boleh cepet-cepet Nay, belum genap sembilan bulan sudah disuruh lahir cepet aja."


Nayla melotot.


Bukan begitu maksudnya tadi. Maksud Nayla adalah, ingin segera melewati tujuh bulan yang tersisa, dan tidak sabar menunggu momen dimana anaknya lahir ke dunia.


Begitu.


Tapi perempuan itu enggan protes. Terlalu malas membalas ucapan Reyhan yang menyebalkan, Nayla memilih masuk kembali ke kamar Nina untuk mengembalikan Shiren ke pangkuan ibunya. Karena bayi itu, sudah mulai terusik.


Mungkin lapar. Sudah waktunya minum ASI.


Ya, begitu lebih baik.


Tapi, belum juga Nayla sampai di kamar Nina, seorang perempuan cukup usia masuk kedalam rumah membawa beberapa kantong kresek sayuran. Itu bik Nur.


Diikuti seorang laki-laki yang berjalan dibelakang Bik Nur. sama-sama membawa kantong kresek berisi sayuran.

__ADS_1


Dan sialnya, Nayla mengenali lelaki itu. Bagaimana bisa lelaki itu ada disini? Apa urusannya dengan Nina?


Tercengang.


__ADS_2