Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

"Aku akan menyelesaikannya sekarang."


Tekad Nayla bulat mengingat pernikahannya yang akan dilangsungkan dua hari mendatang.


Sesuai kesepakatannya dengan sang Mama. Waktu satu bulan yang sudah diberikan Mama Riana padanya sudah habis. Dan Nayla harus membereskannya sekarang.


Sekali lagi, dia berjalan kearah cermin. Memastikan riasan wajahnya tidak terlalu mencolok.


Dengan baju berwarna dasar walnut dengan corak bunga teratai kecil. Ditambah celana jeans hitam panjang yang melekat sempurna dikakinya menambah rasa percaya dirinya naik.


Rambutnya dibiarkan jatuh tergerai dengan ujung yang sengaja dibuat bergelombang. Menambah kesan feminim pada dirinya.


Ya. Hal pertama yang akan dia lakukan adalah bertemu Reyhan sesuai janjinya ditaman danau kota. Mengatakan apa yang seharusnya dikatakan pada calon suaminya itu.


Dan tentu saja, bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Meskipun penghinaan yang akan diterimanya nanti. Tapi Nayla sudah benar-benar bersiap menerima resikonya.


Hal selanjutnya, dia sudah membuat janji untuk bertemu dengan Satya dan Nina sekaligus.


Nayla akan melepaskan Satya untuk Nina.


Meminta maaf pada Satya bahwa mereka memang tidak mungkin bisa kembali.


Dia menaiki mobilnya. Melaju dengan kecepatan sedang.


Membelah jalan kota yang ramai dengan kebisingan menuju danau kota.


"Rey.. sudah lama menunggu?"


Tanyanya ketika menghampiri seorang laki-laki duduk seorang diri tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobilnya.


Dibalas anggukan sopan dan senyum tipis yang begitu mempesona. Nayla seperti terhipnotis.


Reyhan menyodorkan sebuah cup berisi jus mangga yang sengaja dibelinya tadi.


"Ah terimakasih"


Ucap Nayla tulus. Nayla meraih minumannya, dan mulai meminumnya


"To the poin aja ya Rey,


Aku sudah memikirkan matang-matang,"


Ucapnya dengan ragu-ragu.


Dasar.. katanya sudah memikirkan dengan matang. Kenapa ucapanya masih ragu begitu?


"Aku tahu kamu tidak bisa mundur sekarang. Tapi ada jalan lain jika kamu tidak bisa menerima kondisiku."


Reyhan mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia menangkap guratan wajah khawatir muncul begitu saja diwajah cantik gadis didepannya itu. Matanya merah berkaca-kaca. Seperti sedang menahan tangisnya.


"Rey.. aku..." Ucap Nayla ragu-ragu. Air matanya jatuh lagi. Nayla sangat malu. Sungguh.


Bahkam sebelum dia mengucapkan kata-katanya.


Dengan buru-buru Nayla mengusapnya. Dia mengumpat didalam hati.


Oh astagaa.. berhentilah meluncur bebas dari manik mataku hai air mata sialan... bukankah aku sudah menahan mu dengan kuat tadi?


"Tenangkan dulu dirimu, aku tidak memaksamu juga kok"


Ucap Reyhan untuk pertama kalinya sejak Nayla duduk tadi.


Dia merasa iba dengan gadis didepannya itu.


Tanpa disadari, tangan Reyhan menarik kepala Nayla dan membenamkannya didada bidang miliknya.


Membiarkan Nayla menangis sesegukan disana.

__ADS_1


Reyhan cukup tau banyak tentang Nayla. Tentang pacarnya, dan siapa saja sahabatnya.


Jangan tanya dari siapa.


Bahkan Reyhan tahu, bagaimana hubungan dia dengan pacarnya itu saat ini.


"Nay, lupakan apa yang akan kamu katakan."


Ucapnya membuat Nayla mendongakkan kepala.


"Eh maaf.."


Nayla segera menjauhkan kepalanya dari tubuh Reyhan saat menyadari dia merasa nyaman didalam pelukan itu. Terlihat baju Reyhan sudah basah karena air matanya.


Membuat wajah nya merah merona. Malu sendiri.


Nayla mengeluarkan ponselnya. Mencoba mengusir rasa canggungnya.


Mengetikkan sebuat pernyataan tanpa mengirimkan nya pada siapapun.


Pernyataan yang berisi sebuah pengakuan.


Selanjutnya dia memberikan ponselnya pada Reyhan dan membiarkan laki-laki itu membacanya.


Wajahnya mendadak pucat pasi memandang reaksi yang Reyhan tampilkan.


Terlihat laki-laki itu mengkerutkan dahinya. Menatap bergantian kearah Nayla dan ke ponsel digenggamannya itu.


Alisnya terangkat. Seperti mencoba mencerna apa yang Nayla sampaikan lewat ponselnya itu.


"Kamu serius.?"


Nayla menundukkan wajahnya. Tidak ada nyali untuk bersitatap dengan mata Reyhan. Laki-laki yang dua hari lagi akan menjadi suaminya.


Dengan pelan dia menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang ada difikiran Reyhan.


Betapa memalukannya dirinya ini kan?


Tanya Reyhan dengan gamblangnya yang masih belum bisa menguasai emosinya.


Gadis cantik didepannya ini? Apa dia bukan gadis baik-baik?


Padahal Reyhan sudah tertarik padanya sejak pertemuan pertama itu.


Nayla semakin menundukkan wajahnya. Tangis yang sudah membasahi pipinya kini semakin deras mengalir. Dia menyesali semuanya.


Tapi nasi sudah menjadi bubur.


Jika saja masih ada kesempatan, Nayla ingin membuat bubur itu menjadi istimewa.


Tapi apa dia pantas?


Masih ada banyak hal yang ingin Nayla sampaikan. Tapi rasanya dia sudah tidak punya keberanian lagi saat melihat tangan Reyhan mengusap wajahnya frustasi.


Arhhh


Reyhan mencoba mengatur nafasnya lagi sambil bergumam.


Kenapa aku harus merasa kecewa ya?


"Nay.. Maaf"


Deg


Jantung Nayla seakan berhenti berdetak. Benarkan dugaannya?


Mana ada laki-laki yang mau menerima bekas laki-laki lain.?


Seluruh tubuhnya melemas seperti tidak ada tulang yang menompang. Rasa sesak menyeruak kedalam dadanya.

__ADS_1


Nayla ingin bergerak memohon dan berlutut. Setidaknya memohon jangan sampai mama dan papa nya tau.


"Kenapa masih menangis? Aku kan sudah minta maaf?


Aku menakutimu ya"


Nayla membuka matanya ketika sebuah sentuhan terasa ditangannya. Dan benar, laki-laki itu kini menggenggam tangannya.


Kemudian Nay mendongakkan kepalanya. Sebuah senyum yang penuh pesona Nayla tangkap terpancar dari raut wajah tampan Reyhan.


Meski guratan kekecewaan tidak mampu seratus persen dia sembunyikan.


"Aku menghargai kejujuran mu"


Ucapnya lagi yang membuat Nayla semakin merasa bingung sendiri.


Jadi, apa dia menerimaku?


"Tapi aku juga mau jujur padamu Nay..."


Ucapnya dengan santai yang mampu membuat Nayla semakin kebingungan.


Nayla mengerjabkan matanya berkali-kali. Masih tidak percaya jika benar laki-laki itu menerima masa lalunya.


"Aku sudah memiliki delapan anak"


Mata Nayla membulat sempurna diiringi tangis yang tiba-tiba mereda. Dia menutup mulutnya yang terbuka.


Kenyataan yang mencengangkan.


Delapan anak?


Nayla menggeleng tidak percaya. Mana mungkin?


Lihatlah, laki-laki itu kelihatan masih sangat muda. Bagaimana mungkin dia sudah memiliki delapan anak?


"Kenapa? Kau begitu terkejut?"


"Bagaimana mungkin Rey? Kau.. kau belum begitu tua..." Jawab Nayla dengan suaranya yang parau.


"Memangnya kenapa?" Tanya Reyhan lagi.


Nayla hanya diam. Tidak ada jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Reyhan.


Aku bahkan belum kepikiran bagaimana mengurus anak.. Lalu tiba-tiba aku akan mempunyai anak tiri delapan anak?


Tidak. tidak...


Gumam Nayla sambil menggelengkan kepalanya. Jiwa egois merasuki dirinya sekarang.


"Jadi, apa kau menerima kejujuranku sama seperti aku menerima kejujuran mu?"


Nayla semakin membuka mulutnya lebar. Pertayaan macam apa itu?


Ah tapi.. benar juga


Aku dengan kekuranganku yang begitu fatal apa masih punya harga diri untuk menolaknya?


Ingat pernikahanmu tinggal dua hari lagi.


Nayla menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba berdamai dengan suasana hatinya yang masih belum menerima kenyataan itu.


Hingga akhirnya Nayla menganggukkan kepala tanda setuju. Persetan dengan delapan anaknya. Asal bapaknya mau menerima ku memang apa masalahnya? Setidaknya Nayla melakukan ini untuk papa.


Toh meskipun sudah punya delapan anak, tapi Reyhan masih terlihat tampan bukan.?


Tidak akan pernah ada yang menduga kalau Reyhan punya delapan anak.!!


Lagian mana mungkin anak-anaknya adalah anak nakal..

__ADS_1


Lihat, bapaknya saja sopan begitu!!


__ADS_2